BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
AMARAH QIYAS



Pagi harinya pun tiba, tepatnya hari selasa setelah hari senin kemarin syukuran diPerusahaannya Ayah Ibrahim dan hari ini gantian akan diadakan syukuran dikantor Qiyas. Semua keluarganya sudah datang, Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Papah Ziyas dan Bunda Lili juga datang, termasuk Mila kali ini juga ikut karena dia libur kuliahnya. Jangan ditanya Aulian pun juga sudah datang, kecuali Kia dia akan datang sedikit terlambat karena harus menghadiri meeting sangat penting.


Ketika dirumah Kia juga sudah memberitahukan kepada keluarganya terutama Qiyas kalau dia dan Zahra akan sedikit terlambat untuk menghadiri rapat dulu, karena rapat kali ini cukup penting dan mereka pun memakluminya.


Sama seperti diPerusahan IBRAHIM COMPANY di Perusahaan IRAWAN CORP pun tidak ada yang tahu kecuali orang terdekat jika Presdir incaran kaum hawa dan karyawan perempuan dikantor sudah menikah.


Dan sama seperti acara syukuran kemarin semua karyawan pada penasaran dan tanda tanya, karena semua karyawan diharuskan berkumpul diAula yang ada dilantai lima Aula yang paling besar dikantornya Qiyas. Mereka semua pada bergosip dan berbisik satu sama lain karena rasa penasaran mereka yang sangat tinggi.


Acara syukurannya juga diselenggarakan jam sepuluh seperti kemarin. Dan Kia sampai jam sembilan juga belum terlihat batang hidungnya, membuat Qiyas menjadi cemas dan khawatir.


"Hallo Assalamu'alaikum Kak", salam Kia ketika dia menerima telefon dari Qiyas.


"Wa'alaikumussalam sayang, kamu dimana??, apa masih lama meetingnya?? ", tanya Qiyas kepada Kia.


"Sudah selesai ko Kak, ini mau turun kebawah mau berangkat, kalau sudah mau mulai, Kakak masuk saja dulu tunggu Kia saja didalam", kata Kia kepada Qiyas.


"Baiklah, hati-hati dijalan, kalau sudah sampai nanti telefon ya, acaranya ada diAula lantai lima ya sayang", kata Qiyas kepada Kia.


"Baik suamiku sayang", kata Kia kepada Qiyas.


"Kamu bilang apa tadi Balqis?? ", tanya Qiyas ingin mendengar sekali lagi panggilan sayang dari Kia.


"Apa, Kia tidak bilang apa-apa ko", goda Kia dengan tertawa.


"Awas kamu ya, kalau ketemu nanti", kata Qiyas gemas kepada Kia.


"Sudah dulu ya Kak, Kia sudah sampai loby nih, Assalamu'alaikum", kata Kia mengakhiri sambungan telefon.


"Iya sayang, hati-hati yah Wa'alaikumussalam", kata Qiyas langsung mengakhiri panggilan dan mematikan sambungan telefon.


Kia dan Zahra langsung masuk kedalam mobil yang sudah disediakan Qiyas untuknya. Perjalanan dari Perusahaan Kia ke Perusahaan Qiyas sekitar empat puluh lima menit, akan tetapi kali ini perjalanan mulus tidak macet jadi Kia sudah sampai lebih cepat dari yang seharusnya.


Ketika Kia sudah sampai dipelataran loby kantor, Kia dan Zahra langsung turun dan mau masuk. Ketika Kia akan masuk dia dihadang security yang berjaga didepan pintu loby kantor.


"Maaf permisi, ada keperluan apa ya Nona-Nona kemari", kata security ramah menyapa Kia dan Zahra, karena baru kali ini perusahaan Qiyas kedatangan perempuan yang bercadar dan berpakaian sangat syar'i.


"Saya ingin bertemu Presdir kalian", kata Kia menjawab pertanyaan security.


"Apakah anda sudah mempunyai janji Nona?? ", tanya security itu lagi.


"Sudah", jawab Kia.


