
Pagi harinya Mila yang sudah berangkat kuliah dan dianter supirnya. Dia mendapatkan tugas untuk mata kuliahnya yang sangat susah, karena berhubung dia belum mempunyai buku untuk tugas kuliyahnya, Mila sengaja pergi kePerpustakaan kota yang berada dijalan Yudistira untuk mencari buku untuk tugasnya.
Karena waktu juga sudah menunjukan pukul setengah satu, Mila segera mencari masjid terdekat untuk sholat dhuhur dan setelah itu dia akan mencari Caffe untuk membeli makan siang.
Ketika sudah selesai sholat dhuhur Mila berjalan kaki sambil melihat-lihat tempat makan yang ingin dia singgahi, akhirnya dia tertarik dengan Caffe yang bernama Caffe Jingga.
Mila memutuskan untuk masuk keCaffe tersebut dan mencari salah satu bangku yang kosong. Tanpa Mila sadari disalah satu bangku ada sesorang yang sudah mengamatinya sejak Mila masih dijalan dan melihat kearah Caffe. Karena sesorang tersebut duduk didekat jendela kaca yang lumayan besar dan dapat melihat pemandangan dari luar. Sesorang tersebut selalu mengamati Mila hingga Mila duduk dan disamperin waiterss, ketika waiterss tersebut pergi untuk mengambilkan pesanannya Mila. Seseorang tadi langsung beranjak dari duduknya serta membawa makanan dan minumannya kemeja Mila.
"Bolehkah saya duduk disini", kata sesorang tadi.
Mila yang saat itu sedang menunduk dan memainkan Hpnya kaget ketika mendengar suara maskulin yang begitu dekat dengannya, ketika dia melirik kebawah dia melihat sepatu fantovel laki-laki yang mengkilap,........
"Masyaallah, sepatunya mengkilap sekali, bagaimana wajahnya ya", kata Mila dengan polosnya terus dia melihat dari bawah lalu naik keatas dia melihat pakaian rapi dan jaz kantoran yang menurutnya mahal hingga dia sampai kewajah pemilik sepatu.
"Astaghfirullah hal'adzim", kaget Mila sambil memegangi dadanya.
Laki-laki tadi langsung duduk dan menaruh makan, serta minumannya dimeja walaupun belum dipersilahkan duduk oleh Mila.
"Haah, tadi pas lihat sepatuku bilangnya Masyaallah, pas lihat mukaku, kenapa malah Astaghfirullah sih Mila", kata laki-laki yang duduk dihadapannya Mila.
"Lagian sih Kak Tamtam bikin Mila kaget saja, kirain siapa?? ", jawab Mila.
Yaps, laki-laki yang daritadi mengamati Mila adalah Zidan Pratama sekertaris Qiyas. Karena kebetulan dia tadi habis meeting dengan Client diCaffe itu untuk menggantikan Qiyas dan ketika Clientnya pergi dia hanya menaruh berkas-berkas serta Laptop yang dia bawa kedalam mobil, terus Zidan kembali lagi kedalam Caffe untuk makan siang.
"Kan Kakak tadi sudah ijin dulu Mila ke kamu, boleh tidak duduk disini", kata Zidan ke Mila.
"Tuh, nyatanya Kakak belum Mila persilahkan sudah duduk duluan", jawab Mila dengan polosnya.
"Ya lagian kamu kelamaan, jadi boleh tidak nih, Kakak duduk disini, kalau tidak boleh ya Kakak akan pindah", kata Zidan.
"Emang kalau Mila bilang tidak boleh, apa Kakak akan beneran pindah?? ", kata Mila kepada Zidan.
"Ya tidaklah", jawab Zidan reflek.
"Yeee sama saja kali Kak", kata Mila.
Tiba-tiba waiterss datang membawa semua pesanan Mila, dan pesanan Mila membuat Zidan terkejut.
"Kamu pesan sebanyak ini, beneran bisa habisin?? ", kata Zidan dengan ekspresi terkejut.
