
Sekitar jam tujuhan pagi Ayah Ibrahim dan Mamah Dian, mereka sudah datang kerumahnya Qiyas dan Kia. Mereka pagi-pagi sekali datangnya karena mereka sangat gembira mengetahui jika mereka sebentar lagi akan mempunyai seorang cucu dan penerus Keluarga Ibrahim. Tadi setelah sambungan video call sudah terputus, Mamah Dian dan Ayah Ibrahim mereka lalu bersih-bersih serta siap-siap untuk berangkat kerumahnya Qiyas dan Kia.
Dan disinila Ayah Ibrahim serta Mamah Dian sedang mengobrol dengan Kia.
"Eh Mamah, Ayah baru sampai Mah, Yah??, sudah sarapan belum, jika belum ayo kita sarapan sama-sama", kata Kia sangat terkejut ketika melihat kedua orang tuanya sudah berada didalam rumahnya.
Lalu Kia mencium tangan kedua orang tuanya dan mengajak mereka duduk dimeja makan.
Kia waktu itu setelah mempersiapkan keperluan Qiyas, Kia rencananya mau menyiapkan sarapan dan ketika akan menuju keruang makan dia malah dikejutkan oleh kedatangan kedua orang tuanya.
Bi Karsi yang tadi membukakan pintu dilarang oleh Mamah Dian untuk memberitahukan kepada Kia atau Qiyas kalau mereka datang.
"Ini Mamah sengaja membawa makanan juga dari rumah, karena ingin makan bersama kamu dan Iyas", kata Mamah Dian sambil mengangkat rantang yang dia bawa.
Kia langsung saja memanggil Bi Karsi untuk menyiapkan makanan yang dibawa oleh Mamahnya.
Semenjak tadi pagi Qiyas mengetahui Kia hamil, Qiyas melarang Kia untuk melakukan pekerjaan rumah, Kia hanya boleh mengurusi Qiyas saja dan untuk urusan kantor nanti mereka bicarakan kembali. Karena kehamilan Kia juga baru mereka ketahui tadi pagi.
"Suami kamu mana, ko tidak kelihatan?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Kia.
"Lagi dikamar Yah, tadi Kia tinggal Kak Fasya lagi mandi", jawab Kia kepada Ayah Ibrahim.
Ketika Kia dan Mamah Dian serta Ayah Ibrahim sedang mengobrol diruang makan, Qiyas baru keluar dari kamar dan terkejut melihat kedua mertuanya sudah berada diruang makan bersama Kia istrinya.
"Assalamu'alaikum Mah, Yah", salam Qiyas kepada Ayah Ibrahim dan Mamah Dian sambil menyalami dan mencium tangannya mereka berdua.
"Wa'alaikumussalam", jawab Mamah Dian dan Ayah Ibrahim secara bersamaan.
"Mamah sama Ayah daritadi datangnya?? ", tanya Qiyas kepada kedua mertuanya ketika Qiyas sudah duduk dikursi ujung meja makan. Sedangkan Kia duduk disamping meja sebelah kanan, dan Ayah Ibrahim serta Mamah Dian mereka duduk disamping meja sebelah kiri.
"Tidak baru saja datang nak, Mamah rasanya bahagia sekali mendengar kabar kehamilan Kia, jadi Mamah tidak sabar ingin kesini", kata Mamah Dian dengan suara yang terlihat bahagia.
"Iya nak, Ayah juga senang sekali, karena tidak menyangka sebentar lagi akan mendapatkan seorang cucu", kata Ayah Ibrahim.
Qiyas dan Kia yang mendengar perkataan Ayah Ibrahim dan Mamah Dian, perasaan mereka sangat mengahangat, karena calon anak mereka banyak yang menyayangi.
"Ini bau apa sih Kak, Mah", tanya Kia dengan sambil menutup hidungnya yang tertutup niqob.
Kia lalu membaui semua makanan yang terhidang dimeja makan. Ketika hidungnya mencium bau makanan tumis udang dan cumi dengan sambal asam pedas manis kesukaannya. Kia lalu berlari menuju kekamar mandi yang ada diruang makan dan langsung memuntahkan cairan liur lagi dari mulutnya.
Qiyas yang melihat Kia berlari kekamar mandi dia juga ikut-ikutan berlari menghampiri Kia. Ketika melihat Kia muntah-muntah dengan sabar Qiyas memijat tengkuk Kia dan perlahan melepaskan niqobnya Kia yang kotor terkena muntahan tadi.
Sedangkan Mamah Dian dan Ayah Ibrahim yang melihat Kia muntah-muntah mereka juga sangat sedih dan kasihan, tapi mau bagaimana lagi yang namanya hamil muda hampir semua wanita hamil begitu, akan tetapi tidak semuanya.
"Kia tidak apa-apa nak?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia didepan kamar mandi.
"Mah, tolong tutupin pintu ruang makannya ya Mah, ini soalnya niqob Kia kotor kena muntahan tadi", kata Qiyas meminta tolong kepada Mamah Dian sambil terus memijit tengkuk Kia
"Sudah sayang", kata Qiyas kepada Kia ketika Kia membasuh mulutnya. Dan dijawab anggukan lemah dari Kia.
Qiyas lalu menuntun Kia duduk lagi kekursi makan yang tadi Kia duduki.
"Bagaimana nak, masih mual?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Kia.
"Masih Yah", jawab Kia pelan.
"Mah, Kia minta maaf tolong pinggirin tumis itu ya Mah, Kia tidak kuat dengan baunya", Kata Kia kepada Mamah Dian ketika Mamah Dian sudah kembali dari menutup pintu ruang makan.
