
Ketika jam baru menunjukkan pukul lima pagi, Hpnya Mila dan Zidan berdering dan bergetar tiada henti, sedangkan sang punya Hp mereka sedang melaksanakan sholat subuh berjamaah dikamar mereka.
Ketika mereka sudah selesai sholat dan berdzikir sebentar, Zidan dan Mila langsung saja mengecek Hp mereka masing-masing dan ternyata yang menelfon adalah semua orang yang tadi mereka kirimkan foto selfie mereka.
Panggilan dari Mamah Sabrina ada sekitar lima belas panggilan, Papah Angga sepuluh panggilan, Desi adiknya Zidan lima panggilan, Kak Andira Sepuluh panggilan dan Kak Satriya tiga panggilan, semuanya panggilan tak terjawab berbeda-beda pada masing-masing diHpnya Zidan dan Mila.
Mila dan Zidan mereka tersenyum melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari mereka semua. Akhirnya Zidan berinisiatif untuk membuat panggilan group untuk mereka semua.
"Assalamu'alaikum nak, apa benar itu foto yang kamu kirimkan keMamah?? ", tanya Mamah Sabrina dengan seperti satu tarikan nafas.
"Mamah pelan-pelan kalau bertanya", kata Papah Angga kepada istrinya yang berada disampingnya, dan didengar oleh Zidan, Mila serta semuanya yang sudah terhubung dipanggilan video group.
"Wa'laikumussalam Mah, benar itu Mah", jawab Mila kepada Mamahnya dengan tersenyum cerah.
"Selamat ya Mbak Mila, untuk kehamilannya", kata Desi adiknya Zidan kepada Mila.
Zidan dan Mila mereka sangat bahagia menyambut pagi dihari itu.
"Selamat juga ya Dek atas kehamilannya, dijaga baik-baik yah, dan Zidan Kakak pesan jagain Mila ya", kata Kak Andira kepada Mila dan Zidan.
"Siap Kak Dira", jawab Zidan kepada Kak Andira Kakaknya Mila yang pertama.
"Ini Kak Satriya ko tidak diangkat telefonnya yah", kata Mila kepada semuanya.
"Tidur lagi paling dia Mila kayak tidak tahu saja kelakuan Kakakmu ketika habis sholat subuh jika masih mengantuk", kata Mamah Sabrina kepada Mila.
Akhirnya setelah memberikan wejangan ini itu kepada Mila dan Zidan Mamah Sabrina, dan Papah Angga mengakhiri panggilan mereka dan diikuti yang lainnya.
"Sweety pasti Ibu sudah bangun, kita kasih tahu Ibu sama Ayah yuk", ajak Zidan kepada Mila ketika sambungan video callnya sudah pada terputus.
"Iya ayo Hubby", jawab Mila sambil memakai hijab instannya.
Zidan dan Mila mereka langsung saja keluar dari kamar. Memang biasanya Mila setelah melaksanakan sholat subuh dia langsung saja keluar untuk membantu memasak Ibu Gendhis Ibu mertuanya.
Akan tetapi kali ini ada sesuatu hal yang sangat ingin Zidan dan Mila beritahukan kepada Ibu Gendhis dan Ayah Erlangga.
Zidan dan Mila melihat Ibunya sedang memotong-motong sayuran didapur, Mila dan Zidan pun langsung saja menghampiri Ibu Gendhis.
"Ibu", panggil Zidan kepada Ibunya.
Dan Ibu Gendhis yang mendengar namanya dipanggil Zidan dia lalu mengalihkan pandangannya kearah Zidan.
"Eh Zidan, ada apa tumben ikut istrimu kedapur", kata Ibu Gendhis kepada Zidan.
"Sini deh Bu, ada yang ingin Zidan sama Mila sampaikan?? ", kata Zidan kepada Ibunya.
Ibu Gendhis langsung saja meninggalkan kegiatannya dan dis langsung duduk dikursi meja makan bergabung dengan Mila dan Zidan.
"Ayah dimana Bu", tanya Mila kepada Ibu mertuanya.
"Dikamar mandi tadi, nah itu Ayah", jawab Ibu Gendhis kepada Mila.
"Ada apa nih, ko nama Ayah dipanggil-panggil", kata Ayah Erlangga sambil berjalan menuju kemeja makan.
"Ada sesuatu yang ingin Zidan sampaikan Bu, Yah", kata Zidan kepada kedua orang tuanya.
"Ada apa sih ini, ko bikin Ibu jadi penasaran", kata Ibu Gendhis sambil melihat kearah Zidan dan Mila yang tersenyum daritadi.
"Kalian kenapa sih senyam-senyum terus begitu", tanya Ayah Erlangga kepada Zidan dan Mila.
"Zidan sebentar lagi akan menjadi Ayah Yah, Bu", kata Zidan dengan sangat bersemangat sekali.
"Beneran itu Zidan apa yang kamu katakan?? ", tanya Ibu Gendhis kepada Zidan dan lalu mengalihkan pandangannya kepada Mila.
"Bener Ibu, ini", kata Mila sambil menunjukkan dua test pack tadi kepada Ibu mertuanya.
"Alhamdulillah ya Allah", kata Ibu Gendhis dan Ayah Erlangga secara bersamaan.
"Iya Bu, Zidan senang sekali, sudah lama sekali Zidan ingin membina rumah tangga serta mempunyai anak, dan Allah sudah mengabulkannya semua yang Zidan mimpikan Bu", kata Zidan yang tidak malu menyembunyikan rasa senangnya kepada Ibu dan Ayahnya.
Sedangkan Mila ketika dia mekihat Zidan begitu bahagia dengan kehamilannya, Mila juga merasa terharu dan sangat bersyukur kepada Allah yang masih memberinya kesempatan untuk bisa hamil.
