
Saat ini semua sedang sarapan pagi dimeja makan, dan hari ini juga Kakak Mila yang Andira akan pulang kembali kerumahnya, masih juga dikota A akan tetapi juga sedikit membutuhkan waktu jika pulang pergi, karena jarak rumah Kak Andira dan Papah Angga sekitar satu jam.
Eheeemmm
Mamah Sabrina sengaja berdehem dan itu mengalihkan semua orang untuk memandang kearah Mamah Sabrina.
"Kayaknya semalam ada yang mempraktekkan jurus yang Mamah kasihkan ya", goda Mamah Sabrina membuat Zidan tertawa malu dan senang, sedangkan Mila cemberut mendengar perkataan Mamahnya.
Ehemmm
Zidan juga sengaja berdehem untuk meredakan rasa senang dan malunya.
"Bagaimana Nak sukses, ampuh tidak jurus silat Mamah", kata Mamah Sabrina kepada Zidan.
"Sukses Mah, ampuh lagi, makasih ya Mah, nanti lagi ajarin keMila jurus silat yang lain yaaaa", kata Zidan sambil tertawa bahagia.
Sedangkan yang lain pada bingung dan penasaran. Kecuali Papah Angga, karena Papah Angga sudah tanya ke Mamah Sabrina tadi malam ketika mereka dikamar berdua. Jadi sekarang Papah Angga hanya menahan tawa dan menggelengkan kepalanya.
"Mamah kenapa tidak bilang keMila jika jurus silatnya bikin Mila sakit begini, rasanya badan Mila sakit semua, tapi ko enak, bikin mau lagi", kata Mila dengan pedenya.
Dan membuat Kak Andira dan Kak Satriya yang awalnya tidak faham menjadi faham.
"Benar kan Pah, jangan kasihan sama Zidan, justru Zidan yang akan berterima kasih sama Mamah, terbukti kan sekarang", kata Mamah Sabrina bangga dan sambil tertawa.
Mereka semua pada tertawa mendengar perkataan Mamah Sabrina, kecuali Mila, karena Mila lagi menahan ngilu tiiiiiiiiiiiiit ups sensor yahππ.
Jangan ditanya bagaimana wajah Zidan sekarang, dia sangat bahagia dan wajahnya terlihat lebih fresh.
"Ternyata punya istri eror itu ada enaknya ada tidak enaknya", bathin Zidan sambil tertawa bahagia.
"Mah, tapi kenapa Mamah menamainya dengan jurus silat kucing berkokok, bukannya kalau kucing itu mengeong, dan yang berkokok kan ayam", tanya Zidan kepada Mamah Sabrina.
"Yaaa, suka-suka Mamah dong, mau menamai apa, lagian kalau dinamai aneh begitu kan pada inget semua dan mudah dihafal, benar kan kata Mamah", jawab Mamah Sabrina kepada Zidan.
Zidan hanya tertawa dan menggaruk kepalanya sambil mengangguk menanggapi perkataan Mamah mertuanya.
"Ngomong-ngomong, kalian akan disini berapa hari Zidan", tanya Papah Angga kepada Zidan.
"Besuk Zidan kembali kekota X Pah, karena ijin Zidan cuman tiga hari dan lagian Mila harus berangkat kuliah", jawab Zidan kepada Papah Mila.
"Yaaah, cuman bentar doang dong kalian disini", kata Mamah Sabrina dengan memasang wajah cemberut.
"Saya titip adik saya ya bro, awas saja kalau kamu berani menyakitinya, dan Mila jika Zidan menyakitimu bilang keKakak ya", pesan Satriya kepada Mila dan Zidan.
"Ini Kak Tamtam sudah nyakitin Mila, Kakak tidak mau marahin dia", kata Mila kepada Satriya.
Sedang yang lain pada tertawa karena mudeng menyakitin dalam artian apa, dasar si Milanya saja emang.
"Kamu mau cepet sembuh sayang", kata Zidan kepada Mila.
"Mau-mau Kak, emang Kakak tahu bagaimana cara ngobatinnya, kenapa Kakak tidak bilang daritadi sih", kata Mila sambil menghadap Zidan yang ada disampingnya.
"Ya, kita ulangin saja lagi, dijamin pasti tidak sakit lagi", kata Zidan dengan menggoda Mila.
