BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
COMING SOON



Qiyas baru saja selesai menghubungi Keluarganya melalu telefon rumahnya, karena Qiyas tadi sudah mencoba menelfon keHpnya Papah Ziyas dan Aulian akan tetapi tidak mereka angkat. Dan ketika baru beberapa menit Qiyas selesai menelfon berderinglah hpnya dan ternyata yang menelfon adalah adiknya Aulian.


Sedangkan Kakaknya Kak Anin, Qiyas juga sudah menghubunginya, dan katanya akan kerumah sakit nanti setelah kepulangan dari suami Kak Anin yang dari luar kota sekitar jam sepuluhan pagi nanti. Dan Qiyas tidak mempermasalahkannya, yang terpenting adalah doa untuk kelancaran melahirkannya Kia istrinya.


"Hallo Kak, Assalamu'alaikum", salam Aulian ketika sambungan telefonnya baru saja diangkat oleh Qiyas Kakaknya.


"Wa'alaikumussalam Aul", jawab Qiyas dengan nada dibuat setenang mungkin.


"Bagaimana keadaannya Kakak ipar Kak?? ", tanya Aulian kepada Qiyas.


"Ini Kakak sedang perjalanan menuju keRumah Sakit Aul", jawab Qiyas kepada Aulian.


"Semoga lancar untuk kelahirannya keponakan baby twinsnya Aul ya Kak", doa tulus dari Aulian untuk Qiyas.


"Dan maaf tadi hpnya Aul didalan kamar Kak, karena Aul lagi sarapan", kata Aulian lagi untuk Kakaknya Qiyas.


"Iya terimakasih Aul, Kakak tutup dulu ya, ini Papah juga sedang menelfon Kakak, Assalamu'alaikum", kata Qiyas kepada Aulian.


"Wa'alaikumusslam Kak, nanti Aul akan menjenguk bersama calon istrinya Aul ya Kak", kata Aulian kepada Kakaknya Qiyas dan langsung mematikan sambungan telefonnya ketika sudah mendapat jawabab dari Kakaknya Qiyas.


Qiyas lalu beralih kepada panggilan dari Papahnya Ziyas.


"Assalamu'alaikum Yas, bagaimana keadaannya Kia istrimu?? ", salam dan kata Papah Ziyas langsung to the point kepada Qiyas.


"Wa'alaikumussalam Pah, ini Qiyas mau sampai Pah kerumah sakitnya", jawab Qiyas kepada Papahnya.


"Nan..... ", perkataannya Papah Ziyas terpotong karena perkataannya Qiyas.


"Pah sudah dulu ya, ini Qiyas sudah sampai diRumah Sakit, Assalamu'alaikum", kata Qiyas dan langsung menutup panggilan telefonnya tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Papahnya.


"Wa'alaikumussalam warrohmatullah hiiwabarokatuh", kata Papah Ziyas sambil menaruh hpnya diatas meja ruang tamu, karena panggilan telefonnya sudah diputus Qiyas.


"Kia bagaimana Pah keadaannya??, kenapa sudah dimatikan saja itu telefonnya, kan Mamah juga mau berbicara dan bertanya kepada Qiyas?? ", tanya Bunda Lili yang duduk disampingnya Papah Ziyas.


"Ini Qiyas baru saja sampai diRumah Sakit Bund, ayo kita segera susul mereka saja, cepat Bunda bersiap-siapnya", kata Papah Ziyas kepada istrinya Bunda Lili. Dan Bunda Lili langsung berdiri dan berlalu untuk bersiap-siap dikamarnya.


Mobil yang dikendarai Qiyas ketika sudah sampai diRumah Sakit, langsung saja disambut oleh Dokter Ara didepan pintu masuk UGD bersama para suster yang sudah Dokter Ara siapkan. Karena Qiyas ketika perjalanan keRumah Sakit juga sudah menghubungi Dokter Ara.


"Ayo suster cepat siapkan ruangan bersalin", kata Dokter Ara kepada susternya sambil mendorong brankarnya Kia.


Qiyas dan Mamah Dian senantiasa mendampingi Kia menuju ruang bersalin.


"Mamah tunggu diluar Yas, kamu temanin saja Kia didalam", kata Mamah Dian kepada Qiyas ketika sudah sampai didepan ruang bersalin.


Qiyas langsung saja ikut masuk keruang bersalin menemani Kia untuk melahirkan. Seperti yang diharapkan Qiyas dan Kia, jika yang harus menangani Kia melahirkan adalah semua Dokter perempuan dan suster perempuan. Dan hanya Qiyas saja laki-laki didalam ruangan itu.


"Ternyata sudah pembukaan lima ya Mbak Kia", kata Dokter Ara ketika sedang memeriksa keadaannya Kia.


"Tahan sebentar ya Mbak Kia, tunggu sampai pembukaan sepuluh ya", kata Dokter Ara kepada Kia.


"Jika bisa untuk berjalan-jalan kecil, buat jalan ya Mbak Kia diruangan ini, biar suster saya yang menemani didalam ruangan ini", kata Dokter Ara lagi kepada Kia.


"Tuan Qiyas bisa membantu Mbak Kianya untuk lebih banyak bergerak, biar bisa cepat pembukaannya", kata Dokter Ara kepada Qiyas.


"Iya Dok", jawab Qiyas kepada Dokter Ara.


Qiyas membantu Kia untuk bangun dan turun dari ranjang pasien supaya bisa melakukan jalan-jalan kecil didalam ruangan itu.


