BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KEGUNDAHAN KIA



"Cie-cie yang mau dikhitbah Ustadz Faris", goda sahabat Kia yang bernama Maulida.


Maulida adalah adik bungsu dari Ustadz Zabir, karena Kia adalah dulu santriwati dipesantren ini dan usia mereka sama jadi mereka cepat akrab dan sudah sangat akrab sampai saat ini. Walaupun Kia pernah Kuliah diluar kota tepatnya dikota kelahirannya tidak memutus tali persahabatan mereka, karena mereka sering berhubungan lewat telefon, atau bahkan sering Kia pergi berkunjung kepesantren jika ada waktu luang.


"Apasih Lida", elak Kia sambil malu-malu.


"Cie malu-malu neng gelis Kia", ucap Lida masih menggoda Kia.


"Yah coba lihat tuh mukanya merah kayak kepiting rebus", goda Lida lagi.


Karena mereka sedang berada dikamar Kia, jadi Kia berani membuka cadar yang ia pakai. Kia semenjak mengajar dipesantren Darunnajah dia mengontrak sebuah rumah yang jaraknya cukup dekat dengan pesantren, sekitar dua ratus meteran.


"Kia aku mau tanya serius sama kamu", tanya Lida dengan muka serius.


"Tanya apa sih Lida, tanya saja, kayak sama siapa saja?? ", jawab Kia kepada Lida


"Kamu beneran mau dikhitbah Ustadz Faris, kamu yakin beneran suka sama Ustadz Faris Kia?? ", tanya Lida beruntun kepada Kia.


"Sebenernya kalau rasa suka belum ada, aku cuman kagum sama dia, aku bingung apa itu jatuh cinta, karena sampai sekarang belum ada seorang laki-laki yang bisa membikin hatiku bergetar dan berdetak sangat kencang, sampai usiaku hampir dua puluh satu tahun ini", jawab Kia jujur.


"Terus jika kamu belum merasakan itu semua, kenapa kamu menerima khitbahnya Ustadz Faris?? ", tanya Lida dengan bingung.


*Flashback On*


Kia waktu itu yang hendak pulang kerumah kontrakannya terkejut karena tiba-tiba dipanggil sesorang, setelah melihat kebelakang ternyata Ustadz Faris yang memanggilnya.


"Kia boleh saya bicara sebentar?? ", tanya Ustadz Faris sambil melihat kedepan, bukan melihat kearahnya Kia.


"Boleh Ustadz silahkan, mau ngomong apa?? ", jawab Kia sambil menundukkan wajah.


"Kita ngomong disitu saja bagaimana, biar kita tidak berduaan karena disitu banyak anak-anak main bola", Kata Ustadz Faris sambil menunjuk bangku panjang didekat lapangan sepak bola.


Setelah sampai dibangku dekat lapangan, mereka duduk tapi masih dengan jarak yang lumayan jauh.


"Ustadz sebenarnya mau ngomong apa sama Kia?? ", tanya Kia memecah suara setelah terjadi keheningan selama sepuluh menit.


Ustadz Faris tiba-tiba mengambil nafas panjang lalu dihembuskannya perlahan-lahan. Setelah sedikit tenang Ustadz Faris langsung mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya.


"Saya ingin mengkhitbahmu", sambungnya lagi.


Kia yang mendengar dirinya akan dikhitbah oleh Ustadz Faris sontak membuat jantungnya berdegub kencang, karena saking kagetnya.


"Kenapa diriku, begitu banyak Ustadzah disini dan perempuan yang lebih sholehah, kenapa Ustadz Faris memilihku", begitu sekiranya apa yang diucapkan batin Kia.


"Maaf Ustadz kenapa harus saya?? ", akhirnya yang menjadi fikirannya Kia dikatakan juga.


"Entahlah Kia, dari awal kamu mengajar disini, aku melihatmu ada perasaan berbeda dihatiku, dan jantungku serasa berdetak lebih cepat jika saya melihatmu, mungkin itu yang dinamakan cinta", jawab Faris Jujur sambil melihat anak-anak yang sedang main bola.


Jantung Kia sontak serasa mau copot mendengar pernyataan cinta dari Ustadz Faris yang tiba-tiba begitu.


"Terimakasih atas niat baik Ustadz, sejujurnya saya juga ingin langsung menikah, karena diIslam tidak ada yang namanya pacaran, tapi jika disuruh untuk menjawab sekarang, maaf Ustadz bolehkah saya memikirkannya dan sholat istikharah dulu selama seminggu?? ", ucap Kia sambil menetralisir keterkejutannya.


"Silahkan Kia, saya tidak mengharuskan kamu menjawab pernyataan saya hari ini?? ", jawab Ustadz Faris sambil menetralkan kegugupannya.


"Setidaknya kamu sudah tahu perasaan saya ke kamu, apapun jawaban yang akan kamu berikan akan saya terima dengan lapang dada", sambungnya lagi.


"Kalau begitu saya permisi mau pulang dulu Ustadz, Assalamu'alaikum", pamit Kia.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan Kia", jawab Ustadz Faris kepada Kia sambil melihat punggung Kia yang semakin menjauh.


*Flashback Off*


"Begitulah ceritanya Lida", kata Kia kepada Lida.


"Apapun keputusannmu aku sebagai sahabat akan mendukungmu, karena itu mungkin yang terbaik bagimu", jawab Lida menenangkan Kia.


Jodoh yang baik untuk orang yang baik, begitupun sebaliknya, jika ada orang baik berjodoh dengan orang yang buruk mungkin Allah menginginkan kita merubahnya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***