
Saat ini mereka semua sudah pada sampai dirumahnya Qiyas, dan Kia dia sudah masuk kekamarnya ditemani Mamah Dian serta Bunda Lili dan juga Qiyas tentunya.
"Kamu istirahat saja dulu ya Nak, kami akan menunggu diluar", kata Mamah Dian kepada Kia. Dan diangguki Kia.
"Iya, kamu istirahat saja ya Nak", kata Bunda Lili juga kepada Kia.
"Iya Bund", jawab Kia kepada Buda Lili.
Mamah Dian dan Bunda Lili setelah berbicara begitu kepada Kia mereka langsung saja keluar menemui suami mereka masing-masing yang ada diruang tamunya Qiyas.
Sedangkan Qiyas dia masih didalam kamar untuk menemani Kia.
"Umi apa yang Umi rasain sekarang?? ", tanya Qiyas kepada Kia.
"Umi sudah mendingan Abi, tidak sepusing dan semual tadi pagi", jawab Kia kepada Qiyas.
"Kalau begitu Umi istirahat dulu tidak apa-apa kan, Abi mau kedepan dulu menemani Papah, Bunda, Ayah sama Mamah", kata Qiyas kepada Kia.
"Abi tapi sebelum itu Umi boleh minta sesuatu tidak", kata Kia kepada Qiyas yang duduk disampingnya. Karena memang saat ini mereka sedang duduk dipinggir ranjang mereka.
"Apa itu Umi, jika Abi bisa, pasti akan Abi kabulkan", jawab Qiyas sambil memegang kedua tangannya Kia.
"Tolong beliin Umi strowbery ya Abi, rasanya Umi ingin sekali makan buah itu dikasih gula halus sama sambal rujak", kata Kia kepada Qiyas.
Qiyas langsung diam karena dia sedang membayangkan rasa strowbery yang asem dikasih sambal rujak, tanpa sadar Qiyas menelan air liurnya sendiri ketika membayangkan itu.
"Ok, Abi akan bilang keBibi untuk membelikan strowbery dan membuatkannya nanti ya Umi, akan tetapi Umi belum makan nasi, bagaimana kalau Umi makan sedikit saja dulu ya?? ", bujuk Qiyas kepada Kia.
"Bolehkah Umi makannya itu nanti saja setelah Umi habis makan strowberynya", jawab Kia kepada Qiyas.
"Janji ya nanti makan", kata Qiyas kepada Kia dan dijawab anggukan oleh Kia.
"Ya sudah Umi istirahat dulu ya, Abi mau kedepan dulu sekalian menyuruh Bibi untuk membelikan buah Strowberynya", kata Qiyas lagi kepada Kia.
"Iya Abi", jawab Kia kepada Qiyas.
Qiyas lalu membantu Kia melepaskan niqob beserta hijab yang dipakai Kia, agar Kia tidurnya bisa lebih nyaman. Setelah itu Qiyas langsung saja berlalu keluar menemui kedua orang tua serta kedua mertuanya yang ada diruang tamu.
Ketika belum ada Qiyas kedua orang tua Qiyas dan kedua mertuanya Qiyas mereka sedang berbincang-bincang seputar bisnis dan seputar Kia serta Qiyas sambil ditemani minuman dan camilan yang tadi sudah disediakan oleh pembantunya Qiyas.
Setelah menyuruh Bi Karsi untuk membeli dan menyiapkan apa yang diinginkan Kia, Qiyas lalu ikut bergabung dengan Papah Ziyas, Bunda Lili, Mamah Dian serta Ayah Ibrahim yang ada diruang tamu.
"Lho kamu ko disini, tidak temanin saja Kia didalam Yas?? ", kata Papah Ziyas ketika melihat Qiyas sudah duduk disampingnya.
"Lagi istirahat Pah, biar lebih fresh nanti", jawab Qiyas kepada Papah Ziyas.
"Tolong dipantau betul-betul ya Yas itu Kianya, karena dia hamil dua baby sekaligus, Bunda tidak mau jika Kia sampai pingsan terus begini, tidak baik nak", wejangan dari Bunda Lili kepada Qiyas anaknya.
"Iya Bund, Qiyas akan lebih memperhatikan Kianya lagi", jawab Qiyas.
"Kia yang Mamah lihat apa yang dia tidak sukai ketika belum hamil, tapi malah dimakan terus ketika hamil", kata Mamah Dian kepada semuanya.
"Masa jeng?? ", kata Bunda Lili kepada Mamah Dian.
"Iya contohnya rujak, dia saja tidak suka rujak, tapi setelah hamil, makan rujaknya tidak berhenti-berhenti", jawab Mamah Dian sedikit tertawa ketika teringat Kia makan rujak kemarin.
"Masa sih Mah tidak suka, ini saja Balqis tadi habis menyuruh Iyas untuk membelikan Strowbery dikasih sambal rujak, Iyas kira malah Balqis itu pecinta rujak, karena Iyas lihat Balqis ketika makan rujak seperti sudah terbiasa makan", kata Qiyas sedikit tidak percaya perkataannya Mamah Dian.
