
Qiyas beserta Keluarga kecilnya dan kedua mertuanya, benar-benar menikmati masa liburan mereka diDubai.
Mereka semua pergi kesemua destinasi yang ada diDubai. Qiyas benar-benar memanjakan Kia dan kedua anaknya, karena itu adalah liburan pertama bagi mereka.
Mamah Dian dan Ayah Ibrahim juga sangat menikmati perannya sebagai kakek dan nenek. Walau mereka semua sedikit kerepotan dan kecapekan bergantian menggendong baby Zaiy akan tetapi mereka semua sangat menikmatinya.
Apalagi keberadaan baby Zaiy yang selalu menyita perhatian semua orang yang melihat mereka ketika diluar rumah, dan ditempat umum.
Baby Zaida walau masih kecil Qiyas dan Kia sudah memakaikan hijab kepadanya, dan untungnya Zaida betah serta tidak merengek untuk dilepaskan.
Karena niat Kia serta Qiyas adalah memperkenalkan hijab sejak dini untuk Zaida, sebagaimana dengan ajaran Ayah Ibrahim serta Mamah Dian yang mengajarkan Kia serta Kakaknya dulu berhijab sejak masih bayi seperti Zaida.
Perintah untuk menggunakan hijab ini didasarkan pada firman Allah, surat Al-Ahdzab ayat 59 yang artinya:
βHai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuan, dan perempuan-perempuan mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya. Dengan demikian, mereka lebih mudah dikenal dan mereka tidak akan diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangβ (QS: al-Ahdzab ayat 59).
Tanpa terasa ternyata sudah dua minggu saja Qiyas, Kia, Mamah Dian, Ayah Ibrahim dan juga baby Zaiy liburan diDubainya.
Dan saat ini mereka semua sudah sedang bersiap-siap untuk pulang kerumah mereka diIndonesia.
Sedangkan diIndonesia tepatnya dirumahnya Zidan. Mila sudah sering merasakan mulas yang terkadang hilang, dan terkadang datang.
Zidan sendiri dia sudah mulai cuti semenjak lima hari yang lalu untuk menemani Mila lahiran, dan Papah Ziyas mereka mengijinkannya. Alhasil semua pekerjaannya Zidan dilimpahkan semua keFadhil dan Doni sekretaris kedua dan ketiganya Qiyas. Sedangkan pekerjaannya Qiyas sendiri sementara semua dihandle Papah Ziyas.
Waktu itu ketika sore hari setelah sholat asyar sekitar jam empatan, Mila merasakan mulas yang sudah sangat menyakitkan sekali baginya. Dan Mila sudah sering merasakan mulas yang terkadang hilang dan terkadang datang sejak siang tadi.
"Hubby, dedek apa mau keluar ya, rasanya perutnya Mila sudah seperti mau meledak, sakit banget Hubby", kata Mila waktu itu kepada Zidan ketika makan siang bersama kedua mertuanya juga. Karena hari itu kebetulan hari Sabtu, dan hari Sabtu Ayah Erlangga libur kerja.
Zidan yang mendengar perkataannya Mila dia sontak menghentikan kegiatan makannya dan langsung menghadap kearahnya Mila yang ada disampingnya.
Sebelum Zidan berbicara, sudah keduluan Ibunya bertanya dan berbicara kepada Mila.
"Kamu ini ada-ada saja nak, apa perut kamu sudah sering mulas nak Mila?? ", kata Ibu Gendhis kepada Mila. Dan dijawab anggukan oleh Mila.
"Apa mau melahirkan sekarang sayang", tanya Zidan dengan begitu khawatir kepada Mila sambil terus mengusap-usap perutnya Mila.
"Tidak tahu hubby, terkadang sakit, terkadang tidak", jawab Mila sambil bersandar dikursi makan.
"Itu kamu pertanda mau melahirkan Nak, nanti jika sudah sangat tidak kuat, langsung bilang kepada Zidan atau Ibu ya nak", kata Ibu Gendhis kepada Mila dengan sangat khawatir juga seperti Zidan.
"Zidan itu suapi istri kamu, kasihan Mila itu", kata Ayah Erlangga yang melihat Mila seperti menahan sakit diperutnya hingga tidak kuat untuk makan sendiri.
Zidan langsung saja menyuapi Mila dengan lembut dan perhatian, hingga dia lupa untuk menghabiskan makanan yang ada dipiringnya.
"Hubby, sudah ya, Mila tidak kuat jika harus makan lagi", kata Mila kepada Zidan,
"Ini baru beberapa sendok sweety, kasihan dedek didalam jika makannya sedikit", bujuk Zidan kepada Mila.
"Sudah Zidan, jangan dipaksa, ajak Mila beristirahat saja sana", kata Ibu Gendhis kepada Zidan.
Zidan langsung saja mengajak Mila beristirahat, akan tetapi Mila tidak mau dikamar, dia inginnya diruang tamu saja.
"Diruang tamu saja ya Hubby", kata Mila keda Zidan.
"Baiklah", jawab Zidan sambil menemani Mila sampai keruang tamu.
"Hubby ambilin buah atau camilan ya sayang", kata Zidan kepada Mila. Dan dijawab gelengan oleh Mila.
Karena Mila merasakan tidak enak diperutnya, jadinya dia tidak naf**u untuk makan.
"Hubby terusin makannya saja sana, biar Mila disini dulu sebentar", kata Mila kepada Zidan.
"Tapi nanti sweety tidak ada yang menemani, dan kalau sweety kenapa-kenapa bagaimana?? ", kata Zidan kepada Mila.
