BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KIA MENANGIS



Sebelum Qiyas menyapa Zidan, Qiyas yang baru saja keluar dari ruangan VIP akan menuju meja yang dipesan Zidan. Karena daripada dia pusing mencari, akhirnya Qiyas bertanya kepada resepsionis dan minta diantar kemeja Zidan.


Ketika Qiyas berjalan dan hampir mendekati meja Zidan, sekitar jarak lima meter dari meja Zidan, Qiyas tiba-tiba menghentikan langkahnya dan itu membuat waiter yang mengikutinya tadi menjadi ikut berhenti.


"Terimakasih, kamu boleh kembali bekerja, itu teman saya sudah kelihatan", kata Qiyas ramah kepada waiter tadi yang mengantarkannya.


"Permisi Tuan", kata waiter sambil membungkukkan badannya dan berlalu pergi.


Sebenarnya Qiyas menghentikan langkahnya bukan karena dia sudah melihat Zidan, akan tetapi karena dua gadis yang duduk dihadapan Zidan. Yang satu pasti Mila dan yang satu lagi pasti Balqis, begitulah tebakannya Qiyas. Karena dari postur tubuh menunjukkan kalau itu Kia.


Qiyas yang menebak jika perempuan itu Kia, tiba-tiba jantungnya berdetak menjadi lebih kencang.


"Mungkin ini saatnya, Bissmilla**h", ucap Qiyas pelan sambil menyemangati diri sendiri yang grogi.


Setelah berucap begitu, Qiyas langsung saja melanjutkan jalannya menuju meja Zidan. Setelah sampai kurang lebih satu meter dari meja Zidan Qiyas mengeluarkan suaranya.


"Bolehkah saya bergabung dengan kalian?? ", kata Qiyas dengan tersenyum manis.


Suara Qiyas sontak mengagetkan Mila dan Kia. Mila dan Kia yang duduk membelakangi pintu sontak saja langsung menengok kebelakang dan alangkah terkejutnya Mila dan Kia ketika tahu suara siapa tadi yang menyapa mereka.


Zidan memang sengaja memesan meja yang kursinya empat, karena Zidan menebak pasti Mila akan mengajak Kia, mangkanya Zidan tadi berani mengajak Qiyas, karena niat Zidan jika Mila beneran mengajak Kia, Qiyas bisa bertemu, mengobrol atau mungkin bisa lebih dekat.


"Kakak bule, ko bisa ada disini, ngikutin Kak Kia ya?? ", cecar Mila ke Qiyas.


"Kamu sudah kenal dengan Tuan Qiyas Mila?? ", tanya Zidan keMila.


"Sudah, ketika kemarin dipesantren bahkan Kakak bule yang mengantar Mila dan Kak Kia pulang Kak Tamtam", jawab Mila keZidan.


"Kamu manggil Tuan Qiyas siapa Mila?, Kak bule?? ", tanya Zidan ke Mila.


Mila hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Karena muka Kak Qiyas kayak bule,...


Sudah tidak usah tanya lagi sudah Mila jawab Kak, pertanyaan yang ada diotak Kakak", kata Mila ke Zidan.


Eheemmm


"Jadi boleh tidak nih saya bergabung disini", tanya Qiyas lagi yang masih berdiri.


"Bo.......... Ucapan Zidan terpotong oleh Mila


"Boleh-boleh banget, silahkan duduk Kak", kata Mila dengan cepat dan mempersilahkan Qiyas duduk.


Sedangkan Kia yang daritadi menunduk, tiba-tiba mendongakkan wajahnya ketika mendengar kursi didepannya berbunyi karena tarikan dan dorongan ketika akan diduduki. Mata Qiyas dan mata Kia saling berpandangan ketika Qiyas sudah duduk dikursi yang ada pas diseberang Kia. Sontak Kia langsung menundukkan kembali wajahnya.


"Kenapa belum memesan makanan", kata Qiyas kepada semua.


"Ya sudah biar saya panggilkan waiterss", kata Qiyas lagi.


Waiterss


Ketika waiterss tiba mereka memesan berbagai hidangan, minuman, salad buah dan serta dessert sebagai penutupnya.


Ketika sambil menunggu hidangan mereka tersaji. Mereka menunggu sambil berbincang satu sama lain. Apalagi Mila yang bikin suasana menjadi mencair.


"Kakak dan Kak Qiyas kenapa daritadi diam saja sih, ngobrol apa gitu kan tidak enak daritadi Mila yang ngoceh mulu", kata Mila kepada Qiyas dan Kia.


"Kalau seumpama saya ngomong begini jawabanmu dan Kakakmu apa ya Mila", kata Qiyas seperti membuat teka-teki kepada Mila dan Kia yang mendengarnya juga menjadi ikut penasaran.


"Apaan sih Kak, lama banget sih, Mila kan jadi penasaran", kata Mila dengan nada yang seperti manja, padahal aslinya Mila tidak bermaksut manja kepada Qiyas, memang logatnya saja yang begitu.