"Hehehe habisnya Mila sudah sangat lapar Kak, tadi habis muter-muter mencari buku buat ngerjain tugas kuliyah", kata Mila sambil meringis.
"Bukannya didalam Islam mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan, dan memubadzirkan makanan Mila, apa kamu beneran sanggup untuk menghabiskan itu semua?? ", tanya Zidan tidak yakin jika Mila bisa menghabiskan semua pesanannya.
Kerena Mila tidak hanya memesan satu atau dua menu melainkan ada tiga makanan dan dua minuman sekaligus, yaitu satu gelas air putih, satu gelas jus alpukat, satu porsi nasi+ayam bakar kecap pedas manis, molten cake atau biasa disebut dengan lava cake, serta salad buah ukuran sedang. Sungguh banyak porsi makanan untuk badan sekecil Mila, fikir Zidan.
"Habis ko, tenang saja Kak Tamtam, karena Mila memesan makanan sesuai porsi Mila, jadi Mila tidak akan memubadzirkan makanan", jawab Mila sambil memakan salad buah terlebih dahulu setelah membaca Bissmillah.
Zidan hanya menggelengkan kepalanya sambil ikutan makan makanannya. Dia tidak habis fikir, jika wanita lain pada jaim jika diajak makan oleh laki-laki atau makan bareng laki-laki yang belum terlalu dekat dengannya, hlah ini Mila dia cuek-cuek saja makan.
"Sudah polos, lugu dan kalau ngomong ceplas-ceplos, porsi makannya pun sungguh mengejutkanku, wanita yang aneh, tapi yang lebih aneh adalah aku, karena aku bukannya ilfill hlah ko tambah cinta, aneh kan aku", bathin Zidan berbicara sendiri.
"Kamu darimana Mila, tidak kuliah?? ", tanya Zidan disela-sela makannya.
"Kuliah Kak, tadi jam tujuh sampai jam sembilan saja, terus dapat tugas, karena tidak mempunyai bukunya Mila tadi muter-muter mencari bukunya, habis itu makan nih disini ditemanin Kakak", jawab Mila sambil makan ayam bakarnya.
Walaupun Mila kalau ngomong ceplas ceplos tapi soal makan dia santun, karena dia tahu adab cara makan yang sopan, walaupun sambil sesekali berbicara.
"Sudah dapat bukunya?? ", tanya Zidan lagi.
"Sudah, tuh ditas Mila", jawab Mila.
Zidan sebenarnya sudah menghabiskan makanannya daritadi, tetapi melihat Mila belum selesai makan, rasanya dia enggan untuk pulang duluan. Dan ketika Zidan melihat semua makanan dan minuman pesanan Mila yang ada dimeja sudah habis bersih, Zidan diam melongo melihat Mila bisa menghabiskan semua pesanannya. Sebetulnya tadi Zidan juga sudah diatawarin oleh Mila, akan tetapi Zidan tidak mau, fikir Zidan jika Mila nanti tidak bisa menghabiskan, dia yang akan menghabiskannya, daripada mubadzir.
"Mila apa kamu sudah mempunyai pacar?? ", tanya Zidan tiba-tiba.
Walaupun didepan Mila ada Zidan, Mila tidak melihat kearah Zidan setelah menghabiskan makanannya, melainkan kearah samping melihat jalanan dan orang-orang diluar.
"Eh, kan didalam Islam tidak ada kata pacaran Kak", jawab Mila masih stay melihat keluar.
"Terus kalau kamu apakah sudah ada seorang laki-laki yang spesial dihatimu", tanya Zidan kepada Mila.
"Sudah", jawab Mila.
Zidan yang mendengar jawaban Mila hatinya langsung mencelos sakit sekali rasanya. Belum berperang akan tetapi sudah berdarah, begitulah sekiranya yang dirasakan Zidan.
