
"Baiklah, saya mengaku, saya tidak hamil dan saya begini karena saya disuruh oleh Tuan Ananta Tuan", jawab jujur wanita itu kepada Qiyas dan Papah Ziyas.
Perkataannya wanita itu membuat Qiyas, Zidan dan Fadhil dia langsung melototkan matanya ketika mendengarnya.
Perkataan wanita itu langsung mendapat sorakan yang lumayan keras dari pengunjung yang ada didalam Cafe tersebut.
"Mohon maaf untuk semuanya pada diam!!", kata dingin dan tegasnya Liem sekretarinya Papah Ziyas. Dan langsung membuat semua pengunjung pada diam seketika.
Qiyas dia sedikit mencondongkan badannya dan langsung memegang rahangya wanita itu dengan cukup kuat bahkan sampai membuat wanita itu langsung mengaduh dan memegangi tangannya Qiyas karena sakit.
"Wanita pel***r sepertimu dibayar berapa sama Ananta, hingga berani mempermalukanku dan istriku didepan umum begini!!! ", kata Qiyas kepada wanita itu sambil memegang rahangnya dengan sangat kuat sekali.
Qiyas lalu melepaskan pegangannya kerahang wanita itu dengan sangat kuat, hingga membuat wanita itu langsung sedikit tersungkur jika tidak ditahan oleh Fadhil yang ada dibelakangnya, dan dia juga sambil mengusap rahangnya yang terasa sakit.
"Hemm permainan dimulai, wanita bodoh", kata pelan wanita yang pernah menjadi rekan bisnisnya Qiyas dulu yang masih ada disitu.
Papah Ziyas dia lalu melihat kearahnya wanita itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sedangkan Kia dia sudah menenangkan hati dan fikiran, agar perutnya tidak kram dengan tiba-tiba.
Para pengunjung semakin gencar membicarakan wanita itu dan langsung menyebarkannya kemedia sosial mereka masing-masing dengan caption yang menyudutkan dan mencemooh wanita itu.
Memang Qiyas tadi mengatakan jika ada yang berani memvideo atau merekam dia akan menuntutnya, akan tetapi para pengunjung ketika sudah mengetahui penyebabnya mereka menjadi geram dengan wanita itu dan menjadi lupa akan ancaman yang diberikan Qiyas tadi.
"Maaf Tuan Qiyas dan Tuan Ziyas, kita selesaikan ini didalam ruangan saya saja bagaimana?? ", tawar Owner Cafe kepada Qiyas dan Papah Ziyas. Dan langsung mendapat anggukkan dari Papah Ziyas dan Qiyas.
"Tunggu Abi", kata Kia yang menghentikan gerakan semua orang yang akan beranjak melangkah.
"Bolehkah Kia tidak ikut kedalam", kata Kia kepada Qiyas.
"Papah tolong Papah yang mengatasinya ya, Iyas mau pulang ya Pah, karena Iyas tidak mau sampai terjadi apa-apa sama baby twins dan istriku", kata Qiyas kepada Papah Ziyas, dengan ekspresi yang menahan amarah.
Papah Ziyas dia sampai tidak enak kepada Kia karena Papah Ziyas bisa melupakan jika menantunya Kia sedang hamil besar.
"Maafkan Papah ya Nak, sampai melupakanmu jika kamu sedang hamil cucunya Papah yang asli, kamu pulang saja sama suamimu, biar Papah yang akan membereskan masalah ini untuk kalian", kata Papah Ziyas sambil mengusap kepalanya Kia yang tertutup hijab dan Papah Ziyas juga menyindir wanita yang ada didepannya.
"Zidan, Fadhil tolong jelaskan kepada Papah siapa itu Ananta, jika sudah selesai saya tunggu laporannya", kata Qiyas kepada Zidan dan Fadhil.
"Baik Tuan", jawab Zidan dan Fadhil secara bersamaan dan sambil membungkukkan badannya sedikit, karena Qiyas dan Kia langsung berlalu dari situ dan akan pulang menuju kerumahnya untuk menenangkan diri.
Ketika Kia dan Qiyas sudah berlalu keluar dari Cafe, semua pengunjung langsung menyoraki wanita itu dengan begitu keras melebihi tadi.
"Wanita Pel***r,
"Wanita Bodoh,
Dan masih banyak lagi cemoohan yang terlontar untuk wanita tadi.
"Aku bersumpah jika Keluarga Irawan menghukumku dengan sangat berat, akan aku bongkar semua rahasia Tuan Ananta, aku tidak perduli dengan uang mereka lagi", bathin wanita itu dengan marah dan takut.
"Cepat jalan", kata Liem kepada wanita itu dengan sambil mendorongnya.
Karena ketika Qiyas dan Kia sudah keluar dari pintu Cafe mereka semua langsung berjalan menuju keruangannya Owner Cafe yang ada dilantai atas.
