BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
TERKEJUT LAGI KAN



Setelah pertemuan yang penuh dengan keterkejutan kemarin diCaffe, Kia dan Qiyas sama-sama masih terngiang-ngiang dan teringat momen itu. Entah kenapa Kia dan Qiyas sulit sekali menghilangkan momen pertemuan itu, walaupun sudah kelewat satu minggu lamanya. Walau mereka juga sama-sama sibuk, tetapi ada perasaan asing yang dirasakan Kia dihatinya ketika melihat Qiyas. Bahkan dulu Kia ketika bersama Ustadz Faris dia tidak merasakan apa yang sekarang Kia rasakan kepada Qiyas.


Berbeda dengan Kia, Qiyas justru lagi bersedih dan sering termenung, karena semenjak pertemuannya dengan Kia perasannya malah membuncah semakin besar, dan itu serasa menyakitkan untuk Qiyas yang merasa berdosa telah mencintai istri orang. Begitulah yang sedang terjadi dengan Qiyas, perang bathin dengan dirinya sendiri. Satu sisi bathinnya mengatakan suruh lanjutkan, sisi lainnya dirinya untuk menghentikan perasaannya karena status Kia yang sudah istri orang. Sungguh menyiksa. Karena Qiyas belum mengetahui jika Kia tidak jadi menikah dengan Ustadz Faris.


Hari ini hari Sabtu Qiyas sengaja tidak berangkat kekantor karena ingin mengunjungi sahabatnya Zabir beserta Keluarga semuanya.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum Zabir??", salam Qiyas sambil mengetuk pintu.


Sudah sepuluh menitan Qiyas mengetuk pintu akan tetapi tidak ada yang membuka dan menyahut dari dalam.


"Eh, Ustadz Qiyas kan?? ", kata dua santri yang kebetulan lewat didepan rumah Zabir.


"Iya", jawab Qiyas ramah dan tersenyum.


"Assalamu'alaikum Ustadz Qiyas, apa kabar?? ", tanya salah satu santri dan mereka juga langsung menyalimi tangan Qiyas.


"Wa'alaikumussalam, alhamdulillah baik", jawab Qiyas sambil tersenyum.


"Ustadz apa sedang mencari Gus Zabir?? ", kata santri satunya lagi.


"Iya, dan dari tadi sudah saya panggil tetapi tidak ada tanggapan", jawab Qiyas.


"Oh, Gus Zabir sedang ada dirumah Pak Kyai Ustadz, sedang ada acara syukuran tujuh bulanannya Ning Lida Ustadz", jawab salah satu santri.


"Oh iya sudah terimakasih ya sudah memberi tahu, Ustadz mau kesana dulu, Assalamu'alaikum", pamit Qiyas.


"Iya Ustadz Wa'alaikumussalam", jawab kompak santri tersebut dan dengan menyalimi tangan Qiyas.


Qiyas memang dulu ketika diDubai diberitahu Zabir jika akhirnya Ning Lida menikah dengan Ustadz Riza, sungguh perjuangan Ustadz Riza yang tidak sia-sia tidak seperti dirinya fikir Qiyas, karena Qiyas juga diberitahu Zabir jika Ustadz Riza sudah menyukai Ning Lida semenjak dia masih dibangku MA.


Qiyas langsung kerumah Pak Kyai mengendarai mobilnya, biar dia kalau pulang tidak harus mengambil mobilnya dulu kerumah Zabir, fikirnya.


Sontak kedatangan Qiyas kerumah Pak Kyai membuat orang-orang yang ada disitu bertanya-tanya, siapakah orang yang ada didalam mobil.


Qiyas ketika keluar dari mobil langsung disambut dengan santri yang dulu pernah menjadi muridnya.


"Assalamu'alaikum", salam Qiyas kepada semua yang ada disitu.


"Wa'alaikumussalam", jawab serempak bapak-bapak dan para santri yang ada disitu.


Qiyas datang ketika acaranya sudah selesai, hanya tinggal beberapa orang saja yang ada disitu, karena Qiyas datang menjelang maghrib, sedangkan acaranya selesai jam lima sore tadi.


Setelah menyalami semua yang ada diluar, Qiyas langsung saja masuk sambil mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum", salam Qiyas membuat semua orang yang sedang berbincang-bincang diruang tamu langsung menengok kearah pintu.


