BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
LAMARAN ZIDAN



"Apa yang ingin kamu jelaskan tentang telefonmu tadi siang Zidan?? ", tanya Qiyas to the point kepada Zidan, ketika mereka berdua sudah berada diruang kerja Qiyas.


"Em, Tuan saya minta maaf jika penjelasan saya nanti akan membuat Tuan terkejut", kata Zidan sebagai permulaan.


"Maksut kamu apa Zidan?? ", kata Qiyas kepada Zidan.


Zidan langsung menjelaskan apa yang terjadi hari ini kepada dirinya, semuanya tanpa terkecuali sama sekali, karena fikir Zidan Qiyas berhak tahu juga, dan Zidan juga tidak mau ada rahasia diantara dirinya dan Qiyas.


Tentu saja Qiyas juga terkejut seperti yang lainnya. Entah Qiyas sudah orang keberapa yang dibuat terkejut oleh Zidan.


"Kamu tidak bercanda denganku kan Zidan?? ", tanya Qiyas setelah bisa meredakan rasa terkejutnya.


"Tidak Tuan, buat apa saya berbohong untuk hal seperti ini", jawab Zidan.


"Saya bangga padamu bergerak cepat, tidak sepertiku", kata Qiyas dengan tersenyum kepada Zidan.


"Terimakasih Tuan", kata Zidan dengan tersenyum kepada Qiyas.


"Bolehkah saya bertanya kepadamu?? ", tanya Qiyas kepada Zidan.


"Boleh Tuan", jawab Zidan.


"Apakah Mila itu perempuan yang kamu ceritakan ketika diDubai itu?? ", tanya Qiyas kepada Zidan.


"Iya Tuan, dan saya tidak menyangka jika jalanku untuk mendapatkannya akan dipermudah begini", jawab Zidan dengan senang.


Qiyas hanya tersenyum menanggapi perkataan Zidan.


"Tuan, bolehkah gantian saya yang bertanya?? ", kata Zidan kepada Qiyas.


"Bertanyalah, kenapa kamu harus kaku begitu Zidan?? ", jawab Qiyas dengan tertawa kecil.


"Emm, apakah Nona Kia itu wanita yang Tuan ceritakan dulu", tanya Zidan dengan hati-hati.


Zidan daritadi selalu mengamati wajah Qiyas, ketika dia menyebut nama Kia, wajah Qiyas langsung berseri.


"Apakah terlihat jelas Zidan diwajahku", kata Qiyas dengan wajah yang berseri dan tersenyum.


Zidan langsung mengangguk memberikan jawaban. Dan Qiyas tertawa kecil melihat jawaban Zidan.


"Emb bagaimana besuk kalau Tuan ikut keacara lamaran saya, kan sekalian bisa melihat dan berpendekatan dengan Nona Kia Tuan", kata Zidan kepada Qiyas.


Sontak Qiyas tadi yang tertawa langsung terdiam mendengar perkataan Zidan.


"Tidak Zidan, itu acara keluarga, sedangkan aku bukan siapa-siapa, biarlah saya nanti akan pendekatan dengan caraku sendiri", kata Qiyas kepada Zidan.


"Ya sudah Tuan kalau begitu, saya hanya bisa mendoakan semoga Tuan dan Nona Kia berjodoh dan berakhir dipelaminan", kata Zidan tulus mendo'akan Qiyas.


"Aamiin", kata Qiyas mengaamiinin.


"Tuan, saya permisi pulang dulu, sudah malam, dan saya besuk ijin tidak masuk kekantor dulu ya Tuan, saya ingin mempersiapkan untuk acara lamaran saya malamnya", kata Zidan kepada Qiyas.


"Santai saja Zidan, persiapkanlah sebaik mungkin, dan jika kamu membutuhkan sesuatu atau bantuanku, jangan sungkan bilang kepadaku, semoga besuk acaranya lancar ya Zidan, saya ikut senang untukmu", kata Qiyas kepada Zidan sambil berjabat tangan dan menepuk pundak Zidan. Karena posisi mereka sudah berdiri dan Zidan akan pulang.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Hari dan waktu yang sudah ditunggu-tunggu oleh kedua belah keluarga, terutama Zidan akhirnya tiba juga, saat ini semua keluarga besar Zidan sudah sampai dirumah Mila.


Zidan yang dari rumah sudah deg-degan, ketika sudah sampai dirumah Keluarga Mila tambah deg-degan dan keringat dingin mulai membanjiri dahinya. Tidak sesuai dengan Zidan yang terkenal dikantor dengan sosok yang dingin, dan cuek.


