BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
EXCAP COMING SOON BABYNYA MILA



Pesawat jet yang ditumpangi Qiyas beserta Keluarga sudah sampai dengan selamat diBandar Udara Internasional Dubai.


Dan setelah tadi dijemput oleh orang suruhannya Qiyas, saat ini Qiyas, Kia baby Zaiy dan Ayah Ibrahim serta Mamah Dian mereka semua sudah sampai dirumahnya Qiyas yang ada diDubai.


"Assalamu'alaikum", kata Kia dan Ayah Ibrahim secara bersamaan ketika sudah dibukakan pintu gerbangya oleh petugas keamanan yang berjaga dirumahnya Qiyas.


Sedangkan Mamah Dian dia masuk sambil bengong menikmati pemandangan rumahnya Qiyas.


"Masyaallah", kata Mamah Dian akhirnya.


"Ayo masuk", ajak Qiyas kepada semuanya sambil menggendong baby Zaida.


"kulu shay' tama tahdiruh watanzifuh min aldaakhil , 'alays kadhalika?" ,


(Sudah disiapin dan diberesin semua kan didalam??) ", tanya Qiyas kepada petugas yang disuruh Qiyas untuk membersihkan rumahnya.


"bialfiel alsayid qias" (sudah Tuan Qiyas) ", jawab petugas yang dikerjakan Qiyas.


"shukran"(terimakasih) ", kata Qiyas sambil tersenyum ramah. Dan setelah itu petugas itu berlalu untuk masuk kedapur dan menyiapkan makanan untuk Qiyas dan semuanya.


Mamah Dian dan Ayah Ibrahim mereka sudah berkeliling daritadi untuk melihat-lihat rumahnya Qiyas yang begitu besar dan luas.


Sedangkan Kia dia daritadi mengikuti Qiyas dibelakangnya sambil menggendong baby Zayan yang sedang tertidur.


"Ayo Umi, kita masuk kekamar yang dulu sering Abi tempatin", ajak Qiyas kepada Kia.


Dan Kia lalu mengikuti kemana langkah kakinya Qiyas menuntunnya. Tibalah Kia dan Qiyas dikamar yang super besar dan bagus yang ada didalam rumah itu, dan jika membuka kaca jendelanya langsung terlihatlah pemandangan laut yang sangat luas sekali.


Kia lalu dengan perlahan menaruh baby Zayan keatas ranjang king sizenya Qiyas, dan berjalan menuju balkon dan membuka jendelanya.


"Masyaallah indahnya", kata Kia ketika dia melihat pemandangan yang bisa dia lihat dibalkon kamarnya Qiyas.


"Umi suka", kata Qiyas sambil menggendong baby Zaida yang makin lucu dengan muka kebuleannya.


"Suka sekali Abi", jawab Kia dan langsung memeluk Qiyas dan menciumin wajahnya baby Zaida.


"Masak Zaida saja yang diciumin, Abi tidak nih", kata Qiyas kepada Kia. Dan Kia tertawa mendengar perkataannya Qiyas.


"Abi cemburu cayang, sama Zaida", kata Kia sambil menggoda Zaida dan membuat Zaida langsung tertawa dengan lucunya.


Membuat Qiyas juga reflek ikut tertawa dan langsung mencium keningnya Kia. Ketika mereka sedang gemas dengan tingkahnya Zaida, tiba-tiba terdengar bunyi Hpnya Kia yang ada diatas ranjang, karena tadi buat menyetel murotal untuk Zayan.


"Hallo Mah, ada apa, satu rumah ko menelfon segala sih", kata Kia ketika mengangkat telefon Mamahnya, dan ternyata yang menelfon Mamah Dian.


"Kia, rumahnya Qiyas sangatlah besar, dan kamarnya sangat banyak, Ayah sama Mamah ini kita tidur dimana?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia.


Qiyas yang waktu itu masih diteras balkon, dia lalu masuk dan mendengarkan siapa yang menelfon Kia.


