
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit Kia mencoba menghubungi Qiyas.
"Hallo Assalamu'alaikum sayang", salam Qiyas ketika menjawab telefon Kia.
"Wa'alaikumussalam Kak, apa Kakak sudah selesai meetingnya?? ", tanya Kia.
"Sudah, ini baru saja selesai sayang, dan ini Kakak baru saja masuk keruangan Kakak", jawab Qiyas.
"Kamu jadi kesini dulu kan Balqis?? ", tanya Qiyas lagi.
"Maunya Kakak bagaimana, kita ketemuan dirumah saja atau Kia keKantor Kak Fasya", tanya Kia kepada Qiyas.
"Kamu kesini saja dulu bagaimana sayang, rasanya Kakak kangen pengen lihat kamu", gombal Qiyas kepada Kia.
Kia yang mendengar gombalannya Qiyas dia tertawa renyah membuat Qiyas yang ada diseberang sana ikut-ikutan tertawa bahagia.
"Kakak sudah pandai merayu sekarang", kata Kia. Dan Qiyas hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Baik-baiklah ini Kia siap-siap kesitu yah sayang", kata Kia lagi.
"Duh senangnya dipanggil istri dengan panggilan sayang", kata Qiyas lagi membuat Kia tertawa mendengarnya.
"Kakak ini ada-ada saja", jawab Kia.
"Kakak sudah siapin supir untuk menjemputmu sayang, dia sudah menunggumu daritadi diloby", kata Qiyas kepada Kia.
"Baiklah, tunggu Kia kalau begitu ya Kak, Assalamu'alaikum", kata Kia kepada Qiyas.
"Iya hati-hati yah sayang, Wa'alaikumussalam", kata Qiyas kepada Kia dan dia langsung mematikan sambungan telefonnya.
"Sungguh bukan diriku yang biasanya, semenjak menikah dengannya, aku seperti mempunyai kepribadian lain", gumam Qiyas dengan tertawa sambil melihat Hpnya yang wallpapernya adalah foto pernikahannya dengan Kia.
Kia yang tadi baru telefonan sama Qiyas, dia lalu bersiap-siap untuk berangkat kekantornya Qiyas.
Zahra yang melihat Kia keluar ruangannya dia langsung berdiri dan menyapa Kia.
"Nona", kata Zahra kepada Kia.
"Zahra, saya mau pergi dulu, jika masih ada waktu mungkin saya akan kembali kekantor, jika tidak saya akan langsung pulang, tolong kamu handle kantor dulu sama tolong selesaiin berkas-berkas yang tadi saya periksa, berkasnya ada diatas meja, dan berkas yang belum saya tanda tangani taruh saja diatas meja saya ya Zahra", kata Kia panjang lebar kepada Zahra.
"Baik Nona akan segera saya kerjakan", jawab Zahra kepada Kia.
"Baiklah saya berangkat dulu ya Zahra", pamit Kia kepada Zahra.
"Iya Nona hati-hati", kata Zahra kepada Kia.
Kia lalu berlalu dari situ. Dan dia langsung menuju kelift untuk turun keloby. Ketika sudah sampai diloby dia disamperin supir kantornya Qiyas.
"Maaf Nona Kia, saya disuruh Tuan Qiyas untuk menjemput Nona, mari Nona silahkan", kata supir kantor kepada Kia dan dia langsung membukakan pintu untuk Kia dibagian belakang.
"Terimakasih pak", kata Kia kepada supir tadi.
Akhirnya mobil yang ditumpangi Kia melajukan mobilnya menuju kantor Qiyas, hanya memperlukan waktu tiga puluh menit, karena bukan dijam sibuk jadi tidak macet dijalan.
Ketika sudah sampai didepan loby, sang supir langsung membukakan pintu mobil untuk Kia. Satpam yang berjaga didepan, mereka langsung menundukkan badannya kepada Kia dan langsung membukakan pintu untuk Kia masuk. Semua karyawan yang melihat Kia datang mereka pada menunduk sopan dan menyapa Kia karena mereka semua sudah tahu siapa Kia sebenarnya.
Kia langsung saja masuk kelift yang khusus untuk para orang penting saja diPerusahaan dan Kia langsung memencet tombol lift yang langsung menuju kelantai paling atas yaitu ruangannya Qiyas.