"Assalamu'alaikum semua", kata salam dari pihak Zidan kepada semua keluarga Mila yang menyambut.


"Wa'alaikumussalam, mari-mari silahkan masuk sudah ditunggu tuan rumah didalam", jawab salah satu kerabat keluarga Mila.


Semua keluarga Zidan dipersilahkan masuk dan disambut hangat oleh Keluarga Mila, terutama Papah Mamahnya Mila. Walaupun diwajah Satriya saat ini dirinya tersenyum ramah, akan tetapi didalam hatinya rasanya belum rela adik kecilnya sudah ada yang akan memiliki.


"Assalamu'alaikum", salam ramah dari Ayah Erlangga ketika akan masuk kedalam rumah.


Papah Angga dan lainnya yang sudah menunggu pun kompak menjawab salam dan mempersilahkan semua Keluarga Zidan duduk.


Saat ini Zidan sedang menggunakan baju batik yang sangat rapi, celana kain hitam, jam tangan yang apik melingkar ditangan kekarnya, rambut yang dia poles serapi mungkin, dan jangan lupakan dengan sepatu fantovel hitam yang mengkilapnya. Sungguh sangat tampan malam ini Zidan. (Menurut authorπŸ˜‚πŸ˜…)


Mila yang turun dari tangga didampingi Kia dan saudara-saudara perempuannya sontak mengalihkan pandangan mata semua orang yang ada dibawah dan langsung melihat kepara wanita yang baru turun dari tangga.


Zidan sangat terpesona melihat Mila yang saat ini sedang menggunakan gamis putih, dan hijab yang senada dengannya dan jangan lupakan riasan sederhana yang menambah kecantikan alami Mila.


"Astaghfirullah cantiknya, kalau begini ceritanya saya tidak mau lamaran, langsung nikah saja, biar tidak khilaf", bathin Zidan langsung menundukan wajahnya.


Setelah Mila sudah duduk diantara Papah Mamahnya serta Satriya yang ada disebelah Papahnya dan Andira Kakak Mila ada disebelah Mamahnya, acaranya pun langsung dimulai.


"Bissmillahirrohmaanirrohiim",


Assalamu'alaikum Wr. Wb


Perkenalkan nama saya Erlangga, saya Ayah kandung Zidan, ini istri saya Gendhis Ibu kandung Zidan, ini adik Zidan namanya Desi dan itu kakek, neneknya Zidan serta mereka adalah keluarga besar kami.


Terimakasih kami ucapkan telah berkenan menerima kehadiran kami malam ini sekeluarga besar dengan baik. Pada kesempatan ini kami dari pihak Keluarga Zidan dengan niat tulus bermaksud melamar anak bapak yang bernama Karmila Nur Laila untuk putra kami Zidan Pratama", kata Ayah Erlangga dengan tersenyum ramah.


Jangan ditanya bagaimana kondisi Zidan, dia masih mengumbar senyum, akan tetapi tangan dia begitu dingin oleh keringat.


Papah Angga sangat yakin dengan keputusannya, melihat keseriusan Zidan yang berani membawa langsung kedua orang tuanya beserta keluarga besarnya. Sebelum Zidan datang Papah Angga dan Mamah Sabrina sudah bertanya kepada Mila, bagaimana cerita yang sebenarnya, dan Mila menceritakan dengan jujur dan tanpa ditutup-tutupi.


Mendengar cerita Mila, Papah Mamahnya Mila menyakinkan Mila untuk menerima Zidan, karena laki-laki yang baik adalah yang berani langsung membawa kedua orang tuanya untuk meminta menjadi Istrinya, bukan laki-laki yang suka mengumbar janji akan tetapi tidak ada hasilnya.


Mila yang mendengar nasihat dan wejangan dari kedua orang tuanya yang awalnya bingung, sekarang sudah mantap dengan keputusannya.


Kembali lagi keacara lamaran Zidan ke Mila.


"Bagaimana Nak Mila, apakah kamu menerima lamaran dari Nak Zidan kepadamu?? ", tanya Papah Angga kepada Mila.


Semua pasang mata langsung tertuju kepada Mila, kecuali Zidan dia tidak berani melihat kearah Mila dan Zidan yang sedang deg-degan ketika menanti jawaban Mila semakin keringat dingin.


Heeeem huuuuuuhh


Mila mengehmbuskan nafasnya pelan dan sambil mengucapkan bassmalah dengan pelan.


"Maaf Kak Tamtam, saya tidak bisa menerima lamaran ini", jawab Mila yang mengagetkan semua orang yang ada disitu. Zidan langsung reflek melihat kearah Mila.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***