
Semilir angin pagi menyapa dengan lembut seorang wanita paruh baya yang baru saja turun dari sebuah mobil di depan lobby apartment. Meskipun sudah tak lagi muda, Erina, atau yang biasa dipanggil Bunda oleh Nathan, masih memiliki wajah yang segar serta tubuh yang bugar.
Semuanya adalah hasil dari gaya hidup sehat yang rutin di jalaninya. Bunda, adalah wanita pertama yang Nathan kagumi. Berkat kegigihannya, ia berhasil mengangkat kembali derajat keluarga setelah ditinggal mati oleh suaminya dan dititipkan hutang hasil berjudi dimana-mana.
Karena hutang yang mencapai ratusan juta itu dirinya sampai harus merelakan rumah lamanya yang berada di Sumatera Barat, dan membawa serta Keenan juga Nathan kecil merantau ke Bandung.
Saat itu dirinya hanya berharap dengan seorang temannya yg menjanjikan pekerjaan disana. Ia yakin orang itu amanah dan bisa dipercaya. Namun kenyataan nya sungguh sangat pahit, ia harus menelan kekecewaan yang amat dalam usai ditipu orang kepercayaannya.
Uang yang dijanjikan akan di setor untuk penerimaan karyawan baru buruh pabrik itu di bawa lari. Ia sudah berusaha mencari keberadaan kawannya tersebut, namun hasilnya nihil. Tapi ada satu informasi yang dia dapat, manusia satu ini memang penipu. Karena bukan hanya ia yang ditipu, sudah ada beberapa korbannya. Namun blm ada satupun yang melapor hingga manusia jahat itu masih bebas berkeliaran entah kemana.
Nasib sial bagi bunda harus mengenal orang macam dia. Bunda menyesal dan sangat mengutuki dirinya sendiri karena terlalu percaya dengan orang yang salah. Ia sering menangisi dirinya dan juga anak-anaknya yang sering kelaparan.
Mereka bahkan seringkali tidur di emperan sebuah toko. Pedih hati seorang ibu yang harus menyaksikan nasib anak nya seperti itu. Namun si sulung Keenan seakan begitu mengerti kondisi yang di alami ibu nya, ia bahkan dengan sabar menjaga adiknya, Nathan. Saat sang bunda sedang berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah sekedar untuk mengisi perut yang keroncongan.
Beruntung suatu ketika, mereka dipertemukan dengan seorang pemilik warung makan yang menawarkan pekerjaan sebagai tukang cuci piring. Tentu itu adalah kesempatan yang tak akan dilewatkan bunda. Bahkan pemilik warung makan itu juga berbaik hati meminjamkan sebuah rumah kontrakan untuk di tempati mereka. Rezeki memang tidak pernah salah alamat.
Hari demi hari mereka jalani dengan penuh semangat. Sampai tiba saat dimana sang pemilik warung meminta bunda memasak makanan untuk berjualan. Karena orang yg biasa memasak sedang berhalangan.
Dari sanalah bakat bunda diketahui, ia sangat jago meracik bahan agar menjadi makanan yang lezat. Pada akhirnya pemilik warung mengajak bunda untuk berbisnis yang tentu disambut dengan hangat oleh nya.
Kini, warung makan yang tadinya hanya di kenal dalam satu wilayah itu jadi meluas dan memiliki puluhan cabang di dalam maupun luar Bandung. Disamping itu, bunda yang juga mencoba peruntungan lewat usaha catering pun laris manis dan selalu banjir orderan setiap bulannya.
Ini adalah bukti bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati setiap proses yang harus melewati berjuta peluh, air mata dan pengorbanan.
Pagi ini, bunda memang ada urusan di Jakarta dan sengaja mampir ke apartment untuk mengunjungi putranya. Selain itu, sejak pertemuan pertamanya dengan Dara, entah mengapa bunda merasa bahwa gadis itu adalah jawaban dari setiap do'a nya. Ada sedikit terfikir di benaknya untuk memperkenalkan Dara dengan Nathan.
Tapi sebelumnya, bunda tentu ingin tahu dulu bagaimana keseharian gadis itu, perilakunya terhadap orangtuanya, dan darimana keluarganya berasal. Meski di dalam lubuk hati yang paling dalam bunda tidak melihat ada nya keburukan dari gadis cantik ber lesung pipi tersebut.
"Silahkan bu" Sapa mbak Asih ramah seraya membukakan pintu untuk sang nyonya besar ketika tiba di apartment.
