BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KETERKEJUTAN QIYAS



Sedangkan Qiyas dia menghentikkan perkataannya dan jantungnya seakan mau meledak, sambil juga melototkan matanya kepada Kia yang ada disamping Ayah Ibrahim. Qiyas menjadi kaku, bingung, deg-degan, senang, sedih, bahagia, entah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sepertinya waktu sedang berhenti bagi Kia dan Qiyas saat itu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Ayah Ibrahim yang melihat Qiyas dan Kia secara bersamaan dia merasa aneh dengan dua orang itu, sama-sama melotot dan terbungkam, apa mereka sebelumnya sudah lama mengenal, begitulah yang difikirkan Ayah Ibrahim.


Sedangkan Zidan yang melihat Qiyas dan wanita bercadar disamping Tuan Ibrahim menjadi bingung, kenapa Tuannya menjadi kaku begitu, fikirnya.


Eheeemmm!!!!


Ayah Ibrahim sengaja berdehem untuk mencairkan suasana antara Kia anaknya dan Qiyas mantan menantunya.


Kia dan Qiyas mendengar deheman dari Ayah Ibrahim langsung tersadar dan beristighfar dalam hati sambil menenangkan jantung mereka masing-masing yang masih berdegub kencang.


"Mari Nak Iyas silahkan duduk, kenapa malah berdiri terus daritadi", kata Ayah Ibrahim mempersilahkan Qiyas duduk.


Qiyas berjalan kekursi yang dituju walaupun sudah duduk dia masih terus memikirkan ada hubungan apa antara Ayah Ibrahim dan Balqis, begitulah benak Qiyas daritadi bertanda tanya terus.


"Ko pada diam-diaman, sebenarnya kaliyan sudah saling kenal belum sih, tetapi dari gelagat kaliyan sepertinya kaliyan sudah saling kenal", kata Ayah Ibrahim sambil melihat Kia dan Qiyas bergantian.


Qiyas merasa kikuk karena mendapatkan tempat duduk pas diseberang Kia, sedangkan Zidan ada diseberang Ayah Ibrahim.


"Eem.... Emm A..... Ayah kenapa bisa kesini sama Balqis?? ", tanya Qiyas sambil tergagap.


Zidan yang melihat Tuannya gagap malah tambah bingung, siapa sebenarnya gadis bercadar itu, kenapa bisa bikin Tuannya menjadi seperti Azis gagap, bathinnya.


"Balqis??? ", beo Ayah Ibrahim.


"Maksut kamu Kia ini ya Nak Qiyas", tanya Ayah Ibrahim lagi sambil merangkul Kia.


Qiyas yang bingung kenapa Kia mau-mau saja dirangkul Ayah Ibrahim, ada hubungan apa mereka sebenarnya, bathin Qiyas sangat penasaran.


Dan Qiyas hanya mengangguk menanggapi perkataan Ayah Ibrahim.


"Kia ini ya anak Ayah yang nomer dua Iyas, adiknya Afrin Aaliyah Salsabila, yang dulu sering kamu panggil Bila", jawab Ayah Ibrahim. Dan sontak membuat Qiyas terlonjak kaget dengan jantung yang akan mau copot, sama seperti Qiyas, Kia juga sangat terkejut, ternyata Ustadz Fasya adalah mantan tunangan Kakaknya.


"Apaaaaaaaaaaaaaaa!!!!............... ", teriak Qiyas sambil berdiri dan menggebrak meja.


Semua orang yang ada diruangan itu langsung saja kaget dan terkejut mendengar teriakan serta gebrakan meja dari Qiyas. Untung saja Qiyas memesan tempat yang VVIP yang kedap suara. Jadi tidak bakal terdengar dari luar suara menggelegar Qiyas tadi.


"Ma..... Maaf, maaf Ayah, saya hanya terkejut dan reflek, maafkan sikap Iyas Ayah", kata Qiyas.


Qiyas memang memanggil Ayah Ibrahim dengan panggilan Ayah karena permintaan dari Ayah Ibrahim sendiri dulu ketika sesudah melamar Afrin, dan jika bertemu kembali tetap harus memanggil dengan panggilan Ayah, walaupun Qiyas tidak jadi menjadi menantu Ayah Ibrahim, itu yang dikatakan Ayah Ibrahim setelah meninggalnya Afrin Kakak Kia.


"Tidak apa-apa Nak", kata Ayah Ibrahim sambil tersenyum ramah.


"Dari tatapan matamu kamu sangat mencintai Kia nak Iyas, apakah kamu sudah tahu apa yang terjadi dengan Kia dulu", bathin Ayah Ibrahim yang melihat sorot mata Qiyas yang selalu melirik Kia.


"Sayang, apakah kamu sudah mengenal Nak Iyas?? ", kata Ayah Ibrahim kepada Kia.


"Sudah Ayah, dulu Ustadz Fasya juga pengajar diPesantren Darunnajah yang dulu tempat Kia mondok dan mengajar Ayah", jawab Kia menundukkan wajahnya, karena malu dilihatin Qiyas terus.


Qiyas yang sudah lama tidak melihat Kia, rasanya ingin memandang Kia terus. Hingga akhirnya dia tersadar jika yang dilakukannya adalah dosa.


"Astaghfirullah hal'adzim", bathin Qiyas beristighfar dan langsung mengalihkan pandangannya keAyah Ibrahim.


Ayah Ibrahim yang bingung hanya cuman bisa menirukan perkataan Kia.


"Maksutnya bagaimana nak, pesantren, mengajar dan Ustadz Fasya, Ayah bingung?? ",


"Kia tidak tahu Ayah jika pekerjaan Ustadz Fasya tidak cuman menajdi guru?? ", jawab Kia.


