
Kia tadi setelah selesai menyiapkan masakan habis itu Kia dan kedua orang tuanya sarapan bersama, semua berjalan seperti hari-hari biasanya, hanya hal-hal kecil yang dipersiapkan Mamah Dian.
Hingga Kia tidak menyadari, karena semua sudah dikerjakan oleh WO dan semua hidangan dan jamuan untuk nanti sudah pesan catering. Semuanya sudah disiapkan Qiyas dengan rapi.
Kia belum sadar jika dihalaman rumahnya sudah didekor juga sedemikian rupa, karena Kia belum menengok dan keluar rumah jadi dia belum menyadari.
Satu persatu semua keluarganya pada datang, dari adik-adiknya Ayah dan Mamahnya, kakek neneknya dan Keluarga lainnya pada berdatangan. Kia fikir itu hal biasa karena dulu juga begitu, akan tetapi Kia belum menyadari jika yang datang melebihi dulu ketika dia menerima khitbahannya Ustadz Faris.
Para semua tamu undangan yang datang sudah dipesan dan dikasih tahu jangan ada yang membahas apapun kepada Kia tentang acara hari itu, dan mereka menyetujui semua setelah dijelaskan maksud yang sesungguhnya.
"Ini pilihanku, apapun yang terjadi nanti akan aku usahakan terima dengan hati yang ikhlas", bathin Kia.
"Aku tidak mau bikin Ayah dan Mamah malu dan aku tidak mau menjadi anak yang durhaka dan bikin mereka sedih", bathin Kia lagi.
Sehabis sarapan Kia disuruh Mamahnya untuk didalam kamarnya saja dan ditungguin salah satu asisstan rumah tangganya untuk menemaninya dan mengawasinya. Karena Mamah Dian berpesan pada Kia untuk jangan melihat kejendela dan membuka jendela kamarnya. Sebab Mamah Dian takut jika Kia akan melihat kehalaman depan dengan cara membuka jendelanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dan Kia sudah mulai dirias oleh MUA yang sudah datang daritadi. Dan ketika Kia lagi dirias MUA dia dikagetkan dengan suara cempreng yang begitu dia rindukan, siapa lagi kalau bukan Mila.
"Assalamu'alaikum Kakaaaaaaak", kata Mila ketika langsung membuka kamar Kia.
Suara menggelegar Mila mengagetkan semua orang yang ada dikamar Kia yaitu tiga MUA yang lagi mendandani Kia, satu orang ada yang merias wajah Kia, ada lagi yang bagian menghenna tangan Kia dan nanti ada juga yang mengurusi hijab dan pakaian Kia.
"Astaghfirulllah Mila", ucapk Kia sambil mengelus dadanya.
"Astaghfirullah", ucap bareng para MUA.
"Wa'alaikumussalam", jawab mereka semua akhirnya.
"Kamu ini sukanya bikin orang jantungan Mila", kata Kia.
"Waaaah, Kakak kamu tambah cantik banget, pasti nanti Kak bule pingsan lihat wajah Kakak", kata Mila tidak menghiraukan perkataan Kia tadi.
"Iya Mbak, aku juga baru kali ini merias wanita yang begitu cantik seperti ini", kata salah satu MUA.
Kia tidak ngeh ketika Mila menyebut dengan Kak Bule yang artinya Qiyas. Coba kalau ngeh dia pasti akan bertanya-tanya, mungkin dia akan mengorek informasi kepada Mila.
"Ukhty semua bisa saja, justru karena cantik inilah cobaan terbesarku mbak", kata Kia kepada para MUA.
"Cantik ko cobaan, cantik ya anugrah mbak Kia", kata salah satu MUA.
"Sudah-sudah percuma mbak-mbaknya memuji Kak Kia, karena Kak Kia tidak suka dipuji, mendingan muji Mila saja mbak", kata Mila kepada para MUA.
"Kamu apanya yang harus dipuji mbak, mbaknya juga masih kecil gitu", kata salah satu MUA yang menyiapkan baju Kia.
"Yeeee, gini-gini Mila sudah punya suami tahuuu", kata Mila kepada MUA tadi.
"Sudah Mila sudah, kamu kesini sama Zidan Mila?? ", tanya Kia.
"Iya Kak, sama Ibu mertua dan Ayah mertua juga", jawab Mila.
Kia yang akan bertanya lagi kepada Mila terpotong dengan kedatangan Mamahnya kekamarnya.
"Mbak-mbak meriasnya cepetan sedikit ya karena pihak laki-laki sudah dekat dan sebentar lagi sampai", kata Mamah Dian mengintrupsi kepada para MUA.
"Baik Bu", kata para MUA.
"Mila ayo keluar dulu jangan ganggu mereka", kata Mamah Dian dan mengajak Mila turun.
"Yaaaah Bibi", kata Mila dengan cemberut akan tetapi tetap mengikuti Mamah Dian.
