BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
BERUNDING



Ketika Mamah Dian baru keluar dari dapur dia melihat Kia yang jalannya sedikit berbeda dari biasanya, Mamah Dian hanya menahan tawanya supaya tidak terdengar Kia dan Qiyas yang baru turun dari tangga.


"Masih sakit ya sayang", bisik Qiyas kepada Kia yang ketika berjalan melihat Kia selalu meringis menahan sakit.


Kia hanya mengangguk memberi jawaban.


"Iya Kak perih dibuat jalan", bisik Kia akhirnya kepada Qiyas, karena takut terdengar dengan orang lain, terutama Ayahnya dan Mamahnya.


Kia dan Qiyas melihat Ayah Ibrahim sedang menonton tv diruang keluarga, akhirnya mereka berjalan menghampiri Ayah Ibrahim dan ikut menonton tv bersama Ayah Ibrahim.


"Eh pengantin baru, sini duduk bareng Ayah", kata Ayah Ibrahim yang melihat Kia dan Qiyas yang berjalan kearahnya.


"Maafin Iyas ya Ayah, tadi Iyas ketiduran karena rasanya capek banget badannya, hingga tidak bisa menemui tamu yang lain yang belum pulang", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim ketika Qiyas sudah duduk bergabung diruang keluarga.


"Tidak apa-apa nak, Ayah mengerti dan tadi keluargamu juga titip salam kepadamu nak sebelum mereka pulang", jawab Ayah Ibrahim kepada Qiyas.


"Iya Yah, biar nanti Iyas telefon keluarga Iyas saja", kata Qiyas.


"Yah, Kak, Kia kedapur dulu ya, Kakak sama Ayah mau dibuatkan minum tidak?? ", kata Kia kepada Qiyas dan Ayahnya.


"Ayah seperti biasanya saja", kata Ayah Ibrahim.


"Samakan saja seperti Ayah", kata Qiyas kepada Kia sambil tersenyum manis kepada Kia.


Kia lalu beranjak dari duduknya untuk menuju kedapur dan membuatkan minum untuk Ayah Ibrahim dan Qiyas.


Ayah Ibrahim yang melihat Kia jalannya sangat pelan dan tidak seperti biasanya dia sedikit menggoda Qiyas.


"Jika bisa sekarang kenapa harus menunggu nanti malam, benar tidak nak", kata Ayah Ibrahim menggoda Qiyas dan sambil melirik Kia.


Qiyas yang menyadari lirikan matanya Ayah Ibrahim tertuju keKia, dia mengusap tengkuknya sambil tertawa kecil.


Ayah Ibrahim yang melibat gelagat Qiyas yang malu-malu, tiba-tiba dia tertawa dengan keras. Dan itu membuat Qiyas tambah malu.


"Tidak apa-apa, Ayah juga pernah muda jadi tahu rasanya berada diposisimu sekarang", kata Ayah Ibrahim mencoba mencairkan suasana karena Qiyas malu kepada Ayah Ibrahim.


"Ternyata menahan setelah menikah itu berat Ayah", kata Qiyas sambil tertawa.


Sedangkan Ayah Ibrahim yang mendengar perkataan Qiyas langsung tertawa. Akhirnya mereka tertawa bersama-sama.


Sedangkan Kia yang baru sampai didapur, Kia dengan sedikit tertatih jalannya dia mengambil cangkir untuk membuatkan minum Ayah dan Qiyas suaminya sambil sedikit menggumam.


"Ternyata sakit banget kalau dibuat jalan", gumam Kia dengan suara yang sangat-sangat kecil dan sambil meringis menahan perih akan tetapi gumaman Kia yang kecil terdengar seseorang yang baru masuk kedapur, siapa lagi kalau bukan Mamah Dian.


Mamah Dian tertawa mendengar gumamannya Kia. Lalu Mamah Dian menghampiri Kia dan menepuk pundak Kia. Kia langsung terkejut dengan sesorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya, ketika Kia menengok ternyata pelakunya adalah Mamah Dian Mamahnya.


"Jika masih sakit nanti diminumin jamu sama berendam air hangat saja, biar itunya sedikit enakan", kata Mamah Dian yang berada disamping Kia.


Kia yang mendengar perkataan Mamahnya dia sedikit terkejut dan malu.


"Apa Mamah mendengar apa yang aku katakan tadi ya?? ", bathin Kia.


Kia sontak langsung menengok kearah Mamahnya yang sudah berada disampingnya.


Kia lalu mencoba berani bertanya kepada Mamahnya.


"Emm Mamah apa mendengar perkataanku tadi?? ", kata Kia pelan dan malu.


Mamah Dian yang mengetahui anaknya malu lalu dia tersenyum lembut khas seorang ibu.


"Tidak usah malu nak, wanita yang baru pertama kali melakukan itu memang begitu rasanya, nanti jika sudah terbiasa tidak sakit lagi ko", kata Mamah Dian sambil menghadap Kia yang lagi mengaduk minuman yang dia buat.


"Dulu Mamah juga begitu", kata Mamah Dian lagi jadi teringat dengan malam pertamanya bersama Ayah Ibrahim.


"Itu minuman buat Ayah dan Iyas ya?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia yang sedang mengaduk minuman.


"Iya Mah", jawab Kia.


"Ya sudah buruan sana kasihkan ke Ayah dan suamimu jika sudah selesai", kata Mamah Dian lagi.


