
Ketika setelah selesai mandi sore, Qiyas yang lagi termenung dibalkon kamarnya mendengar pintu kamarnya diketuk.
Tok, Tok, Tok
Qiyas langsung saja berjalan menuju pintu dan membukanya, ternyata yang mengetuk pintu adalah bundanya.
"Boleh Bunda masuk Nak", kata Bunda Lili.
"Silahkan Bunda", kata Qiyas mempersilahkan masuk Bundanya dan juga menutup pintu kamarnya.
Perasaan bathin seorang Ibu tidak akan pernah salah, karena ketika pulang Bunda Lili melihat dimata Qiyas ada kesedihan.
"Sini duduk sama Bunda", kata Bunda Lili mengajak Qiyas duduk diranjang.
"Adakah yang ingin kamu ceritakan kepada Bunda Nak?? ", tanya Bunda Lili menghadap keQiyas.
Qiyas tidak malu-malu langsung tiduran beralaskan paha sang Bunda.
"Apa yang membuatmu betah diDubai, jika tebakan Bunda tidak salah, kamu lama diDubai bukan karena betah disana, tapi karena hatimu yang sedang patah, Bunda bukan menebak, Bunda hanya bisa ikut merasakan kesedihanmu Nak, karena setelah pulang dari liburan dulu, matamu memancarkan kesedihan yang mendalam, ingin rasanya waktu itu Bunda langsung bertanya padamu, tetapi waktunya kurang tepat, dan ini walaupun sudah satu tahun diDubai kenapa matamu masih memancarkan kesedihan yang sama seperti dulu Nak, ada apa?? ", kata Bunda Lili dengan suara lembut dan sambil mengusap kepala Qiyas dengan sayang.
"Bunda dulu Iyas sering bilang ingin menikah nanti saja setelah umur 30 tahun, itu dikarenakan Iyas belum bisa melupakan Salsabila Bund, akan tetapi ketika waktu Iyas liburan diPesantren kemarin, ada seorang gadis berhijab serta berniqob yang bisa membuka dan menggetarkan hati Iyas Bund, sama seperti yang dulu Iyas rasakan ketika pertama kali jatuh cinta pada Bila. Selama satu bulan disana, Iyas hanya berani mengagumi dalam diam Bund, Iyas juga sudah sering menyebut namanya disepertiga malam, akan tetapi langkah Iyas kalah cepat dengan Ustadz yang terkenal sholeh diPesantren itu, gadis berniqob itu menerima khitbahannya Ustadz itu, dan akan melangsungkan pernikahannya dua minggu setelahnya Bund, pas barengan Iyas akan berangkat keDubai", curhat Qiyas kepada Bundanya.
"Bolehkah bunda tahu siapa nama gadis berniqob itu nak", kata Bunda Lili.
"Iyas manggil dia dengan panggilan Balqis Bund", kata Qiyas.
"Apakah selama kamu diDubai masih mencari tahu informasi dia, sampai muka sedihmu masih kelihatan begini, padahal sudah kelewat satu tahun, pasti gadis itu sudah mempunyai keluarga sendiri dan anak-anak yang lucu", tanya Bunda Lili.
"Tidak pernah Bund, bahkan diDubai Iyas sudah berusaha melupakan dan menyibukan diri, supaya bisa melupakannya, akan tetapi seperti sia-sia saja, bahkan rasa cinta Iyas belum berkurang sama sekali, masih utuh Bund", jawab Qiyas.
"Pasrahkan semua kepada Allah Nak, kalau pun Balqis bukan jodohmu, pasti Allah sudah mempersiapkan jodoh yang lebih baik bagimu, jangan memikirkan yang akan membuatmu terpuruk, jalanilah seperti air mengalir, ikuti saja arusnya, jika ada hambatan jangan terlalu difikirkan, melangkahlah dengan gagah dan tegar, lebih baik memikirkan solusinya daripada meratapinya anakku, Balqis bukan jodohmu bukan berarti kamu harus terpuruk begini Nak, Allah menciptakan Hati dan Fikiran kita untuk saling bekerja sama jika dalam keadaan sepertimu, berfikirlah yang positif biar hatimu juga ikut bahagia dan tenang Nak", nasihat Bunda Lili masih dengan mengelus rambut Qiyas.
Qiyas yang merasa plong sudah bisa bercerita tentang kegundahannya yang selama ini dia pendam sendiri serta menerima masukan nasihat dari Bundanya, membuat dia serasa sedikit segar, dan Qiyas langsung saja memeluk Bunda tersayangnya.
"Oh iya, Bunda mau menceritakan sesuatu padamu Yas", kata Bunda Lili sambil melepaskan pelukannya Qiyas.
"Apa itu Bund?? ", kata Qiyas.
"Kamu masih ingat jika dulu Afrin pernah bercerita jika dia masih mempunyai adik perempuan yang sering dipanggil Nabil", kata Bunda Lili.
"Sangat ingat Bund, dan Iyas masih mempunyai hutang janji kepada Bila Bund", kata Qiyas.
"Emang kamu mempunyai hutang janji apa Nak kepada Afrin?? ", kata Bunda penasaran.
Akhirnya Qiyas menceritakan kepada Bundanya seperti apa yang Afrin bilang kepadanya.
"Apakah kamu sudah pernah bertemu dan mencari adiknya Afrin Iyas", tanya Bunda Lili.
"Belum Bund, karena waktu itu Iyas belum sanggup dan sekarang setelah pulang kesini Iyas mau menepati janji Iyas untuk menjaga adiknya Bila Bund", kata Qiyas dengan menunduk.