ππππππππππππ
"Nak sudah siap belum ayo kita segera berangkat takut terjebak macet", kata Bunda Lili kepada Qiyas yang ada didalam kamar.
Qiyas yang lagi dikamar ditemani Zabir pun langsung keluar mendengar teriakan Bundanya. Tadi sebelum mendengar teriakan Bundanya, Qiyas dan Zabir sedang berbicara serius.
"Selamat bro, perjuanganmu sebentar lagi akan berakhir, aku ikut senang dengan ini", kata Zabir kepada Qiyas dengan tersenyum.
Zabir tadi berangkat dari rumah sekitar jam empat subuh, dan baru sampai dirumah Qiyas jam tujuh tadi.
"Alhamdulillah, ini juga berkat do'a-do'a kalian semua", jawab Qiyas dan membalas senyum Zabir.
"Tapi apakah kamu yakin rencanamu ini tidak akan mengagetkan Kia Yas?? ", tanya Zabir lagi.
"Kalaupun kaget aku sangat yakin kalau dia akan tetap menerimaku Zabir", jawab Qiyas mantap.
"Semoga berjalan sesuai rencanamu dan keinginanmu ya teman, Bissmillah", kata Zabir menyemangati Qiyas sambil berpelukan ala laki-laki.
"Terimakasih teman", kata Qiyas juga sambil membalas pelukan Zabir.
Dan tiba-tiba mereka mendengar teriakan Bunda Lili. Qiyas dan Zabir pun keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan yang lainnya diruang tamu, karena semua keluarga besar Qiyas sudah berkumpul semua, termasuk kakek dan neneknya.
Karena waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah delapan semua Keluarga Qiyas berangkat menuju rumah Kia.
Qiyas satu mobil dengan kedua orang tuanya dan yang menyetir adalah adiknya Qiyas yaitu Aulian, Papahnya yang duduk didepan dan Qiyas serta Bundanya duduk dibelakang.
Tepat pukul jam sembilan kurang lima belas menit semua rombongan Keluarga besar Qiyas termasuk Qiyas sudah sampai dikediaman Keluarga Ibrahim.
Dirumah Kia, Mamahnya heboh dan berjalan menuju kamar Kia.
"Mbak-mbak sudah selesai kan makeupnya?? ", tanya Mamah Dian, kepada para MUA.
"Baik tungguin Kia dulu untuk dipanggil, karena pihak laki-laki baru sampai dibawah", pesan Mamah Dian kepada para MUA.
"Baik Bu", jawab para MUA bersamaan.
Kia begitu cantik dengan riasan yang sederhana dan elegan, dan mahkota kecil diatas kepalanya, serta jangan lupakan niqobnya yang serasi dengan bajunya semakin menambah misterius kecantikannya Kia.
Qiyas pun juga memakai pakaian yang sama seperti Kia. Kia yang awalnya bingung karena dia didandani seperti akan menikah bertambah bingung ketika dia disuruh menggunakan gaun cantik sangat syar'i dan persis seperti gaun pernikahan. Kia ingin sekali bertanya kepada Mamahnya kenapa dia dandani seperti itu, akan tetapi waktu yang tidak bisa mengabulkan keinginan Kia, karena Mamahnya sungguh sibuk mengurusi diluar. Ingin bertanya kepada MUA dia segan, akhirnya Kia cuman bisa membathin saja. Ada apakah sebenarnya.
"Ayo tolong bantuin Kia keluar mbak", kata Mamah Dian kepada MUA.
Kia turun dari tangga digandeng dan ditemani Mamahnya dan para MUA mengiringinnya dari belakang sambil memegang ekor gaunnya.
Ketika Kia turun semua pasang mata pada tertuju kepada Kia yang baru turun dari tangga. Kecuali Qiyas, dia sengaja tidak melihat kearah Kia, karena Qiyas ingin melihat Kia nanti setelah waktunya tiba.
Banyak bisik-bisik yang terdengar ditelinga Kia dan Qiyas, akan tetapi mereka hanya mendengarnya saja tanpa memikirkan, karena mereka berdua sedang sibuk menenangkan jantung mereka masing-masing.
Ketika Kia keluar kamar dia selalu menunduk, sampai dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat sekitar, walau dia mendengar bisikan-bisikan para tamu yang datang hingga dia didudukkan disebelah Qiyas pun dia masih menunduk.
Hingga nanti adabsuara sesorang laki-laki yang dia begitu kenal mengalihkan pandangannya kearah samping.
"Sudah siap Mas", kata Seseorang.
Yang ditanya hanya mengangguk memberi jawaban.
"Baiklah mari kita mulai semua acaranya", kata sesorang itu lagi.
"Silahkan Pak", kata orang itu lagi kepada Ayah Ibrahim.
Ayah Ibrahim dan Qiyas langsung bersalaman dan Ayah Ibrahim memberi kode kepada Qiyas dengan menggoyangkan tangan Qiyas.
