
Ketika sudah pada selesai menunaikan sholat dhuhur, mereka semua sekarang sedang berada diruang keluarganya Pak Kyai. Sedang berbincang-bincang santai dengan yang lain.
Bahkan Zabir dan Istrinya pun mereka juga belum pulang kerumah mereka. Kecuali Lida dia sedang menidurkan Lana, Pak Kyai juga langsung istirahat dan Aida juga lagi menidurkan Sabira anaknya.
"Kamu mau menginap disini atau nanti langsung pulang Qiyas?? ", tanya Zabir kepada Qiyas.
"Mungkin langsung pulang nanti Zabir?? ", jawab Qiyas kepada Zabir.
"Apa tidak ingin menginap disini saja dulu nak, pulang besok pagi saja", kata Umi Maryam kepada Qiyas.
"Bagaimana sayang?? ", bukannya menjawab pertanyaan Umi Maryam Qiyas malah bertanya kepada Kia.
"Kia ikut Kak Fasya saja bagaimana?? ", jawab Kia kepada Qiyas.
"Qiyas nanti pulang sorean saja Umi, jam tiga atau empatan saja Umi, sekalian asharan dulu karena besok Minggu kita sudah janjian mau kePanti Asuhan", jawab Qiyas kepada Umi Maryam.
"Ya sudah jika itu mau kalian, Umi tidak akan memaksa", jawab Umi Maryam lagi.
"Kalau begitu kalian istirahat saja dulu, biar nanti kalau pulang badan kalian akan Fit", kata Zabir kepada Qiyas dan Kia.
"Biar saya siapin kamarnya dulu Kak, permisi", kata Ustadz Riza kepada Zabir kakak iparnya. Dan langsung bangun dari duduknya berlalu untuk membersihkan kamar untuk istirahat Kia dan juga Qiyas.
Karena dirumah Pak Kyai masih tersedia beberapa kamar kosong yang memang disediakan untuk para tamu yang datang berkunjung.
Mereka juga berbincang hangat dan santai diruang keluarganya Pak Kyai. Tiba-tiba suara dari Ustadz Riza menghentikan obrolan mereka.
"Kamarnya sudah selesai saya beresin Qiyas dan Kia, silahkan kalau mau istirahat, lagian juga hampir jam dua siang ini", kata Ustadz Riza yang baru datang habis membersihkan kamar.
"Ya sudah Nak, istirahat sana dulu ya, Umi juga mau istirahat", kata Umi Maryam kepada Kia dan Qiyas.
"Baik Umi", jawab Kia dan diangguki Qiyas.
Akhirnya mereka bubar dan masuk kekamar mereka masing-masing untuk tidur siang kecuali Zabir dia malah sedang asik menonton tv.
"Kak emang kita beneran besok Minggu mau kePanti Asuhan?? ", tanya Kia sambil duduk dipinggir ranjang setelah mereka sudah masuk kekamar yang disediakan tadi.
"Iya sayang, maaf Kakak lupa mau cerita sama kamu", kata Qiyas sambil berjalan mendekati Kia.
Karena Qiyas tadi masih berdiri karena mau menutup pintu kamar.
"Ya sudah tidak apa-apa Kak, lagian Kia juga sangat suka sekali berkunjung kePanti Asuhan", jawab Kia kepada Qiyas.
"Ya sudah kita istirahat dulu yuk sayang, biar nanti badan kita sedikit fresh kalau kita pulang", ajak Qiyas kepada Kia ketika sudah berbaring diranjang yang sama bersama Kia.
Kia dan Qiyas mereka langsung terlelap dalam tidur siang mereka, mungkin karena kecapean juga tadi habis menempuh perjalanan yang sangat lama.
Tidak terasa waktu juga sudah menunjukkan jam tiga lebih sedikit, waktunya sholat ashar dan semua para lelaki yang ada dirumah Pak Kyai mereka pada sholat berjamaah diMasjid, termasuk Alif adiknya Gus Zabir, karena dia juga sudah pulang daritadi dari mengajarnya.
Sedangkan seperti biasa para perempuan masih sholat berjamaah dirumah, kecuali Lida yang dia belum selesai masa nifasnya.
"Tik, tik, Tik", kata seorang balita kepada Kia yang baru selesai menunaikan sholat ashar berjamaah sambil berjalan tertatih menuju kearah Kia.
"Eh sayang, tik, tik itu apa maksudnya Sabira?? ", kata Kia langsung menggendong Sabira.
Sabira adalah anaknya Aida dan Gus Zabir.
"Lho Sabira gangguin tante Kia ya sayang", kata Aida Aminya Sabira yang baru saja selesai membuatkan susu untuk Sabira, karena tadi ketika sholat Sabira selalu menarik-narik mukena Aida biasanya pertanda jika Sabira minta minum susu.
"Tik, Tik, Tik", kata Sabira lagi.
"Tik, Tik, Tik apa sih, bunyi hujan diatas genting?? ", kata Kia sambil tertawa sendiri dan disambut yang lainnya juga termasuk Umi Maryam yang juga masih disitu, ditempat sholat.
"Itu maksudnya kamu cantik paling Nak, coba lihat itu daritadi pipi kamu dipukulin terus sama Sabira", kata Umi Maryam kepada Kia.
