
Hari sudah berganti hari, dan hari ini adalah hari Sabtu waktunya Kia dan Qiyas datang menjenguk Lida yang baru lahiran kemarin.
Qiyas dan Kia sudah membawa begitu banyak oleh-oleh dan buah tangan lainnya serta juga kado untuk si babynya Lida.
Qiyas dan Kia pun juga sudah mengabari Lida dan juga Zabir jika mereka akan datang dihari Sabtu ini.
Sesuai perkiraan Qiyas dan Kia jika jalanan tidak macet mereka akan sampai sekitar jam sebelasan siang, karena mereka tadi berangkat dari rumah Ayah Ibrahim sekitar jam tujuhan pagi setelah sarapan. Karena memang jarak kePesantren tempat tinggalnya Lida sangat jauh, sekitar empat jamman.
Qiyas dan Kia sengaja tidak masuk kekantor untuk hari itu, jadi jika nanti setelah pulang dari menjenguk Lida mereka kecapean Kia dan Qiyas bisa beristirahat dulu, karena esoknya kan hari Minggu.
Qiyas dan Kia sudah memasukki gerbang Pesantren. Mereka langsung saja membawa mobilnya masuk dan akan memarkirkan langsung didepan rumah Pak Kyai, biar lebih dekat dan cepat jika nanti akan pulang.
"Assalamu'alaikum", kata Qiyas dan Kia secara bersamaan ketika sudah keluar dari dalam mobil.
"Wa'alaikumussalam, mari-mari masuk", jawab semua orang yang memang sudah menunggu kedatangannya Kia serta Qiyas. Yaitu Zabir dan Istri, Umi Maryam dan Ustadz Riza suaminya Lida. Sedangkan Pak Kyai dan Lida mereka menunggui didalam rumah. Dan untuk adiknya Zabir Gus Alif dia sedang mengajar diPesantren.
"Bagaimana perjalanan, lancarkan dan tidak macet?? ", tanya Zabir kepada Qiyas dan Kia ketika sudah masuk dan duduk diruang tamu. Sedangkan istrinya Aida dia sedang masuk untuk membuatkan minum.
"Alhamdulillah lancar", jawab Qiyas dengan tersenyum.
"Kemarin terakhir kesini belum halal, sekarang menempel terus", goda Ustadz Riza kepada Qiyas dan Kia. Karena duduknya Qiyas lumayan mepet dengan Kia.
Sontak semua orang yang mendengar godaan dari Ustadz Riza mereka tertawa semua, termasuk Qiyas dan Kia.
"Maklum pengantin baru, kamu dulu juga begitu sama Lida, Zabir dulu juga begitu sama Aida, kalian itu sama saja", jawab Umi Maryam membela Qiyas dan Kia. Yang mana membuat Ustadz Riza dan Zabir tertawa cukup keras.
"Lida mana Umi, ko tidak kelihatan?? ", tanya Kia kepada Umi Maryam.
"Tadi dia lagi menyusui si Maulana Kia didalam, biar saya panggilan dulu sebentar", jawab Ustadz Riza kepada Kia.
Maulana adalah nama anak dari Ustadz Riza dan Maulida.
"Eh tidak usah, nanti malah mengganggu", jawab Kia tidak enak kepada Ustadz Riza.
"Tidak apa Kia, nanti jika tidak dikasih tahu, dia bisa ketiduran", bukan Ustadz Riza yang menjawab melainkan Zabir kakaknya Lida.
"Iya betul itu", jawab Ustadz Riza dan membuat yang lainnya pada tertawa.
Ustadz Riza langsung saja permisi sebentar untuk memanggil dan memberitahu Lida jika Kia dan Qiyas sudah datang.
"Maaf ya Kia, kemarin Umi tidak bisa datang keacara resepsinya kalian berdua", kata Umi Maryam kepada Kia dan Qiyas.
Karena yang datang cuman Zabir beserta anak istri, Alif dan Ustadz Riza sedangkan Umi Maruam, Pak Kyai dan Lida tidak bisa menghadiri acara resepsinya Kia dan Qiyas karena keadaan yang tidak memungkinkan.
"Tidak apa-apa Umi, do'a dari Umi saja sudah penting untuk kita berdua", jawab Qiyas kepada Umi Maryam.
Dan tiba-tiba terdengar suaranya Pak Kyai yang sedang berjalan menuju mereka. Zabir yang melihat dia reflek saja langsung berdiri untuk membantu Pak Kyai berjalan.
"Lagi ngomongin apa sih, sepertinya seru sekali sampai terdengar kedalam", kata Pak Kyai kepada semuanya.
Kia dan Qiyas mereka langsung berdiri untuk menyalami dan mencium tangannya Pak Kyai.
"Lagi mengobrol seputar resepsinya Kia dan Qiyas ini lho Abi", jawab Umi Maryam kepada Pak Kyai.
"Monggo diminum teh herbal angetnya Kia dan Qiyas", kata Aida yang sudah selesai membuatkan minum untuk mereka semua yang ada diruang tamu, terutama untuk tamu mereka Kia dan Qiyas.
"Terimakasih mbak,
"Terimakasih Aida,
Kata Kia dan Qiyas secara bersamaan.
"Wah lagi seru nih kayaknya", kata Lida yang baru keluar dari kamar sambil membawa baby Lana.
"Waah anak kamu gembul sekali Lida, lucunya", kata Kia sambil mengusap pipi anaknya Lida.
"Iya nih ASInya lancar Kia, sampai kuwalahan akunya", jawab Lida kepada Kia.
