
Tanpa terasa tinggal menghitung hari lagi Kia dan Qiyas akan menyambut kedua buah hati mereka. Para orang tua yaitu Ayah Ibrahim, Mamah Dian dan Bunda Lili serta Papah Ziyas mereka senantiasa bergantian kerumahnya Qiyas dan Kia.
Kecuali Mamah Dian yang sudah menginap dari kemarin dirumahnya Kia, karena takut Kia sewaktu-waktu akan melahirkan. Sedangkan Qiyas yang sudah cuti dari Kia hamil menginjak delapan bulan pun, semakin siaga ketika Kia akan mendekati lahiran begitu.
Qiyas dia hanya fokus kepada Kia dan calon buah hatinya saja yang akan segera lahir kedunia. Untuk urusan pekerjaan ketika hamil Kia sudah menginjak sembilan bulan, Qiyas sudah benar-benar menyerahkan pekerjaannya kepada Aulian dulu sementara waktu.
Kia sebenarnya sudah daritadi subuh dia sudah merasakan mulas yang terkadang datang dan hilang sendiri. Kia tadi juga sudah sempat bercerita kepada Qiyas, jika dia sering merasakan mulas yang berbeda rasanya tidak seperti ingin buang air besar.
Qiyas yang sehabis sholat subuh tadi mendengar pengaduan Kia, dia dengan reflek langsung khawatir dan berdiri dari duduknya untuk mengajak Kia kerumah sakit, akan tetapi Kia tidak mau.
"Nanti saja ya Abi, jika mulasnya sudah keseringan, ini itu mulasnya terkadang datang dan terkadang hilang sendiri, takutnya Umi ini hanya kontraksi palsu Abi", kata Kia kepada Qiyas.
"Tapi Abi khawatir Umi, sekarang saja ya keRumah Sakitnya", kata Qiyas kepada Kia.
"Sudah tidak apa-apa nanti saja Abi", jawab Kia sambil menggenggam tangannya Qiyas agar dia tenang.
"Baiklah kalau itu maunya Umi, Abi mau menelfon Dokter Ara dulu saja Umi, untuk mengantisipasi", kata Qiyas kepada Kia. Dan Kia hanya mengangguk dan tersenyum memberikan jawaban kepada Qiyas.
Setelah itu Qiyas membantu Kia untuk berdiri dan duduk diranjang, dan mengambilkan niqob serta hijabnya Kia. Setelah selesai Qiyas lalu menghubungi Dokter Ara tentang keadaannya Kia dan Dokter Ara menyarankan Kia untuk lebih banyak bergerak lagi, serta jika mulas diperutnya Kia sudah tidak tertahankan Qiyas disuruh segera membawa Kia keRumah Sakit.
"Terimakasih Dok", kata Qiyas kepada Dokter Ara ketika sudah mendengar penjelasan dari Dokter Ara dan Qiyas langsung saja mematikan sambungan telefonnya ketika sudah mendapat jawaban dari Dokter Ara.
"Sudah selesai belum Umi, sini Abi bantuin", kata Qiyas ketika sudah selesai menelfon Dokter Ara dan dia melihat Kia sedang berusaha menalikan niqobnya kebelakang.
"Ayo kita keluar, sarapan pagi bersama Mamah, pasti beliau sudah menunggu kita daritadi sayang", kata Qiyas kepada Kia.
"Ayo Abi", jawab Kia kepada Qiyas. Dan Qiyas dia lalu menuntun dan membantu serta menggandeng Kia berjalan menuju ruang makan. Dan disana ternyata sudah ada Mamah Dian yang sedang menata makanan yang sudah dimasak oleh para pelayan dirumahnya Qiyas dan Kia.