"Bo..... Bolehkah, saya tahu Mila siapa laki-laki yang beruntung itu", tanya Zidan dengan gagap.
"Itu Papah Angga, Kak Satriya, Paman Ibrahim, Om Dion, Om, Yudis", jawab Mila sambil menghitung dengan jari dan tidak lupa juga dia menyebutkan anak-anak om-omnya semua yang laki-laki.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Zidan, dia tadi sudah mempersiapkan hatinya jika mendengar kata-kata yang akan bikin tambah sakit hatinya, akan tetapi dia tidak sakit hati malah jantungan. π π
Zidan yang mendengar jawaban Mila sontak langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menepuk keningnya dengan gemas.
"Bukan itu Mila yang Kakak maksut?? ", kata Zidan setelah bisa meredakan rasa gregetannya.
"Maksut Kakak itu laki-laki yang kamu cintai dan kamu sayangi", sambung Zidan lagi.
"Hlah, mereka semua juga Mila cintai dan sayangi Kak", jawab Mila dengan bingung, dan membuat Zidan mengelus dadanya.
"Kalau begitu kamu mau tidak menikah dengan Kakak", kata-kata Zidan yang daritadi ditahan akhirnya dia keluarkan juga.
Mila reflek langsung melihat kewajah Zidan dengan tanpa ekspresi, sedangkan Zidan yang pertama kali dilihat oleh Mila dengan ekspresi begitu bikin dia panas dingin dan deg-degan.
"Huft, ternyata lebih sulit melamar cewek, daripadi harus berurusan dengan client yang ribet", gerutu Zidan didalam hati.
Mila yang tadi melihat Zidan tanpa ekspresi tiba-tiba dia mengambil Hp dan mengvideo call sesorang diHpnya. Zidan hanya melihat dan memperhatikan semua gerak-gerik Mila, dengan perasaan was-was dan deg-degan.
"Hallo, Assalamu'alaikum sayang, ada apa tumben mengvideo call Kakak", salam dari suara laki-laki yang ditelfon Mila.
Sedangkan Zidan yang mendengar kata sayang dari laki-laki yang ditelfon Mila hatinya serasa langsung pecah ambyarπ.
"Wa'alaikumussalam, bentar-bentar Kak", kata Mila kepada yang ditelfonnya, karena Mila ingin menambahkan seseorang lagi didalam percakapan mereka.
"Hallo Assalamu'alaikum Mila, hlo ada Kakak ternyata, ada apa sayang?? ", ucap salam lagi dari seseorang dan memanggil Mila juga dengan sayang.
Zidan yang dari memperhatikan Mila dibuat bingung dan sedih jadi satu, siapakah sebenarnya yang sedang ditelfon Mila, kenapa semuanya memanggil Mila dengan kata-kata sayang.
"Wa'alaikumussalam, hehe tidak ada apa-apa, em Pah, Kak ada yang ingin berbicara dengan kaliyan, tadi dia melamar Mila dan katanya dia ingin menjadikan Mila istrinya", kata Mila kepada Papah Angga dan Kakaknya Satriya.
Ya, ternyata yang ditelfon Mila adalah Papahnya dan Kakaknya. Sedangkan Zidan rasanya dia tidak bisa merasakan detak jantungnya, Zidan langsung memegangi dadanya karena dia habis mendengar yang ditelfon Mila adalah Papah dan Kakaknya, dan apa kata Mila tadi, dia langsung jujur to the point terhadap Papah dan Kakaknya. Sungguh gadis yang luar binasaππ, fikir Zidan kepada Mila.
"Apaaaaaaaa!!!! ", kata Papah Angga dan Kak Satriya berteriak secara bersamaan.
"Mana orangnya Nak", tanya Papah Angga.
Mila langsung menyodorkan Hpnya keZidan, sedangkan Zidan yang disodorin Hp antara ingin ambil atau tidak. Dia bingung, takut, dan grogi. Akhirnya dengan terpaksa dia mengambil Hp yang disodorin Mila kepadanya.
