BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
CHAPTER 76



Qiyas yang sudah sampai ditempat duduknya Kia dan Mamah Dian, dia lalu memeluk Kia sambil mencium kening Kia untuk memberikan ketenangan.


"Maafin Kakak, mau pulang sekarang??", tanya Qiyas kepada Kia.


Dan Kia mengangguk kepada Qiyas.


"Mah tolong sampaiin kesemuanya kami akan pulang dulu ya Mah", kata Qiyas kepada Mamah Dian yang ada didepannya.


"Pulanglah nak, bawa Kia pulang, dan tenangkan dia, Mamah akan sampaiin kesemuanya, tenang saja, dan hati-hati dijalan ya", kata Mamah Dian kepada Qiyas.


Qiyas lalu berdiri sambil merangkul pundak Kia dan menuntunnya untuk pulang. Ayah Ibrahim yang melihat Qiyas dan Kia keluar dari Ballroom hotel dia berfikir jika Qiyas dan Kia akan pulang dan Ayah Ibrahim membiarkan saja mereka. Sedangkan para tamu undangan yang melihat Qiyas dan Kia keluar mereka hanya memandangnya saja.


"Maafin Kakak ya, kita akan pulang sekarang", kata Qiyas kepada Kia ketika sudah sampai didalam mobil. Dan Kia juga hanya mengangguk dan diam saja.


Akhirnya mobil yang dikendarain Qiyas melaju menuju rumahnya Ayah Ibrahim. Didalam mobil Qiyas dan Kia mereka saling diam tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Qiyas sengaja menyetir sendiri dan tidak membawa seorang sopir.


Akhirnya ketika sudah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit, mobil yang ditumpangi Qiyas dan Kia sudah sampai dirumahnya Ayah Ibrahim. Karena jarak antara Rumah Ayah Ibrahim dan hotel yang diadakan resepsinya Mila serta Zidan sedikit lumayan jauh.


"Maafin Kakak ya, jangan takut atau marah sama Kakak, Kakak begitu karena Kakak tidak terima jika kamu dijelekin atau dihina dan direndahin orang lain sayang", kata Qiyas sambil memegang tangannya Kia.


Saat ini mereka sudah masuk didalam kamarnya Kia, dan mereka berdua sedang duduk dipinggir ranjang sambil membicarakan kejadian tadi diresepsinya Mila dan Zidan.


"Kia tidak marah ko Kak, justru Kia sangat terharu melihat cinta Kakak yang begitu besar kepada Kia, sungguh Kia sangat beruntung mempunyai suami seperti Kakak", kata Kia sambil mengusap pipi Qiyas dan Kia juga tersenyum manis kepada Qiyas. Karena Kia sudah melepaskan niqobnya.


Qiyas lalu menangkap tangan Kia yang tadi lagi mengusap pipinya. Lalu Qiyas menciumnya.


"Terimakasih ya sayang, sungguh hati Kakak tadi sangat sakit ketika melihatmu dan mendengar kamu dihina Rida dan Lina", kata Qiyas mencium tangan Kia sambil menariknya untuk dia peluk.


"My lovely my husband", kata Kia ketika pelukannya terlepas sambil menangkup kedua pipi Qiyas dan tersenyum sangat manis kepada Qiyas.


Lalu Kia tiba-tiba mencium Qiyas tepat dibibirnya dan itu sungguh mengagetkan Qiyas. Kia tersenyum sangat manis ketika sudah mencium bibir Qiyas, seakan mengatakan kepada Qiyas jika dirinya tidak apa-apa dan sangat bersyukur mempunyai suami seperti Qiyas.


Qiyas yang melihat senyum Kia, dia rasanya hatinya sangat senang dan tenang sekali, dan Qiyas juga membalas senyum manis Kia kepadanya lalu memeluknya dan mereka berpelukan lumayan lama, serasa malas akan melepaskannya.


Qiyas lalu yang melepaskan pelukannya terlebih dulu, dan Qiyas langsung saja mencium Kia tepat dibibirnya. Kia pun juga membalas ciumannya Qiyas, mereka berciuman dengan sangat lembut penuh dengan perasaan, Qiyas dan Kia berciuman bukan karena hasrat, tapi karena rasa cinta mereka masing-masing yang mereka salurkan melalui ciuman itu.


"Terimakasih sayang, sudah mau menjadi Istriku, kita menuju Jannah-NYA sama-sama ya, ingatkan Kakak jika Kakak sudah salah dan keterlaluan", kata Qiyas setelah melepaskan ciumannya, dan dia berbicara sambil menempelkan dahinya kedahi Kia.


"Seharusnya yang berterimakasih adalah Kia Kak, karena Kakak mau memilih Kia yang penuh dengan kekurangan ini untuk menjadi istrinya Kakak", jawab Kia kepada Qiyas juga dan masih saling menempelkan dahi mereka.


Lalu Qiyas memeluk Kia lagi, dan dibalas juga oleh Kia.


"Masih jam setengah lima, ayo sayang kita bersih-bersih setelah itu kita sholat ashar berjamaah, takut keburu habis waktunya", ajak Qiyas kepada Kia.


"Baik ayo", kata Kia dengan tersenyum.


Kia lalu melepaskan hijabnya, dan setelah itu dia masuk kekamar mandi. Akan tetapi sebelum pintu kamar mandi tertutup masuklah Qiyas.


"Kakak mau ngapain??, Kia mau mandi Kak", kata Kia kepada Qiyas.


"Kita mandi bareng yah", kata Qiyas dengan tertawa.


Akhirnya mereka mandi bareng dan benar-benar hanya mandi. Mungkin jika waktunya tidak mepet Qiyas juga akan menyerang Kia lagi. Setelah selesai mereka menunaikan sholat ashar berjamaah.


🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊


Kembali kepestanya Mila dan Zidan.


Saat ini tepat jam lima sore pesta resepsi telah usai diselenggarakan, hanya tersisa beberapa tamu undangan saja yang belum pulang, termasuk sanak saudara yang mereka sengaja belum pulang karena ingin bantu-bantu dulu.


Zidan dan Mila mereka sudah naik dan masuk kekamar mereka untuk bersih-bersih badan dan berganti pakaian yang nyaman.


"Sweety nanti kita bermalam disini dulu ya, pulangnya besok saja yah", kata Zidan kepada Mila.


"Tadi ngomong-ngomong teman-teman kuliahmu yang kamu undang berapa orang sweety?? ", tanya Zidan kepada Mila.


"Sekitar seratusan deh lupa juga, kalau ditotal sama teman SD, teman SMP, temen SMA sama teman rumah semuanya total sekitar lima ratusan kayakknya hubby?? ", jawab Mila sambil mengingat-ingat.


"Banyak juga yah teman kamu sweety", kata Zidan sambil memeluk Mila dari belakang yang sedang duduk didepan cermin sambil menyisir rambutnya, akan tetapi Mila tidak menyadari jika tangan Zidan sudah berada ditempat favoritnya Zidan yaitu squishynya Mila, karena Mila sibuk mengingat-ingat jumlah teman-temannya.


"Banyak, kan mereka hidup tanpa Mila terasa hampa, jika Mila tidak berangkat mereka pada nanyain Mila semua Kak", jawab Mila dengan pedenya dan masih tidak sadar dengan apa yang dilakukan Zidan kepadanya.


"Hmmmm", jawab Zidan yang sudah tidak fokus dengan apa yang dikatakan Mila kepadanya.


Mila langsung melihat kearah Zidan yang hanya menjawab deheman saja, dan ketika Mila melihat Zidan dia sedang menyandarkan dagunya dipundaknya. Mila melihat Zidan sedang memejamkan mata seperti sedang menghayati sesuatu, tiba-tiba Mila merasakan sesuatu disquishynya.


"Plak, iiihh Hubby", Mila memukul kecil tangan Zidan dan Zidan tersadar dari kegiatannya.


"Hehehehe",..........


Zidan lalu memegang tangan Mila untuk diarahkan ke *********** Zidan.


"Ya sweety ya?? ", rengek Zidan kepada Mila.


"Tapi ini mau maghrib Hubby?? ", jawab Mila.


"Satu ronde saja sweety, sudah tidak tahan", jawab Zidan.


"Iyaaaaaaaaa", kata Mila pasrah.


Zidan dan Mila mereka sudah melaksanakan sholat Ashar, dan sholat dhuhur tadi pun mereka juga melaksanan, Mila tidak takut rusak riasannya, karena sehabis sholat Dhuhur dia ganti baju pengantin yang lain dan memakai makeup lagi.


Akhirnya sambil menunggu waktu maghrib tiba Mila dan Zidan melakukan kegiatan sesuatu yang tadi Zidan minta kepada Mila.


Dibawah tepatnya diBallroom hotel Ayah Ibrahim dan Mamah Dian yang lagi ikut bantu-bantu mereka didatangi Papah Angga dan Mamah Sabrina.


"Mas disini sudah ada banyak orang, jika Mas mau pulang dulu tidak apa-apa Mas, siapa tahu Kia dan Qiyas membutuhkan bantuan kalian dirumah", kata Papah Angga kepada Ayah Ibrahim dan disampingnya ada Mamah Dian.


"Tapi kami tidak enak Angga, disini masih banyak yang belum selesai?? ", jawab Ayah Ibrahim.


"Sudah tidak apa-apa Mas, kalau cuman masalah begini mah kecil, Papah Angga masih sanggup ko beresin sendiri", kata Mamah Sabrina membuat Papah Angga menggelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, sebenarnya aku juga daritadi kefikiran Kia terus", jawab Mamah Dian.


"Ya sudah mbak tidak apa-apa beneran, masih banyak orang disini, disini juga ada petugas WO dan catering ko", kata Papah Angga.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya Angga dan Brina, sampaikan salam kita untuk Zidan dan Mila, Assalamu'alaikum", pamit Ayah Ibrahim.


"Wa'alaikumussalam Mas, Mbak, hati-hati dijalan, dan terimakasih banyak ya", jawab Papah Angga dan Mamah Sabrin secara bersamaan.


Ayah Ibrahim dan Mamah Dian akhirnya mereka pulang kerumahnya. Sedangkan dirumah Kia dan Qiyas sedang bersantai diruang keluarga sambil menonton tv dan menunggu adzan maghrib.


Tepat adzan maghrib berkumandang Ayah Ibrahim dan Mamah Dian mereka sampai dirumah. Dan ketika masuk rumah Ayah Ibrahim serta Mamah Dian tidak melihat Qiyas dan Kia, fikir Ayah Ibrahim dan Mamah Dian, Qiyas dan Kia mereka pasti sedang sholat maghrib dikamar.


Ketika dijam waktu makan malam, semua orang sudah berkumpul dimeja makan. Dan diselingi pembicaraan yang biasa agar suasananya tidak terlalu hening.


"Nak Iyas dan Kia nanti Ayah sama Mamah mau berbicara sama kalian berdua ya setelah makan, diruang keluarga", kata Ayah Ibrahim.


"Baik Ayah", jawab Qiyas dan Kia secara bersamaan.


Dan setelah itu mereka makan dengan hening lagi karena Qiyas dan Kia mereka sedang tertuju pada fikiran masing-masing.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***