
Ketika Qiyas baru keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai baju koko, akan tetapi dibawahnya dia masih menggunakan handuk, gara-gara lupa membawa sarung atau celana kainnya.
Qiyas melihat Kia berada didepan meja rias sedang berusaha melepaskan jarum dan peniti yang ada dihijabnya, dia lalu mendekati Kia mencoba untuk membantunya.
Kia tidak tahu ketika Qiyas berjalan mendekatinya karena dia sedang menunduk untuk melepaskan peniti dan jarum yang ada dibelakang kepalanya. Ketika Kia merasa ada yang menyentuh tangannya dia mendongak dan melihat Qiyas dari kaca sedang berada dibelakangnya sambil membantu melepaskan peniti yang ada dihijab belakangnya.
Ketika Qiyas sudah selesai melepaskan semua peniti serta jarum dan aksessoris yang menempel dihijab Kia istrinya (cie istriπ), Qiyas memberi kode kepada Kia lewat mata dengan perantara cermin yang ada didepannya. Dan Kia menjawab dengan anggukan.
Qiyas dengan perlahan-lahan membuka hijab serta ciput yang dipakai Kia, dan terlihatlah rambut hitam panjang Kia yang panjangnya sepinggang. Qiyas tanpa sadar mengelus rambut Kia yang panjang itu.
Walaupun Kia berhijab syar'i dia tetap merawat rambutnya dengan baik, jadi ketika Qiyas melihat rambut Kia yang sehat, hitam, dan lembut seakan terbuai.
"Rambutmu sangat indah istriku", bisik Qiyas kepada Kia sambil mengelus rambut Kia.
Kia lalu berdiri dan membalikkan badannya, akan tetapi Kia langsung menutup mata dengan kedua telapak tangannya karena melihat handuk yang melilit pinggang Qiyas.
"Kak Fasya kenapa tidak memakai sarung atau celananya sih, kenapa harus pakai handuk begitu", kata Kia sambil menutupi mukanya.
Qiyas yang tadi lupa gara-gara terpesona dengan rambut Kia, kini dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu kepada Kia.
"Aku kerjai saja deh sudah terlanjur malu juga", kata bathin Qiyas.
Qiyas lalu sengaja menarik telapak tangan Kia yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Kenapa harus malu sih, kan sudah sah tadi", kata Qiyas setengah berbisik kepada Kia.
"Kia masih malu Kak", kata Kia langsung menyembunyikan wajahnya didada Qiyas.
Author: aku mau juga dong kayak Kiaπ²π³
Readers: ingat thor suami dirumahπ
Auhtor: harusnya jangan diingatkan biar kelanjut saja khilafkuπππ
Readers: ππππππ sak karepmu waelahπͺ
Author: πππ πππ
Skip****
Kembali ke Qiyas dan Kia yang lagi uwu-uwuan yukππ
Qiyas tersenyum melihat Kia yang menyembunyikan wajahnya didadanya. Lalu Qiyas dengan sengaja langsung saja melingkarkan tangannya kebadan Kia.
"Maafkan Kakak, bukan maksud Kakak ingin menggodamu, Kakak tadi lupa membawa celana atau sarung kekamar mandi, malah yang kebawa cuman koko ini saja", kata Qiyas sambil memeluk Kia.
"Ya sudah kamu mandi bersih-bersih habis itu kita sholat dhuhur berjamaah dan sholat sunnah yah sayang, Kakak tunggu", kata Qiyas dengan mesra kepada Kia.
Kia mengangguk dan langsung melepaskan pelukannya. Setelah itu Kia langsung berjalan menuju kamar mandi dengan terburu-buru karena saking malunya sama Qiyas.
Baru beberapa menit Kia didalam kamar mandi, Kia keluar lagi dan memanggil Qiyas.
Qiyas yang saat itu sedang bercermin dan sambil membetulkan sarung serta pecisnya dia lalu menengok kebelakang karena panggilan Kia. Dan Qiyas melihat Kia ternyata masih memakai baju pengantin tadi.
"Ada apa sayang, kenapa kamu masih memakai baju itu?? ", kata Qiyas dengan mesra sambil berjalan kearah Kia.
Kia rasanya malu ingin ngomong sama Qiyas, akan tetapi jika dia tidak ngomong dia tidak segera bersih-bersih.
Qiyas yang melihat Kia malah diam dan menunduk pun, langsung mendongakkan wajah Kia dengan jarinya.
"Ada apa sayang, kenapa menunduk terus, dan kenapa tidak menjawab pertanyaan Kakak tadi hemm??", kata Qiyas sambil mendongakkan wajah Kia dengan jarinya.
"Emmm anu Kak, Ki.... Kia ingin min.... minta tolong kepada Kakak", kata Kia sedikit tergagap.
"Minta tolong apa sayang, kenapa jadi grogi begini sih", kata Qiyas dengan lembut kepada Kia.