"Aku do'ain semoga kamu dan Qiyas cepat yah diberi momongannya", kata Lida lagi kepada Kia dan diAamiinin semua yang ada disitu. Kecuali Aida dia masuk lagi kedalam untuk mempersiapkan makan siang untuk semuanya.
"Mau kemana kamu Qiyas?? ", tanya Zabir kepada Qiyas.
"Mau kemobil buat ambil oleh-oleh", jawab Qiyas.
"Kenapa repot sih nak, kalian datang berkunjung kesini saja kami sudah senang sekali ko", kata Pak Kyai.
"Tidak repot ko Pak Kyai, hanya oleh-oleh sedikit dan kecil", jawab Qiyas kepada Pak Kyai.
"Yasudah ayo aku bantuin", kata Zabir kepada Qiyas.
Akhirnya Zabir dan Qiyas mereka keluar menuju kemobilnya Qiyas untuk mengambil oleh-oleh dan buah tangan yang Qiyas serta Kia bawa.
"Sebegini banyaknya kamu bilang sedikit tadi Qiyas?? ", kata Zabir ketika melihat oleh-oleh yang dibawa Qiyas didalam mobil.
Qiyas hanya tertawa menanggapi perkataannya Zabir.
Ketika semua barang sudah dikeluarkan dan dibawa keruang tamu semua, semua yang ada disitu pada heran kecuali Pak Kyai beliau hanya menggelengkan kepalanya karena melihat begitu banyak oleh-oleh yang dibawa Kia dan Qiyas.
"Masyaallah banyaknya oleh-oleh yang kamu bawa Kia", kata Lida kepada Kia.
Kia juga tersenyum menanggapi perkataannya Lida.
"Ini Pak Kyai dan semuanya, souvenir pernikahan kami yang kami sisihkan sengaja untuk semuanya yang ada disini", kata Qiyas sopan sambil meletakkan tempat souvenir seperti kotak perhiasan yang isinya ada emas batangan sebesar sepuluh gram sebanyak sepuluh buah.
Pak Kyai dengan perlahan beliau membuka kotak perhiasan itu yang isinya langsung membuat semua orang disitu sedikit tercengang.
"Masyaallah Subhanallah", kata Pak Kyai reflek. Dan diikuti Umi Maryan, kecuali Zabir dan Riza karena mereka kemarin sudah datang dan sudah dapat souvenir dari Kia dan Qiyas.
"Apa ini tidak kebanyakan Nak, dan apa ini tidak memmubadzirkan uang kalian, pasti kalian tidak sedikit mengeluarkan uang untuk memberikan souvenir pernikahan seperti ini?? ", kata Pak Kyai panjang lebar.
"Kamu memberikan souvenir emas batangan ini sebagai souvenir kalian Kia?? ", tanya Lida heran kepada Kia, walaupun Lida juga sudah tahu karena diberitahu oleh suaminya Ustadz Riza kemarin, akan tapi Lida rasanya belum puas jika belum mendengar langsung dari Kia sahabatnya.
Dan Kia hanya mengangguk memberikan jawaban.
"Sungguh sangat kaya sekali ternyata sahabatku ini", kata Lida lagi kepada Kia.
"Berapa tamu undangan yang kamu undang kemarin Nak, karena Umi melihat ditv begitu banyak undangan yang kalian undang?? ", tanya Umi Maryam kepada Kia dan Qiyas.
Karena memang acara resepsinya Kia dan Qiyas sering muncul digosip berita tv.
"Sekitar lima puluh ribu undangan Umi", jawab Qiyas mengagetkan semua orang.
"Masyaallah", kata Pak Kyai reflek mendengar jawabannya Qiyas.
"Pasti yang datang lebih dari lima puluh ribu kan, karena aku juga sudah melihat sendiri ketika disana banyak sekali tamu kalian?? ", kata Zabir kepada Qiyas serta Kia dan dijawab anggukan oleh mereka berdua.
"Ini banyak sekali nak Qiyas yang kamu kasihkan kepada kami?? ", tanya Pak Kyai lagi kepada Qiyas.
"Itu untuk semuanya yang ada disini Pak Kyai jika masih ada sisa disimpan Pak Kyai dan Umi saja", jawab Qiyas dan diangguki Kia.
Akhirnya Pak Kyai memberikan souvenir yang Qiyas bawa kesemua orang yang ada disitu satu persatu, dan sisanya akan disimpan Pak Kyai dan Umi Maryam.
"Tapi aku dan Riza sudah dapat kemarin Qiyas?? ", kata Zabir kepada Qiyas ketika menerima souvenir lagi dari Qiyas.
"Tidak apa-apa, disimpan saja, buat tabungan kamu dan istrimu kedepannya", jawab Qiyas kepada Zabir.
"Permisi semuanya, makan siangnya sudah siap Umi", kata Aida yang baru muncul dari dalam rumah.
"Ayo nak kita makan siang dulu semuana sebentar lagi juga akan masuk waktu dhuhur", ajak Pak Kyai kepada semuanya yang ada disitu, terutama untuk Kia dan Qiyas.
Karena memang waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, waktunya untuk makan siang.
Akhirnya mereka semuanya termasuk Kia dan Qiyas mereka makan siang dirumahnya Pak Kyai diselingi dengan ocehan anaknya Zabir si Sabira yang masih lucu. Dan setelah itu dilanjutkan dengan sholat dhuhur berjamaah dimasjid yang ada dilingkungan Pesantren, sedangkan para wanita mereka sholat berjamaah dirumah.
ππππππππππππ
***TBC***