BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
CHAPTER 79



Ketika baru selesai makan siang bersama Kia tidak kembali kekantornya dan dia ikut bersama Qiyas kekantornya Qiyas karena sekalian ingin membahas kerjasama mereka yang ada diBali.


"Kita sholat dulu yuk sayang, masih jam setengah dua siang", kata Qiyas kepada Kia ketika sudah sampai diruangannya.


Kia hanya mengangguk memberi jawaban.


"Tadi kamu sudah menelfon Zahra kan untuk menyusulmu kesini", kata Qiyas sambil melepaskan jaznya.


"Sudah, sini Kia bantuin", kata Kia kepada Qiyas dan menyuruh Qiyas untuk duduk dishofa.


Kia lalu melepaskan sepatu beserta kaos kakinya yang Qiyas pakai, serta dasi yang dipakai Qiyas, karena Qiyas tidak suka jika sholat memakai dasi.


"Terimakasih sayang", kata Qiyas kepada Kia ketika sudah selesai dan sambil mencium kening Kia.


"Sama-sama", jawab Kia membalas mencium pipinya Qiyas, dan Qiyas langsung tersenyum dengan Kia karena tindakannya Kia.


"Ya sudah Kakak kekamar mandi dulu, biar Kia siapin tempatnya dan ini Kia juga mau melepaskan hijab Kia", kata Kia kepada Qiyas.


Qiyas lalu berlalu menuju kekamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu, sedangkan Kia dia sedang mempersiapkan tempat sholat untuk dirinya dan Qiyas sholat dhuhur.


Zahra yang sudah sampai diloby dia langsung menuju kelift untuk naik keruangannya Qiyas.


Ting


Bunyi Lift berdenting, dan alangkah terkejutnya Zahra melihat siapa yang ada didalam lift ketika pintu liftnya terbuka.


"Zahra", kata seseorang kepada Zahra dan mereka sama-sama terkejutnya.


"Tuan Aulian", kata Zahra sambil menundukkan sedikit badannya.


Orang yang berada didalam lift adalah Aulian, karena dia ingin turun dan membeli makan siang.


"Kamu mau ngapain Zahra disini?? ", tanya Aulian kepada Zahra.


"Saya mau meeting Tuan dengan Nona Kia dan Tuan Qiyas", jawab Zahra sambil menunduk.


"Mau makan siang dulu bersama??, kamu sudah makan siang belum?? ", tanya Aulian lagi.


"Belum", jawab Zahra.


"Ya sudah kita makan siang dulu yuk", ajak Aulian kepada Zahra.


"Baiklah", jawab Zahra.


Aulian mengajak Zahra makan siang bersama direstoran depan kantor, karena permintaan Zahra, karena Zahra takut jika nanti diRestoran lain akan terlalu lama dperjalanan dan ditunggu Kia.


"Zahra bagaimana ajakanku kemarin?? ", kenapa kamu belum memberikan jawabannya kepadaku sampai sekarang ?? ", tanya Aulian kepada Zahra ketika mereka sudah duduk dan memesan makanan.


Zahra langsung mengalihkan pandangannya kepada Aulian, dan membuat Aulian jadi deg-degan mendengar jawaban dari Zahra.


Skip****** (biar pada penasaranπŸ˜‚).


"Balqis, itu Zidan sama Mila jadinya mau memundurkan jadwal honeymoon mereka sayang, katanya setelah resepsi kita saja", cerita Qiyas kepada Kia sambil Kia memasangkan dasinya Qiyas lagi, karena mereka sudah selesai sholat dhuhurnya.


"Terus Kakak sendiri bagaimana, boleh?? ", jawab Kia.


"Iya boleh, kenapa mesti tidak boleh, untuk masalah itu juga sudah diurus orang-orangnya Kakak", jawab Qiyas lagi.


"Ya sudah Kia ngikut Kakak saja bagaimana baiknya", jawab Kia ketika sudah selesai memasangkan dasinya Qiyas.


"Sudah sayang, biar Kakak sendiri, kamu pakai itu hijab sama niqob kamu saja", kata Qiyas kepada Kia ketika Kia akan memakaikan kaos kaki dan sepatunya.


"Baiklah Kak", jawab Kia dan dia berlalu menuju cermin yang ada diruangannya Qiyas.


"Oh iya Kak, Bunda menelfon Kia katanya beliau meminta kita untuk makan malam dirumahnya Bunda sama Papah", kata Kia kepada Qiyas.


"Baiklah, tapi tumben Bunda tidak bilang keKakak dulu?? ", tanya Qiyas kepada Kia.


"Sudah Kak, tapi Kakak katanya ditelfon tadi pagi tidak diangkat", jawab Kia.


Qiyas lalu mengambil Hpnya yang ada disaku jaznya dan mengeceknya. Ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari Bundanya tadi pagi ketika dia sedang sibuk memeriksa berkas.


