BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
MILA YANG BIKIN GREGET



Sekitar jam sepuluh pagi Qiyas, Kia dan Mila sudah diperjalanan pulang menuju rumah mereka. Sebelum pulang mereka sudah berpamitan kepada semua keluarga Pak Kyai. Dan sekarang mereka sudah didalam mobilnya Qiyas. Dan didalam mobil terjadi kecanggungan antara Kia dan Qiyas, sedangkan Mila sedang asyik bermain Hp. Kia dan Mila duduk dikursi belakang, sedangkan Qiyas duduk dikuris depan untuk mengemudi.


Qiyas sibuk mengemudi tanpa mengajak berbicara Kia ataupun Mila karena Qiyas masih kefikiran tentang Ustadz Faris yang ternyata sudah meninggal, dan dia juga diam saja daritadi karena sedang memikirkan semua nasihat dan pembicaraan bersama Pak Kyai, Qiyas menggabungkan semua nasihat-nasihat Pak Kyai dan sekarang dia mudeng akan maksut semua nasihat Pak Kyai.


Benar apa kata Pak Kyai, jika dia terlambat memperjuangkannya lagi dia yakin tidak ada kesempatan untuk kedua kalinya. Dengan langkah tekat dan bulat Qiyas sudah mempunyai rencana untuk memperjuangkan cintanya kepada Kia. Dan aqiyas akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Ayah Ibrahim. Yaaah begitulah unek-unek difikiran Qiyas.


Eheeemm


Deheman Qiyas mengalihkan Kia yang daritadi hanya melihat pemandangan jalan. Kia sebenarnya malu, kikuk dan rasanya untuk bergerak pun susah karena satu mobil bersama Qiyas. Entah rasa tak nyamannya berbeda ketika bersama Ustadz Faris dulu. Jika dulu Kia masih bisa santai dan tidak kikuk, berbeda dengan sekarang.


Mila pun yang mendengar deheman Qiyas langsung mengeluarkan suara mautnya.


"Kakak bule kenapa, sakit tenggorokan ya??, ini Mila ada air mineral yang belum Mila buka dan apalagi minum", kata Mila polos sambil memberikan air mineral yang masih segelan.


Qiyas menggaruk tengkukknya yang tidak gatal sambil tertawa garing dan langsung mengambil minum yang disodorin Mila.


"Sepupu Balqis satu ini, selalu bisa bikin orang jantungan dan mati kutu, kasihan nanti yang akan menjadi suaminya, eeh kalau aku jadi suaminya Balqis kasihan juga dong sama aku, dia kan otomatis jadi sepupuku juga, bathin Qiyas menggerutu.


Ya jika Qiyas bisa bersanding dipelaminan dengan Kia, jika tidak ya kasihan deh babang QiyasπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‹


"Emb Balqis saya sangat minta maaf ya, karena saya benar-benar tidak tahu tentang Ustadz Faris", kata Qiyas mencoba mencairkan kesunyian.


Perkataan Qiyas kepada Kia belum dijawab, eeh dasar si Mila. Dia ada saja celetukannya yang bikin suasana menjadi akhward.


"Kakak bule ganteng dan Kakak Kia cantik, kalau kaliyan menikah, pasti anaknya sangat cantik dan sangat ganteng deh, tapi-tapi Kakak bule belum punya Istri kan, kalau sudah ya berarti jangan nikah sama Kakak Kia", celetukkan Mila sambil membayangkan wajah anak-anak Kia dan Qiyas.


Mila sebenarnya tidak selalu melihat muka Qiyas, akan tetapi pertama kali bertemu dirumah Pak Kyai dia selalu teringat muka Qiyas yang keblasteran. Jadi dia memanggil Qiyas dengan Kakak bule.


Sontak celetukannya Mila membuat Kia reflek membekap mulut Mila. Dan Qiyas yang melihat interaksi antara Kia dan Mila sangat terhibur, dan sekarang dia tidak menahan lagi rasa yang membuncah dihatinya. Qiyas reflek tertawa kecil mendengar celetukannya Mila dan juga menanggapinya.


"Aamiin, do'akan saja ya Mila, semoga Kakak bisa mengambil hatinya Kakakmu itu, apa kamu tidak mau mempunyai Kakak ipar bule kayak Kakak", kata Qiyas dengan tertawa dan sambil menggoda Kia. Sedangkan mata Qiyas hanya melirik Kia dan Mila melalui spion yang ada didalam mobil.


"Mau dong, Mila setuju banget jika Kakak bule sama Kakak Kia, kan jika Kaliyan menikah Mila juga yang kena imbasnya", jawab Mila membingungkan Kia dan Qiyas yang mendengarkan.


"Maksutnya?? ", jawab Qiyas.


