
Saat ini semua keluarga Ayah Ibrahim sudah berkumpul diruang keluarga. Ada Kia, Mamah Dian, Qiyas dan Ayah Ibrahim.
"Kamu tadi tidak apa-apa kan nak, bagaimana keadaanmu Kia?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Kia.
"Kia tidak apa-apa ko Ayah, Kia baik-baik saja", jawab Kia kepada Ayah Ibrahim.
"Kenapa kamu tidak cerita sayang sama Mamah daridulu?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia.
"Maafin Kia Mah, Kia tidak bermaksud begitu sama Mamah, Kia hanya tidak mau Mamah terlalu khawatir sama Kia", jawab Kia kepada Mamah Dian sambil memegang tangan Mamahnya, karena Kia duduk disebelah Mamah Dian. Sedangkan Ayah Ibrahim duduk disebelah Mamah Dian dan Qiyas duduk dishofa seberang kanan Kia.
"Jawab jujur sama Mamah, sejak kapan mereka begitu sama kamu sayang", tanya Mamah Dian lagi.
Kia lalu mengalihkan pandangannya kepada Qiyas dan Ayahnya. Dan mereka mengangguk memberi jawaban, sedangkan Mamah Dian juga memperhatikan gerak-gerik orang bertiga itu.
"Kalian kenapa sih, seperti saling mengkode?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia, Qiyas dan suaminya.
"Emmm, sebenarnya mereka berdua sudah seperti itu sama Kia dari Kia SMP Mah", jawab Kia kepada Mamahnya.
"Mereka kan juga kayaknya dulu juga satu sekolahan kan sama kamu nak??, apa setiap hari mereka seperti itu nak, ketika masih SMP?? ", tanya Mamah Dian lagi kepada Kia.
Kia hanya mengangguk memberi jawaban kepada Mamahnya.
"Ya Allah", jawab Mamah Dian langsung memeluk Kia.
"Sudah Mah, mereka sudah mendapatkan ganjarannya, sudah jangan dibahas lagi, malah membikin luka Kia terbuka lagi", kata Ayah Ibrahim dan Mamah Dian langsung melepaskan pelukkannya sama Kia.
"Lain kali jangan pernah sembunyiin apapun dari Mamah ya sayang", kata Mamah Dian kepada Kia.
Qiyas daritadi hanya diam saja sambil mendengarkan Kia, Ayah Ibrahim dan Mamah Dian berbicara.
"Baik Mah, siaaaappp!! ", kata Kia dan dia mengangkat tangannya seperti sedang hormat dan langsung membuat semua orang tertawa.
"Oh ya ada lagi yang ingin kami sampaikan", kata Ayah Ibrahim.
"Apa itu Yah?? ", kata Qiyas akhirnya buka suara.
"Kalian menikah tidak terasa ternyata sudah dua minggu saja ya, dan resepsi kalian tinggal kurang tiga hari lagi dari sekarang", kata Mamah Dian kepada Kia dan Qiyas.
"Apa Mah tiga hari lagi, cepat banget bagaimana dengan persiapannya?? ", tanya Kia dengan terkejut.
"Semua sudah beres, sudah Ayah dan Mamah siapin serta kedua mertuamu juga ikut membantu", jawab Ayah Ibrahim.
"Iyas terserah Mamah dan Ayah saja bagaimana?? ", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
"Kalau urusan bajunya dan undangannya bagaimana Mah?? ", tanya Kia lagi kepada Mamahnya.
"Beres untuk undangan sudah tersebar sesuai catatan yang kalian inginkan dan berikan kemarin setelah ijab", jawab Mamah Dian.
"Tapi kalau untuk baju, nanti kalian harus lebih awal lagi ya diriasnya, biar jika kekecilan atau kebesaran bisa langsung dibenarkan, karena Mamah trauma jika kamu dan Iyas nanti harus feeting baju sebelum acara", kata Mamah Dian lagi.
"Iya Mah Kia faham, kalau begitu Kia ikut Mamah saja bagaimana baiknya", jawab Kia.
Dibeda rumah tepatnya dirumahnya Papah Ziyas mereka juga sedang mengobrol santai diruang tamu mereka.
"Nak bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Zahra?? ", tanya Papah Ziyas kepada Aulian, padahal aslinya Papah Ziyas sudah tahu, dan Papah Ziyas hanya ingin mendengar langsung dari mulut Aulian.
"Beres Pah", jawab Aulian dengan songong dan santai.
"Beres-beres bagaimana maksud kamu Aul?? ", tanya Bunda Lili.
"Iya beres Bund, sebentar lagi Zahra jadi milik Aul", jawab Aul dengan bangga.
"Buktikan besok diresepsinya Kakakmu Iyas, ajak Zahra datang bersamamu, jika Zahra beneran datang bersamamu, esoknya akan Papah dan Bunda lamar atau sekalian kalian kami nikahkan", tantang Papah Ziyas kepada Aulian.
"Siaaap Pah, Papah siapin saja acaranya untuk melamar atau langsung menikahi Zahra", jawab Aulian tenang kepada Papahnya.