Ketika sampai diatas para sekertaris Qiyas yang melihat Kia datang mereka pada berdiri dan membungkukkan badannya untuk menyapa Kia.
"Siang Nona", kata sekertaris Qiyas yang Kia lewati, dan Kia hanya mengangguk memberikan tanggapan.
Tok, Tok, Tok
Kia langsung saja masuk ketika mendengar suara kata masuk dari dalam. Dan ketika sampai didalam ruangannya Qiyas dia melihat Qiyas sedang fokus dengan layar komputer didepannya, Kia sengaja berdiri didepan pintu yang sudah tertutup sambil mengawasi Qiyas.
Qiyas yang merasa ada orang masuk akan tetapi tidak ada suaranya, dia langsung saja mendongakkan kepalanya dan dia terkejut melihat Kia ternyata yang masuk keruangannya.
"*Kamu kenapa diam saja begitu sayan*g?? ", tanya Qiyas kepada Kia sambil berjalan menghampiri Kia.
"Tidak mau mengganggu Kakak yang lagi serius", jawab Kia sambil mencubit pelan hidung Qiyas ketika Qiyas sudah sampai didepannya.
"Sebentar", kata Qiyas kepada Kia.
Qiyas lalu keluar sebentar hanya untuk bilang kepada Fadhil jangan ada yang menganggunya selama bersama Kia dan jika ada tamu yang datang Fadhil disuruh bilang jika dirinya tidak bisa diganggu. Setelah berbicara kepada Fadhil Qiyas langsung saja masuk dan mengunci pintunya dari dalam.
Kia hanya memperhatikan gerak-gerik Qiyas saja. Tanpa aba-aba setelah mengunci pintu tiba-tiba Qiyas langsung saja menggendong Kia membuat Kia memekik kaget, dan ternyata Qiyas membawa Kia masuk kedalam kamar pribadi yang ada diruangan tersebut.
Qiyas tidak menjawab pertanyaan Kia, dia lebih memilih asik melepaskan niqob dan hijab Kia. Kia yang bingung akan tetapi dia juga pasrah dengan apa yang dilakukan Qiyas kepadanya.
Dan setelah terlepas Qiyas langsung menindih badan Kia dan dia langsung mencium Kia tepat dibibirnya dan dibalas Kia juga, akhirnya mereka berciuman mesra dengan posisi yang begitu intim.
"Kakak itu kenapa sih, tumben-tumbenan banget seperti ini", tanya Kia setelah ciuman mereka terlepas.
"Tidak tahu, rasanya ingin sekali melakukan itu disini, bolehkan sayang?? ", kata Qiyas sambil menciumin seluruh muka dan leher Kia. Karena Qiyas juga sudah membuka hijab Kia tadi.
"Tapi ini dikantor Kak?? ", tanya Kia dengan pasrah apa yang dilakukan Qiyas kepadanya.
"Tidak masalah, kan tadi Kakak sudah berbicara sama Fadhil jangan ada yang mengangguku", jawab Qiyas sambil membelai pipi Kia.
"Baiklah jika itu maunya Kakak", jawab Kia akhirnya, karena dia juga sudah terbuai dengan sentuhan-sentuhan tangan Qiyas dibadannya.
Qiyas yang sudah mendapat persetujuan dari Kia dia langsung saja melakukan aksinya dan menuntaskan hasrat yang daritadi dia tahan. Dan akhirnya terjadilah sesuatu yang biasa dilakukan suami istri yang sah dan halal jika didalam kamar berdua.
Diresepsinya Mila, Ayah Ibrahim dan Mamah Dian mereka sedang menunggu kenapa sampai jam sepuluh Kia dan Qiyas mereka belum datang-datang, membuat Ayah Ibrahim dan Mamah Dian bertanya-tanya apakah meetingnya Qiyas belum selesai. Padahal aslinya Kia dan Qiyas sedang asik dengan dunianya mereka sendiri.
"Mas Ibrahim Kia sama suaminya daritadi ko belum kelihatan mereka ya Mas?? ", tanya Papah Angga kepada Ayah Ibrahim.
"Iya tadi pagi Iyas sudah bilang jika ada meeting penting dengan client dari Amerika yang akan datang, jadi mereka akan datang sedikit terlambat mungkin sebentar lagi", jawab Ayah Ibrahim kepada Papah Angga.