"Hallo Om dan Kak, Assalamu'alaikum, saya Zidan", salam Zidan menyapa Papah dan Kakaknya Mila sambil tersenyum kaku.
"Apa benar tadi kamu melamar anak saya", kata Papah Angga kepada Zidan, setelah menjawab salam terlebih dahulu.
"Benar Om", jawab Zidan mantap.
"Apa kamu tahu jika adik saya Mila itu masih kecil", kata Kak Satriya Kakaknya Mila.
"Tahu Kak", jawab Zidan yang memanggil Satriya dengan panggilan Kakak, karena bingung dia ingin memanggil dengan panggilan apa. Kalau Zidan tahu jika Kakaknya Mila dengan dia lebih tuaan dia, pasti dia akan terkejut.
"Tapi sepertinya kamu sudah terlalu tua untuk Mila", kata Papah Angga yang membuat Zidan langsung down.
"Umur kamu berapa?? ", tanya Papah Angga.
"Tiga puluh tahun Om", jawab Zidan.
"Haha bahkan umurmu sama umurku saja masih jauh, apalagi dengan Mila", celetuk Kak Satriya serasa mengejek.
"Tapi umur bukan penghalang untuk sesorang jatuh cinta Om, Kak, jika saya main-main dengan Mila, saya tidak akan langsung melamarnya tadi, bahkan sekarang pun saya berani berkata jujur dengan kaliyan, apakah saya kurang serius dengan Mila, apakah saya terlihat sedang mempermainkan Mila??", kata Zidan dengan muka dan nada yang serius, padahal aslinya hatinya sedang dag-dig-dug.
Mila yang daritadi mendengarakan percakapan mereka bertiga, terenyuh ketika Zidan berbicara serius begitu dengan Papah dan Kakaknya. Sedangkan Papah Angga dan Kak Satriya dia langsung diam mendengar perkataan Zidan.
"Baiklah, besuk setelah Isya' bawa kedua orang tuamu dan Keluargamu kerumah kami, jangan telat dan jangan ingkar janji, jikapun kamu ingkar janji jangan harap kamu bisa melihat dan mendekati Mila lagi", kata Papah Angga kepada Zidan.
Zidan langsung sumringah serta tersenyum lebar dan langsung mengangguk menanggapi perkataan Papahnya Mila. Sedangkan Kak Satriya dia mengancam Zidan.
"Awas saja jika kamu cuman mempermainkan adikku", kata Kak Satriya kepada Zidan.
"Insyaallah saya serius Kak", jawab Zidan dengan tersenyum.
"Tolong kasihkan Hpnya keMila", kata Papah Angga kepada Zidan.
"Sudah dengar kan sayang apa yang kami bicarakan, kamu kasih alamat kita keZidan, dan kamu besuk harus pulang ya Nak", kata Papah Angga kepada Mila.
Mila hanya mengangguk memberi jawaban. Sedangkan Kak Satriya memberi wejangan dan suruh menjaga diri sebelum mengakhiri panggilan video callnya.
Akhirnya panggilan videonya benar-benar terputus dan Mila langsung menaruh Hpnya kedalam tasnya lagi.
"Saya serius dengan yang saya bilang kekamu dan kePapah serta Kakakmu, saya besuk akan datang sesuai dengan permintaan Keluargamu Mila, ayo sekarang saya antar kamu pulang", kata Zidan kelada Mila.
Mila mengangguk saja, karena masih syok, dengan apa yang terjadi kepada dirinya sekarang. Setelah menyelesaikan pembayaran yang dibayar Zidan, Zidan akhirnya mengantar Mila kerumah Pamannya Ibrahim karena permintaan Mila, karena Mila sudah menjelaskan kepada Zidan kenapa dia tinggal bersama keluarga Pamannya, serta Zidan ingin menjelaskan apa yang terjadi hari ini kepada semua Keluarga Pamannya Mila.
ππππππππππππ
***TBC***