
Kia yang mendengar ceritanya Qiyas dia lalu mengecek Hpnya dan benar saja ada empat panggilan tak terjawab dari nomer yang tidak dia kenal.
Karena ketika Kia pingsan tadi, Hpnya Kia masih didalam tasnya dan juga Hpnya bermode getar, jadi orang yang ada disitu pada tidak mengetahui jika Qiyas menelfon Kia.
"Terus Fadhilnya masih terjebak dikemacetan itu nak?? ", tanya Papah Ziyas kepada Qiyas.
"Iya Pah", jawab Qiyas kepada Papahnya.
"Semoga cepat selesai itu kemacetannya ya, Aamiin", kata Bunda Lili dan diAamiinin juga oleh yang lain.
"Itu tadi Aul menelfon Fadhil Kak, tersambung akan tetapi tidak diangkat sama dia", kata Aulian kepada Qiyas.
"Mungkin Hpnya bermode diam atau getar dan dia tadi terlalu fokus sama kemacetan itu Aul, jadi dia lupa untuk mengecek Hpnya", jawab Qiyas kepada Aulian mengira-ngira.
"Mungkin juga Kak", jawab Aulian.
"Ada hikmahnya juga ya Nak, kamu mengalami kemacetan itu", kata Mamah Dian kepada Qiyas.
"Iya Mah, Qiyas awalnya sedikit sebal, akan tetapi dibalik itu ada hikmah yang begitu besar, Qiyas jadi sangat bersyukur mengalami kemacetan itu, semoga yang mengalami kecelakaan itu diberi gantinya oleh Allah, Aamiin", kata Qiyas dan diAamiinin yang lain juga.
"Terus sayang, bagaimana dengan meeting yang kamu bilang keKakak semalam?? ", tanya Qiyas kepada Kia.
"Ayah sudah menyuruh Rion sama Zahra Nak yang meeting menggantikan Kia", bukan Kia yang menjawab melainkan Ayah Ibrahim.
Karena ketika Kia pingsan tadi Ayah Ibrahim dia teringat jika Kia akan menghadiri meeting dengan PT. Kemilau Jaya, jadi Ayah Ibrahim dia langsung menghubungi Rion dan Zahra untuk menggantikan Kia dan serta menjelaskan jika Kia lagi kurang fit untuk datang kekantor.
Ketika mereka semua sedang larut dalam obrolan dan juga mengobrol sana sini sambil terus berucap syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada Qiyas karena masih bisa berkumpul lagi dengan Keluarga, sampai-sampai mereka semua tidak menyadari jika waktu berjalan dengan sangat cepat.
Waktu tidak terasa dan cepat sekali, ternyata jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Jam yang berdenting dengan keras menyadarkan mereka semua yang sedang larut dalam obrolan. Ayah Ibrahim mengajak sekalian besannya yaitu Papah Ziyas dan Bunda Lili serta Aulian untuk makan siang bersama dirumahnya.
"Ayo kita makan siang dulu, untuk Pak Ziyas dan Ibu Lili serta Aulian ayo mari", kata Ayah Ibrahim mengajak Papah Ziyas, Bunda Lili dan Aulian makan siang bersama.
Akhirnya mereka semua makan siang bersama-sama dirumahnya Ayah Ibrahim setelah kejadian yang menegangkan tadi pagi.
Ayah Ibrahim dan Mamah Dian mereka juga sudah mengajak dan menyuruh untuk sholat dhuhur dirumah mereka, akan tetapi mereka yaitu Papah Ziyas dan Bunda Lili ingin pulang saja, sholat dirumah katanya dan ingin langsung istirahat setelah itu. Sedangkan Aulian dia ngikut-ngikut saja kepada kedua orang tuanya.
Ayah Ibrahim, Kia, Qiyas, Papah Ziyas dan Aulian mereka hari itu serentak tidak jadi berangkat kekantor, dan kantor mereka serahkan kepada sekertaris dan orang kepercayaan mereka masing-masing.
Karena jam juga sudah nanggung jika mereka berangkat kekantor, apalagi perasaan mereka juga ingin diistirahatkan karena ketegangan yang sangat menegangkan tadi pagi.
Kia dan Qiyas saat ini mereka sudah berada dikamar mereka dan sudah menunaikan ibadah sholat dhuhur berjamaah bersama.
Karena tadi setelah Papah Ziyas, Bunda Lili serta Aulian pulang, Kia dan Qiyas mereka berdua pamit kepada Ayah Ibrahim serta Mamah Dian ingin beristirahat didalam kamar.
"Balqis maafin Kakak ya sayang, sudah membuatmu khawatir dan sampai pingsan begitu", kata Qiyas sambil memeluk Kia diatas ranjang.
