
Kia, Mila dan Qiyas sudah sampai dirumah masing-masing, dan sekarang Qiyas sudah tahu dimana letak dan alamat pasti dari Keluarga Ibrahim yaitu Keluarga Kia.
Ketika pulang ternyata Ayah dan Mamahnya Kia belum pulang dari Singapore, jadi hanya asissten rumah tangga saja yang menyambut mereka. Jika Mamah Dian melihat Qiyas entah bagaimana reaksinya. Saat ini Mila dan Kia sedang bersih-bersih dikamar mereka masing-masing.
Tok, Tok, Tok
Mila yang saat itu sedang menyisir rambut panjangnya mendengar pintu kamarnya diketuk langsung saja dia mencari hijab instannya dan segera membuka pintu kamarnya. Ternyata yang datang adalah Kakaknya Kia. Mila sudah menebak jika Kia akan menasihatinya tentang sikap dia yang tadi sering membuat Kia malu. Walaupun percuma saja Kia menasihati Mila, karena ujung-ujungnya Mila akan membalas perkataan Kia yang membuat Kia bungkam. Begitulah biasanya yang terjadi. Mangkanya Kia jarang marah terhadap Mila, karena terkadang celetukannya Mila itu kenyataan dan sesuai dengan isi hati Kia.
"Ternyata Kak Kia, ada apa Kak, sini masuk", kata Mila ketika sudah membuka pintu kamarnya.
Kia langsung saja masuk dan duduk dipinggir ranjang milik Mila, sambil menepuk sebelah kasur yang dia duduki. Mila langsung saja duduk disebelah Kia.
"Ada apa Kak", tanya polos Kia.
"Kamu kenapa tadi bisa berbicara begitu keKak Fasya, kan itu tidak baik Mila, jangan begitu itu tidak baik, takutnya dia sudah ada wanita yang dia cintai", nasihat Kia keMila.
"Tapi menurut Mila Kak bule mencintai Kakak deh, karena tatapan mata Kak bule berbeda jika melihat Kakak, apa Kakak tidak bisa merasakannya", tanya Mila ke Kia.
Sejujurnya Kia juga bisa merasakan dan yang dibilang Mila juga ada benarnya, karena tatapan mata Qiyas sedikit berbeda jika melihat dirinya, Kia takut berharap karena dia tidak mau sakit hati nantinya, mangkanya Kia selalu menyangkalnya.
"Emang kamu tahu bagaimana tatapan sesorang yang sedang jatuh cinta??, kamu kan masih kecil Mila", tanya Kia ke Mila sambil mencolek hidung Mila.
"Enggak, kan Mila cuman menebak saja, hehehe, lagian umur Mila sudah 20tahun tahu", kata Mila sambil menyengir lalu pura-pura cemberut.
"Tapi tidak begitu juga kali ya Mila, jangan gitu lagi ya, tidak sopan, karena Kak Qiyas itu lebih tua dari kamu", kata Kia menasehati dengan gemas kepada Mila.
"Siap Kakak, nanti Mila akan bermain cantik deh", kata Mila sambil tertawa.
"Sudah tidak boleh pokokknya, sudah Kakak mau istirahat dulu", kata Kia sambil mengusap kepala Mila yang tertutup hijab dan berlalu keluar.
"Okey Kak, tidak janji hehehe", bisik Mila untuk dirinya sendiri dengan cekikikan, ketika melihat Kia sudah keluar kamarnya.
Kia yang sudah didalam kamarnya langsung membuka hijab serta niqobnya, dan membaringkan badannya dikasur. Dia juga bingung dengan hatinya, kenapa dia merasakan perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kia tidak mau terlalu berekspetasi dan berfikir yang terlalu tinggi, dia pasrahkan kepada Allah, biarkan saja seperti air mengalir apa adanya, fikirnya.
ππππππππππππ
Dirumah Qiyas, Qiyas yang sudah memarkirkan mobilnya digarasi, dia langsung saja berjalan masuk kedalam kerumahnya sambil mengucap salam.
"Assalamu'alaikum", salam Qiyas sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam", jawab Bunda Lili yang memang daritadi menunggu Qiyas pulang.
"Duduk, sini Bunda mau bicara", kata Bunda Lili kepada Qiyas dengan nada yang serius, padahal aslinya Bunda Lili hanya pura-pura marah, karena yakin anaknya Qiyas tidak akan macam-macam diluar sana.
