BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
MAKAN MALAM



Qiyas dan Kia saat ini sedang perjalanan menuju kerumah Bunda Lili dan Papah Ziyas, tadi sepulang dari kantor mereka mampir kerumah Ayah Ibrahim dulu hanya sebentar untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.


Perjalanan mereka tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar, sekitar empat puluh menitan sudah sampai mereka dirumahnya Papah Ziyas.


Bunda Lili yang memang menunggu mereka diruang tamu, ketika mendengar suara mesin mobil masuk dihalaman rumahnya, Bunda Lili langsung bangun dari duduknya.


"Assalamu'alaikum", salam seseorang kepada Bunda Lili dan menyalami serta mencium tangannya.


"Wa'alaikumussalam, yeeee kirain Kakakmu sama Kakak iparmu, ternyata yang datang tukang sales panci", goda Bunda Lili kepada seseorang yang datang.


"Bunda, anak sendiri ganteng-ganteng begini dibilang tukang sales panci", jawab Aulian dengan sedikit cemberut.


"Lha habisnya Bunda sedang menunggu Kakakmu malah kamu yang datang duluan", jawab Bunda Lili.


"Berarti Bunda tidak berharap Aul pulang dong", jawab Aulian lagi.


"Iya bukan begitu juga babynya Papah Ziyas", goda Bunda Lili sambil mencubit pipi Aulian.


"Bunda jangan begitu malu", kata Aulian sambil melepaskan cubitan Bunda dipipinya.


Tin, Tin


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang ternyata mobilnya Qiyas. Dan yang ditunggu-tunggu Bunda Lili akhirnya datang juga. Karena sebelum kerumah Papah Ziyas Qiyas sudah memberitahukan kepada Bunda Lili jika dia dan Kia akan datang sebelum jam tujuh, dan ini baru jam lima sore lebih lima belas menit Kia dan Qiyas sudah sampai dirumah Papah Ziyas.


Sebab tadi Qiyas dan Kia pulang dari kantor sekitar jam tiga lebih sedikit, belum ada jam empat sore.


"Assalamu'alaikum", salam Kia, karena Kia yang turun duluan, sedangkan Qiyas dia sedang memarkirkan mobilnya.


"Wa'alaikumussalam", jawab Bunda Lili dan Aulian secara bersamaan.


Kia langsung menyalami dan mencium tangannya Bunda Lili, sedangkan sama Aulian Kia hanya menangkupkan tangannya.


"Ini berarti dari kantor langsung kesini atau bagaimana?? ", tanya Bunda Lili kepada Kia.


"Kita kerumah Ayah dulu Bund, untuk ganti baju, terus kesini", jawab Kia.


"Assalamu'alaikum", salam Qiyas sambil menyalami dan mencium tangan Bundanya.


"Wa'alaikumussalam", jawab Bunda Lili dan Aulian secara bersamaan.


"Itu anak kesayangan Bunda sudah datang", sindir Aulian dengan pura-pura cemberut dan berlalu masuk.


"Kenapa si Aul Bund?? ", tanya Qiyas kepada Bundanya.


"Biasa lagi datang bulan dia", kata Bunda Lili membuat Kia reflek tertawa renyah.


"Sudah ayuk, kita masuk yuk, masak daritadi diluar terus begini", ajak Bunda Lili masuk kerumah.


Qiyas dan Kia dia langsung masuk kerumah, dan Qiyas mengajak Kia kekamarnya, karena Kia belum pernah sama sekali masuk kekamar Qiyas setelah menikah. Karena belum sempat.


"Bund, kita keatas dulu ya", ijin Qiyas kepada Bunda Lili.


"Iya kalian istirahat saja dulu tidak apa-apa", jawab Bunda Lili.


Qiyas dan Kia akhirnya naik tangga untuk menuju kekamar Qiyas, dan ketika sudah sampai dikamar Qiyas, Kia berhenti sejenak untuk melihat sekeliling dan interior kamarnya Qiyas.


Tidak ada yang istimewa, standartnya kamar seorang laki-laki, rapi, bersih dan pajangan kaligrafi berbagai ukuran didinding kamarnya. Ada satu yang mengalihkan pandangannya Kia, yaitu foto pernikahan dirinya dan Qiyas yang dicetak dengan ukuran yang cukup besar dan ditempel ditengah-tengah dinding.


Sedangkan Qiyas yang ketika masuk kamar, dia langsung menuju kekamar mandi, untuk buang air kecil.


"Indahnya", gumam Kia sambil melihat foto pernikahannya dengan Qiyas.


"Lebih indah yang aslinya", kata Qiyas yang langsung mengagetkan Kia, karena Qiyas tiba-tiba langsung memeluk Kia dari belakang.


"Jika ingin menempelkan foto yang lain boleh ko", kata Qiyas lagi


"Kakak mengagetkanku, Kakak darimana tadi??", tanya Kia sambil membalas pelukannya Qiyas.


"Dari kamar mandi", jawab Qiyas.


Kia lalu melepaskan pelukannya Qiyas dan melihat-lihat seisi kamarnya Qiyas. Sedangkan Qiyas dia melihat Kia saja sambil duduk dishofa yang ada dikamarnya.


"Nyamannya", kata Kia ketika dia merebahkan badannya dikasur king sizenya Qiyas.


"Lagi yuk", goda Qiyas dan langsung ikut merebahkan badannya disamping Kia sambil memeluknya.


Qiyas tidak mendengarkan perkataannya Kia, karena Qiyas tiba-tiba langsung saja mencium lembut penuh mesra bibirnya Kia, karena sebelumnya Qiyas sudah melepaskan dulu niqob Kia.