Hanya ada satu orang disitu yang membuat jantung Qiyas berdetak seperti genderang perang, yaitu wanita yang selalu dihatinya. Ternyata Kia diundang oleh Lida sahabatnya untuk menghadiri acara tujuh bulanannya dia. Sedangkan Qiyas datang ingin memberi kejutan kesahabatnya Zabir, malah dia yang ternyata dibuat terkejut ketika datang kerumah Pak Kyai.


Kia datang bersama Mila, akan tetapi dia tidak memakai mobil sendiri, dia diantar sopir Keluarganya dan menyuruh sopirnya untuk pulang, karena rencananya Kia dan Mila akan pulang besuk pagi. Kia belum berani naik mobil sendiri karena masih trauma semenjak kecelakaan dengan Ustadz Faris dulu.


"Wa'alaikumussalam", jawab serentak semua orang yang ada disitu.


"Ya Allah Qiyas kamu datang kenapa tidak bilang-bilang, aku kira kamu sibuk, mangkanya tidak kami undang diacara syukurannya Lida", kata Zabir langsung berdiri dari duduknya dan memeluk Qiyas.


Tiba-tiba ada seorang balita yang sedang belajar berjalan menghampiri Qiyas.


Ta ta Tata


Celoteh balita sambil memeluk kaki Qiyas. Yang membuat Qiyas kaget, sedangkan Zabir tertawa gemas. Zabir ingin menggendong anaknya akan tetapi balita yang bernama Sabira ini malah semakin erat berpegangan dikaki Qiyas.


Qiyas langsung saja menggendong Sabira kepelukannya. Dan membuat Sabira tertawa senang. Ada sepasang mata cantik yang melihat Qiyas begitu sudah pantas menggendong bayi, siapa lagi kalau bukan matanya si Kia. Kia yang tarsadar mengagumi Qiyas langsung beristighfar.


"Astaghfirullahhal'adzim", ucap bathin Kia langsung menundukkan wajahnya.


"Sini nak sama Abah yuk, kasihan Om Qiyas capek baru datang", bujuk Zabir kepada anaknya Sabira.


Sabira malah tertawa sambil bertepuk tangan mendengar bujukan Abahnya. Kelucuan Sabira membuat semua orang yang ada situ tertawa termasuk Qiyas dan Kia. Aida Aminya Sabira juga ikut-ikutan membujuk anaknya, karena merasa tidak enak dengan Qiyas.


"Ayo sayang sama Ami, mamam yuk", bujuk Aida sambil memberikan potongan buah melon kepada Sabira.


Sabira hanya mengambil buah melonnya saja tanpa menggubris Aminya. Dan tiba-tiba Sabira menyuapkan potongan buah melon kemulut Qiyas. Qiyas langsung saja tertawa gemas dan langsung menciumin seluruh muka Sabira, membuat Sabira tertawa keras.


"Ehem, berkedip kenapa Kak, dosa tau", celetuk Mila yang merusak suasana dan Mila yang daritadi memperhatikan wajah Kakaknya Kia.


"Cie, cie, cie", goda Zabir, Aida, Lida, dan Ustadz Riza suaminya Lida kepada Kia dan Qiyas.


Walaupun disitu ada Pak Kyai dan Umi Maryam Istrinya Pak Kyai, Pak Kyai dan Umi tidak marah malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan anak-anak muda yang ada didepannya.


Kia semakin menunduk dan memainkan jari tangannya, sedangkan Qiyas dia tersenyum tipis, karena tidak mau semakin menyukai Kia, karena Kia sudah menjadi Istri orang lain, kata-kata itu yang selalu Qiyas ingat untuk membentengi diri terhadap Kia. Walaupun sebenarnya hatinya sangat-sangat bahagia.


"Sudah tidak apa-apa, biar sama aku saja Zabir", kata Qiyas mengalihakan pembicaraan dan kepada Zabir yang daritadi masih membujuk Sabira.


"Kalau kamu kecapean kasihkan keaku saja ya Sabiranya", kata Zabir kepasa Qiyas.


"Siiiip, ngomong-ngomong nama lengkapnya siapa Zabir?? ", tanya Qiyas.


"Nazra Sabira Hilya", jawab Zabir.


"Okey, Nazra Sabira Hilya, kita calim cama eyang Kakung dulu yuk, dadah Abah, muach", kata Qiyas dengan seperti menirukan suara balita seolah-olah Sabira yang berbicara dan Qiyas menggerakkan tangan Sabira seperti kiss bye, sontak Sabira tertawa keras memperlihatkan lima giginya yang baru tumbuh mendengar suara Qiyas yang seperti dirinya.