Kia tidak kaget jika dia tiba-tiba dicegat tidak boleh masuk. Karena kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya. Dan tiba-tiba seorang resepsionis datang menghampiri.


"Ada apa ini ya Pak?? ", tanya resepsionis itu kepada security.


"Ini mbak katanya mbak yang bercadar dia sudah ada janji dengan Pak Qiyas Presdir kita", kata security kepada resepsionis.


"Ada keperluan apa kalian kemari, orang kampungan kayak kalian kenapa mau mencari calon suami saya", kata resepsionis itu dengan sinis.


Tiba-tiba datang lagi dua orang karyawan perempuan teman si resepsionis itu karena dua karyawan perempuan itu tidak sengaja lewat. Dan mereka melihat kegaduhan didepan pintu loby akhirnya ikut-ikutan menyamperin kedepan pintu.


"Ada apa Erni kenapa kamu sepertinya sedang marah-marah, dan siapa mereka", kata teman resepsionis yang bernama Erni dan sambil menunjuk Kia dan Zahra.


"Ini nih, katanya dia sudah ada janji dengan Presdir kita Pak Qiyas, coba lihat pakaiannya yang kampungan ini", kata Erni sambil menunjuk Kia.


Zahra yang mendengar rasanya dia geram ingin sekali menampar muka resepsionis itu. Sedangkan teman-teman Erni yang melihat Erni menunjuk Kia dia langsung melihat kearah Kia dan melihat dengan pandangan yang sama seperti Erni, meremehkan dan mencemooh.


"Ciiiih, kampungan kayak kalian tidak berhak masuk kekantor ini", kata teman Erni.


"Apa hak kalian mengatur siapa yang boleh datang kesini atau tidak", kata Kia dengan tenang dan sambil menahan amarahnya.


"Beraninya kamu membantahku hah, kamu tidak tahu kalau Pak Qiyas itu calon suamiku", bentak Erni kepada Kia.


Zahra ingin melangkah maju langsung dihalangi Zahra.


"Jaga ucapan anda ya Erni", kata Zahra yang melihat name tag dibaju Erni.


"Kalian berdua itu tidak punya sopan santun dan tata krama kepadaku calon istrinya Presdir diPerusahaan ini", kata Erni kepada Kia dan Zahra sambil berteriak.


"Sudah mbak Erni jangan teriak-teriak malu dilihat karyawan yang lain", cegah security kepada Erni yang tadi menghadang Kia.


Dan benar saja banyak pasang mata yang melihat kejadian itu, dan mereka hanya berani menonton saja, karena Erni terkenal sangat sombong dan sok kecantikan dikantor. Dan jika ada yang berani macam-macam sama dia, Erni langsung melaporkan kepada kepala HRD yang kebetulan adalah pamannya, dan pamannya juga yang memasukkan Erni supaya bisa bekerja diKantor Qiyas.


"Biarin saja Pak, bapak tidak usah ikut campur, mau saya adukan kepaman saya", kata Erni kepada security dan security itu langsung diam.


"Yang tidak punya sopan santun itu saya atau anda", kata Kia dengan berani.


"Dasar kampungan", kata Erni dengan geram.


Erni geram dan langsung saja ingin menarik cadar Kia. Tangan Erni sudah berada dicadar Kia dan hampir saja ketarik Erni akan tetapi sebelum itu terjadi ada seseorang yang berteriak dengan sangat menggelegar.


"Apa-apaan kalian semua hah!!!!!!!! ", teriak seseorang dengan sangat menggelegar.


"Presdir", kata semua karyawan yang melihat Qiyas dan sambil membungkukkan badannya.


Iya laki-laki yang berteriak tadi adalah Qiyas dan Qiyas melihat dengan matanya sendiri jika resepsionisnya akan menarik niqab Kia. Sungguh perbuatan yang sangat tercela dan membuat darah Qiyas mendidih seperti lava gunung merapi yang sangat panas, karena cuman hanya Qiyas yang boleh menikmati kecantikannya Kia.


