
Kia saat ini sudah sampai dikantornya dan sudah menunggu diruang meeting untuk membahas kerjasama bersama Perusahaan IRAWAN CORP. Ketika sedang menunggu Kia dan Zahra sekertarisnya lagi membahas berkas yang akan dibahas dimeeting kali ini. Karena Kia tidak mau mengecewakan Perusaahannya Qiyas apalagi Ayahnya.
Ketika sedang asik membahas berkas, masuklah Fadhil sekertaris Qiyas yang kedua. Kia tidak tahu saja jika kemarin yang datang kekantornya adalah Fadhil sekertaris Qiyas yang kedua, karena Zidan masih libur.
Qiyas sengaja menyuruh Fadhil mengaku jika dia sekertaris adiknya karena ingin mengetahui bagaimana reaksinya Kia ketika tahu jika yang datang bukanlah adiknya melainkan dirinya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu diketuk, dan Kia langsung mempesilahkan masuk. Ketika yang masuk Fadhil Kia langsung mempersilahkan duduk.
"Silahkan duduk Tuan Fadhil, dan mohon maaf apakah anda sendiri, dimana atasan anda?? ", kata Kia mempersilahkan dan bertanya.
"Tuan saya sedang berada dikamar mandi sebentar Nona", jawab Fadhil.
"Ya sudah kita tunggu saja sebentar kalau begitu", kata Kia.
Tidak lama pintu terbuka, dan masuklah Qiyas denga balutan jaz yang rapi dan jangan lupakan kharismanya sebagai Presdir dari IRAWAN CORP. Qiyas langsung masuk tanpa mengetuk pintu, ketika melihat Kia dia langsung tersenyum manis dan langsung duduk dimeja yang berseberangan dengan Kia.
Sedangkan Kia yang tadi melihat Qiyas masuk, jantungnya tiba-tiba berdegub dengan kencang.
"Katanya kerjasama ini yang menghandle adiknya, kenapa yang datang malah Kak Fasya", bathin Kia ketika melihat Qiyas masuk dan langsung duduk disebelah Fadhil.
"Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang ketika melihat Kak Fasya, hingga bikin saya tidak tenang dan grogi seperti ini", bathin Kia lagi.
"Bisa dimulai sekarang Nona", kata Zahra yang langsung membuat Kia mengatur nafas dan menenangkan diri, supaya dia bis terlihat profesional.
"Bagaimana Tuan Fasya dan Tuan Fadhil bisa dimulai sekarang", tanya Kia dengan formal kepada Qiyas dan Fadhil.
"Maaf Nona, bukannya Tuan ini namanya Tuan Qiyas, Presdir dari IRAWAN CORP, siapa yang Nona panggil dengan sebutan Tuan Fasya?? ", tanya Zahra sekertarisnya kepada Kia.
Karena Zahra takut jika Kia salah menyebutkan nama, dan itu akan berdampak buruk bagi penilaian rekan bisnis terhadap Kia.
Qiyas yang mendengar pertanyaan Zahra sekertarisnya Kia, dia langsung menyela ketika Kia akan menjawab.
"Karena memang saya me........... ", kata Kia terpotong Qiyas.
"Karena saya adalah calon suaminya Nona Kia dan Nona Kia adalah calon istri saya, jadi Fasya adalah nama kesayangan dia terhadapku", jawab Qiyas cepat, tenang dan sambil melirik kearah Kia.
Sedangkan Kia yang mendengar pekataan Qiyas dia langsung melotot. Dan Zahra seketika mengucapkan selamat kepada Kia.
"Maaf Nona saya tidak tahu, dan selamat untuk anda, semoga lancar sampai hari-Hnya", kata Zahra sambil bersalaman kepada Kia.
"I....... Iya terimakasih", jawab Kia sambil membalas berjabat tangan dengan Zahra.
"Selamat Tuan, semoga lancar", kata Fadhil kepada Qiyas ikut-ikutan seperti Zahra mengucapkan kepada Kia.
Qiyas hanya mengangguk dan tersenyum tanpa menjabat tangan, karena Fadhil tidak mengajak berjabat tangan Qiyas.
"Sudah mari kita mulai meetingnya", kata Qiyas yang sengaja, karena melihat muka Kia yang kurang nyaman karena perkataannya tadi.
Akhirnya meeting berjalan dengan lancar selama tiga jam, karena membahas pembangunan resort, villa dan hotel yang ada diBali.
Selama meeting berlangsung, selain mendengarkan Kia yang sedang presentasi Qiyas juga curi-curi pandang kepada Kia yang ada didepan. Kia yang merasa terkadang mata Qiyas tidak tertuju kelayar proyektor akan tetapi kedirinya, membuat Kia menjadi grogi dan malu, tapi Kia berusaha supaya bisa profesional dan tidak bikin dirinya malu berada didepan.
Qiyas sungguh kagum dan bangga, karena tidak cuman sholehah ternyata Kia juga pintar. Dan penjelasannya Kia didepan sungguh pas dan sesuai dengan proyek yang akan dikerjakan.
Qiyas tidak tahu saja, ketika Kia pertama kali diperkenalkan oleh Ayah Ibrahim sebagai anaknya dan akan menjadi CEO diPerusahaan IBRAHIM COMPANY banyak yang meragukan dan mencemooh Kia, karena gaya pakaian Kia dan cadar yang menutupi mukanya.