Ciuman yang awalnya penuh dengan perasaan, lama kelamaan menjadi penuh hasrat dan *****, serta tangan Qiyas sudah menjalar kemana-mana. Sedangkan Kia dia hanya pasrah menikmati apa yang Qiyas lakukan kepadanya, karena Kia sendiri pun juga sudah terbuai.


Akhirnya mereka menuntaskan hasrat yang menggebu didalam diri mereka dan tidak cuman satu kali, melainkan sampai tiga kali. Jika Qiyas dan Kia tidak mendengar suara adzan Maghrib mungkin masih berlanjut.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Dihotel bintang lima milik keluarga IRAWAN Mamah Dian beserta Ayah Ibrahim mereka sedang mempersiapkan untuk acara resepsinya Kia dan Qiyas esok harinya.


Sampai-sampai Mamah Dian dia tidak bisa tidur karena saking excitednya untuk menyambut hari esok.


Seharusnya Mamah Dian dan Ayah Ibrahim dia kehotelnya besok pagi sekitar jam enam bersama Bunda Lili dan Papah Ziyas, karena berhubung Mamah Dian sudah tidak sabar dia merengek kepada Ayah Ibrahim untuk bermalam dihotel saja dan Ayah Ibrahim menurutinya.


Kembali kerumah Papah Ziyas. Papah Ziyas yang baru pulang setelah maghrib dia langsung disuguhi pemandangan seorang Aulian yang tersiksa dan cemberut oleh godaan dari Bunda Lili dan Qiyas.


"Assalamu'alaikum", salam Papah Ziyas ketika masuk kerumah. Dan langsung dijawab oleh semua orang yang ada disitu, yaitu Qiyas, Kia, Bunda Lili dan Aulian. Serta mereka semua juga langsung menyalami dan mencium tangan Papah Ziyas.


"Sini Pah duduk disini dulu", kata Bunda Lili kepada Papah Ziyas dan langsung mengambil tas kerja Papah Ziyas.


"Lagi pada ngapin sih?? ", tanya Papah Ziyas kepada semuanya.


"Lagi mendzolimi Aul", jawab Aulian dengan sedikit mencibir dan memutar bola matanya. Membuat semua orang reflek langsung tertawa.


"Kenapa Bund itu?? ", tanya Papah Ziyas kepada Bunda Lili tentang Aulian.


"Itu Pah, biasa si Aul lagi merajuk karena sedang datang bulan", goda Bunda Lili dan disambut tawa oleh semua orang yang ada disitu.


"Ini sudah pada sholat maghrib semua kan?? ", tanya Papah Ziyas mengalihkan pembicaraan.


"Sudah Pah", jawab semuanya kecuali Kia dia hanya mengangguk saja.


"Sudah disiapin semua Bund, untuk makan malamnya?? ", tanya Papah Ziyas lagi.


"Sudah beres semua Pah, semua sudah siaaap", jawab Bunda Lili.


Sebelum Papah Ziyas pulang ketika sudah selesai mandi besar dan sholat maghrib Kia langsung keluar dan buru-buru turun untuk membantu Bunda Lili menyiapkan untuk makan malam.


"Bund, maafin Kia ya, tadi Kia malah ketiduran dikamarnya Kak Fasya", kata Kia tidak enak ketika dia melihat Bunda Lili sedang menyiapkan makanan diatas meja makan.


"Maafkan hamba ya Allah, karena berbohong dengan Bunda, tidak mungkin juga Kia bilang kalau Kia dan Kak Fasya lagi",........ Kata bathin Kia.


"Tidak apa-apa nak, pasti kamu kecapean, lagian Bunda tadi juga sudah dibantuin sama bibi ko sayang", jawab Bunda Lili dengan tersenyum.


"Ini mana Bunda yang belum selesai, biar Kia bantuin", tanya Kia kepada Bunda Lili.


"Sudah selesai semua ko nak, sudah kamu temanin suami kamu dan Aul saja diruang tamu", kata Bunda Lili kepada Kia.


Kia lalu berjalan keluar dari dapur dan menuju keruang tamu untuk bergabung bersama Qiyas dan Aulian. Tidak lama Bunda Lili juga ikut bergabung dengan mereka.


Dan disinilah mereka mengobrol sambil menggoda Aulian ditambah Papah Ziyas juga yang baru pulang dari kantor.


Dan tiba-tiba terdengar suara salam laki-laki dan perempuan dari luar. Ternyata yang datang adalah Kak Anin dan suaminya Kak Asraf beserta kedua anaknya si Alifa dan si Nela.


"Wa'alaikumussalam", jawab serentak semua orang.


"Eeh kalian sudah datang, sini-sini masuk", kata Bunda Lili kepada Anin, Asraf dan Bunda Lili langsung menggendong Nela.


"Itu kenapa Kak, ko tumben Alifa diam saja, tidak cerewet seperti biasanya", tanya Qiyas kepada Kak Anin yang sudah duduk disampingnya.


"Lagi kurang enak badan Om Iyas", kata Kak Anin kepada Qiyas.


"Mau makan malam sekarang apa nanti ini?? ", tanya Bunda Lili sambil menggoda Nela anaknya Kak Anin yang kedua.


"Papah mau bersih-bersih dulu Bund, lengket semua ini", jawab Papah Ziyas kepada Bunda Lili.


Sambil menunggu Papah Ziyas selesai bersih-bersih dan mandi, mereka semua mengobrol santai serta membahas resepsinya Kia dan Qiyas besok dan diselingi candaan dari Aulian yang membuat suasana tambah berwarna.


Tidak membutuhkan waktu lama Papah Ziyas sudah selesai mandi dan mereka semua langsung diajak makan malam bersama oleh Papah Ziyas, karena Papah Ziyas sendiri juga sudah sangat lapar.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***