BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KIA PINGSAN



Kembali keMila yuk readers😁.


Mila yang sudah pulang dari rumah orang tuanya dari kemarin dan sekarang dia tinggal bersama kedua orang tua Zidan, karena Zidan memang menginginkan jika dia sudah menikah, dia ingin tinggal dirumah kedua orang tuanya. Dan Mila pun iya-iya saja menurut apa kata Zidan. Karena Zidan kasihan dengan kedua orang tuanya yang harus tinggal sendiri, sebab adiknya sudah ikut dengan suaminya.


Sungguh Zidan sangat beruntung mempunyai istri seperti Mila, walaupun rada eror dia tipe orang yang penurut.


"Ibu mertua Mila berangkat kuliah dulu ya", kata Mila kepada Ibu Gendhis ibunya Zidan.


"Kamu berangkat diantar pak Yono kan nak?? ", tanya Ibu Gendhis kepada Mila.


"Iya Ibu, karena kata Kak Tamtam Mila kalau pergi harus diantar pak Yono", jawab Mila kepada Ibu mertuanya.


Semenjak menikah dengan Mila Zidan sengaja membeli mobil baru lagi untuk digunakan Mila jika sewaktu-waktu Mila ingin pergi atau kuliah. Dan Zidan juga mengkerjakan seorang sopir.


"Ya sudah hati-hati dijalan ya nak", kata Ibu Gendhis kepada Mila.


"Ibu juga hati-hati dirumah ya bu, kalau takut dirumah sendiri telefon saja Ayah mertua, kalau telefon Mila takutnya Mila tidak bisa angkat, karena dimarahin dosen nanti", pesan Mila membuat Ibunya Zidan melotot.


"Assalamu'alaikum", kata Mila lagi sambil menyalami dan mencium tangan Ibu mertuanya.


"Wa'alaikumussalam", jawab Ibu Gendhis sambil mengusap kepala Mila.


"Baru beberapa jam tinggal disini aku sering terkejut mendengar perkataan si Mila", kata Ibu Gendhis sambil masuk kerumahnya.


"Semoga saja dengan adanya Mila tinggal disini, bisa bikin umurku tambah panjang, bukan bikin aku jantungan tiba-tiba", gumam Ibu Genshis lagi.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Kia seharian jadi tidak fokus dikantor, dia kefikiran dengan perkataan Qiyas, permintaan kedua orang tuanya, dan mimpi-mimpinya. Semuanya membuat Kia kefikiran dan melupakan makan siangnya.


Kia sengaja menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang menumpuk dimeja kerjanya, dia juga ikut meeting, semua Kia lakukan hanya untuk sedikit membuat dia lupa akan hal yang dia alami hari ini.


Tapi semua seperti sia-sia, Kia tetap teringat bagaimanapun caranya dia mengalihkan.


Hingga dijam pulang kerja Kia yang tidak keluar-keluar ruangan membuat Zahra sekertarisnya menjadi khawatir.


Zahra masuk setelah dipersilahkan masuk oleh Kia. Zahra yang ketika masuk melihat Kia memegangi kepalanya membuat Zahra khawatir.


"Nona-nona tidak apa-apa??, kenapa Nona memegangi kepala Nona, apa kepala Nona sakit", kata Zahra dengan nada yang sangat khawatir dan mendekati Kia.


"Tidak tahu kenapa kepalaku pusing banget", kata Kia lirih sambil memegangi kepalanya.


"Saya ambilkan obat dulu Nona", kata Zahra kepada Kia.


Zahra langsung berlari menuju kotak obat yang ada diruangan Kia, dan mencari obat pereda sakit kepala, setelah mendapatkannya dia memberikannya kepada Kia.


Zahra sangat terpesona melihat wajah Kia, sebab Kia meminum obat dengan sengaja membuka niqabnya. Karena selama kerja dengan Kia Zahra belum pernah melihat muka Kia secara langsung, dan saat ini ketika melihat muka Kia, dia yang sebagai perempuan pun sangat terpesona apalagi laki-laki.


"Sungguh sangat cantik ternyata muka Nona Kia, dan benar pilihan Nona untuk memakai niqab, sungguh beruntung yang akan menjadi suaminya", bathin Zahra ketika melihat Kia meminum obat.


"Apakah Nona tadi tidak makan siang?? ", tanya Zahra kepada Kia.


Kia hanya menggeleng kepada Zahra.


"Saya tidak sempat", jawab Kia lirih.


"Saya akan pe.................... ", perkataan Zahra terpotong karena tiba-tiba dia terkejut melihat Kia.


"Nona Kiaaaaaaaaaaa...... ", teriak Zahra.