"Begini Ayah Ibrahim biar Iyas saja yang menjelaskan", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim, sontak Ayah Ibrahim mengalihkan pandangannya yang daritadi keKia sekarang keQiyas.


"Balqis ini pernah menolongku ketika saya mau kesrempet motor Ayah, dan ketika saya mengambil cuti, saya mengajar diPesantren Darunnajah dan bertemu lagi dengan Balqis, dan saya memang sengaja menyembunyikan identitas asli saya kecuali dengan keluarga Pak Kyai, karena anak Pak Kyai adalah teman saya sejak saya SMA Ayah", jelas singkat dari Qiyas.


"Kamu kenapa manggil Kia dengan Balqis nak, bikin Ayah bingung, sedangkan kamu Kia kenapa juga kamu memanggil nak Iyas dengan Ustadz Fasya, bukannya panggilannya nak Iyas itu Qiyas?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas dan Kia.


"Saya memang sengaja memanggil Kia dengan panggilan Balqis karena itu panggilan khusus dan sayang dariku Ayah", jawab Qiyas tanpa malu mengakui kepada Ayah Ibrahim.


Ayah Ibrahim semakin terkejut mendengar perkataan Qiyas. Sontak Ayah Ibrahim mengalihkan pandangannya kepada Kia. Dan Kia menyadari arti dari pandangan tersebut.


"Ka...... Kalau Kia lebih menyukai memanggil Fasya daripada Qiyas Ayah", jawab Kia gugup.


Qiyas yang mendengar jawaban Kia hatinya langsung berbunga-bunga, akan tetapi tiba-tiba langsung meredup karena Qiyas teringat jika Kia sudah menjadi istri orang. Qiyas belum tahu saja apa yang sebenarnya terjadi dengan Kia.


Ayah Ibrahim hanya menepuk keningnya gemas dengan Qiyas dan Kia. Menurut Ayah Ibrahim Qiyas mencintai Kia akan tetapi tidak berani mengungkapkannya. Terlihat dari mata Qiyas yang memancar ketika melihat Kia.


Sedangkan yang difikirkan Zidan, ternyata gadis yang dulu pernah diceritakan Tuannya ketika masih diDubai ternyata gadis berniqob ini tho. Aku malah jadi kangen dengan gadis lucuku itu, lagi ngapain ya, bathin Zidan berkelana sampai kemana-mana.


"Kaliyan itu sama-sama aneh, kayak Afrin dulu juga kalau memanggil Kia maunya yang beda, akhirnya dia memanggil Kia dengan panggilan Nabil, sedangkan kamu nak Iyas dulu juga memanggil Afrin dengan panggilan Bila, bikin pusing jika orang belum mengetahui, dikira itu orangnya banyak, padahal orangnya sama", kata Ayah Ibrahim kepada Kia dan Qiyas sambil menggelengkan kepalanya.


Sontak perkataan Ayah Ibrahim membuat Kia malu dan terus menunduk mengaduk-ngaduk buah yang ada dihadapannya. Sedangkan Qiyas malah tertawa kecil menanggapi perkataan Ayah Ibrahim.


"Ayo Ayah dan Balqis dimakan dan silahkan dinikmati makanan dan minumannya", kata Qiyas mempersilahkan.


Mereka makan dengan suasana tenang, canggung dan kaku bagi Kia dan Qiyas. Setelah selesai menikmati hidangan yang ada dimeja, mereka semua membahas pengajuan yang diajukan oleh Perusahaan Qiyas. Ayah Ibrahim setuju dan langsung menandatangani berkas-berkas yang sudah disiapkan oleh Zidan.


"Tuan Ibrahim bolehkah saya bertanya kepada Anda?? ", tanya Zidan kepada Ayah Ibrahim.


"Silahkan Zidan", jawab Ayah Ibrahim.


"Kemarin sekertaris Anda yang bernama Rion katanya yang akan mendampingi Anda Tuan", tanya Zidan.


"Iya, akan tetapi kerjasama ini yang akan menangani adalah Kia, jadi saya sengaja mengajak Kia dan menugaskan Rion menghandle kantor", jawab Ayah Ibrahim.


"Lagian jika Kia tidak ikut, kita tidak akan bakal bisa senam jantung begini kan Zidan", jawab Ayah Ibrah lagi sambil menggoda Kia dan Qiyas.


Kia terus menunduk menyembunyikan malunya sedangkan Qiyas jantungnya tidak berhenti deg-degan.


"Jadi nanti Tuan Qiyas dan Nona Kia bakalan sering ketemu ya Tuan Ibrahim", kata Zidan juga menggoda Qiyas.


Qiyas yang daritadi tidak ngeh menjadi ngeh karena perkataan Zidan, apa maksutnya sering ketemu sama Kia. Bathinnya bertanya.


"Tentu saja, kan sudah saya jelaskan jika kerjasama ini saya serahkan kepada Kia dan Kia yang akan bertanggung jawab terhadap kerjasama ini nak Zidan", jawab Ayah Ibrahim dengan tersenyum ramah.


"Apa Nona Kia ini CEO diPerusahaan IBRAHIM COMPANY ya Tuan", kata Zidan bertanya kepada Ayah Ibrahim.


"Betul sekali perkataanmu Zidan", jawab Ayah Ibrahim.


Qiyas yang mendengar perkataan Ayah dan Zidan reflek mengalihkan pandangannya keKia, dia tidak menyangka bahwa wanita bercadar yang dia kenal dan cintai bisa menjadi seorang CEO Perusahaan yang lumayan besar dengan niqob yang masih istiqomah menutupi muka cantiknya. Bathin Qiyas bangga kepada Kia.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***