Bunda yang gemas dengan kelakuan Aulian, dia langsung menjitak kepalanya Aulian yang sedang duduk disampinya. Membuat Aulian langsung mengaduh kaget.
"Bunda sepertinya suka sekali menjitak kepalaku, kayak Kak Iyas saja", kata Aulian sambil mengusap kepalanya yang dijitak Bundanya.
"Habisnya kamu songong banget jadi orang, kayak Zahra beneran mau sama kamu saja", jawab Bunda Lili.
"Ok, jika kamu tidak bisa membuktikannya akan Bunda sunnatin lagi kamu", kata Bunda Lili.
"Ok, siapa takut", jawab Aulian santai.
Bunda Lili langsung berdiri dan berlalu dari ruang tamu untuk masuk kekamar, karena waktu juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam, waktunya istirahat tidur.
"Aduh bagaimana ini, Zahra dari kemarin sudah aku ajak tapi belum memberikan jawaban lagi sampai sekarang", gumam Aulian didalam hati.
Sedangkan Papah Ziyas yang sudah mengetahui bagaimana aslinya, karena Papah Ziyas selalu mengawasi semua anak-anaknya termasuk Anin dan Qiyas sekalipun yang sudah menikah, Papah Ziyas masih mengawasi diam-diam tanpa sepengetahuan semua anaknya dan Papah Ziyas melihat juga wajah Aulian sekarang, dia hanya menggelengkan kepalanya, karena melihat kepedean Aulian yang sangat besar.
"Semangat nak, Papah yakin Zahra mau ko denganmu, santai saja, sudah malam, Papah mau istirahat, capek", kata Papah Ziyas kepada Aulian yang langsung mengalihkan pandangannya Aulian yang sedang berfikir.
"Semangat!!! ", kata Papah Ziyas lagi sambil menepuk pundak Aulian dan terus berlalu untuk masuk kekamar.
"Apa Papah mengetahui ya, jika Zahra belum memberikan jawaban kepadaku", kata hati Aulian.
Kembali lagi dirumah Ayah Ibrahim, saat ini Kia dan Qiyas sudah berada dikamarnya Kia. Mereka sedang duduk-duduk diatas ranjang dan sambil berbincang santai, padahal waktu juga sudah lumayan malam.
"Semoga dia cepat tumbuh ya disini sayang", kata Qiyas sambil mengusap perut Kia.
"Apa Kak Fasya ingin segera mempunyai anak?? ", tanya Kia kepada Qiyas.
"Sengasihnya saja sama Allah sayang, jika dari lubuk hatinya Kakak, Kakak ingin segera mempunyai anak", jawab Qiyas masih mengusap perut Kia.
"Aamiiin, semoga disegerakan yah Kak", kata Kia dengan tersenyum dan juga ikut mengusap tangan Qiyas yang ada diperutnya.
"Aamiiin, kita proses lagi yuk Balqis", kata Qiyas sambil tertawa.
"Apa Kakak tidak capek?? ", jawab Kia kepada Qiyas.
"Kalau untuk masalah itu, Kakak masih punya tenaga extra", jawab Qiyas sambil tertawa dan Kia juga ikut-ikutan tertawa.
"Balqis janji ya sama Kakak, kalau ada apa-apa cerita sama Kakak ya, apalagi untuk masalah seperti tadi siang", kata Qiyas dengan serius kepada Kia.
"Iya Kak, Kia janji", kata Kia sambil menggenggam tangannya Qiyas.
"Kak Kia boleh tanya tidak?? ", kata Kia lagi.
"Apa itu sayang?? ", jawab Qiyas.
"Dulu waktu Kia menolong Kakak yang mau kesrempet motor itu, kenapa Kakak malah diam saja dan sambil melihat terus kearah Kia, kenapa Kak?? ", tanya Kia dengan penasaran.
Qiyas yang awalnya memegang tangan Kia, dia lalu reflek melepaskannya karena Qiyas langsung garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal dan sambil tertawa garing, dan itu membuat Kia semakin penasaran.
"Kakak ini, ditanya malah garuk-garuk sama tertawa sendiri, aneh tau", kata Kia yang melihat Qiyas begitu.
"Itu......... ", kata Qiyas malu untuk bilang jujur kepada Kia.
"Itu apa sih Kak?? ", kata Kia gemas.
"Jangan tertawain Kakak yah Balqis", kata Qiyas lagi.
"Iya", jawab Kia.
"Itu sebenarnya Kakak sangat terpesona melihat mata hitam kamu itu sayang, Kakak seperti terhipnotis jadi Kakak sampai lupa untuk mengucapkan terimakasih dulu", kata Qiyas dengan tersipu malu.
Kia langsung tertawa kecil melihat ekpresi Qiyas.
"Tuh kan, kamu tertawain Kakak", kata Qiyas dengan sedikit merajuk.
"Kia itu mentertawain ekspresi Kakak yang malu-malu begitu, terlihat lucu seperti bukan Qiyas Irawan Predir dari Perusahaan Besar saja", kata Kia setelah reda tertawanya.
"Ini baru yang namanya lucu", kata Qiyas langsung menggelitikin Kia dan berakhir dengan sunnah rosul lagi.
ππππππππππππ
***TBC***