BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KENA JEWER KAN AULIAN



Saat ini semua orang sedang berkumpul diruangannya Qiyas dan mereka semua sedang khawatir dengan Kia, tapi tidak dengan satu orang, siapa lagi kalau bukan Aulian. Dia malah daritadi melihat kearah Zahra yang sedang menunduk karena membuka dan membalas chat yang ada diemail hpnya.


"Ayah bagaimana ini dengan Kia", tanya Mamah Dian kepada Ayah Ibrahim.


"Udah tunggu saja Qiyasnya keluar Mah, baru kita tahu keadaannya Kia",


Jawab Ayah Ibrahim.


Karena saat ini Qiyas dan Kia sedang berada dikamar pribadi yang ada diruangannya Qiyas.


"Fadhil tolong kamu bantu Zidan, dan kamu Liem cepat urus masalah ini, saya tunggu satu jam dari sekarang, dan saya sudah harus mengetahui hasilnya", kata Papah Ziyas kepada para sekertaris.


Sedangkan sekertaris lainnya menunggu diluar ruangan kecuali Zahra dia menunggu didalam bersama keluarga yang lain.


"Baik Tuan", kata Fadhil dan Liem secara bersamaan dan sambil membungkukkan badannya terus berlalu keluar.


Yang lain pada khawatir si Aulian malah daritadi bahkan dia tidak mendengarkan apa yang dibicarakan semua orang, Aulian malah fokus keZahra yang sedang duduk disebelah Bundanya.


Ayah Ibrahim sedang menenangkan Mamah Dian yang sedih, sedangkan Papah Ziyas dan Bunda Lili sedang sibuk dengan fikirannya masing-masing, dan yang pasti mereka semua sedang khawatir dengan keadaannya Kia.


"Aul, tolong kamu beritahu kepada bawahannmu untuk mengabarkan acaranya diundur setelah sholat dhuhur", kata Papah Ziyas dengan tiba-tiba sambil mengecek hpnya, takutnya ada email penting.


".................... "


Papah Ziyas berbicara kepada Aulian sambil melihat hpnya. Karena tidak ada tanggapan dari Aulian Papah Ziyas langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat kearah Aulian yang sedang duduk dishofa berseberangan dengannya yang disebelah Ayah Ibrahim.


Papah Ziyas lalu melihat kearah pandang Aulian, ternyata arah pandang Aulian tertuju kepada Zahra yang sedang duduk disebelah istrinya.


Ketika dilihat Papah Ziyas Zahra sedang menerima telefon yang diperkirakan Papah Ziyas adalah client Kia jadi dia tidak sadar kalau Zahra daritadi sedang dilihatin anaknya Aulian.


Eheemmm


Papah Ziyas sengaja berdeham untuk mengalihkan pandangannya Aulian. Akan tetapi gagal usahanya Papah Ziyas.


Eheemmm


Papah Ziyas berdeham untuk kedua kalinya, bukannya Aulian yang sadar eh malah Bunda Lili yang merespon.


"Papah kenapa sih daritadi berdeham terus, kenapa haus?? ", tanya Bunda Lili.


"Ituuu", kata Papah Ziyas mengkode dan mengasih tahu istrinya untuk melihat kearah Aulian dengan ekspresi muka.


Bunda Lili lalu melihat kearah Aulian terus melihat kearah yang dilihat Aulian. Ketika Bunda Lili melihat kearah yang dilihat Aulian adalah Zahra Bunda Lili menggelengkan kepalanya.


"Dasar ini anak, Kakaknya lagi keadaan seperti ini, bisa-bisanya dia malah seperti itu", batin Bunda Lili sambil menggelengkan kepalanya melihat kearah Aulian.


Bunda Lili langsung berdiri dan berjalan kearah belakang Aulian. Dan itu pun Aulian tidak menyadari itu. Tiba-tiba......


"Aduh, aduh, aduuuuuuh, Bundaaaaa", kata Aulian mengaduh kesakitan karena kupingnya dijewer oleh seseorang dan Aulian langsung melihat kebelakang ternyata pelakunya adalah Bundanya sendiri.


Semua orang langsung melihat kearah Aulian karena mereka kaget dengan suara kesakitan Aulian, kecuali Papah Ziyas dia tidak kaget karena dia daritadi memperhatikan gerak gerik istrinya. Sedangkan Zahra dia langsung mematikan sambungan telefonnya karena terkejut.


Mila daritadi dia tidak terdengar suaranya karena dia juga sedang sedih melihat keadaan Kakak sepupunya tadi. Walaupun Mila orangnya seperti itu, dia akan sangat sedih ketika melihat Kia terluka.


"Bunda ngapain sih menjewer telinganya Aul??, sakit tahu", kata Aulian sedikit cemberut.


Aulian tidak menyadari jika Zahra tertawa melihat kelakuannya yang cemberut dengan Bundanya.


"Daritadi diajak ngomong sama orang tua tidak mendengarkan, ya Bunda jewer saja ini telinganya, kan telingamu ini tidak ada fungsinya", kata Bunda Lili sambil menjewer telinganya Aulian lagi.


"Aduh Bunda, ko dijewer lagi sih, sakit Bunda", kata Aulian sambil mengusap telinganya dan merengek kepada Bundanya.


Hihihihihi


Aulian langsung melihat kearah Zahra karena suara ketawa Zahra terdengar sampai kegendang telinganha. Aulian langsung mamasang sikap duduk yang gagah. Karena dia malu tadi kelepasan merengek kepada Bundanya dihadapan Zahra.


