
Kia yang waktu itu masih dikantor dan sedang meeting dengan para manajer diPerusahaannya, tiba-tiba Kia mendengar suara Hpnya berbunyi. Dia penasaran dan kaget tiba-tiba Mamahnya menelfon, tidak seperti biasanya Mamahnya menelfon, karena biasanya Mamahnya menelfon pasti dijam istirahat. Para manajer yang diajak meeting langsung melihat kearah Kia ketika mendengar suara Hp Kia berbunyi.
"Mamah tumben ada apa ya, apa ada sesuatu dirumah?? ", gumam Kia pelan untuk dirinya sendiri.
"Mohon maaf semuanya, saya mau mengangkat telefon sebentar, kaliyan teruskan saja meetingnya", ijin Kia kepada semua orang yang ada diruang meeting.
Kia langsung keluar dari ruang meeting ketika dia sudah mengangkat telefonnya.
"Hallo Mah, Assalamu'alaikum ada apa Mah, tumben menelfon jam segini, bentar lagi juga Kia pulang", salam Kia dan bertanya kepada Mamahnya.
"Mila Kia, Mila, cepetan kamu dan Ayah pulang kerumah", kata Mamah Dian sedikit berteriak setelah menjawab salam dan dengan nada yang seperti syok.
"Apa, ada apa Mah, kenapa dengan Mila", jawab Kia yang tiba-tiba menjadi khawatir.
"Sudah kamu pokokknya cepetan pulang, Ayah juga sudah Mamah telefon dan sudah Mamah beritahu untuk segera pulang", jawab Mamah Dian langsung mematikan telefon dan itu membuat Kia semakin kalang kabut.
Kia yang kaget tiba-tiba sambungan telefonnya mati dia langsung masuk keruang meeting dan menjelaskan kepada para manajernya.
"Mohon maaf semuanya, meeting sampai disini dulu, karena ada urusan yang sangat penting dirumah, dan meeting akan dilanjutkan dilain hari, saya permisi dulu", kata Kia langsung meninggalkan ruangan. Karena sebelum meninggalkan ruangan dia sudah berpesan kepada Zahra sekertarisnya untuk membereskan berkas-berkasnya dan menyuruh Zahra memberikan salinan sementara tadi ketika meeting.
Ketika Kia akan keatas mengambil tas dan dompetnya, dia bersimpangan dengan Ayahnya Ibrahim.
"Kia,...
"Ayah....
Kata Kia dan Ayah Ibrahim secara bersamaan.
"Kamu sudah ditelefon Mamah tentang Mila", tanya Ayah Ibrahim dengan nada yang khawatir.
"Sudah Ayah, tunggu Kia sebentar, Kia mau mengambil tas dan dompet Kia", jawab Kia juga tak kalah khawatirnya.
Setelah Kia mengambil tasnya dia segera naik lift dan ketika sudah sampai dilantai delapan belas Kia langsung saja belari menghampiri Ayahnya, karena ruangan Kia dan Ayahnya ada dilantai dua puluh.
ππππππππππππ
*Sebelumnya dirumah Kia*
*Flashback On*
Saat Zidan mengantar Mila kerumah Ayah Ibrahim, dipertengahan jalan Zidan menghentikan mobilnya dipinggir jalan untuk menelfon Qiyas, karena takutnya Qiyas mencarinya dan membutuhkan bantuannya.
"Hallo Assalamu'alaikum Zidan, ada apa??, apa ada masalah tentang meeting tadi?? ", salam dan tanya Qiyas disambungan telefon. Karena Qiyas mengira Zidan belum kembali kekantor karena ada masalah dengan Client tadi.
"Wa'alaikumussalam Tuan, tidak Tuan, meeting berjalan dengan lancar, yang ada masalah adalah diriku sendiri Tuan, mohon maaf saya ijin kali ini Tuan tidak bisa kembali lagi kekantor, karena ini sangat mendesak dan ini menyangkut hidup dan mati saya Tuan", kata Zidan dengan nada yang sedikit takut. Qiyas mengira Zidan sedang dalam bahaya, akan tetapi sebenarnya rasa takut Zidan karena Zidan akan menghadapi Keluarga Mila.
Qiyas yang mendengar kata-kata Zidan langsung terlonjak dan langsung khawatir dengan Zidan.
"Kamu dimana Zidan, kamu kenapa, biar saya susul dan mengajak bantuan ketempatmu!! ", kata Qiyas dengan nada yang benar-benar khawatir.
"Bukan Tuan, saya tidak dalam keadaan bahaya seperti yang Tuan bayangkan, saya dalam bahaya karena besuk saya akan lamaran Tuan", kata Zidan yang membuat Qiyas jantungan, karena setahu Qiyas Zidan tidak pernah sekalipun dekat dengan perempuan, terus dia akan lamaran dengan siapa, begitulah fikiran Qiyas.
"What!!!!, are you serious, don't give me a heart attack and don't joke about proposing to me Zidan!!!", kata Qiyas tegas kepada Zidan.