"Oh ya aku mengerti Mas tidak apa-apa", kata Papah Angga kepada Ayah Ibrahim.
"Mas Ibrahim sudah mencoba mencicipi hidangannya belum, silahkan dinikmati ya Mas, aku mau menemui tamu yang lain", kata Papah Angga lagi kepada Ayah Ibrahim.
"Iya sudah, silahkan sana Angga", jawab Ayah Ibrahim.
Dikalangan ibu-ibu saudara-saudara Mamah Dian dan Papah Angga yang sedang berkumpul mereka menanyakan kepada Mamah Dian.
"Mbak Dian, aku ko tidak melihat Kia ya?? ", tanya salah satu saudara kepada Mamah Dian dan diiyakan sama saudara-saudara yang lain.
"Oh tadi mereka bilang jika Iyas sedang ada tamu dan meeting penting dengan client yang dari America", jawab Mamah Dian kepada semuanya.
"Kamu beruntung ya Mbak Dian mempunyai menantu yang begitu sukses seperti Qiyas", kata Saudara yang lainnya lagi.
Akhirnya mereka berbincang dan mengobrol panjang kali lebar, biasalah ibu-ibu ada saja yang diobrolin.
Ayah Ibrahim yang sudah tidak sabar dia akhirnya mencoba menghubungi Qiyas dan ingin bertanya kepada Qiyas.
"Uuuuh, uuuh, uuuh", suara seksi Kia dan Qiyas mengalun indah dikamar yang ada diruangannya Qiyas.
Tiba-tiba terdengar suara Hpnya Qiyas berbunyi yang ada diatas meja sebelah ranjang.
"Hpnya ber....... bunyi Kak", kata Kia terputus-putus dan terengah-engah.
"Biarin saja", kata Qiyas tidak perduli dan tetap melanjutkan aksinya.
Ayah Ibrahim yang menelfon sampai terdengar operator akhirnya mematikan sambungan telefonnya.
"Mungkin belum selesai meetingnya hingga Qiyas tidak bisa mengangkatnya", gumam Ayah Ibrahim.
"Biarin saja lah", kata Ayah Ibrahim lagi untuk dirinya sendiri serta langsung memasukkan Hpnya kekantong celananya lagi dan Ayah Ibrahim berlalu untuk menyapa tamu yang pada datang.
"Terimakasih sayang, huuuuuuh huuuuuh", kata Qiyas sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Jika tidak akan pergi, aku mau menambah lagi", kata Qiyas seenaknya sendiri kepada Kia, membuat Kia reflek mencubit kecil pu****ng Qiyas, membuat Qiyas langsung mengaduh sambil tertawa.
Kia tidak memerdulikan Qiyas yang mengaduh karena cubitannya tadi, Kia langsung saja berdiri dan berjalan menuju kekamar mandi yang ada didalam kamar tersebut. Membuat Qiyas yang melihatnya bergumam.
"Sekarang dia sudah tidak malu lagi, dia berjalan dengan begitu santainya tanpa memakai apapun", gumam Qiyas kecil sambil tertawa.
Kehadiran mereka berdua sudah ditunggu-tunggu banyak orang malah mereka begitu santainya menikmati masa penganten barunya. Setelah bersih-bersih dan beres-beres Kia dan Qiyas akhirnya pulang menuju rumah Kia untuk bersiap-siap menghadiri pesta resepsinya Mila dan Zidan.
Sepanjang turun dari ruangannya sampai didalam mobilpun Qiyas dia tidak henti-hentinya tersenyum membuat Kia yang melihatnya menggelengkan kepalanya.
Qiyas yang menyetir sambil menggandeng tangan Kia dan menciuminnya. Karena Qiyas memang naik mobil sendiri dan tidak memakai sopir.
Bahagia itu sebenarnya murah dan sederhana, bagaimana kita sendiri yang bisa menyikapinya. Mahal tidaknya kebahagiaan tergantung kita sendiri yang melakukannya. Jika kebahagiaan bisa diukur dengan uang, pasti hanya orang kayalah yang akan paling bahagia, jika bahagia hanya milik orang yang mempunyai keluarga, pasti para orang yang sebatang kara dia yang paling menderita. Jadi bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini, jika kita bersyukur kita pasti akan merasakan kebahagiaan yang belum tentu bisa terulang dilain harinya.
ππππππππππππ
***TBC***