
"Boleh, sana ikut sama tante-tantenya Kia", kata Ayah Ibrahim kepada Ustadz Faris.
Didalam syariat Islam pihak ikhwan diperbolehkan untuk melihat wajah calon istrinya dan memandangnya hanya untuk kebutuhan saja, karena belum menjadi mahramnya.
Setelah Ustadz Faris, Ibunya Ustadz Faris yang bernama Farida, Kia dan beserta tante-tantenya sudah berada diruangan yang disediakan.
Tantenya Kia yang bernama Jihan membantu Kia membuka niqabnya. Jantung Kia berdetak semakin keras, sedangkan Ustadz Faris yang tadinya bisa mengontrol diri, sekarang jantungnya serasa mau meledak.
Wajah ayu nan cantik Kia kini sudah terlihat jelas oleh Ustadz Faris, wajah putih bersih alami, warna bola mata hitam legam, serta bibir tipis pink alaminya, sangat jelas dimata Ustadz Faris, bahkan Ustadz Faris tidak bisa mengungkapkan bagaimana cantiknya Kia. Dan yang menambah kesan susah dilupakan adalah pas Kia tersenyum lesung pipi dikanan dan kiri, membuat Ustadz Faris lupa berkedip.
"MasyaAllah Allah huakbar", gumam Ustadz Faris Lirih, tetapi masih didengar semua orang yang mendampingi mereka. Sontak mereka semua tertawa kecuali Ustadz Faris dan Kia. Dan membuat pipi Kia memerah dan menambah ayu wajahnya.
"Sudah cukup tante", kata Ustadz Faris kepada tante Jihan yang membantu Kia.
Akhirnya mereka semua sudah kembali keruang tamu, dan ternyata para tetua sudah merundingkan dan merencanakan bahwa pernikahan akan dilangsungkan 2 minggu dari sekarang.
★★★★★★★★★★★★★
Ditempat berbeda tepatnya dipesantren Qiyas yang saat itu masih berada diruang tamu dengan buku dan kertas-kertas jawaban para siswanya, tiba-tiba terdengar dering suara Hpnya. Langsung saja Qiyas mengangkat telefonnya karena ternyata yang menelfon adalah Zidan sekertaris sekaligus tangan kanannya. Karena tumben Zidan menelfon malam-malam, pasti ada sesuatu yang penting fikir Qiyas.
"Hallo Assalamu'alaikum, ada apa Zidan malam-malam telefon?? ", tanya Qiyas langsung.
"Hallo, wa'alaikumussalam Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan", kata Zidan.
Zidan langsung saja menceritakan bahwa perusahaan yang ada diDubai sedang ada konflik dengan Pengembang bangunan untuk sebuah Mall dan terjadi Korupsi besar-besaran sekitar 50Milyar, sehingga membuat saham Perusahaan menurun hingga tiga luluh lima persen dan mengharuskan Qiyas mengecek keadaan secara langsung.
Sontak berita mengejutkan itu mengagetkan Qiyas, hingga dia terlonjak dari duduknya.
"Apaaaaaaaa!!!!!! ", teriak Qiyas begitu keras.
"Apakah Papah sudah mengetahui berita ini Zidan?? ", tanya Qiyas.
"Sudah Tuan, dan Tuan Ziyas mengharapkan Tuan Qiyas segera berangkat keDubai, karena sekarang Tuan Ziyas sedang berada diLondon karena urusan bisnis dengan Perusahaan Diamon's Group Tuan", kata Zidan menjelaskan.
"Baiklah, akan saya selesaikan urusan saya disini secepatnya, jika sudah selesai saya langsung menghubungimu, tolong handle dulu sebisamu", kata Qiyas kepada Zidan.
"Baiklah Tuan", kata Zidan.
Setelah sambungan telefon mati, Qiyas segera menyelesaikan tanggung jawabnya, setelah itu dia akan segera menjelaskan kepada Zabir dan keluarga Pak Yai.
"Assalamu'alaikum Zabir", salam Qiyas setelah sampai dirumah Zabir.
"Wa'alaikumussalam Qiyas, tumben sudah malam begini kesini, ada apa? Apakah ada hal penting?? ", tanya Gus Zabir.
"Emm begini Zabir,.......... (akhirnya Qiyas menceritakan apa yang disampaikan Zidan kepadanya kepada Zabir) ", terang Qiyas.
"Astaghfirullah subhanallah, baiklah saya mengerti dan faham, terus kapan kamu akan pulang dan berangkat keDubai?? ", kata Gus Zabir.
"Kemungkinan besuk Zabir, karena sekarang saya kesini juga sekalian mau menyerahkan ini semua tugas, nilai dan semua rekapan untuk anak-anak", kata Qiyas sambil menyerahkan berkas-berkas rekapan selama dia mengajar.
"Qiyas, bolehkah aku ngomong sesuatu?? ", kata Gus Zabir sambil menerima berkas yang dikasih Qiyas.
"Silahkan Zabir, kayak sama siapa saja", kata Qiyas dengan ekspresi yang santai.
"Hmmm apakah kamu sudah tahu, jika Ustadzah Kia hari ini dikhitbah dan akan menikah dalam kurun waktu 2 minggu mendatang?? ", kata Zabir dengan sangat hati-hati, karena dia tahu bagaimana perasaan Qiyas kepada Kia.
Qiyas tersenyum menanggapi kata-kata Zabir. Sebenarnya dia juga tahu jika Kia akan dikhitbah resmi hari ini oleh Ustadz Faris dihadapan keluarga besar, karena dia tadi pas diruang guru mendengar pembicaraan para Ustadzah tentang Ustadz Faris dan Kia.
"sudah Zabir, akan tetapi saya tidak tahu jika mereka akan menikah dalam waktu dekat", kata Qiyas dengan senyum getir.
"yang sabar, ikhtiar lagi lebih banyak, semoga suatu saat kamu ditemukan dengan perempuan yang lebih dari Kia", kata Zabir menghibur.
"Dan mungkin kepergianmu keDubai adalah jalan untukmu melupakannya", kata Zabir lagi.
Qiyas hanya tersenyum dan mengangguk menaggapi kata-kata Gus Zabir.
"Besuk pagi-pagi sekali temanin aku berpamitan pada Pak Kyai dan yang lainnya ya sobat", kata Qiyas kepada Zabir.
"Siap laksanakan komandan", kata Zabir dengan tangan seperti hormat.
Sontak kelakuan Zabir membuat mereka berdua tertawa bersama, dan sejenak Qiyas bisa melupakan sakit hatinya.
Dan ternyata tidak disangka Qiyas mengajar diPesantren Darunnajah sudah 3 bulan lamanya, dan apa yang dibilang Zabir ada benarnya, kepergian Qiyas keDubai adalah jawaban untuk Qiyas supaya dia bisa menjauh dari Kia dan menata hatinya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
***TBC***