"Kakak bolehkah Kia untuk jujur", kata Kia kepada Qiyas.
Qiyas lalu melihat kearah Kia yang ada dipelukannya.
"Kak, tiga hari sebelum Kakak berangkat kebandara perasaan Kia entah kenapa selalu khawatir dan was-was, apalagi setiap melihat Kakak, perasaan itu semakin meningkat, dan ketika Kakak tidur pun Kia bawaannya ingin melihat wajah Kakak terus", kata Kia kepada Qiyas.
"Sayang kamu kan tahu sendiri jika perasaan was-was itu adalah godaan syetan kepada manusia, bahkan didalam surat An-Nas Ayat 1-6 yang mana Artinya:
Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Rajanya manusia, Tuhannya manusia dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikan (kejahatan) didalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
Kakak yakin kamu pasti sudah tahu kan??", jelas Qiyas kepada Kia.
"Sudah Kak, bahkan Kia sudah melakukan apapun untuk menghilangkan perasaan gelisah tak menentu itu, dengan berdzikir, mengaji mendekatkan diri kepada Allah pun sudah Kia lakuin Kak", jawab Kia kepada Qiyas.
"Akan tetapi semakin kesini, dan tadi melihat Kakak berangkat perasaan itu semakin menjadi, hingga Kia menjadi tidak fokus", jelas Kia lagi kepada Kia.
"Dan setelah berita tadi pagi tentang pesawat itu, mungkin ini jawaban atas perasaannya Kia Kak, wallahu'alam", lanjut Kia lagi kepada Qiyas dengan masih berpelukan diatas ranjang.
Qiyas dengan setia mendengarkan perkataannya Kia tanpa menyelanya. Dan ketika dia fikir Kia telah selesai berbicara gantian Qiyas yang menjawab perkataannya Kia.
"Jika besok merasakan hal begitu, jangan disembunyiin lagi ya Balqis dari Kakak, kita cari solusinya sama-sama, biar Kakak juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan", jawab Qiyas kepada Kia.
"Baik Kak, Kia janji, lain kali Kia akan bercerita lagi sama Kak", kata Kia kepada Qiyas.
"Kakak sayang banget sama kamu sayang", kata Qiyas kepada Kia.
"Kia juga sayang banget sama Kakak", jawab Kia kepada Qiyas dan mereka akhirnya tidur dengan saling berpelukan.
Tadi Fadhil bisa keluar dari kemacetan sekitar jam dua belas siang, dan Fadhil baru sampai dirumah Ayah Ibrahim untuk mengembalikan mobil serta barang-barang bawaan Qiyas tadi sekitar jam dua siang, karena Fadhil dia mampir keCaffe dulu untuk mengisi perut alias makan siang dan mampir kemasjid terdekat untuk menunaikan sholat dhuhur dan mengistirahatkan sejenak badannya.
Qiyas juga bilang kepada Fadhil bahwa Qiyas akan memberikan bonus gaji untuk Fadhil, karena Fadhil sudah mau susah payah bersabar serta bertahan dari kemacetan dan mengembalikan mobil serta barang bawaannya secara utuh.
Dilain negara tepatnya diNegara Hawaii tempat Zidan dan Mila berbulan madu. Disana Mila masih tidur karena kecapekan sebab semalam Mila diajak bergadang sama Zidan, setelah sholat subuh tadi waktu setempat, Mila melanjutkan tidur lagi.
(Untuk waktu author mengira-ngira ya readers, selisih waktu antara Indonesia-Hawaii adalah 17jam, dan waktu diIndonesia author bikin sekitar jam setengah tiga sore, jadi diHawaii sekitar jam setengah delapan pagi)
"Hubby sepuluh menit lagi", kata Mila kepada Zidan dengan mata yang tepejam.
"Mau satu jam lagi juga masih boleh ko sweety", jawab Zidan kepada Mila sambil sibuk mengusap-ngusapkan wajahnya kesquishynya Mila.
"Tapi kalau Hubby begitu mana bisa tidur satu jam lagi", jawab Mila sambil terpejam dan menahan geli.
"Aaaaaah",....... Desah Mila reflek dan langsung terjaga matanya karena Mila tidak tahu sudah sejak kapan kepala Zidan sudah masuk kebajunya.
"Hubby Mila capek aaahhh........ ", kata Mila dengan sedikit mendesah, karena ulah Zidan.
Akhirnya terjadilah kegiatan seperti semalam. Padahal niat hati Zidan cuman ingin menggoda dan membangunkan Mila, malah dia sendiri yang On karena mendengar desahannya Milaπ.
ππππππππππππ
***TBC***