Tanpa terasa jam juga sudah menunjukkan hampir setengah tujuh, dan saat ini Kia, Qiyas serta Mamah Dian mereka bertiga akan sarapan pagi bersama dimeja makan. Kia yang sudah kesusahan untuk bergerak, dengan ikhlas dan sabar Qiyas tidak mempermasalahkan jika Kia tidak bisa melayaninya dimeja makan, malah sebaliknya Qiyas yang melayani Kia untuk sementara waktu.
"Terimakasih Abi", kata Kia kepada Qiyas. Ketika Qiyas sudah mengambilkan lauk pauk untuk Kia makan. Dan Qiyas hanya tersenyum kepada Kia.
Ketika mereka bertiga sedang menikmati sarapannya dan mengobrol ringan, tiba-tiba Qiyas dan Mamah Dian dikagetkan dengan suaranya Kia.
"Auuu Abi, sakit", kata Kia reflek mengaduh kepada Qiyas sambil memegangi perutnya. Karena Kia tiba-tiba merasakan mulas dan sakit diperutnya.
Qiyas dan Mamah Dian mereka yang sedang makan satu meja dengan Kia, sangat terkejut ketika mendengar Kia kesakitan sambil memegangi perutnya. Dan Qiyas langsung saja berdiri dan langsung mendekati Kia, begitu juga dengan Mamah Dian.
"Mana sayang yang sakit mana?? ", tanya Qiyas dengan nada yang sangat khawatir sekali.
"Apa kamu mau lahiran Kia?? ", tanya Mamah Dian kepada Kia juga dengan nada khawatir.
"Auuuuu, huuuh, huuh", kata Kia menahan sakit dan mengatur nafas.
"Sepertinya Kia mau lahiran Yas, cepat bawa dia keRumah Sakit", kata Mamah Dian kepada Qiyas.
"Bibiiiiiiiiiiii", teriak Qiyas memanggil pelayan dirumahnya.
Dan bibi langsung saja tergopoh-gopoh berlari menuju kearahnya Qiyas yang berteriak tadi.
"Iya Tuan", jawab Bibi sambil mengatur nafas.
"Bilang sama mamang, suruh siapin mobil didepan, istri saya mau melahirkan, cepaat", kata Qiyas dengan berteriak.
"Baik Tuan", jawab pelayan dirumahnya Qiyas dan dia langsung saja berlalu pergi dengan terburu-buru untuk memanggil sopirnya Qiyas.
Mamah Dian dia sudah berlalu daritadi untuk mengambil keperluan yang sudah disiapkan olehnya dan Kia jauh-jauh hari.
Sedangkan Qiyas dia langsung saja menggendong Kia dengan perlahan agar tidak jatuh, dan berlalu keluar untuk masuk kemobil.
"Abi sakiiiiit", kata Kia dengan keringat yang sudah bercucuran karena menahan sakit diperutnya.
"Sabar ya Umi, kita akan segera keRumah Sakit", jawab Qiyas kepada Kia dengan menyembunyikan rasa khawatirnya dihadapan Kia.
Akhirnya Qiyas dan Kia serta Mamah Dian sudah sampai diteras depan dan mereka bertiga langsung saja masuk kemobil yang sudah disiapkan oleh sopir pribadinya Qiyas tadi.
Mamah Dian dia duduk dibelakang menemani Kia yang sedang menahan rasa sakit dan mulas diperutnya. Sedangkan Qiyas dia duduk didepan bersama sang sopir.
"Tahan ya Umi, tahan sebentar", kata Qiyas kepada Kia dengan nada yang sangat khawatir.
"Ayo mang tolong cepat sedikit, tapi tetap hati-hati", kata Qiyas kepada sopirnya.
"Baik Tuan", jawab sopirnya Qiyas.
"Tahan Nak, ambil nafas buang perlahan-lahan", intruksinya Mamah Dian kepada Kia.
"Jangan mengejan dulu ya nak", kata Mamah Dian lagi kepada Kia.
Kia dia tidak bisa menjawab semua perkataan dari Mamah dan suaminya Qiyas, karena dia sedang menahan sakit diperutnya dengan keringat yang sudah sangat bercucuran.