"Tahan ya Umi, demi anak-anak kita, Abi akan selalu senantiasa disini menemani Umi", kata Qiyas kepada Kia untuk menyemangati Kia, hingga melupakan jika dirinya tadi hanya sarapan sedikit. Begitu pula dengan Mamah, Dian, Bunda Lili dan Papah Ziyas.


Diluar ruangannya Kia, Mamah Dian dia sedang berusaha menghubungi suaminya, yaitu Ayah Ibrahim.


Ayah Ibrahim yang baru saja selesai sarapan dan lagi duduk diruang tamu, untuk bersiap-siap berangkat kekantor. Tiba-tiba dia terkaget mendengar hpnya yang berdering diatas meja ruang tamu.


"Mamah", kata Ayah Ibrahim ketika melihat nama siapa yang tertera dipanggilan masuk.


"Hallo Assalamu'alaikum Mah", salam Ayah Ibrahim ketika mengangkat telefon dari istrinya.


"Wa'alaikumusslam Yah, Kia mau melahirkan, dan sekarang lagi didalam lagi ditangani Dokter Ara, Ayah cepetan kesini ya", jawab dan langsung nerocos Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim.


Dan Ayah Ibrahim dia makin terkejut mendengar perkataan dari istrinya.


"Iya-iya, Ayah akan segera kesana sekarang", kata Ayah Ibrahim dengan terburu-buru sampai lupa mengucapkan salam dan langsung mematikan sambungan telefonnya.


Dan Ayah Ibrahim setelah itu langsung saja menghubungi sekretarisnya dan Rion.


"Hallo Rion, tolong kamu yang menghadiri meeting hari ini, anak saya Kia mau lahiran, dan tolong kamu handle kantor dulu", kata Ayah Ibrahim kepada Rion ketika Ayah Ibrahim tadi sudah terlebih dahulu menghubungi sekretarisnya.


"Baik Tuan", jawab Rion kepada Ayah Ibrahim, dan Ayah Ibrahim langsung saja mematikan sambungan telefonnya terus berlalu keluar untuk segera berangkat keRumah Sakit.


Papah Ziyas dan Bunda Lili mereka baru saja sampai dirumah sakit. Dan ketika diparkiran tadi, Bunda Lili juga sudah menghubungi Mamah Dian, jadi Papah Ziyas dan Bunda Lili langsung saja menuju keruang bersalin yang diberitahu oleh Mamah Dian tadi, setelah bertanya kepada para suster yang pada lewat.


"Jeng Dian", panggil Bunda Lili ketika baru saja sampai didepan ruang bersalin.


Dan Mamah Dian yang lagi membalas pesan dari suaminya langsung saja mengangkat kepalanya karena merasa namanya dipanggil seseorang, dan ternyata setelah melihat siapa yang memanggilnya adalah besannya sendiri. Mamah Dian dia reflek langsung saja berdiri dari duduknya dan menyapa kedua orang tuanya Qiyas.


"Jeng bagaimana keadaannya Kia?? ", tanya Bunda Lili dengan raut muka yang sangat khawatir.


"Lagi didalam Mbak, belum tahu bagaimana?? ", jawab Mamah Dian kepada Bunda Lili.


Ketika baru saja Mamah Dian menjawab pertanyaannya dari Bunda Lili, pintu ruang bersalinnya Kia terbuka dari dalam. Dan mengalihkan pandangan dari Bunda Lili, Mamah Dian serta Papah Ziyas. Papah Ziyas dia reflek berjalan terlebih dahulu mendekati orang yang baru saja keluar dari ruang bersalinnya Kia dan ternyata adalah Dokter Ara dan para susternya Dokter Ara.


"Dok, bagaimana keadaan menantu saya didalam", tanya Papah Ziyas kepada Dokter Ara. Dan Mamah Dian serta Bunda Lili juga sudah berada disampingnya Dokter Ara.


"Lagi pembukaan lima Tuan, Nyonya, dan Mbak Kia lagi berjalan-jalan kecil didalam untuk mempercepat pembukaannya", jawab ramah dari Dokter Ara kepada Papah Ziyas, Bunda Lili serta Mamah Dian.


"Boleh kami masuk Dok?? ", tanya Mamah Dian dan Bunda Lili secara bersamaan.


"Boleh silahkan, tapi saya mohon jangan berisik ya Tuan, Nyonya", jawab Dokter Ara lagi kepada Mamah Dian dan Bunda Lili.


"Terimakasih Dok", kata Papah Ziyas kepada Dokter Ara mewakili istri dan Mamah Dian.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Tuan, ada suster saya didalam yang menunggui Mbak Kia, mari", pamit Dokter Ara kepada Papah Ziyas, Mamah Dian dan Bunda Lili.


Dan hanya dijawab anggukan serta senyum ramah dari Papah Ziyas, Bunda Lili serta Mamah Dian.


Setelah kepergian dari Dokter Ara, para orang tua langsung saja masuk keruang bersalinnya Kia. Dan mereka disuguhkan pemandangan Kia yang lagi dituntun Qiyas untuk berjalan-jalan kecil mengitari ruangan tersebut.


Qiyas dan Kia yang melihat orang tua mereka pada masuk keruangannya, Qiyas hanya mengangguk kepada mereka, sedangkan Kia dia hanya melihat saja tanpa menyapa mereka, karena dia terlalu fokus dengan rasa sakit diperutnya.


Doa, dzikir, sholawatan selalu terpanjat dibibir para orang tua, dan Qiyas, sedangkan Kia dia hanya membatin didalam hatinya saja.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***