Karena Bunda Lili gemas dengan kelakuan Aulian, jadi Bunda Lili langsung menjitak kepalanya Aulian dan langsung berlalu duduk kembali ketempat duduknya.


Ayan Ibrahim dan Mamah Dian sedikit melupakan keadaan Kia karena terhibur denan kelakuannya Aulian, sedangkan Mila dia hanya melirik saja, tanpa merespon. Dan Papah Ziyas dia daritadi tertawa tapi tidak keras karena melihat adegan didepannya.


"Nak, kamu mau tidak menjadi menantu kami, menjadi istrinya dia", kata Bunda Lili to the point ketika sudah duduk dishofa disebelahnya Zahra sambil melirik kearah Aulian.


Zahra yang tanya begitu dengan Bunda Lili dia langsung diam dan bingung. Sedangkan Aulian dia malu, kaget dan deg-degan dengan perkataan Bundanya kepada Zahra.


"Maaf Nyonya saya tidak bisa", jawab Zahra.


Tidak cuman Bunda Lili saja yang terkejut mendengar jawabannya Zahra, yang ada disitu semuanya terkejut, termasuk Mila apalagi Aulian dia yang paling syok, karena disaat wanita lain kecuali Kia pada berlomba ingin menjadi bagian Keluarga Irawan, Zahra justru menolak lamaran yang diajukan kepadanya.


Semua mata orang yang disitu langsung tertuju kepada Zahra, termasuk Mila.


"Saya tidak bisa Nyonya, karena saya merasa tidak pantas untuk menjadi keluarga Nyonya, saya orang miskin Nyonya, saya anak Yatim dan sekarang saya menjadi tulang punggung untuk Ibu dan adik saya yang masih SMP", jawab Zahra sambil menundukkan kepalanya.


Papah Ziyas dia tidak menyangka jika Zahra anaknya pekerja keras. Sedangkan Aulian dia semakin mengagumi Zahra.


Tiba-tiba terdengar pintu kamar ruangan Qiyas terbuka dan keluarlah Qiyas sendirian. Dan orang-orang yang disitu langsung berdiri dari duduknya untuk menyamperin Qiyas ketika melihat Qiyas keluar.


Kecuali Aulian dia masih duduk karena masih larut dalam fikirannya yang mengagumi Zahra.


"Bagaimana nak keadaannya Kia didalam, kenapa kamu keluar sendirian?? ", tanya Mamah Dian dengan khawatir.


"Bagaimana nak keadaan istrimu?? ", gantian Bunda Lili.


"Kakak Bule, Kak Kia tidak apa-apa kan?? ", kata Mila juga ikut-ikutan.


Qiyas belum sempat menjawab dia sudah diberondong berbagai pertanyaan.


"Sudah kita biarkan Qiyas duduk dulu", kata Ayah Ibrahim kepada semuanya untuk duduk biar enakan ketika berbicaranya.


"Bagaimana Nak", kata Mamah Dian ketika sudah duduk dengan tidak sabaran.


"Kia saat ini sedang tidur Mah, dia hanya syok saja melihat Qiyas marah, dan dia juga sempat kaget karena tadi niqabnya akan ditarik paksa sama resepsionis itu Mah", jelas Qiyas kepada Mamah Dian dan semuanya.


"Maafin Qiyas ya Ayah dan Mamah, tadi Qiyas kelepasan", kata Qiyas dengan menyesal.


"Tidak apa-apa nak kami tidak marah, Ayah memaklumi, mungkin jika Ayah berada diposisimu Ayah juga akan melakukan hal yang sama sepertimu", jawab Ayah Ibrahim.


"Yasudah kita biarkan saja Kia tidur dulu kalau begitu, biar dia bisa sedikit tenang nanti untuk menghadiri acara nanti", kata Papah Ziyas dan diangguki semuanya.


Tadi sebelum Qiyas keluar ketika Qiyas dan Kia baru masuk kedalam kamar pribadi Qiyas yang ada diruangannya. Qiyas berusaha menenangkan Kia.


"Sudah suuussst, maafin Kakak yah, Kakak tadi lepas kontrol, kamu jangan takut ya sama Kakak, karena Kakak tidak mungkin berbuat seperti itu kepadamu sayang", kata Qiyas sambil memeluk Kia.


Qiyas lalu mengajak Kia duduk dipinggir ranjangnya.


"Kia takut Kak melihat Kakak marah seperti itu, Kakak jangan begitu lagi ya", kata Kia dengan menangis.


"Iya sayang, sudah yah ada Kakak yang selalu ada untukmu, jangan menangis lagi ya", kata Qiyas dengan lembut sambil menenangkan Kia dan memegang tangan Kia.


Kia hanya mengangguk memberi jawaban. Qiyas lalu mengajak Kia untuk tiduran diranjang Kingsize yang ada disitu sambil memeluk dan menenangkan Kia.


Mereka tiduran sambil berpelukan. Qiyas memeluk dan menepuk-nepuk badan Kia sambil sholawatan. Kia lama kelamaan dia menjadi tenang karena sholawat yang disenandungkan Qiyas untuknya, dan mungkin juga karena keadaan jadi Kia lama kelamaan tertidur dengan pulas.


Qiyas yang menyadari tidak ada pergerakan dari Kia, lalu dia menengok kewajah Kia ternyata sudah terdengar dengkuran halus dari nafas Kia yang teratur. Akhirnya Qiyas dengan perlahan meninggalkan Kia supaya Kia tidak terganggu tidurnya dan Qiyas langsung keluar menemui keluarga yang daritadi menunggu didalam ruangannya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***