BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
CHAPTER 24



Dihari yang sama disaat Keluarga Ibrahim sedang sarapan, pesawat yang Qiyas naiki baru saja landing sempurna diBandara Internasional Soekarno-Hatta, karena Qiyas mengambil perjalanan yang malam sekitar jam 11 malam. Jarak perjalanan antara Dubai-Indonesia, Indonesia-Dubai memakan waktu sekitar 7 jam 55 menit, kurang lebih hampir 8 jam.


Qiyas pulang bersama Asisstennya Zidan. Tanpa memberitahu orang rumah Qiyas langsung saja pulang kerumah orang tuanya menggunakan taksi.


Qiyas sudah menyuruh Zidan untuk langsung pulang keApartemennya, tetapi Zidan tetap kekeh mau mengantar Bossnya pulang dengan selamat kerumah.


Taksi yang mereka naiki sudah sampai dikomplek perumahan elite tepatnya didepan rumah mewah yang ada dikomplek Cahaya Damai.


Satpam yang bernama Diman mendengar suara klakson dan mengetahui ada taksi yang ingin masuk, langsung saja dia keluar dan berniat menghampiri taksi, sontak Qiyas yang melihat Diman akan menghampiri taksinya langsung saja membuka kaca pintu penumpang.


"Ini saya mang, tolong bukain gerbangnya dan jangan ribut, nanti ketahuan", kata Qiyas sambil membuka kaca mata hitamnya.


"Den Qiyas ya Allah, iya-iya baik-baik Den siaaap mamang bukain dulu gerbangnya", kata mang Diman langsung berlalu membukakan pintu gerbang.


Taksi langsung saja masuk setelah pintu gerbangnya dibuka. Qiyas langsung saja masuk karena Zidan yang ingin menurunkan sendiri koper-kopernya.


"Tuan langsung masuk saja, biar koper dan barang bawaan Tuan saya yang ngurus", kata Zidan ketika melihat Qiyas ingin menurunkan kopernya.


"Baiklah, terimaksih Zidan", kata Qiyas sambil menepuk pundak Zidan.


Qiyas langsung saja masuk tanpa memecet bel pintu dan mengucapkan salam, dia sengaja melakukan itu karena dia tahu jam segitu pasti keluarganya pada sarapan.


Ternyata dirumah kedua orang tuanya ada Kakaknya dan suaminya serta kedua ponakaannya. Terlihat tadi didepan ada mobil Kakak iparnya. Pasti seru jika mereka semua pada terkejut, fikir Qiyas.


Terlihat semua keluarga Qiyas sedang sarapan diselingi canda tawa karena celotehan anak Kakaknya yang bernama Alifa dan Nela.


Qiyas bersandar dipintu dekat ruang makan, jangan lupakan tangan yang bersidekap didepan dada, Qiyas hanya melihat dan menikmati interaksi keluarganya tanpa ada niatan mengganggu.


Ternyata Bunda Lili merasa ada yang memperhatikan mereka, sontak Bunda Lili mengalihkan pandangannya keseluruh ruangan, betapa kagetnya Bunda Lili ketika melihat siapa yang sedang memperhatikan mereka dan bersandar dipintu. Sontak Bunda Lili berteriak.


"Iyaaaaaaaas......... ", teriak Bunda Lili langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Qiyas.


Sontak teriakan Bunda mengalihkan pandangan yang ada dimeja makan ke arah pintu ruang makan. Mereka semua sontak mengikuti gerakan seperti yang Bunda Lili lakukan. Langsung berdiri dan menghampiri Qiyas.


"Iyas, kamu pulang nak, ya Allah Bunda kangen banget sama kamu", kata Bunda Lili sambil memeluk Qiyas.


"Maafin Iyas Bund", kata Qiyas sambil membalas pelukan Bundanya.


"Kamu pulang kenapa tidak bilang sama papah atau yang lain, kan bisa dijemput", kata Papah Ziyas gantian memeluk Qiyas setelah tadi pelukannya Bunda Lili terlepas.


"Mau ngasih kejutan Pah", jawab Qiyas sambil tertawa dan membalas pelukan Papahnya.


"Selamat datang adikku yang bandel", kata Kakak Anin juga memeluk Qiyas dan dibalas pelukan juga oleh Qiyas.


"Hay dek, senang kau kembali", kata suami Kak Anin yang bernama Asraf.


"Alifa sama Nela tidak mau meluk Om nih", kata Qiyas kepada kedua ponakannya.


Alifa langsung saja memeluk Qiyas tanpa ngomong sesuatu tidak seantusias biasanya kalau dulu ketemu Qiyas.


"Ko Alifa kayak tidak suka Om pulang, kenapa?? kata Qiyas kepada Alifa.


"Om tidak ngasih oleh-oleh dulu, tapi minta langsung dipeluk", kata Alifa polos.


Sontak mereka semua tertawa dengan kata-kata Alifa.


"Om bawa oleh-oleh banyak, tapi masih didalam koper, nanti Alifa ambil ya dikamar Om", kata Qiyas sambil mencubit pipi Alifa.


"Beneran Om", kata Alifa langsung semangat.


Qiyas hanya mengangguk sambil mengusap puncak kepala Alifa. Alifa langsung saja berlari kegirangan. Qiyas langsung mengalihkan kepalanya ke Nela yang ada digendongan Kakak Iparnya.