"Iya nih sayang, ada tiga panggilan tak terjawab dari Bunda tadi pagi, karena tadi pagi Hpnya Kakak sengaja Kakak dimode hening", jelas Qiyas.


"Baiklah, Bunda menyuruh kita datang jam berapa sayang?? ", tanya Qiyas.


"Jam tujuhan Kak, tapi Kia pinginnya datang sebelum jam tujuh, kan Kia bisa bantu-bantu dulu disana, lagian kita juga belum main kerumahnya Bunda setelah kita menikah Kak, karena Kakak sama Kia jadwalnya tidak menentu", jawab Kia.


"Kalau begitu, nanti setelah pulang kantor langsung kesana saja bagaimana?? ", ajak Qiyas.


"Boleh Kak, tidak apa-apa", jawab Kia kepada Qiyas.


Kia yang sudah selesai dia langsung duduk dishofa disampingnya Qiyas. Dan Kia langsung menyandarkan kepalanya dipundak Qiyas dan reflek Qiyas merangkul Kia.


Tiba-tiba ruang kerja Qiyas terdengar suara pintu diketuk dari luar dan ketika dibuka Kia yang mengetuk pintu adalah Zahra sekertarisnya dan dibelakangnya ada Fadhil.


"Nona, ruang meeting sudah siap", kata Fadhil kepada Kia.


"Baiklah", jawab Kia.


"Ayo Kak, kita meeting sekarang", ajak Kia kepada Qiyas yang lagi membalas email diHpnya.


"Iya", jawab Qiyas tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp.


"Kalian silahkan duluan kesananya, nanti saya dan suami saya akan menyusul", kata Kia kepada Zahra dan Fadhil.


"Baik Nona", jawab Fadhil dan Zahra secara bersamaan.


Zahra dan Fadhil langsung menuju keruang meeting yang akan dibuat meeting. Sedangkan Kia dia mengajak Qiyas untuk yang kedua kalinya.


"Ayo Kak", ajak Kia lagi.


Kia lalu berjalan pelan dan ingin melihat apa yang dikerjakan Qiyas, ternyata Qiyas sedang sibuk membalas email bisnis diHpnya, jadi Kia fikir daripada mengganggu Qiyas dia lebih baik keluar dulu untuk menuju keruang meeting.


Sudah sekitar lima menit Kia keluar dan suasana yang menjadi hening membuat Qiyas mendongakkan kepalanya untuk mencari Kia. Dan Qiyas tidak melihat tas yang dibawa Kia tadi yang ditaruh dishofa.


"Astaghfirullah, terlalu asik membalas email, hingga aku ditinggal Kia sendirian", gumam Qiyas sendiri.


Qiyas lalu bergegas keluar dari ruangannya untuk turun menuju keruang meeting. Ketika baru keluar dari Lift dia melihat Kia ingin membuka pintu ruang meeting, Qiyas lalu berteriak memanggil sambil berlari kecil.


"Sayang, kenapa Kakak ditinggal sih", teriak kecil Qiyas kepada Kia.


"Habisnya Kakak sibuk banget begitu, ya Kia tinggal kasihan Zahra sama Fadhil menunggu, apalagi mereka berduaan didalam", kata Kia kepada Qiyas.


"Maaf deh sayang ya", kata Qiyas kepada Kia.


Akhirnya Kia lalu membuka pintu dan diikuti Qiyas dibelakangnya, dan ketika mereka masuk mereka dikejutkan oleh seseorang yang sudah duduk disamping Fadhil.


"Eh............. ", kata Kia kaget.


"Kamu kenapa disin?? ", tanya Qiyas kepada orang tersebut.


"Emang kenapa sih Kak, kalau Aul disini?? ", tanya Aulian kepada Qiyas Kakaknya.


Yaps orang yang ditanya Qiyas adalah Aulian, dan dia sengaja ikut bergabung meeting cuman karena ada Zahra dan cuman ingin melihat Zahra.


"Terserah yang penting jangan mengganggu", kata Qiyas.


Akhirnya mereka semua meeting dengan santai tapi serius. Bukan Qiyas sekarang yang curi pandang, melainkan Aulian yang curi pandang kepada Zahra dan Zahra antara suka, risih serta grogi daritadi mata Aulian sering-seringnya melihat kearahnya.


🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊


"Malvia Mita Mackenzie itu nama lengkapmu kan?? ", kata Rion kepada Mita ketika sudah sampai didepan Mita.


Karena Rion tadi tidak ketoilet, melainkan untuk menyamperin Mita, walaupun Rion ijinnya keDominic akan kekamar mandi.


"Iya Tuan", jawab Mita sambil menunduk ketakutan.


"Apa kamu sengaja melamar menjadi OB dikantor Tuan Ibrahi**m?? ", tanya Rion dengan mengintimidasi.


Mita dengan jujur dia mengangguk.


"Apa Kakakmu tahu?? ", tanya Rion lagi.