Kia yang memang sudah selesai membuat minuman untuk Ayah dan Qiyas dia segera mengantarnya ke Ayah dan Qiyas yang lagi menonton tv.


"Terimakasih", kata Ayah Ibrahim.


"Dan ini untuk Kak Fasya", kata Kia kepada Qiyas.


"Makasih sayang", kata Qiyas dengan tersenyum.


"Kia kamu mau kemana nak, sini duduk dulu ada yang ingin Ayah dan suamimu katakan", kata Ayah Ibrahim.


Kia yang saat itu langsung berdiri mau menaruh nampan kedapur, dia urungkan ketika Ayah Ibrahim berkata begitu kepada Kia.


"Ada apa ya Yah?? ", tanya Kia kepada Ayahnya ketika dia sudah duduk disebelah Qiyas.


"Kamu mau pesta resepsi seperti apa sayang?? ", tanya Qiyas akhirnya kepada Kia.


"Untuk masalah ini sengaja aku ingin berunding kepadamu dulu Balqis, karena aku ingin kamu yang menentukan seperti apa konsep yang kamu inginkan", kata Qiyas lagi kepada Kia.


"Akan tetapi sebelum mengadakan resepsi Ayah dan Nak Iyas ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan bersama karyawan dikantor, bagaimana menurutmu nak?? ", kata Ayah Ibrahim menambahkan.


Kia yang mendengarkan perkataan Ayah dan Qiyas dia lalu melihat kearah Ayah dan suaminya. Sebelum menjawab perkataan Ayah dan Qiyas datanglah Mamahnya yang datang sambil membawa camilan untuk mereka semua.


"Sepertinya lagi serius, sedang membicarakan apa sih, kalau boleh Mamah tahu?? ", kata Mamah Dian kepada, suami, Kia dan Qiyas ketika sudah duduk disamping Ayah Ibrahim.


"Ini Mah sedang membahas masalah resepsi", jawab Qiyas.


"Oh ya, terus bagaimana sudah nemu jalan keluarnya", tanya Mamah Dian lagi.


"Ini lagi nungguin jawabannya Balqis Mah", jawab Qiyas kepada Mamah Dian.


Mamah Dian langsung saja mengalihkan pandangannya kepada Kia, dan Kia yang melihat tatapan Mamahnya langsung saja menjawab pertanyaan Ayah dan Qiyas.


"Kia menurut dan ngikut saja kepada Ayah dan Kak Fasya, yang terpenting jangan terlalu wah dan mewah", jawab Kia akhirnya.


"Ya sudah kalau begitu biar Mamah sama Ayah saja yang nyiapin bagaimana, kan kamu kemarin sudah capek mengurusi ini itu buat ijab nak Iyas", jawab Mamah Dian dengan antusias, karena dia sudah membayangkan ingin pesta seperti apa, sebab dulu keinginannya selalu gagal untuk pesta pernikahan Afrin dan Kia bersama Ustadz Faris.


Iyas yang melihat sebegitu antusiasnya Mamah Dian dia tidak tega untuk menolak, akhirnya dia menyetujui saja apa yang dikatakan Mamah Dian.


"Iyas nurut saja kalau begitu Mah, tapi bagaimana dengan Ayah Ibrahim?? ", kata Qiyas.


"Ayah Ibrahim setuju-setuju saja apa kata Mamah kalian ini", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas sambil merangkul pundak istrinya.


"Kalau untuk acara syukuran dikantor kapan Yah?? ", tanya Kia.


"Besok kita adakan dikantor kita dulu, besoknya lagi kita adakan dikantor nak Iyas, bagaimana menurutmu?? ", kata Ayah Ibrahim kepada Kia.


"Besok, apa tidak kecepatan Yah, terus bagaimana persiapannya?? ", tanya Kia lagi.


"Kamu tenang saja, semua sudah diurus suamimu", kata Ayah Ibrahim kepada Kia.


Kia reflek melihat kepada Qiyas, dan Qiyas juga menengok kearah Kia dengan tersenyum


"Baiklah kalau begitu Ayah", kata Kia akhirnya.


Sedangkan Mamah Dian dia sudah tidak menghiraukan perkataan suami, anak dan menantunya, karena sekarang yang ada difikirannya adalah bagaimana konsep resepsi pernikahan Kia dan Qiyas, harus ini harus itu semua harus sempurna dan didalam hati Mamah Dian dia benar-benar berdo'a semoga resepsinya bisa berjalan lancar dan sesuai harapan.


"Aku harus menghubungi mbak Lili nih, dia harus tahu", bathin Mamah Dian sambil senyam senyum tidak jelas.


Sedangkan Kia, Ayah Ibrahim dan Qiyas yang melihat Mamah Dian senyam senyum terus mereka saling pandang dan dengan pemikiran yang berbeda-beda.


"Semoga kali ini yang Mamah inginkan terkabul dan berjalan sesuai rencana kita semua, aamiin", kata bathin Ayah Ibrahim yang mengetahui apa yang sedang direncanakan istrinya.


"Jika ini bisa membuat Mamah dan Ayah bahagia, Kia akan benar-benar berusaha mencintai dan menerima Kak Fasya Mah, Yah", bathin Kia ketika melihat Mamahnya senyam senyum.


Sedangkan Qiyas yang melihat Mamah Dian dia juga ikut-ikutan menbathin.


"Mamah kenapa sih, senyam senyum begitu", bathin Qiyas yang melihat Mamah Dian senyam senyum.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***