
Qiyas yang sedang tenggelam dengan berkas-berkas yang sedang dikerjakannya mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar. Setelah dipersilahkan masuk ternyata Zidan sekertarisnya yang tadi mengetuk pintu.
"Ada apa Zidan?? ", tanya Qiyas kepada Zidan.
"Ini Tuan, makan siang Anda sudah saya pesankan seperti biasa, karena Anda daritadi belum keluar untuk makan siang dan melewatkan makan siang Anda", kata Zidan sambil memperlihatkan makan siang untuk Qiyas.
Qiyas yang mendengar kata Zidan langsung melihat jam tangannya ternyata jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Tadi setelah sholat dhuhur Qiyas langsung saja duduk lagi dikursinya dan melupakan makan siangnya karena begitu banyak berkas yang harus dia periksa.
"Terimakasih Zidan sudah mengingatkanku, dan tolong kamu siapkan dimeja sana", kata Qiyas sambil menunjuk meja yang ada diruangannya.
Zidan langsung saja menyiapkan makanan yang dia bawa diatas meja, serta mengambilkan peralatan makan dan minum untuk Qiyas. Setelah selesai dia kembali lagi melangkah menuju Qiyas yang masih dimeja kerjanya.
"Sudah siap Tuan makanannya", kata Zidan memberitahu Qiyas.
"Baiklah, terimakasih Zidan kamu boleh kembali keruangannmu", kata Qiyas sambil berjalan menuju meja tempat dia makan.
Setelah selesai makan, Qiyas kembali lagi menyelesaikan pekerjaannya yang begitu menumpuk. Qiyas yang saat itu sedang berbicara dengan Manager Keuangan diPerusahaannya mendengar pintu ruangannya diketuk.
"Masuk", jawab Qiyas
Ternyata Zidan yang masuk sambil membawa berkas-berkas yang harus dia periksa lagi.
"Kamu boleh kembali keruanganmu", kata Qiyas kepada Manager itu yang bernama Fian.
"Baik Tuan, permisi", kata Fian sambil membungkukkan badannya dan berlalu.
"Ada apa Zidan?? ", tanya Qiyas kepada Zidan.
"Ini Tuan berkas-berkas yang Anda inginkan tadi, dan tadi sekertaris dari Presdir Perusahaan IBRAHIM COMPANY menelfon katanya Presdir mereka ingin bertemu langsung dengan Tuan", kata Zidan.
Qiyas yang mendengar langsung tersenyum samar, sambil memikirkan sesuatu.
"Katakan pada mereka saya mau menemui Presdir mereka diCafe Akbar yang ada dijalan Y", kata Qiyas kepada Zidan.
"Bolehkah saya bertanya Tuan", tanya Zidan dengan hati-hati.
Qiyas hanya mengangguk memperbolehkan.
"Presdir dari IBRAHIM COMPANY itu bukannya mantan mertua Tuan dulu", kata Zidan kepada Qiyas.
"Iya Zidan", jawab singkat Qiyas.
"Apakah Tuan Ibrahim mengetahui jika Perusahaan IRAWAN CORP itu milik Tuan", tanya Zidan lagi.
"Tahu Zidan, dan saya sengaja mengajukan kerjasama ini untuk menjalin hubungan silahturahmi yang sudah terputus semenjak kematian Bila dulu", jelas Qiyas yang melihat kebingungan dari Zidan.
"Sudah kamu siapkan saja berkas-berkas untuk besuk dan kosongkan jadwal saya dari jam sembilan sampai jam dua belas siang", kata Qiyas lagi.
"Baik Tuan, saya permisi", jawab Zidan sambil membungkukkan badannya dan keluar.
Setelah Zidan keluar Qiyas tersenyum dan berdo'a semoga saja besuk langkah yang baik dan menjadi awal yang baik untuknya.
ππππππππππππ
Keesokan harinya diPerusahaan Ayah Ibrahim Kia sedang mendiskusikan sesuatu dengan sekertarisnya Zahra. Dia sedang mendiskusikan tentang proyek yang sedang dia jalani. Setelah selesai Zahra keluar dan kembali lagi kemeja kerjanya.
Tok, Tok, Tok
"Masuk", jawab Kia sambil melihat laptop.
"Kia kamu tidak lupa dengan janjimu kan, jika kamu ingin ikut Ayah menemui mantan tunangan Kakakmu itu", kata Ayah Ibrahim sambil duduk dishofa yang ada diruangan Kia.
Kia langsung mendongakkan wajahnya ketika mendengar suara Ayahnya. Ternyata yang masuk adalah Ayah Ibrahim yang mengingatkan tentang janjinya kemarin malam.
