BISSMILLAH WITH YOU

BISSMILLAH WITH YOU
KHAWATIR



Mobil yang ditumpangi Ayah Ibrahim beserta Kia yang awalnya akan berangkat kekantor, akhirnya putar arah untuk kembali lagi kerumah.


Sang supir yang mengendarai mobil disuruh Ayah Ibrahim untuk lebih meningkatkan kecepatan untuk biar cepat sampai dirumah dan juga lebih harus berhati-hati.


Ketika mobil yang ditumpangi Ayah Ibrahim dan Kia sudah sampai dirumahnya. Mereka sudah ditunggu Mamah Dian diteras rumah dan Ayah Ibrahim serta Kia juga melihat wajah Mamah Dian yang sudah berlinang air mata dan ketika Ayah Ibrahim dan Kia sudah turun dari mobil, Mamah Dian dia langsung menarik tangannya Ayah Ibrahim serta Kia untuk masuk keruang keluarga sambil menonton berita yang disiarin ditv tentang kecelakaan pesawat tadi pagi.


Kia dan Ayah Ibrahim mereka sangat syok mendengar berita yang sedang tayang ditv, hingga Kia dia tiba-tiba langsung pingsan dan jatuh diatas shofa, karena tidak tahan menahan rasa sesak didadanya sebab saking syoknya. Membuat Ayah Ibrahim dan Mamah Dian terkejut dan sontak berteriak memanggil nama Kia.


"Kiaaaaaaaaaaa", teriak Ayah Ibrahim dan Mamah Dian secara bersamaan.


Mamah Dian dia langsung menyuruh pelayan yang ada dirumahnya untuk mengambilkan minyak kayu putih untuk menenangkan dan membangunkan Kia. Sedangkan Ayah Ibrahim dia langsung melepaskan sepatu dan kaos kaki yang Kia pakai, sambil mengusap-usap kakinya Kia menggunakan minyak kayu putih.


Mamah Dian juga menyuruh untuk mengambilkan minum air putih hangat kepada pelayan yang ada dirumahnya, untuk diminumkan keKia ketika Kia sadar nanti.


Semua pelayan yang ada dirumah Ayah Ibrahim mereka juga sama sedihnya mendengar berita tentang kecelakaan pesawat itu, dan mereka semua juga sama-sama mengikuti serta juga menonton ditv yang disediakan khusus untuk para pelayan dirumahnya Ayah Ibrahim.


Ketika mereka semua, yaitu Ayah Ibrahim dan Mamah Dian serta para pelayan yang disuruh Mamah Dian sedang sibuk mengurusi Kia yang lagi pingsan, terdengarlah bel berbunyi dan dipencet dengan tidak sabaran. Pas ketika pintunya dibuka oleh pelayan yang ada dirumahnya Ayah Ibrahim ternyata yang datang adalah Bunda Lili, Papah Ziyas dan Aulian dengan wajah yang sudah sangat khawatir.


Karena tadi setelah Mamah Dian selesai menelfon suaminya, dia langsung menelfon besannya. Yaitu kedua orang tuanya Qiyas, Papah Ziyas dan Bunda Lili.


Untung saja saat itu Aulian dan Papah Ziyas belum berangkat kekantor, jadi ketika Mamah Dian yang mengabari hal itu kepada Bunda Lili mereka semua, yaitu Papah Ziyas, Aulian serta Bunda Lili langsung siap berangkat menuju kerumahnya Ayah Ibrahim.


Ketika Mamah Dian sedang menghubungi Bunda Lili Papah Ziyas dan Aulian mereka sedang bersiap-siap dikamar masing-masing untuk berangkat kekantor.


Dan ketika Mamah Dian sudah selesai mengabari hal itu, Bunda Lili langsung menyalakan tv dan mencari berita tentang kecelakaan pesawat yang baru saja terjadi.


Dan benar saja ada berita tentang pesawat GreenAir yang jatuh kelaut setelah lepas landas dari bandara Seokarno-Hatta sekitar pukul setengah delapan lewat tadi. Sontak Bunda Lili dia berteriak-teriak memanggil suaminya dan Aulian serta semua pelayan yang ada dirumah itu juga pada keluar semua menuju ruang keluarga dimana Bunda Lili tadi berteriak sambil menonton berita ditv.


"Ada apa Nyonya,


"Ada apa Bund,


Kata Papah Ziyas, Aulian dan serta para pelayan yang sudah sampai diruang Keluarga Irawan dan mereka semua yang tadi mendengar teriakannya Bunda Lili.


Bunda Lili lalu menceritakan apa yang disampaikan Mamah Dian kepadanya, jika Qiyas dia akan keSemarang dan sedang naik pesawat GreenAir yang saat ini sedang mengalami kecelakaan dan jatuh kelaut.


Sontak perkataan Bunda Lili membuat Papah Ziyas dan Aulian serta para pelayan yang ada disitu terkejut sekali.