Zahra yang panik karena tiba-tiba Kia pingsan. Dia bingung harus memanggil siapa, dia akhirnya berinisiatif untuk menelfon Qiyas karena fikir Zahra, Qiyas adalah calon suami Kia.


Zahra menelfon Qiyas melalui telefon kantor, karena dia tidak tahu pasword Hpnya Kia. Zahra bisa tahu nomer telefon Qiyas karena sebelumnya Qiyas sudah meninggalkan kartu namanya dikantor Kia.


"Dimana yaa, haduh saking banyaknya kartu nama, jadi pusing kalau ketika butuh gini!!!,......


Nah ketemu", kata Zahra.


Qiyas yang saat itu baru sampai dirumahnya dan baru turun dari mobil belum masuk kerumah, tiba-tiba merasakan getaran dan mendengar suara dering Hpnya.


"Ini kan nomer kantor Balqis, ada apa menelfonku, bukannya menelfon sekertarisku", kata Qiyas untuk dirinya sendiri.


"Hallo ***............... ", salam Qiyas terpotong oleh sesorang ditelefon.


"Hallo Tuan Qiyas, saya Zahra Nona Kia pingsan Tuan dikantor", kata Zahra dengan cepat.


Qiyas yang mendengarnya pun langsung teriak.


"Apaaaaaaaa........!!!!! ", kata Qiyas.


"Aku akan kesana, kamu jagain Balqis dulu, sampai saya datang", kata Qiyas lagi dan langsung mematikan sambungan telefonnya.


Qiyas saat itu juga langsung masuk kembali kemobilnya dan segera menuju kantor Kia. Sebelum menyalakan mobilnya Qiyas menelfon temannya yang seorang Dokter untuk segera datang kekantor Kia.


"Hallo Bram cepat datang kealamat................. Itu kantor calon istriku dan dia sedang pingsan, cepat aku tunggu!! ", kata Qiyas lupa mengucapkan salam dan langsung mematikan sambungan telefonnya.


Qiyas naik mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Hanya sekitar lima belas menit Qiyas sudah sampai dikantor Kia. Dia langsung memencet tombol lift untuk naik keruangan Kia. Qiyas yang panik pun dia lupa untuk menelfon Ayah Ibrahim.


Diruangan Kia, Zahra yang panik pun dia lupa untuk menalikan lagi niqob Kia. Hingga yang tidak seharusnya dilihat harus terlihat.


Qiyas yang sudah sampai diruangan Kia dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Akan tetapi dia langsung menghentikan langkahnya.


Sungguh hati Qiyas berpacu lebih-lebih-lebih kencang dari biasanya, hingga tiba-tiba kakinya seperti sulit untuk digerakkan mendekati Kia yang sedang terbaring dishofa.


Zahra heran melihat Qiyas tiba-tiba seperti menjadi patung diam tidak bergerak. Zahra langsung saja mendekati Qiyas dan meminta Qiyas untuk menggendong Kia kedalam kamar pribadi yang ada diruangannya.


"Tuan, kenapa Tuan malah diam saja daritadi, ayo Tuan tolong pindahin Nona kekamar itu Tuan", kata Zahra kepada Qiyas.


Qiyas yang masih bengong pun tambah bingung ketika mendengar perkataan Zahra. Tidak sadarkah Zahra jika niqab Kia belum terpasang lagi.


"I.... Iya", jawab Qiyas sambil bengong dan nurut-nurut saja, karena Qiyas tiba-tiba seperti orang bodoh.


Qiyas langsung menggendong Kia kekamar yang ada diruangan itu. Ketika menggendong Kia sungguh Qiyas sangat tersiksa karena dia rasanya ingin melihat Kia terus. Akan tetapi Qiyas menahannya sekuat tenaga.


Setelah dipindahkan kekamar itu, Qiyas berbicara kepada Zahra.


"Zahra, to...... tolong kamu pasangkan niqobnya Balqis lagi", kata Qiyas sedikit tergagap.


"Astaghfirullah hal'adzim, maaf Tuan tadi Nona Kia meminum obat dengan membuka niqobnya dan karena panik saya lupa memasangkan lagi niqobnya", jelas Zahra kepada Qiyas.


Zahra langsung menalikan lagi niqob Kia, dan dia senantiasa memijit-mijit tubuh Kia.


Setelah beberapa menit datanglah teman Qiyas yang Dokter itu yang tadi ditelfonnya. Sebelum sampai diruangan Kia, Dokter Bram sudah menelfon Qiyas dan Qiyas langsung menyuruh dia langsung naik keruangan Kia yang sudah diberitahu.


Setelah berbicara tadi Qiyas keluar menunggu temannya didepan ruangannya Kia.


"Ayo Bram cepetan dia didalam", kata Qiyas dengan nada yang sangat khawatir ketika sudah melihat Bram.


Ketika Dokter Bram memeriksa Kia dia ditunggui Zahra diruangan itu. Karena Qiyas tidak mau Kia berdua saja dengan Bram. Dan Qiyas sendiri keluar sebentar untuk menelfon Ayah Ibrahim.


"Baik Ayah Qiyas tunggu dulu disini", Kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim. Qiyas langsung saja mematikan sambungan telefonnya karena dia melihat Dokter Bram keluar ketika sudah selesai memeriksa Kia.


"Bagaimana Bram, apa yang terjadi dengan Balqis?? ", tanya Qiyas dengan khawatir.


"Dia tidak apa-apa, dia hanya dehidrasi dan sepertinya melupakan makan siangnya, itu yang menyebabkan kepala dia sangat pusing dan pingsan. Dia akan sadar sebentar lagi, dia sudah aku kasih infus dan jika dia sadar belikan dia makan dan paksa untuk makan", kata Dokter Bram kepada Qiyas.


"Syukurlah dia tidak kenapa-kenapa, terimakasih ya Bram", kata Qiyas berjabat tangan dan menepuk pundak Dokter Bram.


"Kalau begitu saya permisi Yas, pasienku tadi langsung kutinggalkan gara-gara dirimu, jangan lupa undangannya ku tunggu", kata dan pamit Dokter Bram kepada Qiyas.


Dan Qiyas mengantar Dokter Bram sampai keluar ruangan. Setelah beberapa menit Dokter Bram pulang, datanglah Ayah Ibrahim.


"Nak Iyas, bagaimana keadaannya Kia, kenapa dia bisa pingsan begini?? ", tanya Ayah Ibrahim dengan sangat khawatir.


Qiyas langsung menceritakan sesuai dengan apa yang disampaikan Dokter Bram tadi.


"Syukurlah, kalau begitu Ayah mau beli makanan dulu", kata Ayah Ibrahim.


"Tidak usah Ayah, Iyas sudah pesankan makanan untuk Kia, mungkin sebentar lagi sampai", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim.


"Ayah Balqis tidak boleh melihatku ada disini Ayah, karena dia tahunya saya pergi keLondon, jika saya masih disini ketika Balqis sadar, dia akan curiga kepadaku Ayah", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim.


"Benar apa yang kamu bilang, terus kita harus bagaimana?? ", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas.


"Ayah ikutin saja apa yang saya bilang", kata Qiyas kepada Ayah Ibrahim.


Lalu Qiyas membahas apa yang dia rencanakan kepada Ayah Ibrahim.


"Baiklah, Ayah ikut saja bagaimana baiknya", kata Ayah Ibrahim.


Qiyas hanya mengangguk menanggapi perkataan Ayah Ibrahim. Qiyas langsung saja berdiri dari duduknya karena Qiyas dan Ayah Ibrahim daritadi duduk dishofa yang ada diruangan Kia.


"Zahra saya ingin berbicara kepadamu", kata Qiyas pelan kepada Zahra ketika dia sedikit membuka pintu kamar yang ada diruangan Kia.


"Tuan Ibrahim", sapa Zahra sambil membungkuk ketika dia keluar melihat Ayah Ibrahim sedang duduk dishofa yang ada diruangan kerja Kia.


Dan Ayah Ibrahim hanya mengangguk menanggapi sapaan Zahra.


"Kalau begitu Ayah masuk dulu nak, sekalian mau melihat Kia", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas.


Qiyas hanya mengangguk menjawab Ayah Ibrahim.


"Silahkan duduk dulu Zahra", kata Qiyas mempersilahkan duduk Zahra dishofa yang ada diseberangnya.


"Ada apa ya Tuan", kata Zahra sambil menunduk.


"Jangan beritahu kepada Balqis jika saya yang menggendongnya masuk, jika dia bertanya jawablah Ayah Ibrahim yang menggendongnya, jangan kasih tahu Balqis jika kamu menelfonku, semuanya jangan dikasih tahu Balqis Zahra, jawab saja Ayah Ibrahim. Dan satu lagi jangan beritahu Balqis jika saya sudah melihat wajahnya. Kamu faham Zahra??!! ",kata tegas Qiyas kepada Zahra.


"Faham Tuan", kata Zahra kepada Qiyas.


"Sebentar lagi makanan Balqis datang, kamu tolong bantu dia untuk makan dan jika infus dia habis, kamu bisa kan membantu melepaskannya?? ", perintah Qiyas lagi.


"Baik Tuan, saya bisa", jawab Zahra.


Setelah menyampaikan perintah itu kepada Zahra Qiyas langsung pulang untuk menghindari Kia keburu bangun dari pingsannya. Dan benar tidak lama Qiyas pulang Kia tersadar dari pingsannya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***