"Apa Kia minta rujak lagi sama kamu Yas?? ", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya Yah, dan ini Iyas baru saja dari dapur untuk menyuruh Bibi menyiapkan serta membelikan buah strowbery disupermarket", jawab Qiyas kepada Ayah Ibrahim.
"Yang dikatakan Mamahmu itu benar Yas, jika Kia tidak suka dengan rujak, setiap kali disuruh mencicipi rujak yang dibikin Mamahmu atau para Asissten yang ada dirumah, paling dia mencicipi cuman satu suap atau dua suap, katanya terlalu pedaslah, tidak sukalah, dan sering-seringnya dia menolak Nak", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas sambil sedikit tertawa.
"Dan Ayah juga lihat, apa yang disukai Kia ketika belum hamil, sekarang dia tidak suka, bahkan mual ketika melihat dan mencium aromanya, begitupun sebaliknya", kata Ayah Ibrahim dan diangguki oleh Mamah Dian.
"Contohnya Yah?? ", jawab Qiyas yang semakin penasaran, karena fikir Qiyas ternyata dia masih banyak yang belum diketahui dari Kia istrinya.
"Ya itu seperti mangga muda, strowbery, pokoknya yang asem-asem dia tidak suka, karena Kia jika makan perutnya langsung melilit, tidak tahan dan bisa seharian hanya berbaring diranjang karena diare. Apa lagi ya, banyak tapi Ayah lupa", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
"Iya juga ya, Mamah juga baru ngeh, asal kamu tahu Nak, dulu ketika waktu SMP Kia habis pulang sekolah Kia pernah makan anggur yang dari kulkas dan rasa anggurnya masih sedikit asem, Mamah lupa mau ngingatin, eh malah sudah dimakan oleh Kia. Kia fikir tidak apa-apa karena bukan asem banget, eh sorenya dia langsung diare parah sampai dilarikan kerumah sakit Nak", cerita Mamah Dian kepada Qiyas.
"Anak kamu berarti doyannya yang asem-asem Yas", kata Bunda Lili kepada Qiyas sambil tertawa.
"Tapi Iyas kan tidak suka asem Bund", jawab Qiyas.
"Kamu lupa sama adikmu si Aul, dia kan pecinta pedas, asem sama yang namanya rujak", kata Papah Ziyas kepada Qiyas.
"Kalau meniru Omnya Aul Qiyas tidak masalah Pah, tapi kalau meniru slengekannya Omnya Aulian, Qiyas harus dari sekarang stok sabar yang banyak Pah", jawab Qiyas kepada Papahnya dan langsung membuat Papahnya tertawa kencang sekali karena teringat dengan wataknya Aulian yang seperti dikatakan oleh Qiyas Kakaknya.
Dan yang lain juga ikut-ikutan tertawa ketika melihat Papah Ziyas tertawa termasuk Qiyas.
"Papah sama Ayah apa tidak kekantor udah jam segini masih nyantai begini?? ", tanya Qiyas disela-sela tertawanya.
"Papah mau kekantornya nanti sekalian habis sholat dhuhur saja Nak, biar sekalian adikmu Aul mengomelnya", kata Papah Ziyas kepada Qiyas sambil tertawa lebih keras lagi, karena teringat dengan Aulian yang mengomel kemarin karena Papah Ziyas dan Qiyas yang tidak masuk kantor.
"Kalau Ayah juga sama Nak, sekalian nanti saja habis sholat dhuhur dan makan siang dulu", jawab Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
Dikantor IRAWAN CORP Aulian dia seperti biasa mengerjakan pekerjaannya, akan tetapi agak sedikit banyak karena dia harus mengerjakan pekerjaan Kakaknya juga.
"Aku sangat kasihan melihat Kakak Iparku sering sakit dan masuk kerumah sakit semenjak dia hamil, apalagi hamil twins, jadi membuat Kak Iyas tak tega untuk meninggalkannya, akan tetapi jika begini keadaannya aku juga perlu dikasihanin", gerutu Aulian sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursinya karena sudah terlalu capek dan pegal, padahal waktu masih belum terlalu siang, dan dengan berkas-berkas yang menumpuk serta file-file yang lumayan banyak yang segera harus dia periksa.
Sebab Aulian yakin jika Kakaknya sudah menyerahkan pekerjaannya kepadanya, pasti Kakaknya tidak akan masuk untuk hari itu.
Dan Qiyas juga sengaja melimpahkan pekerjaannya kepada Aulian karena dia juga ingin sekalian mengajari Aulian bagaimana mengelola sebuah Perusahaan. Padahal pekerjaan yang diberikan Qiyas kepada Aulian tidak sepenuhnya, hanya sebagian kecil dari pekerjaannya Qiyas.
ππππππππππππ
Mampir ya readers dinovelnya Aulian-Zahra, nanti bis ngambek lho si Aulnyaπππππ
ππππππππππππ
***TBC***