Papah Ziyas lalu dia menelfon Ayah Ibrahim untuk menanyakan tentang hal itu, dan ternyata benar apa yang disampaikan oleh Bunda Lili tadi.


Papah Ziyas dan Aulian mereka akhirnya melihat dan mendengarkan secara seksama berita yang ada ditv. Papah Ziyas dan Aulian juga sama syoknya melihat berita yang sedang tayang ditv, hingga membuat Bunda Lili yang ikutan menonton dia hampir pingsan jika tidak disadarkan oleh Papah Ziyas.


"Sudah Bund, semoga itu pesawat yang satunya lagi ya Bund, ayo kita semua segera kerumahnya Pak Ibrahim", kata Aulian kepada kedua orang tuanya.


Semua pelayan yang ada dirumahnya Papah Ziyas mereka mendo'akan semoga Qiyas masih selamat dan tidak kenapa-kenapa.


Dan disinilah mereka semua sudah berada diruang kelurganya Ayah Ibrahim. Aulian juga sama seperti Kia, dia berusaha mencoba menghubungi Qiyas, akan tetapi nihil.


"Tidak ini tidak mungkin, anakku Qiyas dia tidak kenapa-kenapa", kata Bunda Lili untuk dirinya sendiri sambil matanya melihat kearah tv.


Sedangkan Papah Ziyas dia diam saja karena dia juga sedang berfikir bagaimana caranya mengetahui Qiyas ada dipesawat itu atau tidak.


Lalu Papah Ziyas teringat sesuatu, Papah Ziyas langsung mengambil Hpnya dan menghubungi Liem untuk mencari tahu apakah Qiyas terdaftar menjadi penumpang diPesawat GreenAir atau tidak.


Tidak membutuhkan waktu lama hanya sekitar lima belas menit, Papah Ziyas dia sudah mendapatkan kabar jika benar Qiyas terdaftar sebagai penumpang GreenAir dengan Business Class tujuan Semarang dan berangkat sekitar jam tujuh pagi.


Papah Ziyas lalu menghubungkan terjadinya kecelakaan pesawat dan jam keberangkatannya Qiyas, dan benar pas. Jadi benar GreenAir adalah pesawat yang akan ditumpangi Qiyas.


Papah Ziyas dia juga sangat sedih dan khawatir, akan tetapi dia berusaha tenang semaksimal mungkin agar istrinya yaitu Bunda Lili dia tidak semakin cemas dan drop.


Ayah Ibrahim dan Mamah Dian usaha mereka berhasil untuk membangunkan Kia dari pingsannya. Dan ketika sudah sadar Kia lalu berteriak memanggil Qiyas.


"Kak Fasyaaaa!! ", teriak Kia dengan kencang sambil melihat kearah berita ditv dengan air mata yang mengalir deras.


Aulian yang melihat semua wanita yang dia sayangi merasa sedih, dia juga ikut-ikutan merasa sangat sedih, apalagi tentang kondisi Kakaknya Qiyas yang belum ada kabarnya.


"Kita sebaiknya tunggu dulu, jika Qiyas benar-benar menjadi korban kecelakan pesawat, pihak bandara pasti akan menghubungi kita yaitu pihak keluarganya", kata Papah Ziyas berusaha menenangkan semuanya.


Hingga jam sembilan lebih seperempat mereka semuanya masih menunggu kabar dari pihak bandara, akan tetapi belum ada kabar sama sekali.


Mereka semua masih setia mengikuti, mendengarkan dan melihat berita tentang jatuhnya pesawat kelaut itu.


Hingga kesabaran Papah Ziyas dan Aulian mereka sudah habis.


"Aku tidak bisa jika harus berdiam diri begini", kata Aulian dia langsung berdiri dari duduknya.


"Papah ikut nak", kata Papah Ziyas kepada Aulian.


"Kalau begitu saya juga ikut", kata Ayah Ibrahim dia ikut-ikutan akan kebandara bersama Aulian dan Papah Ziyas mencari tahu tentang keadaannya Aulian.


"Mah jagain Kia ya, biar Ayah dan yang lain mencari tahu dulu kebandara", kata Ayah Ibrahim kepada Mamah Dian.


"Hati-hati kalian semua ya", kata Mamah Dian untuk Ayah Ibrahim, Papah Ziyas dan Aulian.


Sedangkan Kia dan Bunda Lili mereka diam saja dengan fikirannya masing-masing.


Akhirnya mereka semua langsung bergegas berdiri dari duduknya dan akan berangkat menuju kebandara.


Aulian dia berada paling depan ketika akan berjalan keluar dan sesampainya diruang tamu Aulian yang membuka pintu rumahnya Ayah Ibrahim dia dikejutkan oleh orang yang menjadi khekhawatirannya semua orang. Dan diikuti Papah Ziyas serta Ayah Ibrahim yang juga terkejut.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


***TBC***