"Terimakasih mbak.." Ucap bunda. Suara sepatu heels yang memiliki hak tidak terlalu tinggi itu cukup terdengar keras berbenturan dengan lantai saat pemiliknya memasuki ruangan.
Bunda merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga yang empuk. Bersamaan dengan suara bel yang di tekan seseorang dari luar. Mbak Asih berlari kecil ke arah pintu, dan membukakannya untuk seorang tamu yang datang. Bunda sedikit menoleh ke arah pintu namun tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang yang sedang berdiri di hadapan mbak Asih tersebut. Ia mulai penasaran.
"Siapa mbak?" Pada akhirnya bunda menghampiri mbak Asih dan tamu yang tak juga dipersilahkan masuk oleh asistennya.
"Selamat pagi tante" Sapa seorang wanita yang ternyata adalah Monica.
"Pagi.." Bunda membalas sapaan Monica dan memperhatikan penampilan wanita itu dari atas sampai ke bawah.
"Monica?"
"Iya tante, lama ya tidak ketemu" Monica berusaha keras untuk bisa akrab dengan bunda, namun yang sudah-sudah selalu ditolak mentah-mentah.
"Ada apa ya datang kesini pagi-pagi? Apa ada keperluan yang sangat penting sampai kamu mengabaikan waktu-waktu yang tepat untuk bertamu ke tempat orang lain?" Bunda mulai ketus.
Meski merasa kesal dengan sikap bunda, Monica sekuat tenaga menahan egonya. Agar sang calon ibu mertua mau menerimanya. Ia menyingkap rambut panjangnya yang tergerai ke belakang dan memberi senyuman paling manis versinya untuk bunda.
"Ehm.. Aku ada janji dengan Nathan. Kami akan pergi bersama. Mohon izin ya tante"
"Nathan masih tidur. Nampaknya dia kelelahan karena banyak aktifitas. Sebaiknya kamu pulang saja, saya sedang tidak menerima tamu" Tutur bunda singkat dan jelas arah tujuannya.
"Lho,. Bunda? Kapan datang?" Nathan yang tiba-tiba datang dari arah belakang bunda dan mbak Asih yang masih berdiri di sana bagai penyelamat bagi Monica.
"Eh, honey?" Pria bule itu juga sedikit kaget saat melihat kekasihnya yang sedang berdiri terpaku berhadapan dengan sang bunda.
"Honey?" Bunda menyergap.
"Emm.. Monica maksudnya"
Bunda memberi isyarat sinis pada Monica yang tertunduk lesu.
"Kamu kok gak hubungi aku dulu kalau mau kesini? Kan bisa aku jemput"
"A.." Monica baru hendak membuka suara ketika bunda secepat kilat menyelak kata-katanya.
"Jadi ketika kamu melihat ada ibumu yang baru datang disini, yang kamu dahulukan untuk ditanya itu malah orang lain?" Ucap bunda ketus.
Nathan mulai salah tingkah.
"Emm.. Maaf bunda... Mmm.. Bunda baru sampai? Maaf aku gak tau kalau bunda datang, aku baru saja bangun" Tutur Nathan gelagapan.
"Kita lanjutkan bicara lagi nanti. Kamu uruslah si 'honey' mu itu, bunda mau istirahat"
Bunda dan mbak Asih yang mengikuti di belakang nya bergegas meninggalkan Nathan yang masih berdiri di depan pintu dengan masih mengenakan sebuah kaos kutung tanpa lengan dan celana pendeknya. Rambutnya pun masih berantakan ketika kini ia berhadapan dengan Monica.
Nathan menarik Monica agar sedikit menjauh dari depan pintu dan menutupnya. Kemudian ia menyandarkan Monica pada dinding dan membelai lembut rambut panjang kekasihnya.
"Sayang.. Bunda bilang apa padamu?"
"Ehm.. Bukan apa-apa"
Nathan dapat melihat isyarat mata Monica telah berbohong ketika mengatakan itu padanya. Mata indah nya juga sedikit berkaca-kaca dan ia juga tidak mampu membalas tatapan Nathan yang menyadari bahwa bunda baru saja melakukan hal tidak menyenangkan pada belahan jiwanya.
"Tolong maafkan bunda ya, dia hanya butuh waktu"
"Itu sama sekali bukan masalah kok" Monica tak dapat lagi membendung air mata nya yang terus memaksa untuk keluar. Dengan sigap memeluk erat tubuh kekasihnya.
"Tolong jangan menangis sayang.." Ucap Nathan parau.