"Tidak apa-apa Hubby, Mila nanti kan bisa berteriak", jawab Mila kepada Zidan.
"Ya sudah, Hubby makan dulu sebentar ya", ijin Zidan kepada Mila, dan dijawab anggukan oleh Mila. Zidan sebelum pergi dia mencium keningnya Mila terlebih dahulu.
"Kamu disini Dan, Mila bagaimana?? ", tanya Ayah Erlangga kepada Zidan ketika Zidan akan duduk dikursi makan bergabung untuk makan siang lagi.
"Diruang tamu Yah, katanya ingin duduk disitu", jawab Zidan sambil memakan makanannya tadi.
"Mila tidak ada yang menemani, nanti kalau perutnya sakit lagi bagaimana?? ", kata Ayah Erlangga lagi.
"Biar Ibu saja yang menemani, Ibu sudah selesai, kamu teruskan makannya saja Dan", kata Ibu Gendhis sebelum Zidan menjawab perkataan Ayahnya.
Dan Ibu Gendhis lalu dia beranjak dari duduknya dan berlalu menuju keruang tamu untuk menemai Mila.
Dan ketika semua sudah pada selesai makan siang, Zidan mengajak Mila untuk tidur siang. Dalam tidurnya Mila sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak karena perutnya yang sudah besar dan sering merasakan mulas yang tidak pasti.
Puncaknya adalah ketika jam empat sore, Mila sudah merasakan sangat sakit sekali diperutnya.
"Hubbyyyyyyyyyyy", teriak Mila yang tidak seberapa kerasnya.
Zidan yang saat itu sedang mandi didalam kamar mandi kamar, dan sengaja tidak menutup pintunya, karena takut jika ditutup pintunya nanti sewaktu-waktu Mila memanggil atau membutuhkan bantuannya dia tidak mendengar.
Jadi ketika Mila berteriak seperti itu Zidan langsung mendengar karena pintu kamar mandi tidak dia tutup. Zidan langsung saja keluar ketika Mila berteriak memanggilnya. Dengan keadaan yang sedang tidak memakai baju.
"Ada apa sweety, kenapa?? ", tanya Zidan dengan khawatir dan tergesa-gesa, hingga dia melupakan jika dia sedang telan****ng.
"Perut Mila sakit Hubby, sakit sekali, aduuuuh", kata Mila kepada Zidan sambil mengaduh kesakitan dan juga memegangi perutnya terus.
Zidan yang kebingungan, bukannya menyelesaikan mandinya, dia malah berputar-putar sambil telan****ng karena panik melihat keadaannya Mila.
"Hubbyyy, cepat ganti baju", kata Mila dengan gemas dan sedikit membentak Zidan.
Zidan langsung tersadar ketika dibentak Mila, dia langsung saja membilas sebentar badannya dan langsung mengeringkannya dengan handuk, serta Zidan terus memakai baju asal ambil didalam lemarinya.
"Ibuuuuuuu, Ayaaaaah", teriak Zidan sambil menuntun Mila keluar kamar, ketika dia sudah selesai memakai baju rumahan yang asal dia ambil tadi.
Ibu Gendhis yang lagi menonton televisi dia terlonjak kaget ketika mendengar Zidan memanggilnya dengan berteriak. Dan Ayah Erlangga yang lagi didalam kamar dia juga langsung saja keluar ketika mendengar Zidan berteriak.
"Ya Allah Mila mau melahirkan Zidan", kata Ibu Gendhis kepada Zidan dengan terkejut karena melihat Zidan sudah memapah Mila yang kesakitan.
"Iya Ibu, tolong ambilkan tas yang sudah kita siapkan Bu didalam kamar", jawab Zidan sambil berlalu menuntun Mila keluar rumah.
"Ayo Zidan biar Ayah yang menyetir saja, kamu temanin Mila dibelakang", kata Ayah Erlangga sambil meminta kunci mobil kepada Zidan.
"Ayo kita cepetan berangkat", kata Ibu Gendhis ketika sudah menbawa semua perlengkapan dan sudah mengunci semua pintu rumah.
Mereka langsung saja berangkat kerumah sakit yang terdekat dari rumah mereka, dengan jarak hanya sekitar tiga puluh menitan.
Ketika didalam mobil, Mila dia sudah berkeringat dingin dan tanpa dia sadari air ketubannya sudah pecah duluan didalam mobil.
"Mila air, Ibu air Bu, itu air apa?? ", kata Zidan dengan sangat panik ketika dia tanpa sengaja memegang pahanya Mila yang sudah basah dengan air ketuban, dan ketika Zidan melihat kebawah kakinya Mila, airnya sudah lumayan banyak.
"Astaghfirullah, air ketubannya sudah pecah itu Nak, ayo Ayah cepetan sedikit naik mobilnya dan hati-hati", kata Ibu Gendhis dengan sangat khawatir sekali dengan keadaannya Mila.
Mila sudah seperti setengah sadar karena sudah lemas dan merasakan sangat sakit diperutnya.
"Sayang bertahan, hubby mohon", kata Zidan dengan meneteskan air mata ketika melihat keadaannya Mila yang seperti itu.
Tak henti-hentinya doa selalu terpanjat didalam hatinya Zidan, begitupun dengan Ibu Gendhis dan Ayah Erlangga.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh mereka sampai juga dirumah sakit. Dan ketika sudah sampai, Zidan langsung saja berteriak memanggil-manggil para Dokter.
ππππππππππππ
Lanjuuuut πππππ
ππππππππππππ
***TBC***