Sebab mungkin tidak ada seorang CEO yang berpakaian syar'i dan bercadar seperti Kia. Kia yang sadar menjadi bahan perbincangan para karyawan dia mencoba cuek dan tegar, karena itu sungguh goda'an yang harus dia lawan. Dan Kia melawannya dengan cara membuktikannya dengan hasil kerjanya.
Setelah satu tahun terlihatlah kinerja kerja Kia dalam memimpin Perusahaan menggantikan Ayah Ibrahim. Dulu ketika pas awal-awal dia menjadi CEO, banyak rekan bisnis yang berfikiran sama dengan para karyawan dan sedikit segan karena melihat Kia dapat menjaga diri dengan pakaian tertutup serta niqabnya jangan dilupakan. Karena kebanyakan rekan bisnis Kia adalah laki-laki semua.
Tetapi setelah beberapa kali bekerja sama ternyata fikiran mereka salah, dan mereka para rekan bisnis Kia semakin segan dan semakin menghormati Kia.
Kembali lagi keruangan meeting.
"Bagaimana Tuan Fasya, apakah anda setuju dengan ide-ide yang kami berikan tadi?? ", tanya Kia kepada Qiyas.
"Saya setuju, akan tetapi jika dikedepannya ada yang baru boleh kita bicarakan lagi, karena siapa yang tahu perkembangan jaman yang serba canggih ini", jawab Qiyas kepada Kia.
"Baik saya setuju, dan proyek ini akan dimulai pembangunannya minggu depan, bagaimana Tuan", tanya Kia lagi.
"Baik, meeting hari ini saya akhiri dan selesai sampai disini, jika Tuan ada pertanyaan dan kurang berkenan terhadap pembahasan tadi, bisa langsung berbicara kepada saya, kalau begitu saya permisi", kata Kia kepada Qiyas.
Qiyas yang daritadi mendengarkan Kia berbicara langsung menghentikan pergerakan Kia ketika melihat Kia akan beranjak pergi.
"Tunggu", kata Kia kepada Kia.
Kia langsung saja duduk kembali ketika mendengar Qiyas melarangnya pergi.
"Tolong tinggalkan kami berdua disini dan tunggu kami didepan pintu, jangan pergi, faham", kata Qiyas dengan tegas kepada Fadhil dan Zahra.
Fadhil dan Zahra langsung membungkukkan badannya dan berlalu keluar menunggu didepan pintu sesuai perintah Qiyas.
Sedangkan Kia jantungnya berpacu makin keras ketika diruangan meeting hanya ada mereka berdua.
Eheeemmm
Qiyas sengaja berdeham untuk memulai pembicaraan. Dan Kia hanya menunduk dan memainkan jari tangannya yang ada diatas meja.
"Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa jadi saya yang datang, bukannya adik saya, iya kan Balqis", tanya Qiyas kepada Kia.
Kia hanya mengangguk memberi jawaban.
"Kamu tidak bertanya dan tidak keberatan dengan informasi yang membingungkanmu ini Balqis??", tanya Qiyas kagi.
Kia menggeleng, pertanda dia tidak masalah, karena dia percaya Perusahaannya Qiyas bisa dipercaya. Entah itu yang akan datang Qiyas atau Aulian CEO sekaligus adiknya Qiyas, begitu fikir Kia.
"Apakah saya sudah bisa mendengar jawaban atas pernyataanku kemarin Balqis", tanya Qiyas lagi kepada Kia.
"Belum", jawab Kia singkat padat dan jelas.
"Kalau begitu, satu minggu kedepan saya akan kerumahmu beserta kedua orang tuaku untuk menagih jawaban darimu, bagaimana Balqis", tanya Qiyas lagi.
Kia langsung menggeleng dengan cepat.
"Jangan,.......
"Baik beri saya waktu satu minggu untuk menjawab pernyataan Kak Fasya", kata Kia akhirnya.
"Tiga hari Balqis, saya kasih waktu tiga hari, satu minggu kelamaan bagi saya", kata Qiyas dengan sedikit tegas.
Kia yang mendengar sontak mendongakkan wajahnya untuk melihat Qiyas.
"Baiklah", pasrah Kia akhirnya.
"Maafkan aku Balqis, aku begini karena aku tidak mau semakin menanggung dosa terlalu memikirkanmu dan aku takut jika ada yang melamarmu selain aku", bathin Qiyas ketika melihat Kia pasrah akan keputusannya.
"Terimakasih Balqis, tiga hari kedepan saya akan kerumahmu untuk menagih jawaban darimu", kata Qiyas kepada Kia.
Kia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu saya permisi Balqis, semangat kembali bekerja, dan saya bangga padamu, kamu sangat profesional sekali dalam bekerja", kata Qiyas sebelum benar-benar pergi.
Kia tanpa sadar tersenyum dibalik niqobnya mendengar pujian dari Qiyas. Kia rasanya bahagia sekali, yang entah dia sendiri bingung dengan dirinya.
ππππππππππππ
Author: hmm bebeb Fasya enak saja kamu mutusin minta jawaban Kia selama tiga hariπ£π
Qiyas: suka-suka akulah, entar kalau kelamaan Balqisnya keburu author pasangkan kelaki-laki lain. πππ
Author: ya tapi tidak gitu juga kali, ngikutin skenario napa π¬
Qiyas: lha emang kenapa, apa susahnya sih tinggal ngrubah dikitπΆπ
Author: songong amat kamu, amat saja tidak songong kayak kamuππ
Qiyas: maksute piye thorπ€π€π€
Author: pikiro dewe ππͺπ‘
ππππππππππππ
***TBC***