Qiyas yang sudah menebak dan mempersiapkan diri daritadi langsung saja duduk, dan siap menjawab semua pertanyaan Bundanya. Qiyas sudah duduk tenang dihadapan Bundanya sekarang. Dan Bunda Lili ketika melihat Qiyas tenang dia mengangkat alisnya keatas.
"Bisa dijelaskan kejadian tadi yang ditelefon, bukannya kamu bilang ke Bunda dan Papah untuk kePesantren menemui sahabatmu Zabir dan memberikan oleh-oleh kepada mereka semua yang ada disana?? ", kata Bunda Lili dengan serius.
"Berjuanglah yang lebih gigih nak, karena kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya", nasihat Bunda Lili kepada Qiyas, ketika Bunda Lili melihat Qiyas sudah selesai bercerita.
Qiyas langsung sumringah mendengar dukungan dari Bundanya, dia semakin yakin ingin memperjuangkan perasaannya lagi.
"Bunda, ada yang lupa Qiyas ceritain keBunda", kata Qiyas dengan menunduk.
"Apa nak, kamu bikin Bunda penasaran saja", jawab Bunda Lili.
"Sebenarnya Balqis itu adalah adiknya Bila Bund, anak kedua dari Ayah Ibrahim yang Qiyas cari dan yang tidak jadi menikah dulu, nama lengkapanya adalah Adzkia Nabilah Balqis Bunda", kata Qiyas sambil melihat kearah Bundanya.
Sontak Bunda Lili sangat terkejut mengetahui informasi tersebut.
"Apa benar yang kamu katakan nak", kata Bunda Lili dengan nada dan muka yang masih terkejut.
"Benar Bund, bahkan Ayah Ibrahim sendiri yang mengatakan kepada Qiyas", jawab Qiyas.
Lalu Qiyas menceritakan perihal kerjasama yang dia ajukan kePerusahaan IBRAHIM COMPANY, yaitu Perusahaan Ayah Ibrahim, dan pertemuan mereka diCaffe Akbar juga dia ceritakan, serta Qiyas juga menceritakan jika Kia menjabat CEO dengan niqob yang masih istiqomah dipakainya.
Qiyas menceritakan tentang Kia dengan muka yang berseri dan dengan nada seperti bangga kepada Kia. Bahkan Qiyas tidak menyadari itu, tapi berbeda dengan Bunda Lili yang daritadi memperhatikan wajah Qiyas, kelihatan sekali jika Qiyas sangat mencintai gadis yang bernama Balqis itu.
"Kelihatannya kamu sangat mencintainya nak, hingga wajahmu begitu berseri ketika menceritakannya", kata Bunda Lili membuat Qiyas jadi malu.
"Apa perlu kami melamarnya untukmu nak", goda Bunda Lili kepada Qiyas.
"Jangan Bunda, Iyas ingin usaha sendiri dulu, jika sudah waktunya nanti akan Iyas kasih tahu keBunda dan Papah", kata Qiyas dengan segera.
"Yang penting Bunda do'ain Iyas selalu, supaya Iyas bisa mendapatkan hati Balqis", sambung Qiyas.
"Tentu nak, Bunda selalu mendo'akanmu, dan Bunda rasa Balqis adalah perempuan yang patut diperjuangkan, samangat", kata Bunda.
"Sudah sekarang masuk kamar bersih-bersih terus istrahat sebentar, karena jamnya sudah segitu, sebentar lagi ashar", kata Bunda Lili lagi kepada Qiyas.
Qiyas langsung berpamitan kepada Bunda Lili untuk masuk kekamarnya. Sungguh hari yang melelahkan dan menyenangkan bagi Qiyas, karena seharian bisa bersama Kia, entah mimpi apa semalam, hingga membuat hari Minggunya menjadi sedikit berwarna, dengan beribu kejutan yang tidak dia sangka. Setelah bersih-bersih Qiyas mengistirahatkan tubuhnya dan menstel alarm diHpnya untuk sholat ashar, karena takut terlewatkan karena keenakan tidur.
ππππππππππππ
Maaf ya readers jika sedang membaca ada kata-kata yang terkadang ada tanda *** itunya. Itu bukan kesalahan saya dalam mengetik, karena sebelum saya lanjut sudah saya review sendiri dulu dan baca ulang lagi, dan ketika berhasil diUp tidak tahu kenapa tiba-tiba terkadang tanda itu terselip disalah satu kata. Mohon maaf atas ketidak nyamannya yahπππ
Salam kenal ππ
ππππππππππππ**
***TBC***