BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
LANGKAH AWAL QIYAS



Ketika Kia kemar mandi, Mila langsung mencecar berbagai pertanyaan kepada Qiyas.


"Kakak bule, tadi apa yang menelfon perempuan", tanya Mila kepada Qiyas.


"Iya", jawab Qiyas singkat sambil meminum minumannya.


"Terus kenapa bilang i love you to segala", tanya Mila lagi.


"Dia bilang Alifa sayang om Iyas gitu, ya Kakak jawab saja i love you to", kata Qiyas kepada Mila.


"Siapa Alifa sih Kak, sugar babynya Kakak yah", kata Mila tanpa disharing. Membuat Zidan langsung menepuk keningnya gemas, karena Zidan juga tahu siapa itu Alifa.


"Alifa itu keponakannya Tuan Qiyas sayangku anak Kakaknya Tuan Qiyas Mila", yang menjawab bukan Qiyas melainkan Zidan.


"Masa, tidak bohong kan", kata Mila.


Huuuuhh


"Ternyata lebih susah menghadapi Mila yang curigaan daripada menghadapi Mila yang rada eror", bathin Zidan.


"Mila, buat apa Kakak bohong, emang manfaatnya buat Kakak apa?? ", tanya Qiyas keMila.


"Tapi tadi Kak Kia seperti cemburu Kak", kata Mila.


Qiyas yang mendengar perkataan Mila langsung membuncah perasaannya, sungguh jika itu benar alangkah bahagianya hatinya Qiyas.


"Masa sih?? ", kata Qiyas sedikit tidak percaya.


"Kalau tidak percaya lihat saja deh nanti mata Kak Kia, seperti habis menangis dan dia habis juga mencuci muka", jawab Mila kepada Qiyas.


Tiba-tiba Kia datang dan langsung duduk bersama mereka lagi


"Maaf lama", kata Kia kepada semua.


Zidan, Mila dan terutama Qiyas langsung memperhatikan Kia. Dan itu membuat Kia tambah risih.


"Ada apa sih, kalian kenapa melihatku seperti itu?? ", tanya Kia kepada semua dan langsung menunduk.


"Ternyata benar apa kata Mila, mata Kia seperti habis menangis dan dia juga habis cuci muka, terlihat dari niqabnya yang basah, tapi apa benar tadi Kia cemburu ketika aku bilang i love you to ditelefon, ah tapi aku tidak mau kegeeran", bathin Qiyas ketika memperhatikan mata Kia.


"Eh, kayak seperti habis nangis ya itu Nona Kia, apa beneran tadi Nona Kia cemburu ketika Tuan Qiyas bilang i love you to", Zidan juga membatin.


"Kakak habis nangis yaaa, hayooo ngaku", kalau Mila mah, langsung nyeplos kelamaan membathin.


"Siapa yang habis nangis Mila, Kakak cuman cuci muka sama memperbaiki bedak", kata Kia mencari alasan.


"Oh ya Mila sudah hampir jam setengah dua, kita pulang yuk, kita cari masjid saja diluar, sholat terus Kakak mau kembali kekantor", kata Kia lagi kepada Mila.


"Disini disediakan tempat sholat Nona, daripada harus keluar dulu mencari masjid, nanti keburu habis waktunya", bukan Mila yang menjawab tapi Zidan kepada Kia.


"Kita sholat disini saja yah Kak, ayu kita sholat dhuhur dulu, biar bisa gantian sama mereka", kata Mila kepada Kia.


"Iya, kaliyan duluan saja, biar Kakak sama Zidan nanti setelah kalian", kata Qiyas menanggapi Mila dan Kia.


Kia akhirnya mengangguk menyetujui saran mereka. Mila dan Kia sholat dhuhur terlebih dahulu ditempat sholat yang tadi diberitahu waiterss, ketika Mila bertanya.


Sedangkan Qiyas dan Zabir menunggu mereka sambil berbincang.


"Tadi Tuan jadi meeting kan ditemani Fadhil?? ", tanya Zidan kepada Qiyas.


"Jadi", jawab Qiyas sambil menikmati makanannya.


"Terus Fadhilnya kemana Tuan", tanya Zidan lagi.


"Saya suruh lagi kembali kekantor", kata Qiyas simple.