Tadi ketika Zahra ditahan Kia dia langsung sedikit menjauh untuk menelfon Qiyas, Zahra mempunyai nomor telefon Qiyas karena ketika Kia pingsan kemarin Zahra langsung menyimpan nomor telefon Qiyas dihpnya, untuk cadangan siapa tahu nanti suatu saat terjadi apa-apa terhadap Kia bossnya, dan benar saja kejadian yang Zahra antisipasi terjadi juga.


"Hallo Tuan, ini saya Zahra, kami ditahan didepan pintu loby dan Nona Kia dihina serta dicemooh oleh resepsionis dan karyawan anda Tuan", kata Zahra buru-buru bahkan dia lupa untuk mengucapkan salam.


"Apaaaaaaaa!!!!, tunggu saya datang", kata Qiyas kepada Zahra dan langsung mematikan sambungan telefon.


Sedangkan Zidan dan keluarga lainnya yang ada diruangannya Qiyas mereka pada terkejut mendengar Qiyas berteriak. Mereka belum sempat bertanya kepada Qiyas karena Qiyas sudah terburu-buru langsung lari keluar ruangan dan itu membuat semua Keluarga yang melihat menjadi khawatir.


Dan para sekertaris Qiyas, Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas yang tadi sedang menunggu dikursi didepan ruangan Qiyas mereka juga terkejut melihat Qiyas berlari dengan tergesa-gesa.


Ketika mereka semua akan menyusul Qiyas, berderinglah suara Hp Ayah Ibrahim, membuat yang lain menunggu Ayah Ibrahim mengangkat telefonnya terlebih dahulu dan ketika Ayah Ibrahim mengangkat telefonnya yang ternyata dari Zahra, dia juga terkejut tak kalah nyaringnya seperti Qiyas. Dan itu semakin membuat semua orang bertambah tanda tanya.


"Ada apa Pak Ibrahim,


"Ada apa Ayah,


"Ada apa Tuan Ibrahim,


"Kenapa Paman",


Tanya Papah Ziyas, Bunda Lili, Mamah Dian, Mila dan Zidan bersamaan. Dan akhirnya Ayah Ibrahim memberitahukan apa yang tadi Zahra katakan ditelefon.


"Ayo cepat kita susul Qiyas, karena Qiyas kalau marah sangat menyeramkan", kata Bunda Lili dengan nada yang sangat khawatir.


"Ayo-ayo Yah cepat", kata Mamah Dian tak kalah khawatirnya karena Mamah Dian sangat khawatir kepada Kia.


Akhirnya mereka semua langsung berlari terburu-buru menaiki lift untuk turun keloby, karena ruangan Qiyas ada dilantai dua puluh lima. Lantai paling tinggi diPerusahaan IRAWAN CORP.


Kembali lagi keQiyas. Semua karyawan yang melihat Qiyas yang baru keluar dari lift dengan muka yang sangat marah membuat para karyawan yang melihat sangat ketakutan dan bingung.


Qiyas langsung menampar Erni tanpa aba-aba ketika sudah sampai dihadapan Erni, dan karyawan yang melihat Qiyas langsung menampar Erni tiba-tiba membuat mereka pada bingung, sebab yang mereka kenal Qiyas kalau marah tidak sampai sebegitunya.


Sedangkan Kia dia langsung menutup mulutnya karena terkejut sebab dia pertama kalinya melihat Qiyas marah yang sangat menakutkan seperti itu. Karena setahu Kia Qiyas orangnya sangat sabar dan penyayang.


Sedangkan Erni dia langsung menatap nyalang kepada Qiyas.


"Berani-beraninya kamu berbuat seperti itu kepada dia hah!!!!! Apa hak mu", kata Qiyas dengan berteriak sambil menunjuk Kia.


"Asal kamu tahu, dia itu istriku, istri sahku", kata Qiyas berteriak dengan sangat menakutkan.


