BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
CHAPTER 12



Sudah seminggu berlalu tetapi Qiyas masih kefikiran dan termenung setiap kali keingat dengan ucapan dari Pak Kyai. Emang benar apa yang semua dikatakan oleh Pak Kyai.


Dia selalu bertanya-tanya kenapa Pak Kyai memberinya nasehat yang begitu pas dengan masalahnya. Hingga suatu hari tiba-tiba dia menyadari kata-kata dari Pak Kyai dan mulai merubah pola fikir dan hatinya.


Dan setelah itu kehidupan Qiyas sudah berjalan seperti semula sebelum mengenal Kia, karena Qiyas perlahan-lahan menata hati untuk menyongsong kedepannya.


★★★★★★★★★★


Kia yang waktu itu sedang berada didalam kamarnya mendengar pintu diketuk dari luar.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum Kia, ini aku Lida", salam Lida sambil mengetok pintu.


"Wa'alaikumussalam, Lida ada apa tumben main kesini tidak ngabarin dulu. Dan ini kan hari minggu, kamu katanya kemarin mau pergi bersama Kakakmu Gus Alif", kata Kia sambil mempersilahlan masuk.


Gus Alif adalah Kakak kedua dari Ning Lida, Gus Alif saat ini sudah berumur 25 tahun, selisih dua tahun dengan Lida. Sedangkan Gus Zabir sudah berumur 28 tahun sama dengan Qiyas.


"Aku tidak jadi pergi Kia, karena tiba-tiba Gus Alif sedang tidak enak badan, dan aku kesini disuruh umi, katanya kamu disuruh main kerumah", kata Lida.


"Tumben Umi nyuruh main Lida, ada apa? Apa aku berbuat kesalahan yang tidak aku sengaja", tanya Kia bingung.


Akhirnya setelah menempuh jalan kaki beberapa menit Lida dan Kia sampai dirumah ndalem. Mereka mengucapkan salam secara berbarengan.


"Assalamu'alaikum", salam Kia dan Lida sambil masuk rumah, karena pintu rumah sedang terbuka.


"Wa'alaikumussalam", jawab dua orang yang sedang berbincang diruang tamu.


Betapa kagetnya Kia melihat tamunya Pak Kyai, yaitu Ustadz Qiyas, Kia langsung menundukkan wajahnya. Berbeda dengan Kia, Qiyas sudah lebih bisa mengontrol hatinya, walaupun masih sedikit ada bergetar tetapi setidaknya dia tidak sesakit kemarin sebelum diberi nasehat Pak Kyai. Qiyas hanya tersenyum ramah sekilas melihat Kia. Sedangkan Pak Kyai yang melihat ekspresi Qiyas yang sudah bisa menata hatinya, tersenyum tulus serta begitu bangga dan salut.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak Kyai, terimakasih atas semuanya dan waktunya, mohon pamit undur diri, Assalamu'alaikum", pamit Qiyas sama Pak Kyai sambil menyalimi tangan Pak Kyai.


"*Wa'alaikumussala*m", Jawab Pak Kyai, Lida dan Kia.


Walaupun bersimpangan didepan pintu, Qiyas langsung saja melanjutkan jalannya tanpa merespon, melirik, bahkan melihat Kia. Dan entah kenapa Kia merasa sakit dengan sikap Qiyas.


Sebenarnya Kia juga tahu selama ini jika Qiyas sering curi-curi pandang dengannya, sering merhatiin dari jauh. Akan tetapi dia sebagai perempuan juga membutuhkan kepastian. Walaupun Qiyas adalah lelaki yang baik, dan Kia ada sedikit rasa sama Qiyas. Kia tidak mungkin menunjukkan ketertarikannya terhadap Qiyas. Hanya do'a yang selalu terpanjat oleh Kia untuk menunjukkan siapa yang benar-benar menjadi jodohnya.


Tetapi jika ada lelaki yang baik, sholeh yang bisa membimbingmu menuju surganya Allah, dan meminangmu untuk menjadi halal baginya, terimalah, jangan engkau tolak. Walaupun belum ada rasa cinta dihatimu. Karena pepatah mengatakan "witing tresno jalaran seko kulino" cinta tumbuh karena terbiasa.


Itulah mengapa Kia menerima khitbahannya Ustadz Faris, walaupun belum ada rasa sayang dan cinta dihatinya. Kia yakin kedepannya dia bisa mencintai Ustadz Faris karena Kia mengetahui Ustadz Faris adalah laki-laki yang sholeh yang bisa membimbingnya menuju Jannahnya Allah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


***TBC***