"Sayang, kalau mau manja sama Kakak saja dong, jangan sama yang lain, Kakak cemburu lho, walaupun itu Tuan Qiyas sekalipun", kata Zidan tiba-tiba yang membuat Mila langsung memerah pipinya karena malu dipanggil sayang oleh Zidan.


Sedangkan Kia menyembunyikan senyumnya didalam niqobnya, Qiyas yang mendengarnya pun ikut tersenyum dan sambil melirik Kia.


"Kak Tamtam selalu bisa bikin jantung Mila deg-degan kencang, dan selalu bisa bikin Mila tersipu malu", jawab polos Mila kepada Zidan.


Qiyas geleng-geleng melihat kelakuan Mila yang tidak ada jaim-jaimnya kepada Zidan. Karena Qiyas tahu Zidan sangat dingin dan cuek terhadap wanita, karena Zidan tipekal laki-laki yang susah untuk jatuh cinta sama seperti Qiyas dan jika sudah jatuh cinta, akan sulit melupakannya.


"Tadi Kak bule mau ngomong apa Kak", kata Mila kepada Qiyas.


"Gara-gara Kakak nih, jadi tambah lama kan ngomongnya Kak bulenya", kata Mila kepada Zidan.


Zidan yang digituin sama Mila hanya menanggapinya dengan tertawa.


"Ayo Kak buruan ngomong", kata Mila lagi kepada Qiyas.


"Saya sebenarnya mau ngomong.......... Qiyas sengaja menjeda perkataannya sambil melihat kearah Mila dan Kia dengan tersenyum manis.


"Iiiish Kakak lama, cepetan dong", kata Mila yang tidak sabaran.


"Maukah engkau Balqis menikah denganku", lanjut Qiyas dengan tersenyum manis.


"Eeeh bukan itu yang ingin aku sampaikan, aku cuman ingin mengerjai Mila kenapa otak dan hatiku jadi tidak sinkron begini, gara-gara melihat mata Kia, aduuuh keceplosan", bathin Qiyas langsung tersadar akan omongannya.


Semua yang mendengar kata-kata Qiyas langsung terdiam, Kia yang tadinya menunduk reflek melotot kepada Qiyas ketika dia mendengar kata-kata Qiyas.


Tiba-tiba waiter dan waiterss datang membawakan semua pesanan mereka. Sontak kejadian yang menegangkan tadi sejenak terlupakan oleh makanan yang tersaji.


Setelah semua pesanan terhidangkan sempurna diatas meja, mereka semua menikmati makanan mereka dengan tenang.


"Kak, apa kata-kata Kakak tadi serius?? ", kata Mila dengan serius sambil memakan makanannya.


"Serius jika Kakakmu mau diseriusin Kakak", jawab Qiyas santai dan tersenyum manis. Aslinya mah dia deg-degan banget.


"Karena sudah terlanjur keceplosan kenapa tidak diterusin saja", bathin Qiyas.


Kia yang daritadi sudah deg-degan tambah deg-degan ketika Qiyas tiba-tiba berkata begitu.


"Kak, mau tidak diseriusin sama Kakak bule", tanya Mila kepada Kia.


Sontak Kia langsung mencubit pinggang Mila, dan membuat Mila mengaduh.


Zidan yang daritadi mendengarakan sangat bahagia karena Qiyas berani bilang begitu.


"Kak Kia malu Kak bule", kata Mila kepada Qiyas. Bisa saja Mila membuat Kia malu.


"Sudah-sudah mari dimakan nanti keburu dingin", kata Zidan mengalihkan pembicaraan.


Mereka akhirnya makan dengan tenang dan sesekali diselingi perkataan Mila kepada Zidan yang membuat semuanya tertawa, kecuali Zidan yang jantungan mendengar jawaban Mila. Tiba-tiba terdengar suara Hp berbunyi. Ternyata suara Hp itu milik Qiyas.


"Hallo Assalamu'alaikum", salam Qiyas ketika menjawab telefon.


"................. "


"Baik princess sayang, tunggu dirumah ya", kata Qiyas. Sontak Zidan, Mila dan Kia yang mendengar menjadi kaget.


"................. "


"Iya, Wa'alaikumussalam, love you to", kata Qiyas mengakhiri sambungan telefon.


Entah kenapa Kia yang mendengar percakapan Qiyas rasanya dadanya sesak dan ingin menangis. Akhirnya Kia pamitan kekamar mandi untuk menutupi rasa sedihnya dengan dia akan mencuci muka.


"Permisi semua, saya ingin ketoilet sebentar", kata Kia tiba-tiba dan langsung berdiri.


"Mau Mila temanin Kak", kata Mila kepada Kia.


Kia menggelengkan kepalanya, pertanda dia ingin sendiri. Kia langsung saja menuju toilet setelah tadi bertanya kepada waiterss. Didalam kamar mandi tangis Kia langsung tumpah entah kenapa. Sesak sekali rasanya dada Kia mendengar Qiyas bilang love you to tadi kepada seseorang ditelefon.


Siapa kira-kira tadi yang menelfon Qiyas, hingga Qiyas berani bilang I love you to dihadapannya Kia.


Penasarankaaaaaan πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜…


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***