"Jangan beritahu Kakak Tuan Rion, bisa dihukum saya", kata Mita dengan memelas.


Karena Rion mengetahui jika temannya Dominic itu sangat menyayangi adiknya yang bandel ini.


"Apa setiap kamu melihatku kamu selalu menggodaku, karena tahu jika saya adalah temannya Kakakmu?? ", tanya Rion kepada Mita.


"Tidak Tuan, saya tidak tahu dan lupa jika Tuan Rion adalah temannya Kak Dom, beneran", jawab Mita sambil mengangkat tangannya dengan berbentuk huruf V.


"Bagaimana kalau saya laporkan kelakuanmu keKakakmu, yang berani melamar menjadi OB dari seorang keluarga Mackenzie, pasti seru", gertak Rion kepada Mita.


"Jangan Tuan Rion, jangan laporkan saya keKakak, saya saja sengaja keluar sebelum Kakak sampai keIndo, masak Tuan mau membocorkannya, jangan ya Tuan", kata Mita sambil memelas dan menangkupkan tangannya memohon kepada Rion.


"Baiklah, dengan satu syarat tidak akan saya sampaikan keKakakmu", kata Rion dengan tegas.


"Apa itu syaratnya Tuan, yang penting tidak merugikan saya, saya mau", jawab Mita dengan segera.


"Menikahlah denganku!!!!!! ", kata Rion dengan jelas.


Duaaaarrrrr


Seperti tersambar petir jantung Mita, yang tiba-tiba mendengar dia diajak menikah dengan seseorang, padahal dikamus Mita dia belum ada kata menikah sama sekali diumurnya yang masih sembilan belas tahun.


"Bagaimana, apa kamu setuju dengan syarat yang aku sebutkan tadi?? ", kata Rion lagi, karena Mita hanya diam saja daritadi.


"Itu sih enak dikamu, tidak enak diaku, nanti malam pertama saya sudah tidak berbentuk karena kegenjet ban tronton", gerutu Mita dengan suara yang sangat-sangat kecil dan hanya dia yang mendengar.


"Bagaimana?? ", tanya Rion lagi.


"Apa tidak ada syarat yang lainnya Tuan??, karena saya hanya mau menikah sekali, dan saya tidak mau mempermainkan pernikahan", kata Mita tegas kepada Rion.


"Baiklah jika itu maumu, saya bisa setia hanya kepadamu, dan menjadi suami yang baik untukmu, asal kamu juga bisa menjadi istri yang baik untukku dan setia juga padaku", kata Rion tegas kepada Mita.


Rion sebenarnya sudah dari dulu dia menyukai Mita, karena berhubung jarak mereka yang terpaut cukup jauh, dia hanya berani memendamnya saja, dan dulu dia juga memanggil Mita dengan panggilan Via atau Malvia seperti Dominic.


Dan sebelum kejadian tak terduga ini Rion fikir dia bisa mengalihkan perasaanya kepada Mita, ternyata dugaannya salah, Mita adalah Malvia seseorang yang sudah dari dulu dia sukai. Dan Rion memanfaatkan ketakutan Mita untuk mengajaknya menikah, karena memang itu keinginan Rion dari dulu ingin menikahi Mita.


Katakan saja Rion itu pengecut dan memanfaatkan keadaan, maklum saja Rion itu tipekal laki-laki kaku, jadi dia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan kepada perempuan. Dan fikir Rion saat ini adalah momen yang pas untuk mengajak Mita menikah, walaupun sebenarnya dalam keadaan yang kurang pas bagi Mita.


"Tapi bagaimana dengan Kak Dom dan Ayah sama Mamah", tanya Mita.


"Itu urusannku, yang terpenting kamu ikutin alurku dan bagaimana keputusannmu", kata Rion pura-pura tegas, padahal dia daritadi menutupi rasa bahagianya.


"Baiklah saya mau Tuan", jawab Mita akhirnya dengan pasrah, daripada dia dilaporkan keKakaknya dan dia bisa diamuk sedemikian rupa, jadi fikir Mita terima saja ajakan menikahnya Rion, toh paling Rion tidak bisa menyakinkan Kakaknya yang super protektif kepadanya dan kedua orang tuanya, kata bathin Mita.


"Ya sudah, kalau begitu kita masuk lagi kedalam, kita temui Kakakmu Dom", ajak Rion sambil menggenggam tangannya Mita, karena mereka tadi berbincang diparkiran Caffe.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Mita dan Rion agamanya tidak Islam ya readers, jadi fikir author sah-sah saja mereka bergandengan tangan sebelum menjadi mahrom.


Dan jika readers berfikir ini cerita Islam ko dicampur begini, maaf readers disini author cuman ingin bilang jika semua agama bisa berdamai dan bersatu tidak saling menghujat dan bisa saling memahami satu sama lain, jadi fikir author Rion dan Mita itu hanya selingan dicerita ini.


Salam kenal, maaf atas ketidaknyamanannya para readers😊😊😊


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***