Karena Qiyas dan Zabir daritadi berbicara didepan pintu sambil berdiri, sebab Zabir tadi reflek langsung berdiri mengetahui Qiyas yang datang, sampai lupa menawarkannya untuk duduk.


"Assalamu'alaikum Pak Kyai", salam Qiyas sambil menyalimi dan mencium tangan Pak Kyai dengan tangan kiri masih dengan menggendong Sabira.


"Wa'alaikumussalam Nak", jawab Pak Kyai sambil mengusap kepala Qiyas dan pipi Sabira.


"Silahkan duduk", sambung Pak Kyai.


Skip*****


Allahuakbar


Allahuakbar


Terdengar kumandang adzan maghrib dimasjid dekat rumah Pak Kyai, para laki-laki segera berangkat kemasjid dan para perempuan segera juga melaksanakan sholat berjamaah dirumah, karena sebaik-baiknya wanita dia sholat didalam rumahnya, walaupun juga diperbolehkan kaum wanita sholat dimasjid.


Sepulang dari masjid para laki-laki termasuk Pak Kyai. Mereka jalan bareng menuju rumah Pak Kyai.


"Qiyas kamu menginap kan disini?? ", tanya Zabir kepada Qiyas yang ada disebelahnya sambil menuntun Pak Kyai Abinya.


"Rencananya langsung pulang Zabir", jawab Qiyas.


"Menginap saja disini, tidur sama Alif dikamarnya, lagian ini juga sudah gelap, akan larut malam kamu sampai rumah jika dipaksakan pulang", kata Zabir lagi.


"Menginaplah dulu nak, benar kata Zabir tidak baik takut terjadi apa-apa dijalan, pulangnya besuk saja, besuk kan juga hari minggu", kata Pak Kyai.


"Baiklah Pak Kyai, saya mengikut saja jika itu yang terbaik", jawab Qiyas membuat Pak Kyai dan Zabir tersenyum.


"Alif nanti malam Kak Qiyas tidur dikamarmu ya", kata Zabir kepada adiknya yang juga ikut menuntun Pak Kyai.


"Baik Gus Zabir", jawab Alif.


"Assalamu'alaikum", salam para laki-laki termasuk Pak Kyai ketika sudah sampai didepan pintu rumah.


"Wa'alaikumussalam", jawab seorang wanita yang membuat Qiyas ketika melihat dan mendengar suaranya jantungnya bertalu-talu sangat keras. Yaaa yang menjawab salam adalah Kia sambil menjaga Sabira, karena Kia sedang berhalangan.


"Kamu sudah sholat Kia, jika belum biar Sabira saya yang jagain", tanya Zabir kepada Kia.


Kia hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk pertanda dia sedang halangan. Zabir hanya beroh ria menanggapi jawaban Kia. Sedangkan Qiyas jangan ditanya dia bingung mau ngapain.


Pak Kyai sudah diantar Alif kekamarnya, sedangkan Ustadz Riza dia langsung masuk kekamarnya untuk mengaji.


"Sini Sabira sama Abah yuk, menyusul Ami", kata Gus Zabir sambil menggendong Sabira masuk kedalam.


Tinggalah Kia dan Qiyas hanya berdua. Kia yang menyadari mereka hanya berdua langsung saja ingin beranjak dari duduknya karena malu dan tidak baik hanya berduaan saja.


"Tunggu", kata Qiyas yang melihat Kia ingin beranjak pergi.


Kia sontak mengehentikan langkahnya dan berbalik badan sambil menunduk, sedangkan Qiyas masih anteng berdiri didepan pintu.


"Dimana Ustadz Faris Balqis, kenapa saya daritadi tidak melihatnya, apa kamu sendirian kesininya?? ", tanya Qiyas kepada Kia.


Kia yang mendengar pertanyaan Qiyas tentang Ustadz Faris langsung saja menggelengkan kepalanya yang masih menunduk.


"Ana permisi dulu Ustadz Fasya", pamit Kia menghentikan pembicaraan dan langsung beranjak pergi masuk kedalam.


Qiyas yang mendapat jawaban begitu dari Kia, dia menjadi bingung, apa ada yang salah dengan pertanyaannya, begitulah yang difikirkan Qiyas.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***