"Ya kan jika kaliyan mempunyai anak, pasti lucu tidak malu-maluin Mila jika disuruh momong dan menjaganya jika Kak Qiyas dan Kak Kia mau menambah lagi", jawab polos Mila yang membuat Qiyas tertawa bahagia, bukan sekedar bahagia saja, tapi sangat-sangat bahagia.


Dan didalam hatinya Qiyas dia sangat-sangat mengaamiinin kata-kata Mila. Sedangkan Kia menepuk jidatnya dan langsung reflek mencubit pinggang Mila karena gemas, mempunyai ponakaan yang satu itu mulutnya terlalu polos atau terlalu lemes, begitulah bathin Kia.


"Ternyata mulut Mila tidak pedes juga, kalau jantungan yang seperti ini aku malah mau", bathin Qiyas tertawa mengingat perkataan Mila.


"Kakak bule Mila mengantuk Mila ijin tidur dulu ya, jika sudah mau sampai tolong bangunkan Mila ya Kakak", kata Mila kepada Qiyas.


Qiyas hanya berdehem menanggapi Mila. Bahkan baru beberpa menit dan baru saja mengeluarkan celetukan maut, eh sudah terdengar dengkuran halus dari Mila.


"Jika kamu mengantuk, silahkan tidur saja Balqis tidak apa-apa, dan maafkan perkataanku yang tadi dan mengenai Ustadz Faris", kata Qiyas kepada Mila.


"Iya tidak apa-apa Ustadz Fasya, saya mengerti", jawab Kia akhirnya dan sambil mengangguk.


"Emm Kia maukah kamu memanggilku Kak Fasya saja, karena lebih enak didengar, sedangkan saya sudah tidak mengajar lagi dipesantren, dan jika kita nanti menjalin kerjasama rasanya aneh jika ada yang mendengar kamu memanggilku begitu", kata Qiyas kepada Kia.


Kia hanya mengangguk memberi jawaban, dan dia berfikir apa yang dikatakan Qiyas ada benarnya juga, serasa aneh jika nanti para kolega mendengar dia memanggil Qiyas dengan panggilan Ustadz Fasya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Terjadi keheningan lagi karena Kia ternyata juga tertidur didalam mobil Qiyas dan Qiyas hanya melirik Kia dan Mila dari spion atas


"Andai kita sudah menikah, ku ingin menggantikan tempat duduk itu sebagai sandaran tidurmu", bathin Qiyas.


Qiyas langsung tersadar dengan perkataan bathinnya dan langsung beristighfar.


"Astaghfirullah, ternyata berada satu mobil dengan Kia sangat besar godaannya, astaghfirullah, aku harus segera menemui Ayah Ibrahim", bathin Qiyas.


Tiba-tiba Qiyas menghentikan mobilnya disalah satu rest area yang dia lewati, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu, sudah waktunya sholat dhuhur dan waktu makan siang.


Qiyas dengan pelan-pelan membangunkan Kia dan Mila tanpa menyentuhnya dengan cara memanggilnya. Mila dan Kia samar-samar membuka matanya karena seperti mendengar seseorang memanggil namanya.


"Sudah sampai ya Kak, cepat banget", kata Mila sambil mengucek mata.


"Belum, masih jauh, ini kita lagi direst area sudah jam setengah satu, kita sholat dhuhur dulu dan makan siang dulu ya", jawab Qiyas.


Kia yang mendengar perkataan Qiyas langsung mengecek jam yang ada dipergelangan tangannya. Ternyata benar masih lama untuk sampai dirumahnya.


Serta mereka juga akhirnya makan siang bersama diresto kecil yang ada disitu.


"Kakak bule dan Kakak Kia ko bisa samaan menu makannya, janjian ya?? ", kata Mila dengan polosnya.


"Kan kamu tahu sendiri Mila, jika ini makanan kesukaan Kakak", jawab Kia.


"Eh iya-iya Mila lupa, terus kalau Kakak bule kenapa memesan kayak Kakak Kia, itu nasi anget, sambal goreng cumi rasa pedas manis dan udang bakar madu", tanya Mila ke Qiyas.


"Ya kan ini memang makanan favorit Kakak Mila dari dulu, mana Kakak tahu jika kesukaan Kakak sama kayak Balqis, mungkin kita jodoh kali ya Mil", celetuk Qiyas, mungkin Qiyas sudah ketularan somplak kayak MilaπŸ˜…


"Eeeh, iya juga ya paling jodoh ya Kak, tapi Kakak tidak bohong kan kalau itu beneran makanan favoritenya Kakak?? ", tuduh Mila kepada Qiyas.


"Nih, telfon Bundanya Kakak, tanyain makanan favoritenya Kakak apa", kata Qiyas sambil menyodorkan Hpnya keMila.


Dasar Qiyas, sudah tahu Mila orangnya aneh ko ya dijabanin, ya diambil Hpnya dan langsung beneran nelfon Bunda Lili.