"Masa ayo-ayo Kak, kita ulangin saja lagi", jawab Mila dengan semangat.
Zidan langsung mengusap tengkuknya malu, sedangkan yang lain pada tertawa dengan tingkah Mila, karena Mila langsung menarik tangan Zidan untuk kembali kekamarnya.
"Sungguh aku bangga punya anak Mila yang mudah aku kadalin", kata Mamah Sabrina.
Membuat Papah Angga tertawa keras dan membuat Kak Satriya dan Kak Andira menggelengkan kepalanya dan ikut tertawa.
"Sebentar lagi kita akan menambah cucu Pah", kata Mamah Sabrina kepada Papah Angga dan Papah Angga hanya mengangguk menjawab perkataan istrinya.
"Mamah kamu mengerikan ya, untung kamu tidak kayak Mamah", bisik Hadi suaminya Kak Andira.
Sedangkan Andira memutar bola matanya malas menanggapi suaminya. Jika kalian tanya dimana anaknya Kak Andira, dia sedang diasuh baby sisternya diruang tamu rumah Papah Angga.
ππππππππππππ
Beda lagi dirumah Kia. Ayah Ibrahim, Mamah Dian dan Kia juga sedang sarapan juga dirumahnya. Dan diselingi pembicaraan biasa disetiap sarapan. Akan tetapi hari ini ada pembicaraan yang membuat Kia sangat terkejut.
"Nak, jika ada yang melamarmu ingin menjadikanmu istrinya, apakah kamu mau?? ", kata Ayah Ibrahim tiba-tiba kepada Kia.
Mamah Dian dia tidak kaget mendengar suaminya berbicara begitu, karena Ayah Ibrahim sebelumnya sudah menceritakan kepada Mamah Dian tentang Qiyas kemarin dikantor.
Awalnya Mamah Dian sungguh sangat terkejut melebihi Ayah Ibrahim ketika mendengar cerita Qiyas, dia tidak menyangka ternyata jika kejadian semua dikait-kaitkan bisa terhubung menjadi satu.
Kia yang mendengar perkataan Ayahnya sontak langsung melihat kearah Ayahnya. Dia sangat terkejut mendengarnya.
"Bagaimana Nak, dia laki-laki yang sholeh dan baik, Mamah dan Ayah sudah sangat mengenalnya dan dia sudah berani bilang keAyah jika ingin menjadikanmu istrinya", kata Mamah Dian membantu suaminya berbicara dengan Kia.
Kia langsung mengalihkan pandangannya keMamahnya.
"Mamah, dan Ayah kan tahu sendiri jika Kia belum berani, Kia takut", kata Kia lagi sambil menunduk karena sedih.
"Sudah-sudah kita bahas lagi nanti saja, sekarang kita sarapan saja dulu", kata Ayah Ibrahim kepada anak dan Istrinya.
Mereka akhirnya sarapan dengan diam, terutama Kia yang fikirannya berkelana kemana-mana karena perkataan Ayahnya. Sungguh Kia dilema, disisi lain Qiyas yang menyatakan perasaannya dan disisi lain ada laki-laki yang langsung meminta dirinya kepada orang tuanya. Begitulah fikirannya. Karena jauh didalam hatinya Kia dia ingin menerima Qiyas, bukan laki-laki yang baru dibicarakan orang tuanya.
Kia tidak tahu saja bahwa yang diomongin orang tuanya adalah Qiyas, jika tahu apakah dia akan menjawab seperti tadi.
"Ayah, Kia berangkat kekantor dulu ya, karena ada meeting dengan IRAWAN CORP, yang katanya akan mengajukan jadwal kerjasamanya, yang katanya bulan depan tapi tidak jadi", kata Kia setelah selesai menghabiskan sarapannya.
"IRAWAN CORP berarti Perusahaannya nak Iyas dong", kata Ayah Ibrahim.
"Apakah kamu akan meeting dengan Iyas nak", kata Mamah Dian bersemangat menanyai Kia.
"Bukan Mah, Kia meeting dengan CEOnya yang katanya adiknya Kak Fasya", jawab Kia kepada Mamahnya.
"Kak Fasya", beo Mamah Dian, karena Mamah Dian belum mengetahui jika Kia mempunyai panggilan tersendiri untuk Qiyas.