Bissmillah hirrohmaanirrohiim
"Saya nikahkan engkau saudara Raffasya Qiyas Irawan Bin Ziyas Muhammad Irawan dengan putri kandung saya ADZKIA NABILAH BALQIS
binti Muhammad Ibrahim dengan mas kawin seperangkat alat sholat, surat Ar-rahman dan serta satu set perhiasan berlian seharga dua miliar dibayar tunai", kata Ayah Ibrahim dan langsung dijawab tegas, tenang dan mantap oleh Qiyas.
Kia yang kaget dengan perkataan Ayahnya dia langsung saja mendongak menatap Ayahnya terus kesampingnya dan dia sedikit terbengong sambil memperhatikan sekitar. Ternya fikir Kia jika dia akan lamaran adalah salah, karena dia hari ini langsung menikah.
"Saya terima nikahnya Adzkia Nabilah Balqis binti Muhammad Ibrahim dengan mas kawin seperangkat alat sholat, surat Ar-rahman dan satu set perhiasan berlian seharga dua miliar dibayar tunai", jawab Qiyas mantap dan dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?? ", tanya sesorang itu lagi.
Ternyata seseorang yang daritadi bertanya adalah seorang penghulu. Dan sekarang dia bertanya lagi.
Saaaaaaaaahhh
Sah
Sah
Saaaah
Suara para saksi dan tamu yang datang bersahut-sahutan. Qiyas setelah itu melihat kearah Kia yang begitu cantik bahkan sangat cantik dimatanya hari ini. Kia yang daritadi masih melihat kearah Qiyas dia tidak sadar jika Qiyas juga melihat kearahnya dan tersenyum sangat manis kepadanya. Hingga suara intrupsi dari seseorang membuyarkan lamunan Kia yang daritadi masih melihat Qiyas.
"Kia sayang, ayo cium tangan suaminya", kata sesorang yang langsung membuat Kia menengok kearah orang yang berbicara tadi.
Kia langsung mencium tangan Qiyas dan Qiyas setelah itu berdo'a diubun-ubun Kia serta meniupkannya. Qiyas lalu berbisik persis dihadapan Kia dan sambil tersenyum manis terhadap Kia.
"Istriku", bisik Qiyas kepada Kia sambil memegangi kedua pipi Kia dengan kedua tangannya, setelah itu Qiyas langsung mencium kening Kia dengan sangat lembut dan sayang.
Hingga membuat para tamu yang datang, yang mereka pada tahu lika liku cinta Qiyas kepada Kia ada yang menitikkan air matanya terharu, ada yang baper bagi para jomblo dan ada yang sangat iri dengan keromantisan mereka.
Yang satu cantik dan yang satunya sangat tampan, begitulah fikir para tamu yang datang. Setelah acara mencium kening Qiyas membacakan Surat Ar-rahman sebagai mahar yang dia sebutkan tadi.
"Bisa saya bacakan sekarang Ayah Surat Ar-Rahmannya", ijin Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
Ayah Ibrahim langsung mempersilahkan Qiyas membaca Surat Ar-Rahman. Qiyas lalu membaca Surat Ar-Rahman dengan begitu merdu dan fasih, hingga membuat Kia tanpa sadar menitikkan matanya terharu dan terenyuh.
Tidak cuman Kia saja, hampir semua yang mendengar Qiyas membaca surah Ar-Rahman juga sangat terharu. Sungguh merdu suara Qiyas.
Setelah selesai membaca Surat Ar-Rahman, Pak Penghulu mengasih arahan untuk menandatangi semua berkas dan buku nikah. Qiyas juga disuruh membacakan sighat ta'liq talaq yang ada dibelakang buku nikah dan didengar serta disaksikan semua orang yang hadir.
Semua para orang yang ada disitu pada gembira dan bahagia terutama Qiyas dia sangat lega akhirnya dia bisa memiliki Kia seutuhnya. Ayah Ibrahim dan Mamah Dian serta Bunda Lili dan Papah Ziyas mereka sangat bahagia melihat putra putri mereka akhirnya bisa bersatu dipelaminan.
Qiyas dan Kia digiring dipelaminan kecil tapi begitu elegan dan mewah yang sudah tertata rapi dibawah tenda yang ada didepan rumah Ayah Ibrahim. Hanya keluarga inti dan dekat yang mereka undang. Untuk resepsi besar-besaran Qiyas akan merundingkannya dulu kepada Kia, karena untuk hal itu harus dibicarakan bersama, sebab mereka sudah menjadi sepasang suami istri.
ππππππππππππ
Author ikut terharu, author mewek rasanya nulis part iniπππ, apakah readers jugaππ
Tadi readers ada yang datang nggak diacaranya Qiyas, kan diundang semuaπππ.
Semoga part ini sesuai ekspetasi kalian semua yups, dan yang menebak akan lamaran, maaf kalian kurang beruntung, silahkan coba lagi menebaknya lain kali πππ
ππππππππππππ
***TBC***