Qiyas yang saat itu sedang akan menyuapkan nasi kemulutnya sampai berhenti ditengah jalan ketika Mila langsung menelfon sesorang, karena kata sandi diHp Qiyas sudah Qiyas buka ketika dia menyodorkan keMila.


"Hallo Assalamu'alaikum, apa benar ini Bundanya Kakak bule?? ", salam Mila kepada sesorang diseberang sana.


"Wa'alaikumussalam, ini siapa ya, bukannya ini nomer anak saya yang bernama Qiyas, dan siapa itu yang kamu maksut Kakak Bule?? ", tanya Bunda Lili dengan nada khawatir.


Qiyas akhirnya menaruh kembali nasi yang ada disendoknya dan reflek menepuk jidatnya ketika melihat kelakuan Mila adik sepupunya Kia. Sedangkan Kia menjadi sangat malu dengan kelakuan Mila, dan memberi kode dengan menarik-narik gamis Mila.


"Apaan sih Kak bentar", bisik Mila ke Kia ketika Kia tidak henti-hentinya menarik gamis Mila.


"Iya maksut saya Kak Qiyas Bunda, apa benar ini Bundanya Kak Qiyas", kata Mila lagi.


Dasar Mila bukannya memanggil tante malah ikut-ikutan memanggil Bunda.


"Iya, dan ini siapa ya, ko bisa menelfon pakai nomer Hp anak saya", tanya Bunda Lili.


"Oh perkenalkan nama saya Mila Bunda, adik sepupunya Kak Kia wanita yang ingin dinikahi sama Kak Qiyas bunda", celetukan Mila yang sangat bikin Qiyas senang, malu, gregetan dan rasanya ingin menjitak kepalanya si Mila. Sedangkan Kia langsung menyembunyikan kepalanya diatas meja.


Langsung saja panggilan tadi berubah menjadi panggilan video call.


"Hallo Bunda saya Mila", kata Mila sambil melambaikan tangannya kepada Bunda Lili.


"Hallo sayang, kamu cantik sekali, terus Kak Qiyasnya mana Nak", tanya Bunda Lili kepada Mila.


Mila langsung saja memberikan Hpnya kepada Qiyas.


"Assalmu'alaikum Bunda", salam Qiyas sambil meringis dan tertawa malu.


Setelah menjawab salam, Bunda Lili langsung memberikan pertanyaan dimana wanita yang katanya akan dinikahinya dan bla, bla, bla,........... Jangan ditanya bagaimana keadaan Kia, rasanya dia ingin segera pergi dari situ. Qiyas yang melihat gelagat tidak nyaman dari Kia dia ingin segera mengakhiri telefonnya dengan Bundanya.


"Bunda Qiyas sedang makan, Hpnya Qiyas mat......... ", perkataan Qiyas terpotong karena Hpnya tiba-tiba diambil oleh Mila. Mila sengaja mengambil karena tahu jika Qiyas akan mematikan Hpnya. Sedangkan Qiyas melongo melihat kelakuan Mila.


"Hai Bunda ini Kakak saya Bunda yang akan dinikahi Kakak Qiyas", kata Mila yang langsung menghadapkan Hpnya kepada Kia, Kia yang masih menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya langsung membukanya karena desakan Mila.


"Apakah kamu yang bernama Balqis Nak", tanya Bunda Lili ketika sudah menjawab salam Kia.


"Iya tante", jawab Kia.


"Masyaallah cantiknya", kata Bunda Lili yakin walaupun Kia hanya terlihat matanya saja.


"Cantik kan Bunda, sudah ya Bunda kita mau makan siang dulu, karena perjalanan pulang kita masih jauh, Assalamu'alaikum", kata Mila langsung dan ingin mengakhiri telefonnya karena perutnya sudah lapar. Dasar Mila.


Setelah panggilan telefonnya mati dan sudah dikantongin lagi Hpnya oleh Qiyas. Tiba-tiba terdengar notifikasi whatsapp masuk.


"Bunda tunggu penjelasannya dirumah", Wa bundanya yang singkat padat dan jelas. Dan Qiyas mengetahui apa maksut Wa itu.


Setelah menghabiskan makan siang, mereka melanjutkan perjalanan pulang lagi. Kia dan Qiyas ingin rasanya marah kepada Mila, tapi rasanya sulit, dan kalaupun Kia marah, Kia hanya menasihati Mila didalam kamar, tidak didepan umum.


Dan Qiyas sedang menyiapkan diri untuk mengahadap sang Bunda jika sudah sampai dirumahnya, karena celetukannya Mila. Sudah kepalang basah kenapa tidak mencebur sekalian fikirnya.


Sedangkan Mila kenapa bisa menyeletuk kayak tadi, karena firasat Mila mengatakan jika Qiyas sangat mencintai Kakaknya Kia, sangat terlihat ketika dirumah Pak Kyai, dan toh Kakaknya Kia juga sedang sendiri, kenapa tidak Mila bantuin saja mendekatkan mereka. Fikir Mila.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***