"Mereka punya panggilan sayang sendiri-sendiri Mah, Qiyas memanggil Kia Balqis, sedangkan Kia memanggil Qiyas Fasya, singkatan dari RAFASYA", yang menjawab bukan Kia melainkan Ayah Ibrahim. Ayah Ibrahim menjawab pertanyaan istrinya sambil menggoda Kia.
Sedangkan Mamah Dian tersenyum jahil kepada Kia dan membuat Kia semakin malu dan memerah wajahnya.
"Ehem, ada yang memerah tuh mukanya", goda Mamah Dian.
"Sudah Kia berangkat dulu Mah, Ayah", pamit Kia mengalihkan dan menghindari godaan dari orang tuanya. Kia langsung menyalami dan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Tunggu nak", kata Ayah Ibrahim kepada Kia ketika Kia sudah berjalan beberapa langkah.
Kia langsung berbalik dan bertanya kepada Ayahnya.
"Ada apa Ayah?? ", tanya Kia kepada Ayahnya.
"Bukannya kerjasama itu yang menangani nak Iyas langsung ya, kenapa jadi adiknya Iyas Kia", tanya Ayah Ibrahim kepada Kia.
"Tidak tahu Yah, kemarin ada sekertaris dari adiknya yang mengabari dan datang langsung kekantor ", jawab Kia.
"Oh ya sudah kalau begitu, baik-baik dijalan ya nak", kata Ayah Ibrahim.
"Iya Yah, Assalamu'alaikum", salam Kia kepada Ayah dan Mamahnya.
"Wa'alaikumussalam", jawab Ayah Ibrahim dan Mamah Dian secara bersamaan.
Didalam mobil Kia termenung, sebenarnya dia menginginkan proyek kerjasama ini Qiyas yang menangani, tapi dia juga tidak punya hak untuk mengatur, bagaimana pun juga dia tahu, kalau Qiyas seorang Presdir diPerusahaannya pasti dia mempunyai banyak pekerjaan.
Dirumah Ayah Ibrahim yang bingung dengan penjelasan Kia, akhirnya dia berinisiatif menelfon Qiyas.
"Mah, tolong ambilkan Hp Ayah dikamar ya", kata Ayah Ibrahim kepada Istrinya yang sedang membereskan meja makan karena habis sarapan tadi.
Mamah Dian langsung meninggalkan pekerjaannya dan menyuruh asissten rumah tangganya untuk menggantikannya, sedangkan Mamah Dian langsung menuju kekamar mengambil Hp suaminya.
"Ini Yah", kata Mamah Dian kepada suaminya yang sedang duduk dikursi ruang tamu.
Mamah Dian juga ikut duduk disamping suaminya.
"Wa'alaikumussalam nak Iyas, begini Ayah mau tanya kenapa kerjasama yang diBali jadi adikmu yang menangani, bukannya kemarin nak Iyas sendiri yang akan menanganinya", tanya Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
".......... β¦"
"Oh, begitu ceritanya, oke-oke Ayah mudeng maksut kamu, semoga berjalan dengan lancar rencana kamu", kata Ayah Ibrahim kepada Qiyas.
".......... β¦"
"Iya, wa'alaikumussalam nak, maaf Ayah pagi-pagi sudah mengganggu", jawab Ayah Ibrahim dan langsung mematikan sambungan telefonnya ketika sudah mendengar jawaban dari Qiyas.
Mamah Dian yang daritadi berada disamping suaminya dia penasaran ketika tahu suaminya menelfon Qiyas.
"Ayah tadi menelfon Iyas, bagaimana Yah, dia bilang apa?? ", tanya Mamah Dian kepada suaminya.
"Mamah ini mau tau saja, sudah ya Ayah mau berangkat kerja dulu", kata Ayah Ibrahim sengaja membuat istrinya penasaran.
"Ayah, ish nyebelin", kata Mamah Dian sambil mencium tangan suaminya.
ππππππππππππ
Dikantor IRAWAN CORP Qiyas yang baru mendengar pertanyaan Ayah Ibrahim, dia lalu menyandarkan kepalanya dikursi kerjanya sambil berdo'a.
"Semoga ini menjadi jalan yang baik yang ku ambil", do'a Qiyas.
ππππππππππππ
***TBC***