"Sebentar biar Kia tanyain keAbinya Zaiy Mah", jawab Kia kepada Mamah Dian.


"Ada apa sayang??, siapa yang menelfon?? ", tanya Qiyas yang mendengar namanya dibawa-bawa.


"Mamah nih Abi", jawab Kia sambil menyerahkan hpnya kepada Qiyas suaminya.


"Hallo Mah?? ", kata Qiyas ketika sudah menerima Hpnya Kia dan juga memberikan baby Zaida kepada Kia.


"Iyas, Mamah sama Ayah tidur dikamar mana, kamar dirumah kamu sangat banyak, Ayah sama Mamah kebingungan ini", tanya Mamah Dian kepada Qiyas.


"Mamah sama Ayah dimana sekarang?? ", tanya Qiyas kepada Mamah Dian.


"Diruang tamu kamu ini", jawab Mamah Dian lagi.


Qiyas yang mendengar perkataannya Mamah Dian dia langsung keluar kamarnya dan menuju keruang tamu dengan sambungan telefon yang masih terhubung.


Ketika sudah sampai diruang tamu Qiyas lalu mematikan sambungan telefonnya dan dia lalu memanggil Mamah Dian serta Ayah Ibrahim.


Dan kamarnya ternyata bersebelahan dengan kamarnya, kamar nomor dua yang terbesar dirumahnya setelah kamar tidurnya tadi dengan Kia.


"Ini kamarnya Mah, Yah, Qiyas sudah menyediakan kamar ini untuk kalian berdua, ini kamar nomor dua yang paling besar setelah kamarnya Iyas Mah, Yah, jika kalian tidak suka, Mamah sama Ayah boleh pilih kamar mana saja yang ada dirumah ini", jelas Qiyas kepada Mamah Dian dan Ayah Ibrahim.


"Terus kamar kamu sama Kia dimana Yas?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas.


"Itu disebelah kirinya kamar ini, dilantai ini cuman ada tiga kamar yah, ada Kamar utama, kamar kedua, dan kamar ketiga", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim.


Kamar yang Qiyas maksud itu berada dilantai 2, sedangkan yang dilantai satu, khusus kamar para tamu yang ingin berkunjung kerumah itu.


Sedangkan yang ada dilantai tiga, juga ada kamar lagi, dan jumlahnya sekitar empat kamar dan satu balkon yang sangat besar.


"Ya sudah Mamah tidur disini saja Qiyas, lagian jika ingin melihat baby Zaiy kan dekat", kata Mamah Dian kepada Qiyas.


"Baiklah kalau begitu Iyas tinggal ya Mah, kalian istirahat saja dulu, Iyas juga mau istirahat", pamit Qiyas kepada Mamah Dian dan Ayah Ibrahim.


Setelah itu Qiyas dia kembali lagi kekamarnya dan beristirahat bersama istri dan kedua anak kembarnya, baby Zaida ternyata sudah tidur ketika ditinggal dia tadi, sambil meminum ASInya Kia.


DiIndonesia, tepatnya dirumahnya Mila dan Zidan yang saat ini Mila yang sudah sangat kesusahan untuk beraktifitas karena sudah hamil besar dan juga badan Mila yang semakin ndut membuat Mila sering merasakan kecapekan yang sangat.


Berbeda dengan Mila, Kia sehabis melahirkan, badannya tidak gendut seperti Mila akan tetapi lebih berisi dibandingkan dengan dia sebelum hamil baby Zaiy.


"Ibu mertua", panggil Mila dengan suara yang seperti menahan sesuatu dan terpaksa memanggil Ibu Gendhis ibu mertuanya.


Ibu Gendhis yang saat itu sedang didapur dia langsung saja menuju Mila yang sedang berada diruang tamu.


"Ada apa nak, apa Mila ingin membutuhkan sesuatu", tanya Ibu Gendhis ketika sudah sampai diruang tamu.


