BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
CHAPTER 18



"Alhamdulillah Umi, semuanya berjalan lancar sesuai dengan harapan kita, dan anak Zabir sangat cantik Umi", kata Zabir dengan memeluk Umi dan tiba-tiba langsung bersujud dibawah kaki Umi Maryam.


Sontak kelakuan Zabir membuat Lida, Qiyas apalagi Umi Maryam terlonjak kaget.


"Kamu kenapa Nak", tanya Umi Maryam sambil membantu Gus Zabir berdiri.


"Maafin Zabir Mi, Maafin Zabir jika selama ini Zabir sering menyusahkan Umi, sering bikin Umi marah, jengkel atau pun sedih. Ternyata perjuangan seorang Ibu untuk melahirkan anaknya begitu besar. Maafin Zabir Umi", kata Zabir sambil menangis dan memeluk Umi Maryam.


Sedangkan Qiyas dan Lida yang menyaksikan itu merekaa sama-sama terharu dan ikutan menitikkan air mata.


Umi Maryam juga ikutan menangis dan membalas pelukannya Gus Zabir.


"Sudah, tidak apa-apa Zabir", kata Umi Maryam sambil tersenyum kepada Zabir.


"Sekarang kamu sudah tahu bagaimana seorang wanita yang sedang melahirkan penerus bangsa dan agama, mereka bertaruh nyawa, jangan pernah kau sakiti dan kau buat satu tetes air mata mengalir dari matanya, jika engkau marah, bicarakan yang baik-baik, jangan kau kasari atau kau bentak, karena seorang wanita dia terlahir dari tulang rusuk yang bengkok, jika kau luruskan pasti akan patah", kata Umi Maryam lagi.


"Dan ini juga berlaku untukmu Nak Qiyas", kata Umi Maryam sambil melihat Qiyas.


"Iya Umi, Qiyas akan selalu mengingat pesan Umi", kata Qiyas.


Tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah seorang suster sedang mendorong tempat bayi. Mereka semua langsung mendekat dan melihat bayi Zabir yang masih merah.


"MasyaAllah", ucap Zabir dan Umi Maryam.


"Maaf ibu, bapak, bayinya akan saya bersihkan dulu keruang bayi, dan untuk ibunya sebentar lagi akan dipindahkan keruang inap", kata suster tersebut.


Setelah beberapa saat, brankar Aida didorong keluar menuju ruang Inap yang sudah disediakan dan dipesan.


Skip***


Kia yang saat itu sudah membeli buah tangan dan akan menuju ruang Inap Aida, tiba-tiba berhenti, karena didepan ruangan inap Kia melihat ada Qiyas yang sedang menunduk sambil berdzikir.


Tiba-tiba jantung Kia bedegub dengan kencang, dengan malu-malu akhirnya Kia melangkah juga keruangan inap Aida.


"Assalamu'alaikum Ustadz Fasya", salam Kia kepada Qiyas.


"Ustadz tidak masuk kedalam", tanya Kia kepada Qiyas sambil menunduk.


"Sudah tadi, kalau kamu mau masuk, masuk saja, didalam masih ada Umi Maryam dan Ning Lida, sedangkan Zabir sedang mengurus administrasi", jelas Qiyas.


"Kalau begitu saya bermisi dulu Ustad Fasya", kata Kia.


"Silahkan", jawab Zabir dengan senyum manis.


Setelah masuknya Kia, Qiyas memegang dadanya. Rasanya begitu senang bisa melihat Kia, tetapi juga begitu sakit jika ingat Kia sudah dikhitbah Ustadz Faris.


Setelah Zabir selesai menyelesaikan administrasi dia segera menuju ruang Inap Istrinya. Tetapi Zabir heran melihat Qiyas duduk sambil memegang dadanya. Apakah dia lagi sakit, fikir Zabir.


"Kamu kenapa Yas", tanya Zabir sambil menepuk pundak Qiyas.


"Aku baru saja melihat dan mengobrol dengan Balqis, dia baru saja masuk kedalam", kata Qiyas dengan lesu.


"Walaupun dimulut aku sudah berucap ikhlas, tetapi disini, masih sakit dan senang secara bersamaan, rasa sakitnya melebihi rasa sakitku pas waktu ditinggal Bila untuk selama-lamanya, kata Qiyas lagi sambil menujuk dadanya.


Zabir yang sudah mengetahui semuanya, hanya bisa memberi semangat dan memberi sandaran.


"Sabar Yas, mungkin dia tidak jodohmu, perbanyaklah berdo'a dan mendekatkan diri kepada-Nya, mungkin kamu terlalu berharap kepada manusia, makanya Allah cemburu dan mengujimu seperti ini", kata Zabir memberi nasihat.


"Ayo masuk", ajak Zabir.


Qiyas hanya menggeleng pertanda dia tidak mau, dan Zabir yang mengetahui hanya tersenyum dan tidak memaksa Qiyas.


Setelah Zabir masuk ruang inap Aida, Qiyas langsung menuju masjid/mushola terdekat. Benar kata Zabir mungkin dia terlalu berharap kepada Kia, mangkanya Allah cemburu dan mengujinya seperti ini.


Qiyas ingin memohon ampunan dan meminta petunjuk untuk memulihkan hatinya yang sedang patah.


***πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC******