An Angel From Her

An Angel From Her
97# Tendangan Mengagumkan



Dara membuka mata perlahan, sedikit terperanjat saat melihat sosok lelaki bertatto tanpa mengenakan baju tidur di sebelahnya. Posisi wajah mereka saling berhadapan, tanpa membelakangi satu sama lain.


Dia baru ingat, semalam setelah Nathan gagal melakukannya lagi, ia memang meminta pria itu tidur dengannya dalam satu ranjang. Menebus rasa bersalahnya yang makin menjadi ketika melihat Nathan susah payah menetralkan kembali hawa nafsu dalam dirinya.


Dara memandang hangat wajah itu, yang masih terlelap damai dibuai mimpi meski sang surya sudah bersinar sebegitu terangnya menembus jendela kamar mereka.


Ia menggoreskan jari telunjuk tegak lurus dari dahi, lalu melewati hidung mencapai bagian dagu Nathan. Kemudian naik kembali dan mengelus bibir tipis itu dengan lembut.


Belum puas sampai disitu, ia juga melakukannya pada bagian tubuh Nathan yang lain. Menelusuri tiap lekukan roti sobek yang nampak begitu gahar.


"Kamu benar-benar ingin diserang rupanya"


DEG!


Dara kaget setengah mati, dengan kedua matanya yang terbelalak. Ternyata Nathan sudah bangun, dan merasakan keisengan yang baru saja dilakukannya.


Pria itu juga membuka mata, mendapati wajah Dara yang mendadak pucat. Seakan baru melihat dedemit di depannya. Membuat ia sangat ingin menertawai ibu hamil itu dengan sangat kencang.


"Bersabarlah sayang. Aku tau kamu juga mau"


"Ng-nggak kok" Bantahnya gelagapan.


Nathan terkekeh sambil mendaratkan tangannya di atas perut Dara. Dan secara tak sengaja merasakan sesuatu disana.


"Eh, apa ini?" Kata Nathan.


Dara tidak langsung menjawabnya. Wanita itu malah memahat senyum di bibirnya, dan secara bergantian, kini dia yang menertawakan ekspresi bingung Nathan.


"Ra, kok perutmu.."


"Itu mungkin kakinya"


"Kakinya?? Maksud kamu-"


"Kaki anak kita"


Nathan termenung sambil terus menempelkan telapak tangannya. Menunggu gerakan dari dalam lapisan perut itu lagi.


"Ya ampun. Ada lagi Ra!"


"Sepertinya dia senang ketika tau ayahnya menemani tidur semalaman"


Pria itu terpukau, seumur hidup dia baru mengetahui tentang ini. Bisa merasakan gerakan bayi di dalam perut ibunya. Mengagumkan, pikirnya.


"Hei.. Apa kamu senang Daddy disini?" Nathan mendekatkan bibirnya ke perut istrinya, dan berbicara seakan bayi itu dapat berkomunikasi dengannya.


"Daddy nggak keberatan untuk menemanimu tiap malam. Tapi, semua tergantung bagaimana persetujuan dari Mommy" Katanya, sambil melirik Dara.


"Aku mengizinkan kamu tidur disini. Asal.. Jangan sebut aku Mommy lagi!"


"Kenapa?"


"Aku ingin dipanggil ibu"


Nathan nyengir meledek ketika mendengar kalimat istrinya barusan.


"Itu ketinggalan jaman Ra. Lagipula aku ingin dipanggil Daddy, dan pasangan Daddy itu kan Mommy.. Bukan ibu"


Dara mengerucutkan bibirnya tak setuju dengan argumen Nathan.


"Tapi, aku maunya dipanggil ibu"


"Cowok seperti aku, cocoknya dipanggil Daddy Ra" Ucap pria itu tak mau kalah. Membuat wajah istrinya makin masam.


"Dan cewek seperti aku, lebih pantas dipanggil ibu" Sahut Dara ngotot.


"Ha.. Ha.. Ha.. Kamu gemesin!" Nathan tertawa lepas akhirnya. Ketika melihat bibir Dara kian tak terkontrol.


"Oke. Oke. Gimana kalau anak kita nanti panggil Daddy dan ibu. Ya.. Agak aneh sih, sebelas dua belas lah dengan panggilan ke orang tuaku. Papa dan bunda. Nggak nyambung kan?" Celoteh Nathan.


Mendengar pernyataan suaminya yang menggelitik membuat Dara mengembalikan bentuk bibirnya ke posisi semula. Dia terkekeh, tapi sedikit ditahan. Dengan punggung tangan yang menutupi mulutnya.


"Tidak terlalu buruk. Baiklah, aku setuju. Dan kamu, bisa tidur satu ranjang denganku. Harus! Setiap malam, setiap saat" Ucap Dara lantang dan tegas, diikuti dengan persetujuan dari Nathan.


Mereka tengah hanyut dalam kemesraan dengan si jabang bayi yang berusaha ikut di dalamnya. Beberapa kali menendang dan menyikut perut ibunya. Tak lama Nathan mendengar ponselnya berdering cukup nyaring, menginterupsi sepasang suami istri yang baru saling mencintai itu.


"Kenapa nggak di angkat?" Tanya Dara ketika ponsel tersebut berdering cukup lama dan Nathan nampak enggan menerima panggilan.


"Biarlah. Ganggu orang saja"


"Tapi sepertinya itu penting Nath. Daritadi berulang terus. Coba di angkat dulu"


"Siapa?"