Mamah Dian lalu menyingkirkan tumis udang dan cumi itu, padahal Mamah Dian sengaja memasakkan itu untuk Kia, karena itu salah satu makanan kesukaannya Kia.
"Mah, maafin Kia ya, Kia tidak bermaksud untuk begitu, pasti Mamah kecewa ya, karena Kia tahu Mamah sengaja memasakkan masakan kesukaan Kia itu untuk Kia", kata Kia kepada Mamah Dian dengan nada sedih.
"Mamah tidak kecewa atau marah sayang, Mamah memakluminya, karena itu bukan kemauanmu, tapi karena hormon kehamilanmu", jawab Mamah Dian kepada Kia dengan tersenyum khas seorang Ibu.
Karena semua pembantu, pekerja kebun dan security bahkan bodyguard yang bekerja dirumah Kia, mereka semua berangkatnya pukul enam pagi dan pulang pukul lima sore. Sedangkan yang security dan bodyguard yang bershif sore tinggal gantian waktunya sama yang pagi. Yang sore mereka berarti berangkatnya jam lima sore dan pulang jam enam pagi.
Jika untuk bayaran sendiri semuanya Qiyas menggaji mereka berbeda-beda antara pembantu, tukang kebun dan security serta bodyguard juga berbeda.
"Tidak usah Abi, Umi belum menginginkan sesuatu, Umi akan coba makan yang ada dimeja makan ini", jawab Kia kepada Qiyas.
Ayah Ibrahim dan Mamah Dian yang mendengar Kia dan Qiyas saling memanggil dengan panggilan Abi dan Umi, Ayah Ibrahim dan Mamah Dian mereka merasa terharu dan senang rasanya mendengarnya.
"Baiklah jika butuh apa-apa jangan sungkan bilang sama Abi, Mamah atau Ayah ya sayang", jawab Qiyas kepada Kia.
Mereka akhirnya sarapan dengan khidmat, kecuali Kia yang dari satu suapan sendok sudah ingin muntah, dia tahan karena tidak mau membuat suami, dan kedua orang tuanya merasa khawatir kepadanya.
Sendok yang kedua, Kia sudah tidak bisa menahannya. Kia lalu berdiri dan langsung berlari tergesa menuju kekamar mandi dan langsung memuntahkan makanan yang baru satu sendok masuk kemulutnya tadi.
Qiyas yang melihat Kia belari kekamar mandi dia lalu menghentikan makannya dan langsung beranjak mendekati Kia dikamar mandi. Begitupun Ayah Ibrahim dan Mamah Dian. Mereka segera menghabiskan makanannya agar bisa segera menemani Kia.
Qiyas masih senantiasa menemani Kia dikamar mandi tanpa jijik sedikitpun, bahkan yang menyiram mutahannya Kia adalah Qiyas.
"Sudah sayang", tanya Qiyas lagi kepada Kia. Dan dijawab anggukan lemas oleh Kia.
"Abi maukah Abi menggendong Umi kekamar, rasanya badannya Kia lemas sekali buat jalan dan kepala Umi pusing sekali", kata Kia kepada Qiyas.
Qiyas tanpa memberi jawaban kepada Kia dia langsung menggendong Kia ala bridalstyle dan berlalu untuk menuju kedalam kamar. Sedangkan Mamah Dian dan Ayah Ibrahim yang melihatnya, mereka langsung menghampiri Qiyas yang baru melewati meja makan.
"Kia kenapa Yas?? ", tanya Mamah Dian kepada Qiyas.
"Balqis terlalu lemas Mah tidak kuat jalan, karena muntah terus daritadi", jawab Qiyas kepada Mamah Dian terus langsung berlalu menuju kekamar mereka dan meninggalkan mertuanya diruang makan.
"Mamah mau lihat Kia dulu ya Yah", kata Mamah Dian kepada suaminya ketika Qiyas sudah berlalu dari ruang makan.
"Kamu mau makan apa sayang, daritadi muntah terus, perut kamu belum ada isinya, nanti tambah lemas badannya", kata Qiyas kepada Kia ketika sudah menidurkan Kia diatas ranjang.
Kia hanya menggeleng memberikan jawaban kepada Qiyas.
"Bolehkah Mamah masuk", kata Mamah Dian sambil mengetuk pintu yang belum tertutup sempurna.
"Boleh Mah", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.
Mamah Dian ketika sudah diperbolehkan masuk, dia lalu duduk dipinggir ranjang sebelah Kia tiduran.
"Mamah buatin jahe anget ya buat menahan rasa mual dan nanti kamu harus dipaksain makan ya nak, biar nanti bisa kuat untuk kontrol keDokter", kata Mamah Dian kepada Kia dan dijawab anggukan oleh Kia.
Mamah Dian dia lalu keluar untuk membuatkan jahe anget untuk Kia. Dan Qiyas dia senantiasa menemani Kia yang sudah tertidur karena terlalu lemas badannya.
Padahal Kia juga sudah menyuruh Qiyas untuk melanjutkan sarapannya, akan tetapi Qiyas tidak mau, karena ketika Qiyas melihat Kia muntah-muntah terus begitu dan tidak bisa makan sedikit pun, membuat perutnya sudah kenyang sendiri.
Sedangkan Ayah Ibrahim dia menonton berita pagi ditelevisi yang ada diruang keluarga rumahnya Qiyas, setelah selesai sarapan tadi.
ππππππππππππ
Bersambung yah, hehe lanjut part selanjutnyaππππππ
Yuk readers penggemar Aul-Zahra mana nih suaranya, mana semangatnya buat Authorπππππππ.
ππππππππππππ
***TBC***