"To.... Tolong bukain zipper baju Kia Kak yang ada dibelakang tangan Ki.... Kia tidak sampai", kata Kia sambil menunduk.
Sedangkan Qiyas yang mendengar langsung saja kaget akan permintaan tolong Kia.
"Godaan ini sungguh lebih menyiksa sebelum aku menikahinya", bathin Qiyas sambil melotot kepada Kia gara-gara mendengar perkataan Kia.
Heeeeeeemm huuuuuuuuh
Qiyas menarik nafas dan mengehembuskan nafasnya secara perlahan untuk meredakan godaan yang datang dihadapannya. Karena belum waktunya. Sebab diluar masih ada tamu dan ini juga masih siang.
"Sini Kakak bantuin", kata Qiyas akhirnya setelah bisa meredakan rasa terkejutnya.
Kia lalu membalikkan badannya dan menyingkap rambutnya kedepan badannya, supaya Qiyas dengan mudah membukakan zipper bajunya.
Qiyas yang setiap gerakan tangannya membuka zipper Kia dia selalu membisikkan kata-kata dihatinya agar bisa dicerna diotaknya, supaya dia tidak meminta Haknya saat itu juga.
"Sabar-sabar, tahan", bisik Qiyas untuk dirinya sendiri.
Qiyas tanpa sadar menelan ludahnya karena melihat punggung Kia yang terekspos didepannya, dan ketika zipper terbuka sudah sampai pinggang Kia, Qiyas lalu mengalihkan pandangannya. Karena zipper baju Kia didesain sangat panjang sampai kepinggang.
Qiyas tanpa sadar mengelus punggung Kia dengan punggung tangannya. Dan itu mengagetkan Kia. Kia lalu berbalik menghadap Qiyas sambil memegangi bajunya agar tidak terlepas. Sedangkan Qiyas langsung tersadar dan tersenyum kepada Kia untuk menutupi rasa yang sekarang dia rasakan, rasa deg-degan, rasa ingin lebih dari cuman mengelus, rasa ingin lebih dari yang tadi dan rasa-rasa yang lainπ.
"Te..... Terimakasih Kak, Kia bersih-bersih dulu", kata Kia dan dia langsung berbalik masuk kamar mandi.
Sedangkan Qiyas yang melihat Kia berjalan menuju kamar mandi dengan punggung yang terlihat hingga pinggang membuat fikirannya berkelana kemana-mana. Lalu Qiyas langsung menggelengkan kepalanya untuk menghalau fikirannya.
"Masih siang fikiranku sudah tidak waras melihat punggung Kia, apalagi nanti malam", kata Qiyas dengan dirinya sendiri.
Qiyas yang menunggu Kia selesai bersih-bersih badannya, dia berkeliling dikamar Kia untuk melihat-lihat.
Pandangan Qiyas lalu teralihkan dengan satu foto yang ada dikamar Kia. Didalam foto itu Kia tidak memakai niqab dan sedang tersenyum manis dikamera. Sangat cantik dan manis sekali, apalagi terlihat lesung pipi Kia yang menambah kesan imut diwajah Kia.
Qiyas juga melihat ada banyak foto Kia bersama kakaknya Afrin. Membuat Qiyas menghentikan langkahnya dan menjadi teringat dengan Afrin.
Qiyas lalu berjalan lagi mengelilingi kamar Kia. Tiba-tiba mata Qiyas entah kenapa selalu tertuju dimeja Kia. Yang diatasnya ada satu buku yang sangat berbeda covernya dan daritadi mata Qiyas selalu tertuju kesitu.
Qiyas lalu mendekati buku itu yang ada dimeja, setelah mendekat Qiyas lalu mengambil buku itu, dan didepan cover terdapat tulisan.
My secret life in diari
"Mungkin ini buku diarinya Balqis", gumam Qiyas.
"Ternyata dia masih suka menulis diari", gumam Qiyas lagi dan sambil membolak balikkan buku diari Kia.
Kegiatan Qiyas teralihkan dengan suara pintu terbuka, Qiyas lalu menaruh kembali buku itu keatas meja, ketika Qiyas membalikkan badannya ternyata Kia yang baru keluar dari kamar mandi.
Qiyas langsung melototkan matanya melihat Kia yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit dibadannya bukan bathrob dan didepan pintu kamar mandi Kia sedang mengeringkan rambut serta melilitkan handuk dirambutnya yang basah.
Kia yang belum menyadari jika Qiyas daritadi melotot melihat kearahnya, akhirnya Qiyas berdeham untuk menyadarkan Kia jika dia tidak sendiri didalam kamarnya.
Eheeemm
Kia yang mendengar suara orang berdeham lalu dia mendongakkan kepalanya karena dia tadi sedang menunduk untuk melilitkan handuk dirambutnya.