"Sini Nela tidak kangen sama Om", kata Qiyas sambil merentangkan tangannya seolah mau menggendong Nela.


Nela langsung menyembunyikan wajahnya dileher Papinya karena tidak mau digendong sama Qiyas.


"Tidak enal ama om, tatut", kata Nela polos.


Qiyas langsung menepuk keningnya dan mencubit pipi Nela karena gemas dan yang lain pada tersenyum melihat interaksi Nela dan Qiyas.


"Sudah-sudah, ayo kita makan lagi, kamu juga Qiyas ayo ikutan makan", kata Papah Ziyas kepada semua keluarganya.


"Kamu sama Zidan apa sendiri Yas, kalau sama Zidan suruh dia sarapan juga disini?? ", kata Papah Ziyas lagi.


"Sama Zidan Pah, bentar biar Iyas panggilin Zidannya", kata Qiyas.


Qiyas langsung saja menghampiri Zidan yang baru saja keluar dari kamarnya karena habis menaruh koper dan barang bawaan Qiyas.


"Tidak usah Tuan, saya mau langsung pulang saja, terimakasih untuk ajakannya", kata Zidan yang ditawarin sarapan Qiyas.


Qiyas yang kembali kemeja makan tanpa Zidan, sontak Papah Ziyas langsung menanyakan Zidan kepada Qiyas.


"Sudah Iyas tawarin Pah, Zidan katanya langsung mau pulang Pah", kata Qiyas kepada Papahnya.


"Ya sudah, ayo kita makan lagi mumpung masih hangat", kata Papah Ziyas.


Sarapan mereka kali ini penuh dengan kebahagiaan karena ada Qiyas, sedangkan anak bungsu dari Papah Ziyas yang bernama Aulian sudah berangkat pagi-pagi sekali karena ada meeting penting dari luar negeri takut kejebak macet. Aulian sudah ikut terjun keperusahaan sambil kuliah.


Skip***


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


"Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaโ€ (QS. Al-Imran: 185).


โ€œTiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengetahui dengan detail.โ€


โ€œDi mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.โ€ QS An Nisaโ€™ 78.


Penggalan Surat Al-Qur'an itulah yang selalu menjadi pedoman Kia untuk selalu melangkah dan berusaha melupakan kesedian yang dulu dia alami.


"Doorrr!!!...... ", ucap sesorang mengagetkan Kia.


"Astaghfirullah hal'adzim", Ucap Kia beristighfar sambil menengok siapa yang mengagetinnya.


"Mila, kenapa sih sering ngerjain Kakak", kata Kia sedih.


Sontak Mila yang melihat Kia bersedih langsung meminta maaf sambil menggenggam tangan Kia.


"Kakak, maafin Mila, kakak jangan marah, Mila tidak bermaksut buat kakak bersedih, Mila hanya ingin menghibur Kakak", kata Mila cepat merasa bersalah.


"Kakak tidak marah Mila, cuman teringat dengan Kak Afrin, dulu Kakak juga sering ngerjain Kak Afrin seperti kamu ngerjain Kakak", kata Kia dengan senyum kecil.


Mila langsung saja memeluk Kia dengan sayang, memang semenjak kejadian itu Mila disuruh menetap dirumah Ayah Ibrahim karena cuman dengan Mila Kia terkadang bisa melupakan kesedihannya.


"Kakak tadi melamun yaaa, sudah Kakak harus bisa mengubur kenangan dimasa lalu itu, jika Kakak tidak bisa melupakannya, Kak Faris sudah tenang disana, jangan buat Kak Faris sedih disana melihat Kak Kia masih murung", kata Mila setelah melepaskan pelukannya.


"Kakak bingung Mila, Kakak belum bisa mencintai Ustadz Faris, tapi Kakak sangat sedih ketika tahu jika Ustadz Faris tidak tertolong waktu itu", kata Kia dengan murung.


"Menangislah Kak, jika menangis bisa melegakan bebanmu untuk saat ini, tapi janji sama Mila ya, besuk jangan perlihatkan air mata kesedihan lagi yah Kakakku yang cantik, cukup waktu 1 tahun Kakak untuk merenung dan bersedih, sekarang waktunya Kakak untuk maju dan menata ulang hidup Kakak, ada Mila juga yang akan setia menghibur dan mendampingi Kakak, dikala suka maupun duka", kata Mila bijak sambil menggenggam tangan Kia.


Kia langsung memeluk Mila. Karena apa yang dibilang Mila ada benarnya juga, sudah cukup waktu satu tahunnya. Waktunya Kia melangkah dan melihat kedepan untuk mencari kebahagian.


Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka, siapa lagi kalau bukan Mamah Dian. Mamah Dian yang saat itu hendak menyiram bungan dan tanaman tidak sengaja melihat dan mendengar apa yang Mila dan Kia bicarakan.


"Semoga kamu selalu bahagia Nak, sudah cukup kesedihanmu, dari meninggalnya Kakakmu Afrin dan Nak Faris. Mamah selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, dan semoga kamu mendapatkan suami yang lebih baik dari Ustadz Faris Nak", bathin Mamah Dian sambil memegang dadanya dengan diiringi air mata yang mengalir.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


***TBC***