Qiyas yang duduk menghadap kebelakang sambil terus mengusap-usap kakinya Kia dengan tujuan memberikan ketenangan kepada Kia. Sedangkan Mamah Dian dia juga sedang memberikan ketenangan sambil mengusap-usap perutnya Kia.
"Tahan ya Umi, istighfar dan sholawatan atau berdzikir ya Umi", kata Qiyas kepada Kia dan langsung dianggukin oleh Kia.
Kia yang mendengar perkataannya Qiyas, dia lalu berdzikir untuk mengurangi rasa sakitnya. Mamah Dian pun dia juga bersholawatan untuk membantu mengalihkan rasa sakit diperutnya Kia sambil terus mengusap lembut perutnya Kia.
Sedangkan Qiyas dia sedang berusaha menghubungi kedua orang tuanya, yaitu Bunda Lili dan Papah Ziyas untuk mengabarkan jika Kia Istrinya mau melahirkan.
...*************...
Dikediaman Papah Ziyas, Bunda Lili, Papah Ziyas dan Aulian mereka bertiga juga sedang bersiap-siap untuk sarapan pagi bersama dimeja makan. Dan ketika mereka sedang sarapan, terdengarlah bunyi telefon rumah yang berdering. Dan waktu itu yang mengangkat adalah pelayan dirumahnya Papah Ziyas. Pelayan itu dia langsung saja menutup telefonnya dan terus berlalu menuju meja makan untuk memberitahukan informasi kepada Papah Ziyas, Bunda Lili dan Aulian yang sedang sarapan.
"Nyonyaaa, Tuaaaan", teriak-teriak pelayan tadi kepada Papah Ziyas dan Bunda Lili.
Papah Ziyas dan Bunda Lili serta Aulian yang mendengar pelayannya berteriak begitu mereka reflek langsung berdiri ketika melihat pelayannya sudah mau sampai dimeja makan.
"Ada apa Bi,
"Kenapa berteriak-teriak,
"Bibi kenapa?? ",
Tanya Aulian, Papah Ziyas dan Bunda Lili secara bersamaan.
"Anu tuan Nyonya, Nyonya Kia dia mau melahirkan, dan sekarang Tuan Qiyas sedang diperjalanan menuju keRumah Sakit", kata Pelayan itu dengan sangat tergesa-gesa menyampaikannya.
"Apaaaaa!!! ", kata Bunda Lili, Papah Ziyas dan Aulian secara bersamaan. Serta mereka langsung saja khawatir kepada Kia.
"Kamu bawa Hp tidak Aul, cepat telefon Kakakmu", kata Papah Ziyas kepada Aulian.
"Hp Aul dikamar Pah, pasti Kakak tadi menghubungi Aul", jawab Aulian dan dia langsung berlalu mengambil Hpnya yang ada didalam kamar.
"Bund, tolong ambilkan Hpnya Papah, dimeja kamar, pasti Iyas tadi juga menghubungi Papah", kata Papah Ziyas kepada Bunda Lili. Dan Bunda Lili dia terus berlalu dengan cepat untuk mengambilkan hp suaminya.
"Semoga Kia dan babynya selamat ya Allah", doa Bunda Lili ketika sambil berjalan menuju kekamarnya untuk mengambil hp suaminya.
"Lindungilah menantu dan calon kedua cucuku ya Allah", Papah Ziyas yang sudah menunggu diruang tamu pun juga berdoa untuk Kia dan calon kedua cucunya.
Mereka bertiga tidak jadi melanjutkan sarapannya, karena sudah tidak berselera makan, sebab kefikiran Kia yang mau melahirkan.
Sedangkan Aulian dia yang sudah sampai dikamarnya langsung saja bergerak cepat untuk menghubungi Kakaknya dan menanyakan keadaan dari Kakak Iparnya.
ππππππππππππ
***TBC***