"Saya serius Tuan, nanti malam saya jelaskan saya akan kerumah Tuan, dan sudah dulu ya Tuan, maaf saya sudah tidak punya waktu yang banyak, Assalamu'alaikum", kata Zidan langsung mematikan sambungan telefon, ketika mendengar jawaban salam dari Qiyas.
Zidan langsung saja menjalankan mobilnya lagi menuju alamat rumah yang sudah dikasih tahu Mila. Mila yang masih syok dengan yang terjadi pada dirinya, dia diam saja ketika didalam mobil, tidak seperti Mila biasanya.
Walaupun didalam mobil berdua Mila tetap duduk dibelakang sedangkan Zidan duduk dikursi pengemudi. Didalam mobil terjadi keheningan, karena Mila diam saja dan pandangannya seperti melamun, sama seperti Mila, Zidan juga diam saja karena fikirannya sedang berkelana kemana-mana.
Akhirnya mobil yang dikendarai Zidan dan Mila sampai dirumah besar yang halamannya luas serta sejuk, karena banyak tanaman dan bunga-bunga.
Mamah Dian yang saat itu sedang berada diteras sambil membaca majalah, penasaran karena ada mobil yang jarang dia lihat apalagi palt nomernya dia tidak mengetahuinya berani masuk kehalaman rumahnya.
Mamah Dian masih mengamati itu mobil siapa, ketika dipintu belakang terbuka Mamah Dian terkejut yang keluar ternyata Mila, dan yang bikin dia terkejut lagi ketika yang keluar dari kursi pengemudi, adalah seorang laki-laki berjaz rapi dan ganteng. Sontak Mamah Dian langsung mendekati Mila dan mencecar Mila dengan berbagai pertanyaan.
"Mila, kamu pulang dengan siapa nak, kenapa kamu bisa pulang sama dia, dan kamu kenapa diam saja Mila, jawab Bibi, kamu kenapa??", tanya Mamah Dian kepada Mila dengan beruntun. Mila yang masih belum sadar dengan keterkejutannya hanya diam saja.
Yang bikin Mila terkejut adalah pertama, Zidan tiba-tiba mengajaknya menikah, kedua Zidan mengungkapkan kalau dia katanya serius, dan yang terakhir Papahnya menyuruh Zidan beserta Keluarganya kerumahnya. Apakah Papahnya tidak mikir-mikir dulu, kenapa langsung saja menyuruh Zidan langsung kerumahnya, itu yang difikirkan Mila. Dan jangan lupakan tugas kuliyah Mila yang tambah Mila mumet.
Mamah Dian yang tidak mendapatkan jawaban dari Mila dan melihat Mila diam saja, sontak Mamah Dian langsung melihat kearah Zidan.
"Maaf anda siapa, kenapa Mila yang cerewet ini tiba-tiba bisa menjadi diam begini", tanya Mamah Dian kepada Zidan.
"Bolehkah saya masuk kedalam dan menjelaskan semuanya tante", kata Zidan sopan kepada Mamah Dian.
Mamah Dian langsung saja menyuruh Mila dan Zidan masuk. Mereka bertiga akhirnya duduk diruang tamu rumah Mamah Dian.
"Mohon maaf sebelumnya tante, nama saya Zidan, saya kesini ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada Mila, lebih tepatnya kepada kami berdua............. Zidan sengaja menjeda perkataannya karena dia sejenak mengambil nafasnya untuk menjelaskan cerita sesungguhnya. Sedangkan Mamah Dian sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Zidan.
"Saya sebenarnya adalah calon suaminya Mila tante, tadi saya sudah melamar Mila serta besuk Papahnya Mila menyuruh saya beserta kedua orang tua dan keluarga besar saya untuk datang kerumahnya", kata Zidan dan itu membuat Mamah Dian sontak memegangi dadanya.
"Apa itu benar Mila yang dikatakan nak Zidan ini", tanya Mamah Dian kepada Mila.
Mila hanya mengangguk memberi jawaban, dan itu membuat Mamah Dian tambah syok.
"Sebentar saya akan menelfon suami dan anak saya, kamu jangan pulang dulu ya nak Zidan, karena perkataanmu sungguh membuat tante jantungan", kata Mamah Dian kepada Zidan.
Zidan hanya mengangguk memberi jawaban. Sontak Mamah Dian langsung menelfon Ayah Ibrahim dan Kia untuk segera menyuruh mereka pulang.
*Falshback Off*
Kia dan Ayah Ibrahim ketika sudah sampai dirumahnya, mereka dibuat bingung dengan mobil yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, kalau pun keluarganya mempunyai mobil yang sama, tapi plat nomernya yang berbeda.
Ketika Ayah Ibrahim dan Kia sudah turun dari mobil, mereka langsung saja berlari masuk kedalam rumahnya sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum", ucap Ayah Ibrahim dan Kia secara bersamaan.
"Wa'alaikumussalam", jawab Mamah Dian dan Zidan, sedangkan Mila menjawab didalam hatinya.
"Lho kamu..............??? ", kata Ayah Ibrahim terkejut ketika melihat sesorang yang dia kenal duduk diruang tamunya, sedangkan Kia dan Zidan langsung sama-sama melotot karena terkejut.
ππππππππππππ
***TBC***