"Sebentar Ayah, biar Kia bilang dulu dengan sekertaris Kia", kata Kia kepada Ayah Ibrahim.
"Zahra tolong keruanganku sekarang", kata Kia kepada sekertarisnya melalui sambungan telefon yang ada diatas mejanya.
*****
"Zahra saya mau keluar dengan Ayah saya, tolong kosongkan jadwal saya dalam dua jam kedepan, dan tolong berkas-berkas yang harus saya selesaikan dan tanda tangani kamu taruh diatas meja saya", kata Kia kepada Zahra sekertarisnya.
"Baik Nona Kia, kalau begitu saya permisi dulu", kata Zahra kepada Kia.
"Sudah siap nak", kata Ayah Ibrahim setelah Zahra keluar dan daritadi memperhatikan Kia.
"Sudah Ayah ayo kita berangkat", kata Kia.
Mereka akhirnya berangkat bersama-sama menuju Cafe yang mereka tuju. Perjalanan dari Perusahaan ke Caffe Akbar tidak terlalu lama cuma tiga puluh menitan.
"Permisi apakah Anda Tuan Ibrahim", kata seseorang yang tidak lain adalah Zidan sekertaris Qiyas sambil melirik Kia yang ada disamping Ayah Ibrahim.
"Iya benar saya, dan Anda siapa?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Zidan.
"Saya Zidan Tuan, sekertaris dari Presdir IRAWAN CORP, saya disuruh Tuan untuk menunggu Anda disini dan untuk menunjukkan tempat yang sudah direservasi oleh Tuan, mari Tuan ikut saya", kata Zidan mempersilahkan lebih dulu Ayah Ibrahim.
Setelah sampai diruangan VVIP Ayah Ibrahim yang bingung ko tidak ada siapa-siapa akhirnya bertanya kepada Zidan.
"Maaf Zidan, dimana Presdirmu kenapa disini tidak ada orang?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Zidan.
"Maaf Tuan Ibrahim, Presdir saya sedang dalam perjalanan kemari, sedikit terlambat dari jam yang ditentukan karena tadi ada meeting yang sangat penting yang tidak bisa ditinggalkan", jawab Zidan.
"Silahkan Tuan", kata Zidan setelah menarikkan kursi dan mempersilahkan duduk Ayah Ibrahim.
"Tidak usah, terimakasih biar saya sendiri Tuan", kata Kia yang melihat Zidan ingin menarikkan kursi untuknya.
"Saya akan menyiapkan pesanan yang sudah dipesan oleh Presdir Tuan Ibrahim, permisi", pamit Zidan sambil membungkukkan badan.
Ayah Ibrahim hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan cuman selang beberapa menit Zidan keluar, ada beberap waiter dan waiterss yang masuk sambil membawa beberapa makanan, buah-buahan segar yang sudah dipotong-potong, camilan ringan, dessert serta jangan lupakan minumannya.
Setelah waiter dan waiterss semuanya keluar masuklah Zidan.
"Sambil menunggu Presdir, Tuan Ibrahim silahkan menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan untuk Tuan Ibrahim dan Nona, dan saya akan menunggu diluar Tuan", kata Zidan mempersilahkan.
"Terimakasih Zidan", kata Ayah Ibrahim tersenyum tipis dan sambil mengangguk.
"Ternyata dia masih ingat apa kesukaan ayah beserta minumannya", kata Ayah Ibrahim melihat semua yang tersaji diatas meja dan masih didengar Kia.
"Berarti calon mantu idaman ya Yah", goda Kia kepada Ayahnya.
"Ya sudah kamu saja gimana sama dia", Goda Ayah Ibrahim kembali kepada Kia.
"Ayah mulai deh", kata Kia sambil menikmati buah-buahan yang tersaji.
Disaat Kia dan Ayah Ibrahim sedang mengobrol dan bercanda masuklah seorang laki-laki blasteran yang sangat tampan dan membuat Kia melototkan matanya karena reflek dan kaget melihat laki-laki yang dia kenal dan sudah lama tidak bertemu dengannya sekarang satu ruangan dengannya.
"Maaf saya terlambat Ayah Ib........... ", kata Qiyas terputus ketika melihat seorang wanita berniqob yang sudah lama tidak dia lihat, mata itu yang bikin Qiyas selalu teringat dan masih tersimpan dihati.
Sedangkan Qiyas dia menghentikkan perkataannya dan jantungnya seakan mau meledak, sambil juga melototkan matanya kepada Kia yang ada disamping Ayah Ibrahim. Qiyas menjadi kaku, bingung, deg-degan, senang, sedih, bahagia, entah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sepertinya waktu sedang berhenti bagi Kia dan Qiyas saat itu.
ππππππππππππ
***TBC***