BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
RUMAH SAKIT



Bi Karsi yang baru pertama kali melihat wajah Nyonyanya, alias Kia dia juga sama seperti Zahra terpukau dan terpesona, pasalnya selama beberapa hari bekerja dirumahnya Qiyas dia baru itu melihat langsung wajahnya Kia ketika membantu Tuannya Qiyas menggantikan bajunya Kia tadi yang terkena muntahan, karena selama ini Bi Karsi selalu melihat Kia memakai niqobnya.


Bi Karsi yang sama-sama perempuan pun heran dengan kulitnya Kia, karena bisa putih bersih serta mulus. Bi Karsi dia juga berani menjamin jika Tuannya Qiyas dia tidak bakal melirik wanita lain. Karen tipe Qiyas yang setia, dan juga sudah beruntung mempunyai Istri yang begitu cantik dan sholehah.


Qiyas saat ini yang sudah sampai diRumah Sakit Miracle Hospital, dia langsung saja menggendong Kia dan langsung menyuruh Dokter Ara untuk segera menangani Kia istrinya.


Karena Dokter Ara pun juga sudah menunggu didepan ruang UGD Rumah Sakit tersebut. Karena ketika didalam perjalanan Qiyas sudah menghubungi Dokter Ara, Dokter kandungannya Kia.


Dokter Ara yang waktu itu masih menangani beberapa pasien ketika mendapat telefon dari Qiyas dan mengatakan jika Kia pingsan dia lalu menyuruh temannya untuk menggantikan dia sementara, karena Kia termasuk pasien yang VVIP baginya.


Dokter Ara yang melihat mobil mewah Qiyas sudah masuk dipelataran UGD dia langsung mendekati mobil Qiyas dan langsung menyuruh para suster untuk menyiapkan ruangan.


Karena Dokter Ara dia tidak menunggu sendirian, melainkan dengan beberapa suster dan sambil juga membawa brankar untuk mendorong Kia.


Kia saat ini sudah didorong menuju keruangan yang sudah disediakan yang pasti ruangan itu yang mewah dan mahal karena Qiyas ingin memberikan yang terbaik untuk Kia.


"Tuan Qiyas kami mohon Tuan mau menunggu sebentar diruang tunggu yang sudah disediakan ya Tuan", kata suster itu kepada Qiyas dan langsung disetujui oleh Qiyas.


Qiyas dengan cemas menunggu Kia yang sedang diperiksa Dokter. Tak lupa do'a dan sholawat selalu dia panjatkan untuk mendo'akan kesembuhannya Kia.


Ketika Qiyas sedang bingung dan sambil mondar mandir didepan ruangannya Kia, dia dikejutkan oleh kedua orang tuanya dan mertuanya. Siapa lagi kalau bukan Papah Ziyas, Bunda Lili, Mamah Dian dan Ayah Ibrahim.


Papah Ziyas, Bunda Lili dan Mamah Dian serta Ayah Ibrahim dia mengetahui ruangannya Kia karena tadi bertanya kepada suster yang kebetulan lewat didepan mereka dan suster tadi juga yang membantu Kia menuju keruang periksa.


"Iyas,


"Nak Iyas,


Panggil Papah Ziyas, Bunda Lili, dan Mamah Dian serta Ayah Ibrahim secara bersamaan.


Qiyas langsung saja mengalihkan pandangannya kesumber suara yang memanggil namanya.


"Bagaimana Nak keadaannya Kia?? ", tanya Mamah Dian kepada Qiyas ketika mereka semua sudah sampai didepannya Qiyas dengan sangat khawatir sekali.


"Tidak tahu Mah, lagi diperiksa didalam sama Dokter Ara", jawab Qiyas dengan suara yang juga sangat khawatir.


Mereka semua sangat khawatir dengan keadaannya Kia. Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim mereka juga sama khawatirnya, akan tetapi mereka berdua berusaha tenang agar bisa menenangkan istri mereka masing-masing.


Hanya sekitar kurang lebih tiga puluh menitan akhirnya Dokter Ara dia keluar juga dari ruangan periksanya Kia.


Dan Qiyas yang memang sedang berdiri ditembok samping pintu dia langsung menghampiri Dokter Ara.


"Dokter bagaimana keadaannya Istri dan baby twins saya Dok", tanya Qiyas dengan tidak sabaran.


Para orang tua mereka juga langsung sama-sama berdiri ketika melihat Dokter Ara yang baru keluar dari ruangan dan mereka juga menyamperin Dokter Ara seperti Qiyas.


"Mbak Kia tidak kenapa-kenapa Tuan, hanya terlalu rendah sekali tekanan darahnya, dan itulah yang menyebabkan dia terlalu pusing melebihi biasanya hingga menyebabkan dia pingsan, babynya saya cek alhamdulillah masih sehat dan baik-baik saja Tuan", jawab Dokter Ara kepada Qiyas.


"Alhamdulillah", jawab serentak semua orang ketika mendengar penjelasan Dokter Ara. Karena baby twins tidak kenapa-kenapa dan Kia juga tidak parah keadaannya.


"Tolong diperhatikan sekali kondisinya Mbak Kia ya Tuan, karena hamil anak kembar itu keluhan serta yang dirasakan dua kali lipat dari hamil normal, dan saya sudah memberikan infus biar Mbak Kianya tidak dehidrasi, dan jika nanti sudah habis infusnya serta Mbak Kianya sudah sadar boleh pulang ko Tuan Qiyas", kata Dokter Ara lagi kepada Qiyas.


