BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
RUJAK



Setelah acara makan siang dirumah Qiyas dan Kia bersama kedua mereka masing-masing, Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas mereka akan berangkat kekantor, walaupun sebentar setidaknya mereka mengetahui keadaan kantornya begitulah fikir mereka.


Sedangkan Mamah Dian dan Bunda Lili mereka sudah diantarkan pulang terlebih dahulu oleh suami mereka masing-masing sebelum Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas pada berangkat kekantor.


Qiyas hari itu sengaja tidak berangkat kekantor, karena melihat kondisi Kia yang mual dan muntahnya tidak terkondisikan waktunya.


Bahkan sebelum Kia makan siang, Kia terlebih dahulu sempat makan rujak pesanannya yang kepada Qiyas tadi, yang dengan susah payah sudah Qiyas ambilkan sampai naik keatas pohon demi mengambil mangga muda.


Kia makan rujak itu dengan lahapnya dan sepertinya menggiurkan bagi Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Papah Ziyas, Bunda Lili maupun Qiyas yang melihat Kia makan.


Kia menyuruh Bi Karsi dan pembantu lainnya untuk membuat sedikit banyak rujaknya itu, siapa tahu nanti suami, kedua orang tuanya ataupun kedua mertuanya juga ingin merasakannya, jika tidak mau ya dimasukkan kekulkas biar dimakan nanti, begitulah fikir Kia.


Akan tetapi ketika Qiyas, Ayah Ibrahim, Mamah Dian, Bunda Lili dan Papah Ziyas ikut-ikutan mengambil rujak itu dengan wadah yang sangat kecil dan lalu mencobanya, mereka semua menunjukkan ekspresi yang sama, yaitu keaseman dan lumayan pedas dimulut.


"Weeeek, ini asem banget Kiaaaaa", kaget Mamah Dian ketika ikut mencoba rujak yang Kia Makan.


"Aseeeeemmm", kata Bunda Lili.


"Jika pedasnya masih bisa tahan dimulut, tpi asemnya tidak kuat, padahal sudah ada es krimnya", kata Bunda Lili lagi.


"Iya Mbak Lili, saya juga tidak kuat dengan asemnya", jawab Mamah Dian kepada Bunda Lili.


"Enak kan Abi", kata Kia kepada Qiyas. Ketika Kia melihat Qiyas hanya diam saja dan malah menunjukkan muka yang sama seperti Mamahnya dan Bunda Lili.


Qiyas bingung harus menjawab apa, karena takut Kia istrinya tersinggung dengan jawabannya, sebab sungguh Qiyas juga tidak kuat seperti Mamah dan Bundanya.


"Abi tidak cocok makan rujak sayang, jika kamu mau habiskan semuanya tidak apa-apa, sungguh, yang penting kamu senang, Abi juga ikut-ikutan senang, asal jangan kebanyakan yah Umi", jawab Qiyas akhirnya kepada Kia.


"Siap Abi, nanti punya Abi akan Umi habiskan", jawab Kia kepada Qiyas sambil memakan rujaknya dengan sangat lahap. Karena menurut Kia rujak yang dia makan rasanya pas, segar dan tidak bikin eneg dimulut.


Sedangkan Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim yang belum mencoba sendiri mereka saling pandang dan lalu mengalihkan pandangannya kearah semua orang yang ada disitu terus kerujak yang ada dihadapannya.


Karena Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas mereka sudah ngeri duluan sebelum mencobanya sebab sudah mendengar sendiri dari Mamah Dian dan Bunda Lili tentang bagaimana rasanya rujak yang ada dihadapannya.


"Papah, sama Ayah tidak mau mencoba?? ", tanya Kia kepada Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim.


"Siapa tahu kalian suka, sama seperti Kia", sambung Kia lagi, sambil memasukkan satu sendok rujak kemulutnya dengan begitu nikmatnya.