Mila langsung saja menarik tangannya Ibu Gendhis untuk duduk disebelahnya. Dan Ibu Gendhis pun menurutinya saja. Karena didalam rumah itu cuman ada Mila dan Ibu Gendhis, sebab Zidan dan Ayah Erlangga mereka sedang pada bekerja.


"Ibu tolong usapin perutnya Mila ya, rasanya Mila ngap dan begah banget", kata Mila sambil menaruh tangannya Ibu Gendhis diatas perutnya.


Untung tadi Ibu Gendhis sudah mematikan kompor ketika mendengar Mila memanggilnya, jadi ketika Mila meminta untuk mengusap perutnya Ibu Gendhis langsung saja menurutinya.


"Baiklah sini, Mila tiduran dipahanya Ibu", kata Ibu Gendhis menyuruh Mila untuk rebahan dishofa sambil kepalanya disandarkan dipaha Ibu mertuanya.


Mila dengan perlahan dia melakukan apa yang Ibu Gendhis suruh, dan dengan sayang dan perlahan Ibu Gendhis mengusap lembut perutnya Mila sambil mengaji dan setelah itu menyanyikan lagu orang tua-tua jaman dahulu untuk Mila.


Lama kelamaan Mila tertidur dengan rasa nyaman yang dia rasakan. Dan Ibu Gendhis ketika melihat Mila sudah tertidur pulas, dengan perlahan dia bangun dan menggantikan pahanya dengan bantal shofa yang ada disitu.


Ketika baru beranjak beberapa langkah, terdengarlah bunyi telefon rumah yang berdering yang ada diruang keluarga. Dan ketika diangkat oleh Ibu Gendhis ternyata Zidanlah yang menelfon dan menanyakan keadaannya Mila.


"Hallo Assalamu'alaikum", salam Ibu Gendhis ketika mengangkat telefon rumahnya.


"Wa'alaikumussalam, ini Zidan Bu, Milanya ada??, daritadi Zidan telefon dihpnya ko tidak diangkat?? ", tanya Zidan kepada Ibunya.


"Oh kamu Zidan, Mila dia sedang tertidur dishofa ruang tamu tuh, setelah tadi dia meminta Ibu untuk mengusap-usap perutnya katanya dia sangat begah sekali", jawab Ibu Gendhis kepada Zidan.


"Mila jika begah begitu juga pasti minta Zidan untuk mengusap perutnya Bu, dan nanti kalau Mila jatuh bagaimana Bu, Ibu tolong tungguin Mila sebentar ya, biar Zidan ijin sama kantor untuk pulang", kata Zidan kepada Ibunya.


Walaupun shofa dirumahnya Zidan cukup besar, akan tetapi rasa khawatirnya Zidan adalah wajar, karena Mila dia sedang hamil besar, dan Zidan sebenarnya dia sudah kefikiran terus sama Mila ketika dia tinggal bekerja, karena Mila sudah hamil tua, dan bisa sewaktu-waktu melahirkan kapan saja.


"Iya Ibu sebenarnya juga takut Mila jatuh, tapi Ibu juga tidak bisa menggendong Mila kekamar, mangkanya itu dipinggir-pinggir shofa Ibu taruh bantal shofa yang banyak Dan", kata Ibu Gendhis kepada Zidan.


"Baik Ibu tunggu kamu, Ibu lagian juga kasian sama Mila yang sudah susah untuk bergerak", kata Ibu Gendhis lagi kepada Zidan.


Setelah Zidan mengakhiri panggilannya dan mengucap salam, akhirnya sambungan telefon benar-benar terputus.


Dan Zidan juga ijin kepada Papah Ziyas untuk pulang lebih awal untuk menemani Mila. Papah Ziyas langsung saja memberikan ijin kepada Zidan, karena Papah Ziyas juga mengetahui jika Mila sedang hamil besar.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC EXCAP***