Ketika Kia mendongak betapa kagetnya dia saat melihat Qiyas yang sedang melihat kearahnya. Kia lupa jika didalam kamarnya ada Qiyas, dan kebiasan Kia jika baru selesai mandi dia hanya keluar menggunakan bathrob atau handuk yang melilit ditubuhnya dan kali ini Kia memilih handuk yang dia pakai.
Kia langsung saja memegang handuk yang melilit ditubuhnya karena reflek dan takut melorot.
"Ma..... Maaf Kak, Ki...... Kia lupa jika ada Kak Fasya juga di.... didalam kamar Kia", kata Kia sambil menunduk dan memegangi handuknya.
Qiyas reflek berjalan mendekati Kia, dan itu membuat Kia semakin malu dan grogi.
"Apakah ini kebiasaanmu jika baru selesai mandi", kata Qiyas dengan suara bass yang tertahan, karena menahan sesuatu.
Kia hanya mengangguk menanggapi perkataan Qiyas.
Qiyas semakin medekati Kia ketika sudah sampai didepan Kia, Qiyas mengusap lengan mulus Kia.
"Jika ku memintanya sekarang apa kamu mau memberikannya?? ", tanya Qiyas sambil menciumin leher Kia.
Kia yang terbuai langsung saja mengangguk menanggapi Qiyas. Qiyas langsung saja menghentikan aksinya dan tersenyum dengan Kia.
"Kita sholat dhuhur dan sholat sunnah dulu yuk", kata Qiyas dengan tersenyum.
Kia mengangguk dan langsung berlalu untuk mengambil pakaiannya. Sedangkan Qiyas dia langsung mengambil wudhu untuk menunaikan sholat dhuhur.
Diluar kamar Kia Mila yang sedang heboh dia merengek kepada Zidan untuk berpamitan kepada Kia.
"Sudah jangan ganggu Nona Kia, dia sedang capek, besok lagi saja kita kesini sayang, Nona Kia sedang bikin cetakan sama boss Qiyas?? ", kata Zidan ngasal memberi alasan kepada Mila.
"Memang Kak Kia dan Kak bule mau bikin cetakan apa Kak?? ", tanya Mila yang ingin tahu.
"Mangkanya lain kali kita kesini lagi yah, sekalian tanya mereka bikin cetakan apa?? ", kata Zidan kepada Mila.
"Baiklah kalau begitu", kata Mila akhirnya dengan sedikit cemberut.
Ayah Ibrahim dan Mamah Dian yang mendengar percakapan Zidan dan Mila mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, karena tidak kaget dengan sikap Mila.
Akhirnya Zidan dan Mila pulang hanya berpamitan dengan Ayah Ibrahim dan Mamah Dian tanpa berpamitan dengan Kia dan Qiyas.
Sedangkan Bunda Lili, Papah Ziyas dan Aulian yang juga masih berada disitu mereka sedang mengobrol seru.
"Alhamdulillah akhirnya kita berbesanan juga ya Pak Ibrahim", kata Papah Ziyas sambil tersenyum kepada Ayah Ibrahim.
"Iya Pak, sungguh saya sangat senang Kia akhirnya bisa menjadi istri Iyas", kata Ayah Ibrahim sambil tersenyum juga.
Sedangkan Mamah Dian dan Bunda Lili mereka yang paling heboh.
"Ngomong-ngomong itu Qiyas didalam kamar Kia lama banget ngapain saja ya", kata Bunda Lili sambil cekikikan kepada Mamah Dian.
"Biarin saja lah mbak, lagian kita juga yang senang jika mereka cepat punya anak", kata Mamah Dian sambil tertawa bahagia.
"Iya juga ya jeng, mungkin Iyasnya juga sudah tidak tahan", kata Bunda Lili dengan tertawa.
"Bund Aul mau nikah juga dong", kata Aulian tiba-tiba kepada Bundanya. Dan membuat semua orang yang tadi tertawa langsung diam mendengar perkataannya Aulian.
Bunda Lili langsung menengok kearah Aulian yang ada disebelahnya.
"Kamu mau nikah sama siapa Aul?? ", tanya Bund Lili.
"Sama perempuanlah Bund, masak sama lekong", jawab Aulian yang langsung mendapat jeweran dari Bunda Lili.
"Maksudnya itu sama perempuan yang mana?? ", tanya Bunda Lili lagi.
"Ya tidak tahu", jawab Aulian sambil mengusap kupingnya yang dijewer.
Bunda Lili langsung menjitak kepala Aulian dan membuat Aulian langsung mengaduh kesakitan.
"Dasar anak tidak ada akhlak", kata Bunda Lili.
Mereka akhirnya tertawa semua mendengar celetukannya Bunda Lili. Semua keluarga merasa bahagia dan gembira akhirnya Qiyas dan Kia bisa menikah juga.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Dan ngomong-ngomong Qiyas dan Kia ngapain saja ya didalam kamar. Mau tahu readers mereka ngapain saja, komen yuk pinginnya mereka ngapain berduaan didalam kamarπ π π πππ
ππππππππππππ
***TBC***