
Setelah Qiyas pulang Kia disuruh duduk oleh Pak Kyai.
"Sini nak Kia, abi mau ngomong sesuatu", kata Pak Kyai kepada Kia.
Kia langsung duduk ditempat duduk yang ada disitu. Dan memang Kia semenjak dekat dengan Lida dia juga memanggil Pak Kyai denga panggilan Abi, seperti Lida dan kedua Kakaknya Gus Zabir dan Gus Alif.
"Ada apa ya abi", tanya Kia dengan hati-hati dan menundukkan wajahnya.
Pak Kyai yang melihat tingkah Kia tersenyum sayang.
"Tidak ada apa-apa, Abi cuman mau bilang Abi bangga padamu nak, apapun semua keputusan yang kamu pilih, abi yakin kamu sudah memikirkannya secara matang-matang, Abi dan Umi menyayangimu seperti kami menyayangi anak-anak Abi........ Jeda Pak Kyai sambil tersenyum.
Ingat pesan Abi yang satu ini nak Kia, jika suatu saat apa yang kamu pilih tidak berjalan dan tidak sesuai seperti apa yang kamu inginkan, jangan bersedih, jangan berlarut dalam kesedihan, percayalah setelah badai pasti ada pelangi, melangkahlah dengan tegar dan penuh senyuman, yang lalu biarlah menjadi pelajaran yang ada didepan anggaplah menjadi penentu masa depan", sambung Pak Kyai sambil mengusap puncak kepala Kia yang tertutup hijab.
"Iya Abi, Kia Insyaallah akan selalu mengingat pesan-pesan Abi", jawab Kia.
"Abi mau istirahat dulu ya Kia, jika mencari Umi, Umi ada digazebo taman belakang", kata Pak Kyai sambil tersenyum ramah.
"Iya Abi", jawab Kia sambil mengangguk.
Setelah Pak Kyai masuk keluarlah Lida dari dalam rumah. Karena tadi saat Kia dipanggil Pak Kyai Lida sengaja masuk kedalam, tidak mau mengganggu.
"Kia, ayo sudah ditunggu Umi digazebo belakang", kata Lida dengan tiba-tiba.
Akhirnya mereka berjalan menuju gazebo yang ada ditaman belakang rumah. Mereka melihat Umi sedang mengaji. Umi adalah Istri dari Pak Kyai.
"Assalamu'alaikum Umi", kata Lida dan Kia secara bebarengan.
Umi yang mendengar suara salam langsung mengakhiri mengajinya dan menutup Al-qur'an serta menyimpan ditempat yang sudah disediakan. Umi yang melihat Kia langsung tersenyum.
"Lida, kamu lanjutin masaknya Umi tadi ya, tadi Umi sudah siapin semua bahan-bahannya", kata Umi ke Lida.
Lida yang mengetahui maksut dari Umi langsung meninggalkan mereka, karena jika Umi sudah menyuruh begitu, itu pertanda Umi sedang tidak ingin diganggu dan akan membicarakn hal yang serius.
Setelah Kia sudah duduk disamping Umi, Kia tiba-tiba langsung memeluk Umi Maryam. Kia sudah sangat dekat dengan Umi Maryam dan Umi Maryam sudah dianggap Kia sebagai mamahnya yang kedua, begitupun sebaliknya, Umi juga sudah menganggap Kia sebegai putrinya sendiri. Umi Maryam tentu saja kaget tiba-tiba dipeluk Kia, akhirnya Umi juga membalas pelukannya Kia sambil mengusap punggung Kia untuk memberi ketenangan. Setelah dirasa puas Umi yang lebih dulu melepaskan pelukannya.
"Lida sudah cerita semuanya nak, kenapa kamu tidak bilang dan cerita sama Umi sayang", tanya Umi Maryam dengan lembut.
"Maafin Kia Umi", kata Kia yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Apakah keputusan yang Kia ambil salah Umi, apakah Kia gegabah dalam menerima khitbahannya Ustadz Faris", tanya Kia langsung to the point.
Umi yang mendengar pertanyaan Kia hanya tersenyum tulus dan sambil memegang tangan Kia.
"Umi boleh tanya sesuatu sama Kia?? ", tanya Umi Maryam sambil tersenyum.
Kia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Apakah disetiap sholat Istikhoroh Kia selama seminggu itu, Kia sudah mendapatkan jawabannya?? ", tanya Umi Maryam lagi.
Kia tiba-tiba mendongakkan kepala dan melihat kedepan, tetapi ada yang berbeda dimata Kia. Pandangan Mata Kia kosong, seolah sedang memikirkan dan membayangkan sesuatu.
ππππππππππππ
***TBC***