"Sehat-sehat ya dek didalam, Ayahmu sudah sangat menantikanmu hadir didunia ini sayang", kata batin Mila sambil mengusap perutnya dan sambil juga melihat kearahnya Zidan yang terus tersenyum bahagia.
"Jaga baik-baik ya Zidan calon cucu Ayah dan calon anak kalian diperutnya Mila", kata Ayah Erlangga kepada Zidan.
"Insyaallah Zidan siap siaga selalu Ayah", jawab Zidan dengan tersenyum cerah.
Pagi itu diKeluarganya Mila serta Zidan mereka diawali dengan senyuman dan kebahagiaan karena diberikan kebahagiaan yang sudah ditunggu-tunggu Mila dan Zidan. Mila sebelum mengetahui jika dia hamil naf**u makannya sudah banyak, dan semakin banyak ketika mengetahui jika dia positiv hamil.
Mila tidak mengalami morning sickness akan tetapi Mila malah bawaannya kepingin makan terus, hingga Zidan pun sekarang lebih banyak stok makanan dikulkas untuk berjaga-jaga jika Mila tiba-tiba lapar.
...πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ...
Setelah menginjak trimester yang kedua kehamilannya Mita, Rion semakin overprotektiv kepada Mita. Makin hari cinta Mita dan Rion semakin bertambah dengan adanya kehadiran baby mereka diperutnya Mita.
Ayah Edward ketika dia mengetahui akan mempunyai seorang cucu dia langsung saja membeli sebuah rumah mewah, beserta isinya untuk diberikan kepada Rion dan Mita supaya jika anaknya Mita dan Rion lahir bisa lebih nyaman untuk tinggal daripada diApartemen.
Rion sebenarnya dia juga mempunyai rumah mewah, tapi tidak semewah rumah pemberian dari Ayah Edward Ayah mertuanya, akan tetapi Rion lebih suka tinggal diapartemen karena lebih dekat dengan tempat kerjanya.
Dengan desakan dari kedua mertuanya dan dengan bujuk rayu dari Mita, akhirnya Rion mau disuruh pindah kerumah pemberian dari Ayah Ed, Ayahnya Mita. Dan mereka akan mengawali rumah tangga mereka yang baru dirumah itu bersama calon buah hati mereka.
ππππππππππππ
Saat ini Kia yang sudah kesusahan untuk berjalan pun membuat Qiyas seperti berat untuk meninggalkan Kia kekantor. Qiyas akhirnya mempunyai ide dan mengajukannya kepada Papah Ziyas.
"Umi Abi mau keruang kerja dulu ya sebentar", kata Qiyas kepada Kia ketika mereka masih didalam kamar.
Qiyas langsung saja berlalu menuju ruang kerjanya ketika Kia sudah mengijinkannya.
"Hallo Assalamu'alaikum Pah", kata Qiyas kepada Papah Ziyas ketika sambungan telefonnya sudah diangkat Papahnya.
"Wa'alaikumussalam, ada apa Yas, pagi-pagi menelfon, apakah ada yang penting?? ", tanya Papah Ziyas kepada Qiyas.
"Em, begini Pah, Iyas rasanya kasihan melihat Kia sudah susah untuk berjalan dan sering kesusahan untuk mengambil ini itu sendirian, bolehkan Iyas bekerja dari rumah saja, dan biarkan kantor yang menghandle Aulian saja, Iyas rasanya kefikiran terus jika harus meninggalkan Balqis dirumah Pah", kata Qiyas kepada Papahnya.
"Iya baiklah kalau itu maumu, biar Papah nanti akan mengajari Aul untuk menghandle Perusahaan sendirian, kamu cuti saja sampai Kia istrimu melahirkan Yas, biar bisa fokus, Papah sendiri rasanya juga sesak sendiri melihat perut istrimu, padahal dulu Bundamu sepertinya tidak sebesar itu waktu hamil kalian", kata Papah Ziyas kepada Qiyas.
"Kan istriku hamil dua sekaligus Papah", jawab Qiyas kepada Papahnya.
Iya semenjak kahamilan Kia menginjak trimester ketiga perut Kia terlihat sangat besar sekali, walau Kia sudah memakai baju syar'i yang besar sekalipun.
"Iya juga yah, Papah lupa", jawab Papah Ziyas sambil tertawa. Dan Qiyas juga ikut-ikutan tertawa ketika mendengar tawa dari Papahnya diseberang telefon.
"Baiklah, mulai hari ini ya Pah, Iyas tidak berangkat kekantor, biar pekerjaannya Iyas diselesaikan para sekretarisnya Iyas saja ya Pah", kata Qiyas lagi kepada Papahnya.
"Iya baiklah, salamkan untuk Istrimu Kia ya Yas", kata Papah Ziyas lagi.
"Baik Pah, Iyas kalau begitu tutup dulu telefonnya ya, Assalamu'alaikum", kata Qiyas kepada Papah Ziyas.
"Wa'alaikumussalam Yas", jawab Papah Ziyas dan langsung saja mematikan sambungan telefonnya.
Setelah menelfon Papahnya dan menyampaikan maksudnya, Qiyas lalu keluar dari ruang kerjanya dan kembali lagi masuk kekamar untuk melihat keadaannya Kia.
Dan Qiyas langsung saja menceritakan kepada Kia ketika Qiyas sudah sampai didalam kamar, jika dirinya sudah mengambil cuti untuk menemani Kia sampai lahiran. Sungguh Kia sangat senang sekali mendengarnya, karena Kia jika tidak ada Qiyas, Mamah Dian atau Bunda Lili dia risih dan malu untuk meminta tolong kepada para pembantu yang ada disitu.
ππππππππππππ
***TBC***