"Regy"


"Terima saja dulu Nath"


"Nggak apa-apa nih?"


Dara menjawab dengan anggukan kepala, dan Nathan menurutinya segera.


"Ya gy?"


Nathan tampak menyimak apa yang disampaikan manager nya itu jika dilihat dari raut wajahnya yang serius. Sementara Dara menunggu nya selesai bicara sambil mengelus perutnya, berharap bayinya kembali melakukan pergerakan dari sana.


"Ck.. Ampun" Decak Nathan seraya melempar ponselnya di atas ranjang.


"Kenapa Nath?"


"Sayang, aku minta maaf. Sepertinya kita harus mengundur waktu untuk berbelanja perlengkapan bayi nya"


"Oh begitu.." Tanggap Dara datar.


"Besok ada event, dan kami mesti hadir mengisi acara disana. Mendadak sekali" Sesal Nathan.


"Masih ada lain hari Nath. Bukan masalah"


"Mmm.. Atau.." Gumam Nathan sambil mengigit bibir bawahnya. "Ra, kamu ikut aku manggung ya?"


Dara jelas nampak kaget dengan ide Nathan barusan.


"Begini, jadi event ini dilaksanakan di Bandung. Kalau dari Jakarta menempuh kurang lebih sekitar empat jam perjalanan. Masih terhitung aman untuk seorang ibu hamil. Malamnya, kita bisa menginap di rumah bunda"


"Apa nggak merepotkan kalau kamu ngajak aku?" Ucap Dara ragu.


"Tentu tidak dong. Aku sangat ingin manggung di temani kamu dan anak kita"


Dara menghela napas, sejujurnya dari dulu ia belum pernah merasakan berada di tengah-tengah konser yang sedang berlangsung. Dia tak terlalu suka keramaian apalagi berdesakan. Namun ini adalah permintaan suaminya, akan lebih baik jika dia mengabulkan keinginannya.


"Uhm.. Baiklah, kalau memang kehadiranku nggak mengganggumu. Aku mau ikut kamu Nath"


"Makasih sayang" Pria itu memberi kecupan di atas kening Dara. "Lagipula, kamu belum pernah ke rumah bunda kan? Sesekali perlu kita bermalam disana"


Dara tersenyum getir menanggapi kalimat Nathan.


...***...


Usai menyetujui ajakan Nathan, mereka berdua akhirnya pergi bersama. Karena membawa serta istri yang tengah hamil, dan demi kenyamanannya Nathan memutuskan untuk memakai mobilnya sendiri. Tidak ikut bersama kawannya yang lain.


Perjalanan cukup lancar, dengan hanya beberapa kali mendapatkan kepadatan lalu lintas.


Mereka sampai di Bandung sudah cukup malam, Nathan menyewa hotel sendiri agar lebih nyaman ditempati bersama Dara. Karena sangat tidak memungkinkan jika Dara harus tidur dalam satu kamar bersama kawan-kawannya.


Dia memang belum membawa Dara ke rumah bunda karena memang begitulah rencananya. Event itu akan dilaksanakan di daerah kota, sementara rumah bunda berada lumayan jauh dari sana. Menempuh sekitar empat puluh menit lagi menggunakan mobil.


Jadi, akan lebih baik jika malam ini ia bermalam di hotel yang lokasinya dekat dengan tempat event tersebut. Untuk menghemat waktu dan lagi-lagi demi kenyamanan istrinya.


.


.


.


Keesokan harinya, matahari mulai terik ketika konser di gelar. Dara menempati kursi di belakang panggung, duduk dengan santai sambil sesekali mengobrol dengan rekan Nathan disana.


Tepuk tangan dan suara riuh terdengar dari tempatnya berada, sesekali Dara juga mendengar teriakan orang-orang yang menyerukan nama Nathan. Dia yakin, mereka adalah para penggemar suaminya.


Digelayuti rasa penasaran, Dara bangkit dari kursi dan berjalan perlahan keluar dari belakang menuju area samping panggung. Dia ingin melihat sekilas perform suaminya, juga ingin merasakan bagaimana sensasi menonton konser yang selama ini hanya di dengarnya dari beberapa teman.


Senyum manisnya tersungging di bibir kala sosok Nathan yang tampak macho terlihat dalam pandangannya. Pria itu memakai kacamata hitam, mengenakan kaos warna hitam pula dan celana blue jeans. Tak lupa sepatu boots andalannya.


Rambutnya yang di tata terkesan acak-acakan entah mengapa justru tidak membuat penampilan nya berantakan. Nathan tetap memiliki ketampanannya, tanpa ada sedikitpun berkurang kadarnya.


Dia juga menghiasi lengannya dengan gelang rocker hitam yang memiliki aksen mirip ikat pinggang. Berbahan dasar kulit dan terlihat sedikit tebal. Serta dua kalung panjang yang menggantung di lehernya.


Nathan terlihat begitu energik dengan gitarnya di atas panggung. Menciptakan melodi sedemikian rupa dengan jemarinya yang lentur. Dara dibuat takjub oleh pesona pria itu.


"Ternyata begini ya, rasanya nonton konser" Gumam Dara tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang suami.


Nathan secara tak sengaja melihat Dara yang berdiri di samping panggung, menatapnya kagum. Ia menolehkan kepala, mengangkat sedikit kacamata hitamnya, lalu mengerling genit ke arah Dara. Dan sukses membuat ibu hamil itu tersipu.