"Tuan-tuan tadi beneran mau melamar Nona Kia?? ", tanya Zidan.


Hehehe


Qiyas tiba-tiba tertawa menanggapi pertanyaan Zidan.


"Sebenarnya tidak, tadi saya niatnya mau mengerjai Mila, gara-gara melirik Kia dan melihat matanya, malah keceplosan", jawab Qiyas sambil tertawa dan Zidan juga ikut-ikutan tertawa.


"Zidan ternyata selera kamu wanita yang mengerikan ya", kata Qiyas lagi kepada Zidan diselingi ketawa kecil.


Zidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan juga sambil tertawa kecil, karena Zidan tahu apa maksut perkataan Qiyas.


"Saya juga tidak tahu Tuan, kenapa saya bisa jatuh cinta sama Mila yang kalau ngomong terkadang bikin saya Malu", jawab Zidan sambil meringis.


Hahahaha


Qiyas tertawa melihat wajah dan perkataan Zidan.


"Tapi saya melihat Mila adalah gadis yang baik, lugu dan polos, jangan kau sakitin dia Zidan, walaupun kamu sudah bekerja untuk saya sangat lama, tapi saya tidak suka jika kamu menyakiti perempuan", kata Qiyas untuk Zidan.


"Insyaallah Tuan, saya sungguh mencintai Mila, saya akan berusaha membuat Mila bahagia", jawab Zidan dengan mantap.


Qiyas hanya menepuk pundak Zidan yang ada disebelahnya sambil tersenyum tulus.


"Semoga Tuan bisa segera mendapatkan hati Nona Kia ya Tuan", do'a tulus Zidan kepada Qiyas dan langsung diaamiinin Qiyas.


"Eeh, kalian sudah selesai'', tanya Zidan reflek.


"Ya kalau belum masak kita sudah duduk disini Kak", jawab Mila.


"Ya sudah, gantian kita yang sholat dulu ya", pamit Qiyas kepada Mila dan Kia.


Skip******


Mereka berempat sudah duduk bersama kembali. Dan mereka mengobrol biasa, yang lebih mendominasi tentunya terutama Mila, dan Zidan, sedangkan Qiyas hanya menimpali seperlunya, dan Kia hanya menimpali jika ditanya. Dan karena waktu juga sudah menunjukan waktu jam dua lebih Kia yang lebih dulu ijin berpamitan untuk pulang.


"Mila, pekerjaan Kakak masih banyak, kita pulang ya", kata Kia kepada Mila yang masih didengar oleh Zidan dan Qiyas.


"Mau pulang bareng biar sekalian, saya juga mau kembali kekantor", tawar Qiyas menawari Kia dan Mila.


"Boleh itu Kak, daripada nunggu sopir kantor menjemput kelamaan atau naik taksi kan jadi hemat gratis", kata Mila membuat Kia menggelengkan kepalanya.


"Mau ya Kak, bareng Kak bule lagi", kata Mila merayu Kia.


Qiyas dan Zidan yang daritadi melihat interaksi Kia dan Mila reflek mereka melihat kearah Kia ketika Mila menunggu jawaban Kia.


Dan Kia hanya mengangguk memberi jawaban. Sontak hati Qiyas menjadi berbunga-bunga.


"Kamu bawa mobil kan Zidan?? ", tanya Qiyas kepada Zidan.


"Bawa Tuan", jawab Zidan.


"Pakai mobil kamu saja kalau begitu", kata Qiyas lagi.


"Baik Tuan", jawab Zidan.


Akhirnya mereka berempat pulang ketika semua makanan dibayari Qiyas. Awalnya Zidan menolak karena dia yang mengajak makan, akan tetapi Qiyas tidak mau, daripada bertengkar dan bikin malu, Zidanlah akhirnya yang mengalah dan Qiyaslah yang membayari makanannya. Mereka berada satu mobil memakai mobil Zidan, karena Qiyas tadi kerestoran memakai mobil kantor, dan mobil kantornya juga sudah dibawa Fadhil kembali kekantor.


Ketika sudah sampai dikantor Kia. Zidan sengaja menghentikan mobilnya tepat dipelataran depan pintu loby kantor. Semua karyawan yang berada disitu penasaran mobil siapa yang baru memasuki pelataran loby kantor.