Akhirnya dengan terpaksa Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas memasukkan rujak satu sendok dan itu hanya sedikit sekali kemulut mereka. Sebab Ayah Ibrahim dan Papah Ziyas takutnya moodnya bumil jadi jelek karena mereka tolak. Dan mereka langsung meminum air putih yang sudah disediakan untuk mereka, ketika rujak itu sudah masuk kemulut Ayah Ibrahim serta Papah Ziyas.


Sedangkan, Qiyas, Mamah Dian dan Bunda Lili mereka tertawa melihat Papah Ziyas dan Ayah Ibrahim menunjukkan ekspresi seperti itu. Dan Kia yang melihatnya cuek-cuek saja sambil terus memakan rujak yang ada dipiringnya.


"Jika ini tidak ada es krimnya, rasanya entah bagaimana lebih asemnya?? ", kata Papah Ziyas setelah meminum air putih.


"Ada es krimnya saja begini rasanya", kata Ayah Ibrahim juga ketika baru meletakkan gelas yang berisi air putih yang dia minum tadi.


"Ini enak lho padahal, seger lagi, sampai Kia tidak muntah daritadi", jawab Kia kepada semuanya.


Sedangkan Qiyas, Ayah Ibrahim, Mamah Dian dan Papah Ziyas mereka langsung menelan air liur mereka ketika Kia berbicara begitu dan sambil memakan rujaknya sangat lahap.


Setelah acara makan rujak yang begitu asem menurut Qiyas, Ayah Ibrahim, Bunda Lili dan Mamah Dian, akhirnya tiba juga untuk makan siang yang sebenarnya.


Ketika semua hidangan yang sedang disiapkan oleh para pembantu dan pelayan dirumah itu keatas meja makan, Kia langsung menahan kegolak mual diperutnya, karena melihat dan mencium bau aroma masakan yang terhidang dihadapannya.


Tanpa pamitan Kia langsung berlari untuk menuju kekamar mandi yang ada dikamarnya, karena sudah tidak tahan ingin muntah.


Kia sengaja masuk kekamar mandi yang ada dikamarnya, karena tidak mau mengganggu acara makan siang keluarganya, jika Kia masuk kekamar mandi yang ada diruang makan.


Qiyas langsung saja berlari juga mengikuti Kia yang masuk kekamar. Dan ketika Qiyas sudah masuk kedalam kamar Qiyas melihat Kia memuntahkan semua rujak yang tadi dia makan.


"Tidak apa-apa sayang, sudah enakan?? ", tanya Qiyas kepada Kia sambil memijat tengkuknya Kia. Dan dijawab anggukan oleh Kia.


"Sudah sayang tiduran diranjang dulu ya, biar ini muntahannya Abi yang siram dan bersihin", kata Qiyas kepada Kia.


Kia langsung saja berjalan kearah ranjang. Dan ketika sudah sampai diranjang dia lalu melepaskan hijab serta niqobnya, karena rasanya kepala dia sangat pusing sekali setelah memuntahkan rujak yang dia makan.


"Sayang harus makan ya, biar dedeknya kuat didalam, Umi harus kuat ya, sekarang Umi mau makan apa, biar Abi suruh Bi Karsi atau Bibi yang lain untuk menyiapkan", kata Qiyas ketika sudah selesai membersihkan muntahannya Kia didalam kamar mandi dan juga lagi mengusap-usap lembut perutnya Kia ketika lagi duduk disamping Kia yang berbaring.


"Abi, ada jagung manis tidak, Umi rasanya ingin makan jagung manis rebus, sama Ubi madu dan Ubi yang warnanya ungu Kak yang dikukus", kata Kia sambil memijit sendiri pelilisnya, karena menahan rasa pusing.


"Sebentar biar Abi tanyain keBibi dulu ya sayang, tapi sebelum itu minum obat sama Vitamin dari Dokter Ara dulu ya Sayang, biar sedikit mendingan", kata Qiyas kepada Kia.


Kia lalu meminum obat dan vitamin yang sudah diambilkan Qiyas. Setelah melihat Kia meminum obat dan Vitaminnya Qiyas lalu ijin keluar dulu sama Kia untuk bertanya dan menyuruh Bibi membuatkan pesanannya Kia.