Dan semua karyawan yang ada disitu pada terkejut dengan perkataan Qiyas yang mengatakan wanita bercadar yang tadi dibentak Erni adalah istri Predir mereka. Sedangkan Erni juga tak kalah terkejutnya mendengar perkataan Qiyas.


"Dan kamu berani-beraninya mau menarik cadar istriku", kata Qiyas dengan sangat marah dan sambil menarik rambut Erni.


Kia yang melihat Qiyas marah-marah dia sangat takut, dengan gemetaran dia memegang tangan Qiyas.


"Sayang su..... sudah", kata Kia dengan gemetaran sambil mengusap lengan Qiyas.


Qiyas yang mendengar Kia menangis dan melihat Kia gemetaran dia lalu melepaskan jambakannya dirambut Erni dan langsung menghampiri Kia.


"Sayang kamu tidak apa-apa mana yang sakit", kata Qiyas sambil memeriksa semua badan Kia.


Kia yang sangat takut dia hanya mampu menggelengkan kepalanya karena dia masih terkejut dengan amarahnya Qiyas.


"Jangan takut, maafin Kakak yah", kata Qiyas sambil memeluk dan menciumin seluruh muka Kia supaya Kia tidak takut kepadanya lagi dan menyalurkan ketenangan kepada Kia.


Ketika Qiyas dan Kia sedang berpelukan, bukan berpelukan sih, yang benar Qiyas yang memeluk Kia, sedangkan Kia masih diam karena syok. Semua keluarganya sudah sampai diLoby kantor.


"Ya Allah cantiknya Zahra hari ini",bathin Aulian yang melihat Zahra. Sedangkan Zahra dia tidak ngeh dengan Aulian, karena dia sedang fokus dengan Kia.


"Ada apa ini Zahra bisa dijelaskan kepada kami semua", kata Ayah Ibrahim kepada Zahra ketika sudah sampai dihadapan Kia, dan Qiyas.


Qiyas yang mendengar suara Ayah mertuanya dia langsung melepaskan pelukannya dan langsung merangkul Kia.


Zahra langsung menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Dan ketika Zahra menjelaskan Erni dan kedua temannya tadi sudah pucat pasi wajah mereka. Semua keluarga termasuk Qiyas yang mendengar cerita dari Zahra langsung geram dan langsung memandang Erni dan kedua temannya dengan tatapan marah.


"Erni kamu saya pecat dan Zidan beritahukan kepada semua Perusahaan untuk memblacklist nama ketiga orang ini supaya tidak ada yang menerima mereka bekerja diPerusahaan manapun", suara tegas dari Papah Ziyas.


"Dan Zidan usut siapa yang memasukkan mereka bertiga terutama dia, kePerusahaan ini", kata Papah Ziyas lagi dan sambil menunjuk Erni.


"Dan untuk kamu", kata Papah Ziyas menunjuk security tadi yang menghadang Kia.


"Gajimu saya potong 50% karena kamu tidak becus menangani dan bertindak menahan kekerasan diPerusahaanku, terus apa gunanya saya memperkerjakanmu hmm", suara tegas Papah Ziyas kepada security tadi.


"Saya mohon maaf Tuan, maafkan saya", kata security tadi sambil menundukkan badannya kepada Papah Ziyas.


"Sudah semuanya bubar, dan untuk kalian bertiga ikut saya", kata Zidan kepada semua karyawan dan Erni serta kedua temannya.


Sedangkan Qiyas, Kia dan semua Keluarganya masuk lagi keruangan Qiyas. Dan semua sekertaris juga berjalan dibelakang mereka semua. Selama berjalan Qiyas tidak melepaskan rangkulannya kepada Kia, karena Qiyas takut jika dia melepaskan, Kia akan takut dan tidak mau berdekatan dengannya.


Tidak ada yang menyadari, jika Aulian daritadi selalu melirik kearah satu wanita yang baru-baru ini selalu terbayang dibenaknya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Partnya segini dulu yah readers, jika dilanjut kesini akan kepanjangan, dilanjut dipart selanjutnya yah, sabar πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜„


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***