Dan disinilah mereka semua, Papah Ziyas, Liem, Zidan, Fadhil, Owner Cafe dan wanita itu serta kedua waitress tadi yang disuruh untuk memeriksa.
Kedua waitress itu sengaja disuruh Papah Ziyas untu ikut masuk kedalam untuk menemani wanita yang mengaku-ngaku hamil anaknya Qiyas itu.
Sedangkan diluar ruangannya Owner Cafe semua pengunjung Cafe mereka masih membicarakan wanita tadi yang berani berurusan dengan Keluarga IRAWAN.
Sedangkan Qiyas dan Kia yang lagi perjalanan pulang kerumahnya, Qiyas dia diam saja karena sedang menahan amarah, sedangkan Kia dia sedang menahan sakit diperutnya karena kram yang tiba-tiba dan yang tadi juga belum hilang.
Kia tidak berani bilang kepada Qiyas karena Kia melihat wajahnya Qiyas yang sedang tidak bersahabat karena wanita tadi.
"Huuuuh, Astaghfirullah", kata Qiyas beristighfar berulang-ulang kali untuk meredakan amarahnya yang sudah diujung tanduk.
Qiyas lalu menoleh kearahnya Kia yang sedang duduk disampingnya, untung saja hari ini Qiyas membawa sopir, jika tidak akan sangat bahaya jika Qiyas menyetir dalam keadaan yang lagi marah begitu.
"Astaghfirullah Umi", kata Qiyas reflek karena ketika memegang tangannya Kia, tangan Kia ternyata sudah berkeringat dingin. Dan wajah Kia pun sudah dibanjiri dengan keringat.
"Pak, cepat kita belok keRumah Sakit Miracle Hospital Pak", kata Qiyas kepada sopir pribadinya.
"Baik Tuan Qiyas", jawab sopirnya Qiyas.
"Umi tahan sebentar ya, maafin Abi Umi", kata Qiyas sambil terus menenangkan Kia dan mengelus-ngelus perutnya Kia serta Qiyas juga mengaji untuk lebih menenangkan Kia.
Qiyas juga langsung menghubungi Dokter Ara Dokter Kandungannya Kia untuk standby diruangannya.
Kembali lagi kePapah Ziyas dan semuanya yang masih diruangan Owner Cafe.
"Bisa anda jelaskan semuanya Nona", kata tegas Papah Ziyas kepada wanita yang duduk dishofa yang ada diseberangnya.
Sebelum wanita itu menjawab Papah Ziyas bertanya keada Owner Cafe dan menyuruh Liem.
"Zico apakah CCTV mu masih normal dan berjalan dengan baik?? ", tanya Papah Ziyas kepada Owner Cafe sambil menunjuk CCTV yang terpasang diatas.
"Masih Tuan, saya jamin", jawab cepat Owner Cafe yang bernama Zico itu.
"Liem siapkan perekam kalau tidak ada siapakan Hp kamu untuk merekam semua perkataan dan pernyataan wanita ini", perintah tegas dari Papah Ziyas kepada Liem.
"Baik Tuan Ziyas", jawab Liem kepada Papah Ziyas.
Karena berhubung akan kelamaan mencari dan mengambil alat perekam, Liem lalu mengambil Hpnya dari saku jasnya dan langsung menyetel model rekam untuk merekam semuanya.
"Dia yang disidang malah aku yang jadi deg-degan sendiri begini karena ikut-ikutan disuruh masuk kesini", bathin salah satu waitress yang ada disitu.
"Semoga cepat selesai ya Tuhan, karena hamba sudah tidak tahan ingin cepat buang air kecil karena suasana tegang ini", bathin waitress satunya lagi. Yang mana memang dirinya jika disituasi begitu dia memang mudah sekali kebelet buang air kecil.
"Sia***n, kenapa aku jadi terpojok begini, awas saja kamu Tuan Ananta, akan aku bongkar semua rencana kamu", bathin wanita itu yang sudah sangat terpojok disitu dan sudah sangat ketakutan.
"Ayo Nona silahkan tolong dijelaskan kepada Tuan Ziyas", kata Liem masih sopan kepada wanita itu.
"Cepat jelaskan!!!!!! ", teriak Papah Ziyas lagi kepada wanita itu sambil menggebrak meja dan membuat yang ada didalam situ pada terlonjak kaget, terutama untuk wanita itu yang sudah sangat gemetaran. Karena wanita itu daritadi ditunggu-tunggu bukannya berbicara malah dia diam saja.
"Be....... Begini Tuan, se.......... sebenarnya..........
Bersambungπ
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Sabar readers, biar makin penasaran. Yuk Aulian-Zahranya mana dukungannyaπππ
ππππππππππππ
***TBC***