Qiyas yang lebih dulu keluar membuat para karyawan wanita yang melihat langsung terpesona akan kharisma yang dimiliki Qiyas.


Qiyas langsung buru-buru membukakan pintu untuk Kia dan sontak membuat Kia kaget mau tidak mau dia langsung turun.


Dan ketika Kia yang turun dari mobil, membuat semua karyawan berbisik. Ada yang berbisik baik dan ada yang berbisik buruk, ya wajar saja namanya saja manusia. Nabi Muhammad saja yang seorang Nabi banyak yang menghujat dan menghina, apalagi kita yang memang makhluk yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Nabi Muhammad.


"Mungkin itu calon suaminya Nona Kia", salah satu kata-kata baik yang melihat Kia.


"Terimakasih", kata Kia malu dan sambil menundukkan wajahnya.


"Sama-sama, jika diijinkan saya mau lebih dekat dari ini", bisik Qiyas tepat ditelinga Kia dan sedikit menunduk, sebab tinggi badan Kia hanya sedagu Qiyas. Dan karena posisi mereka saat itu Qiyas berdiri tepat disamping Kia dan menghadap Kia, sedangkan Kia tidak menghadap Qiyas.


Jantung Kia langsung berdetak lebih kencang mendengar bisikan tepat ditelinganya dan badannya tiba-tiba menjadi kaku. Sedangkan Qiyas hanya tersenyum kecil melihat badan Kia yang tiba-tiba menjadi kaku karena bisikannya.


"Aku sudah tidak tahan, aku harus segera berbicara dengan Ayah Ibrahim", rutuk hati Qiyas.


Sedangkan Mila dan Zidan yang melihat adegan didepannya tersenyum dan menjadi gemas sendiri.


"Aaah so sweet, mereka serasi banget sih", kata Mila tersenyum mengagumi dan sambil melihat kearah Kia dan Qiyas.


"Kamu mau seperti mereka", kata Zidan tiba-tiba karena tadi Zidan mendengar perkataan Mila.


"Tunggu setelah kita menikah akan aku buat kamu ingin menempel selalu denganku", bisik Zidan kepada Mila.


"Astaghfirullah kenapa aku jadi omes begini sih, bukan aku banget", Zidan langsung beristighfar dalam hati.


"Apa Kakak akan ngasih makan aku magnet ketika kita sudah menikah, kenapa Mila ingin menempel terus kepada Kakak?? ", jawab polos Mila yang membuat ambyar suasana.


Kia dan Qiyas yang mendengar celetukannya Mila langsung menengok kebelakang. Mila yang seperti tanpa berdosa sedangkan Zidan meringis dilihatin Qiyas dan Kia.


"Saya permisi dulu, ayo Mila", kata Kia tiba-tiba mengalihkan semuanya.


"Tunggu", kata Qiyas menghentikan langkah Kia yang baru dua langkah berjalan.


Kia dan Mila langsung membalikan badannya menghadap Qiyas sambil menundukkan wajahnya.


"Zidan ikut saya, dan suruh satpam memarkirkan mobilnya", kata Qiyas kepada Zidan.


"Baik Tuan", jawab Zidan.


Zidan langsung memberikan kunci mobilnya kepada satpam dan menyuruhnya untuk memarkirkan mobilnya. Sedangkan Kia bertanya-tanya kenapa Qiyas dan Zidan ikut masuk, bukannya mereka tidak ada agenda kekantor ini, begitulah fikir Kia.


"Ayo", kata Qiyas ketika sudah sampai disamping Kia.


"Saya ingin menemui Ayah Ibrahim ada hal yang harus saya sampaikan", kata Qiyas yang tadi melihat kebingungan diwajah Kia.


Kia berjalan disamping Qiyas, sedangkan Mila berjalan dibelakang bersama Zidan. Kia awalnya ingin berjalan dibelakang bersama Mila, akan tetapi Mila sengaja mendorong Kia untuk jalan didepan dan Zidan yang menyadari itu langsung berdiri disamping Mila. Jangan ditanya bagaimana Qiyas, dia menikmati sangat ketika Kia berjalan disampingnya.


"Ingin sekali ku genggam tangannya", bathin Qiyas.


"Astaghfirullah", bathin Qiyas lagi beristighfar.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***