
Untuk semuanya para readers saya meminta maaf jika cerita ini tidak sesuai ekspetasi kalian. Karena saya juga sama-sama masih belajar untuk memahami dunia Pesantren dan dunia Santriwan maupun Santriwati.
Jika ada salah kata yang kurang berkenan, bisa komen dengan kritik dan saran yang sopan. Mohon maaf karena saya tidak lulusan dari Pesantren.
Karena novel ini real dari pemikiran saya sendiri, tidak copas dari novel manapun. Jadi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan cerita yang nyambung dan terbaikππππ
β salam kenal dari sayaππβ
β β β β β β β β β β β β β
"Assalamu'alaikum", salam seseorang sambil menepuk pelan pundaknya Qiyas.
Qiyas yang sedang mengaji dan berdzikir didalam pojok masjid, sangat terkejut dengan salam sesorang sambil menepuk pundaknya.
Pasalnya ini sudah jam sepuluh malam dan dia yakin didalam Masjid cuman ada dirinya saja.
Alangkah terkejutnya Qiyas ternyata orang yang mengucap salam serta menepuk pundaknya adalah Pak Kyai. Pemimpin sekaligus Pemilik Pondok Pesantren Darunnajah.
Qiyas yang menyadari langsung menutup Al-Qur'an untuk menyalimi tangannya Pak Kyai.
"Wa'alaikumussalam, eh Pak Kyai", jawab Qiyas sambil menyalimi tangan Pak Kyai.
"Bolehkah kita bicara diluar, tidak baik mengobrol didalam Masjid nak Qiyas", kata Pak Kyai kepada Qiyas.
"Nggeh Pak Kyai"
(iya Pak Kyai) ", jawab Qiyas langsung mengikuti langkah Pak Kyai.
Ternyata Pak Kyai mengajak Qiyas menuju Gazebo yang ada didepan Pendopo Pesantren.
Sedangkan rumah Pak Kyai ada dibelakang Pendopo tersebut.
"Ada apa ya Pak Kyai", tanya Qiyas dengan penasaran dan sedikit takut.
"Tidak apa-apa, hanya ingin mengobrol", jawab Pak Kyai dengan kalem.
"Kenapa Pak Kyai belum tidur, ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan Pak Kyai", tanya Qiyas kepada Pak Kyai.
"Kamu sendiri kenapa juga belum tidur, bukannya ini juga sudah malam, tidak baik juga untuk kesehatanmu", kata Pak Kyai membalikkan pertanyaan kepada Qiyas.
Sontak Qiyas hanya diam mendengar pertanyaan dari Pak Kyai dan menundukkan wajahnya. Dia bingung harus menjawab bagaimana, karena dia sendiri lagi susah tidur, karena hati yang sedang terpuruk untuk ke dua kalinya.
Pak Kyai yang melihat Qiyas menunduk hanya tersenyum.
"*Tidak usah memikirkan hal yang bukan kewajibanmu untuk memikirkan, biarkanlah seperti air mengalir, walaupun terhambat sesuatu pasti ada celah sedikit untuk air tersebut mengalir, walaupun dengan perlahan dan kecil. Begitupun kehidupan, walau ada kesedihan dan masalah hadapilah dengan senyuman dan ketegaran, karena keterpurukan dan kegalauan tidak bisa menyelesaikan masalah malah menambah masalah.
Selesaikanlah dan hadapilah, serta bersabarlah, karena sejatinya takdir jodoh seseorang ada ditangan Allah Subhanahu Wata'ala*", Nasehat dari Pak Kyai untuk Qiyas.
Qiyas sontak mengalihkan pandangannya kearah Pak Kyai. Dan dia sedikit bingung dengan maksud dari Pak Kyai yang tiba-tiba memberinya nasehat seperti itu.
Pak Kyai yang mengerti kebingungan Qiyas beliau langsung melanjutkan nasehatnya. Walaupun Pak Kyai memandang lurus kedepan dan tidak sedang memandang kearahnya Qiyas.
"*Bersabarlah, karena ini ujian dari-Nya untukmu, karena ujian dari-Nya tidak sampai disini saja. Lapangkanlah hatimu karena dia sejatinya benar-benar berjodoh denganmu, hanya saja jalan menuju halal banyak rintangan menghadangmu.
Jika nak Qiyas sabar dan kuat menghadapi insyaallah Allah mempermudah jalanmu menggapainya, jika engkau terpuruk dan galau seperti ini, saya yakin nak Qiyas akan semakin sulit melewati rintangan kedepannya*", kata Pak Kyai lagi kepada Qiyas.
........ β β β β β β β β β β ..... ...
ππππππππππππππ
***Tbc***