Sedangkan para orang tua mereka melanjutkan makannya tanpa ada Qiyas dan Kia, karena memang Qiyas yang menyuruh mereka makan siang terlebih dahulu tanpa menunggunya.


Setelah selesai makan siang, Mamah Dian dan Bunda Lili mereka ingin berpamitan pulang dengan Kia, akan tetapi ketika membuka pintu kamarnya Kia, mereka melihat Kia sedang tertidur pulas diranjangnya.


Akhirnya para orang tua mereka hanya berpamitan kepada Qiyas saja dan suruh untuk menyampaikan salam mereka kepada Kia jika nanti Kia bangun.


Qiyas yang waktu itu masih didapur untuk memberitahu Bi Karsi tentang keinginannya Kia, Qiyas kaget ketika tiba-tiba Bunda dan Mamah Dian sudah berada dibelakangnya dan berpamitan untuk pulang.


"Tuan maaf, jagung sama ubinya tidak ada dirumah tuan, Bibi belum membelinya ditukang sayur atapun dipasar", jawab Bi Karsi kepada Qiyas ketika sudah tidak ada Mamah Dian dan Bunda Lili disitu yang tadi berpamitan.


"Ini Bibi tolong belikan sesuai pesanannya istriku ya Bi, jagung manis, Ubi madu sama Ubi ungu ya Bi, manti jika sudah beli tolong diolah seperti yang tadi saya bilang ya Bi", kata Qiyas kepada Bi Karsi sambil menyerahkan beberapa lembar uang yang berwarna merah kepadanya.


Bi Karsi langsung mengambil uang yang disodorin Qiyas kepadanya.


"Bibi suruh mengantar Mang Wid, atau Mang Pin ya Bi", kata Qiyas lagi kepada Bi Karsi.


"Baik Tuan", jawab Bi Karsi kepada Qiyas dan langsung berlalu berpamitan berangkat untuk membeli yang disuruh Qiyas.


Karena Qiyas sendiri dia memiliki tiga sopir, yang satu sopirnya pribadi yang untuk mengantar Qiyas berangkat kekantor atau pergi ketika dia malas untuk menyetir sendiri, yang satunya untuk Kia jika Qiyas tidak bisa mengantarkan Kia. Sebab Kia masih belum mau untuk menyetir sendiri, kalau pun sudah mau, Qiyas juga mungkintidak mengijinkan Kia pergi sendiri.


Dan yang satunya lagi untuk dirumah, jika para pekerjanya akan pergi berbelanja kebutuhan rumah, atau membeli barang yang lain untuk keperluan rumah.


Qiyas lalu masuk kedalam kamar ketika sudah selesai memberi tugas kepada Bi Karsi. Dan ketika sudah masuk kamar Qiyas melihat Kia sedang tidur dengan lelap, padahal Kia belum sholat dhuhur.


Akhirnya Qiyas tinggal untuk makan siang terlebih dahulu, biar tidurnya Kia sedikit agak lama dan setelah selesai makan siang, Qiyas membangunkan Kia untuk sholat dhuhur berjamaah dengannya.


πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡


Aulian: hay-hay readers Assalamu'alaikum, jangan lupa mampir dinovelku sendiri yahπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰, kalau disini kan saya cuman peran pendamping πŸ˜‘πŸ˜‘


Aulian: sedikit bocoran buat readers, nanti perasaan Aulian kepada Zahra dibuat seperti naik roller coaster sama Authornya, jahat nggak tuh AuthornyaπŸ˜†.


Author: πŸ™„πŸ™„πŸ˜πŸ˜, Zahra-Zain bagus, Atau Fadhil-Zahra juga bagus, atau Juga Rizky-Zahra. Bisa tak ubah itu judulnyaπŸ€”πŸ€”


Aulian: tuh lihat kan, Authornya itu sensi sama aku😬😬😬.


Aulian: pokoknya mampir ya, dan jangan lupa dukung saya dikolom komentar yang ada dibawah siniπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, malah kayak repoter aku yak jadinya😜



πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***