"Itu masalahnya Nak, mereka sudah pindah dari rumah yang dulu mereka tempatin, dan Bunda sama Papah, tidak mengetahui mereka pindah kemana", kata Bunda Lili dengan sedih.
"Kenapa mereka pindah Bund?? ", kata Qiyas dengan nada terkejut.
Bunda Lili menceritakan jika anak kedua dari Pak Ibrahim tidak jadi menikah karena calon suami anaknya meninggal karena kecelakaan waktu pulang dari Fitting baju pengantin.
Iyas langsung saja merasa kasihan sekali dan merasa berdosa dengan Almarhumah Bila karena lalai belum menepati janjinya. Anaknya Pak Ibrahim yang kedua berarti adiknya Bila yang dia cari.
"Iyas janji akan mencari mereka Bund, Iyas ingin menepati janji Iyas kepada Bila, apalagi mereka sedang dalam keadaan bersedih seperti itu", kata Qiyas penuh semangat kepada Bundanya.
"Pasti itu sayang, do'a Bunda selalu menyertaimu, siapa tahu dia jodohmu atau jodoh adikmu Aulian", kata Bunda menyemangati dan menggoda.
"Bunda ini ada-ada saja", kata Qiyas sambil geleng-geleng kepala.
Setelah Bundanya keluar Qiyas membulatkan tekat dan niatnya untuk mencari keluarga mantan mertuanya alias Pak Ibrahim. Bagaimanapun juga janji adalah hutang, sudah cukup waktu empat tahun yang terbuang dengan sia-sia. Ucap bathin Qiyas penuh tekat.
★★★★★★★★★★★★★★★★★
Karena semenjak kejadian itu Kia tidak lagi mengajar diPesantren, dan memilih membantu Ayahnya dikantor. Fikir Kia jika dia punya suasana baru, dia akan lebih mudah melupakan yang lalu.
"Kakak boleh ya, besuk Mila ikut Kakak kekantor", kata Mila sambil memasang wajah melas.
"Emang besuk kamu apa tidak kuliah", kata Kia.
"Tidak Kak, Mila cuman punya satu mata kuliah, dan itu pun Dosennya besuk tidak masuk, ini ada pemberitahuan dari group chat", kata Mila lagi.
"Baiklah, tapi awas saja kalau kamu ketahuan bohong sama Kakak, akan Kakak kurangin itu uang jajan kamu", kata Kia pura-pura mengancam.
"Siap kapten", kata Mila dengan semangat dan tangan seperti sedang hormat.
Kia hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan Mila.
Keesokan harinya seperti yang semalam Mila bilang, Mila ikut Kia kekantor. Banyak pasang mata yang melihat CEO mereka bersama gadis muda yang berhijab syar'i sangat cantik tanpa polesan make up, fikir para laki-laki yanh melihat Mila. Sedangkan Mila dia malah asik terpesona melihat bangunan Perusahaan Pamannya Ibrahim.
Setelah sampai diruangan Kia yang bertuliskan Ruangan CEO. Kia langsung saja duduk disinggah sananya, sedangkan Mila tidak henti-hentinya mengagumi ruangan Kantor Kia.
"Waaah Kakak, ternyata Perusahaan Paman Ibrahim bagus dan besar, apalagi ini ruangan Kakak, sangat nyaman dan indah, bolehkah jika Mila sudah lulus kuliah kerja disini", tanya Mila dengan semangat.
"Boleh, tapi kamu harus ijin dulu kepada Papah, Mamahmu, Oke", Kata Kia.
"Oke, siap Kakak", kata Mila.
Tok, Tok, Tok
Suara pintu diketuk dari luar, dan ternyata yang mengetuk adalah Zahra sekertarisnya. Walaupun Kia berniqob para karyawan sangat menghormatinya dan segan kepadanya.
"Masuk", kata Kia.
Setelah masuk Zahra langsung membacakan jadwal Kia. Dan mengingatkan jika sepuluh menit lagi meeting akan segera dimulai.
"Baiklah, terimakasih Zahra, kamu boleh kembali lagi bekerja", kata Kia.
Setelah Zahra keluar Kia mengalihkan pandangannya kepada Mila yang sibuk memakan camilan yang dia ambil dikulkas yang ada diruangan Kia.
"Mila Kakak ingin meeting dulu, kamu jika jenuh diruangan ini, kalau mau lihat-lihat disini juga boleh, tapi hati-hati jangan sembarangan bicara sama orang yang tidak dikenal", kata Kia kepada Mila.
"Kalau gitu Mila boleh keCafe sebrang tidak Kak", kata Mila ijin.
"Boleh, tapi tetap hati-hati, jangan sembarangan bicara sama orang asing dan ini", kata Kia sambil memberikan uang kepada Mila.
"Tidak usah Kak, uang Mila masih ko", kata Mila.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita keluar sama-sama", kata Kia.
"Ayok Kak", jawab Mila dengan ceria.
Skip......
Aduuuuuh
Saat Mila ingin masuk keCafe dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria berjaz yang sangat rapi, pria itu mau akan keluar Cafe. Disaat Mila mendongakkan kepalanya betapa terkejutnya mereka. Hingga reflek mereka bicara secara bersamaan.
"Kamu,
"Kakak baik... ", kata mereka berdua secara bersamaan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Siapakah yang bertabrakan dengan Mila, penasarankan.... 😁😂
***TBC***