"Terus apa yang perlu kami lakukan Dok untuk anak saya Kia?? ", tanya Mamah Dian kepada Dokter Ara.


"Tolong Mbak Kia jangan dibuat kecapekan, serta jangan banyak fikiran ya Tuan dan Nyonya, jika Mbak Kianya bekerja bujuklah untuk dirumah dulu supaya bisa sehat dia dan babynya sampai lahiran, karena saya lihat Mbak Kia sepertinya mempunyai riwayat darah rendah dan jika dipaksakan bekerja kemungkinan dia akan sering pingsan", jawab Dokter Ara lagi.


"Bolehkah kami melihatnya didalam Dokter?? ", tanya Bunda Lili kepada Dokter Ara.


"Boleh-boleh silahkan, mohon jangan diganggu dulu ya Tuan, Nyonya, biarkan Mbak Kianya bangun dan sadar sendiri, sebentar lagi mungkin Mbak Kia akan sadar, dan nanti akan dipantau sama suster saya Tuan", jelas Dokter Ara lagi.


"Baiklah Dok, saya faham terimakasih banyak, jika nanti saya membutuhkan bantuan Dokter lagi saya akan menghubungi Dokter", kata Qiyas kepada Dokter Ara sambil sedikit menganggukkan kepalanya.


Dokter Ara langsung saja berpamitan dan berlalu sambil menyalami tangan Mamah Dian dan Bunda Lili. Sedangkan Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim mereka juga menganggukkan sedikit kepalanya kepada Dokter Ara seprti Qiyas tadi.


Mereka semua langsung mendekati ranjang pasiennya Kia dan melihat Kia wajahnya sedikit pucat dari biasanya.


"Sudah kita duduk saja dulu, nanti Kianya pengap kita kelilingi begini", kata Papah Ziyas kepada semuanya.


Akhirnya mereka semua duduk dishofa yang ada diruangannya Kia sambil berbincang-bincang pelan membicarakan kehamilannya Kia. Sedangkan Qiyas dia tidak ikut duduk dishofa bareng kedua orang tuanya atau kedua mertua, tapi dia memilih duduk dikursi yang ada disamping ranjangnya Kia.


Qiyas senantiasa memegang tangannya Kia sambil mengusap-usap perutnya Kia dan bersholawat terkadang juga mengaji untuk lebih menenangkan Kia dalam tidurnya.


Ketika baru dapat beberapa ayat Surat Al-Fath, Kia dengan pelan tapi pasti dia berusaha membuka matanya.


Qiyas yang melihat langsung saja berdiri dan memanggil Kia. Sedangkan para orang tua yang melihat pergerakannya Qiyas mereka langsung mendekati Kia dan Qiyas.


"Sayang hey", kata Qiyas kepada Kia.


Kia dengan memegangi kepalanya yang masih pusing dia dengan perlahan mengalihkan pandangannya kearah Qiyas.


"Apa Umi dirumah sakit Abi?? ", tanya Kia dengan lirih.


"Iya, tadi kan Umi pingsan", kata Qiyas dengan lembut sekali.


"Nak, syukurlah kamu sudah sadar, Mamah senang sekali melihatnya", kata Mamah Dian dengan tersenyum senang.


Kia lalu mengalihkan tatapannya kearah Mamahnya.


"Alhamdulillah sudah sadar Nak", kata Bunda Lili kepada Kia.


Kia lalu beralih menatap Bunda Lili.


"Mamah dan Bunda serta semuanya disini", kata Kia dengan pelan.


"Iya Nak ketika kami ditelfon Bi Karsi kami langsung datang kesini, kami semua khawatir denganmu Nak", jawab Bunda Lili kepada Kia dan diangguki mereka semua.


"Sudah, yuk kita duduk lagi, biarkan Kianya terlebih dahulu", kata Papah Ziyas mengajak istri dan kedua besannya.


Akhirnya hanya Qiyas yang menemani Kia disamping ranjangnya Kia.


"Iyas kami tunggu saja diluar dulu ya, biar kalian lebih enakan mengobrolnya", kata Papah Ziyas lagi kepada Qiyas dan diangguki oleh Bunda Lili, Mamah Dian serta Ayah Ibrahim.


Tinggalah Qiyas dan Kia diruangan itu setelah Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Bunda Lili dan Papah Ziyas keluar.


"Kalau merasakan apa-apa lagi bilang dan cerita sama Abi ya Umi, Abi sangat sedih sekali melihatmu pingsan begini", kata Qiyas dengan nada yang sedih.


"Maafin Umi ya Abi, lain kali Umi akan cerita sama Abi", kata Kia kepada Qiyas sambil mengusap rambutnya Qiyas.


"Ya sudah Umi istirahat saja dulu, Abi akan jaga dan menemani Umi disini", kata Qiyas kepada Kia.


"Abi ngajiin Umi dan sambil usap perut Umi ya Abi", kata Kia kepada Qiyas dan langsung dianggukin Qiyas.


Qiyas langsung saja mengabulkan permintaannya Kia dan dia senantiasa mengaji sambil mengusap perutnya Kia. Hingga infusnya Kia habis, dan setelah beres semua Kia, Qiyas beserta kedua orang tuanya masing-masing pada ikut pulang kerumahnya Qiyas.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Aul-Zahra setiap hari insyaallah Author usahain satu pasti Up ya ReadersπŸ˜‰.



πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***