"Iya itu Kia", jawab Aida Aminya Sabira.
"Ayo sayang minum dulu cucunya yuk", kata Aida kepada Sabira.
Sabira langsung saja melihat kearah Aminya dan minta digendong. Dan Kia juga langsung saja memakai niqobnya takutnya keburu para lelaki pulang dari Masjid.
Kia, Umi Maryam setelah selesai mereka duduk-duduk sambil mengobrol diruang tamu, disusul Lida yang baru selesai memandikan Lana. Sedangkan Aida gantian sekarang yang memandikan Sabira.
"Boleh aku gendong Lida", kata Kia kepada Lida.
"Boleh ini", jawab Lida dan langsung memberikan Lana kepada Kia.
Kia lalu menggendong Lana dan keluar dari ruang tamu, dia dengan begitu luwes dan sudah pantas untuk menjadi seorang Ibu.
Dari kejauhan ada seseorang yang melihat Kia sedang menggendong Lana dengan begitu manis menurutnya, siapa lagi kalau bukan Qiyas suaminya Kia yang lagi berjalan pulang bersama yang lain setelah selesai melaksanakan sholat ashar berjamaah diMasjid.
"Semoga Allah segera memberikan kita momongan ya sayang, sungguh adem sekali melihatmu sudah pantas menggendong seorang bayi", kata bathin Qiyas sambil melihat kearah Kia terus ketika berjalan.
Kia dia tidak sadar jika para lelaki sudah begitu dekat sampai rumah, karena dia sedang asik menggoda Lana dan melihat kearah Lana yang lucu dan gembul itu. Hingga suara salam membuat Kia mengalihkan pandangannya yang daritadi kearah Lana terus.
"Assalamu'alaikum", salam para laki-laki termasuk Pak Kyai yang baru sampai dirumahnya.
"Wa'alaikumussalam", jawab Kia kepada semuanya.
Qiyas lalu mendekat kearah Kia yang sedang menggendong Lana, sedangkan yang lainnya langsung masuk dan ikut bergabung sama Lida dan Umi Maryam yanh sedang duduk diruang tamu.
Semua orang yang melihat Kia dan Qiyas diteras rumah, sambil Kia menggendong Lana, mereka dengan tulus mendo'akan semoga Kia dan Qiyas segera diberikan momongan.
Kia dan Qiyas langsung saja masuk keruang tamu untuk bergabung dengan yang lainnya ketika sudah puas bermain dengan Lana.
"Pak Kyai dan semuanya, setelah pulang dari Semarang, saya dan Balqis nanti mengundang kalian semua untuk datang keacara syukuran rumah baru kami Pak Kyai", kata Qiyas kepada Pak Kyai dan semuanya yang ada disitu.
"Alhamdulillah", jawab Pak Kyai kepada Qiyas.
"Maafkan Umi dan Pak Kyai ya nak Kia dan Qiyas, jika nanti kami tidak bisa menghadiri acara syukuran yang kalian adakan, maklum sudah tua nak, apalagi Pak Kyai beliau sudah tidak kuat untuk perjalanan jauh", kata Umi Maryam kepada Qiyas dan Kia.
Qiyas dan Kia pun yang sudah tahu, mereka memakluminya dan tidak marah, yang penting do'a-do'a dari Umi Maryam dan Pak Kyai selalu menyertai mereka berdua.
"Siap nanti kami akan datang kasih tahu saja ya teman kapan waktunya", kata Zabir kepada Qiyas.
"Jika nanti bisa insyaallah aku dan Mas Riza akan datang juga Kia", kata Lida kepada Kia.
"Tapi ngomong-ngomong kalian ngapain keSemarang ya?? ", tanya Lida kepada Kia.
"Bukan aku Lida, tapi cuman Kak Fasya saja, karena urusan pekerjaan", jawab Kia kepada Lida.
Tiba-tiba terdengar suara anak balita tertawa dengan menggemaskan dan berjalan dengan tertatih perlahan menuju kesemua orang yang sedang duduk.
"Sini nak sama Abah", kata Zabir sambil memanggil Sabira yang baru selesai dimandikan oleh Aminya Aida.
Sabira tidak menggubris panggilan Abahnya, malah kaki kecilnya dengan perlahan berjalan menuju kearah Qiyas.
"Abahnya kalah ganteng jadi tidak dipilih sama anaknya", goda Umi Maryam kepada Zabir membuat semua orang tertawa termasuk Pak Kyai dan Qiyas.
"Yaaah Abah dicuekin sama Bira", rengek Zabir dengan pura-pura merajuk dan menangis kepada Sabira.
Sabira yang melihat Abahnya merajuk bukannya mau ikut, malah mentertawakan dengan suara khasnya karena muka Abahnya yang mungkin bagi Sabira lucu. Membuat yang lainnya tertawa lagi karena kelucuan dari Sabira termasuk Aida yang sudah ikut duduk bergabung dengan yang lainnya.
Setelah berbincang sana sini akhirnya tepat pukul empat sore Qiyas dan Kia mereka berpamitan untuk pulang kerumah mereka.
Dan mereka juga dibawain begitu banyak oleh-oleh juga sama Umi Maryam untuk keluarganya Kia dan Qiyas dirumah.
ππππππππππππ
***TBC***