"Aku lelah Nath, sepertinya usahaku tidak pernah berhasil"
"Hey.. Kamu punya aku, gak akan aku biarkan kamu berjuang sendirian"
"Aku kan sudah bilang, aku akan memperjuangkan kamu. Jadi jangan khawatir, apalagi takut aku akan meninggalkan kamu"
Monica diam dengan tatapannya yang tak lepas dari Nathan.
"Aku sangat mencintai kamu. Dari dulu, sejak pertama aku melihatmu. Aku sudah menetapkan hanya kamu. Cuma aku yang bisa memiliki kamu. Begitu juga sebaliknya. Jadi tolong, jangan mudah menyerah.. ya?"
"Iya.. Aku percaya"
Monica memberi senyum manisnya pada Nathan. Kini, dirinya mulai sedikit merasa yakin bahwa Nathan benar-benar tidak main-main dengan hubungan ini, meskipun pernikahan belum masuk dalam rencananya.
"Makasih honey"
Nathan kembali memeluk erat tubuh kekasihnya, bagai tak ingin dilepas lagi. Sesekali Monica menyeka wajahnya dari air mata yang baru saja membasahinya dalam pelukan hangat Nathan.
"Ngomong-ngomong, tumben sekali kamu tiba-tiba datang sendiri. Pagi-pagi pula. Ada apa honey?"
Kedua sejoli itu saling melepaskan pelukannya, namun tetap dengan lengan yang saling bertautan. Nathan juga membelai lembut wajah Monica dengan perasaan cinta yang meluap-luap.
"Aku hanya ingin datang saja. Tadinya ingin memberimu surprise. Tapi ternyata aku yang dapat surprise" Tutur Monica.
"Ya ampun sayang ku"
"Aku.. Pulang saja ya"
"Emm.. Gimana kalau kamu ikut aku latihan hari ini? Lalu setelah selesai kita bisa pergi. Kamu ingin kemana honey?"
Nathan memberikan penawaran pada Monica yang terlihat masih menimbang-nimbang sebelum memberi keputusan.
"Sebenarnya, malam ini aku juga ada job. Aku fikir hari ini kamu free. Aku ingin jalan-jalan denganmu siang ini. Tapi kalau kamu ada keperluan juga, ya batalkan saja" Tutur Monica bernada kecewa.
"Hhm.. Aku benar-benar tidak bisa bolos latihan hari ini honey, karena sebentar lagi band ku akan bikin album baru dan ada konser untuk weekend ini" Jelas Nathan.
Monica menghela nafas penuh kepasrahan.
"Ahh.. Begini saja, sekarang kamu pulang dulu ke rumah, nanti sore begitu selesai latihan, aku akan langsung ke rumah mu. Jemput kamu kerja, dan akan aku temani sampai kamu selesai. Gimana?" Nathan menawarkan opsi nya yang kedua. Karena sesungguhnya ia masih ingin bersama Monica. Kehadiran wanita itu benar-benar bagai candu bagi Nathan.
"Emm.. Boleh deh. Aku setuju"
"Nah gitu dong.." Ucap Nathan sambil mencubit pipi sisi kiri dan kanan Monica.
"Aaw.. Sakiit.." Rintih Monica manja.
"Hi hi.. Aku gemas sekali honey"
"Dasar. Yasudah, aku pulang ya.."
"Hhmmm.. Masih kangeenn" Rengek Nathan bagai anak kecil minta dibelikan mainan.
"Kan nanti ketemu honey"
"Hehe.. Baiklah. Hati-hati ya, maaf banget aku gak bisa antar"
"Iya. Gapapa honey. Kamu masuklah, nanti bunda makin membenciku karena kamu malah nemenin aku disini"
"Gak gitu honey" Bantah Nathan yang sedikit tidak setuju dengan kata-kata Monica barusan.
"Hahaha.. Ia maaf. Oke, aku pulang sekarang ya. Bye honey.. Aku tunggu lho" Pamit Monica seraya mengerling manja. Nathan yang sedari tadi mati-matian menahan hawa nafsunya jadi tak tahan lagi dan langsung menarik tubuh Monica kemudian ******* bibir kekasihnya itu.
Monica yang terkejut karena mendapat serangan mendadak itu segera menyergahnya dengan sedikit mendorong tubuh Nathan yang lebih tinggi darinya sekuat tenaga.
"Mmm..mmhh...Honey. Kamu lupa kita lagi dimana!" Protes Monica yang akhirnya berhasil menjauhkan Nathan darinya.
"Aku rindu sekali honey" Nathan merasa sedikit malu karena tidak bisa menahan diri.
"Sabarlah honey. Lanjut nanti yahh.. Bye" Goda Monica seraya berlalu dari hadapan Nathan. Pria itu terus memusatkan pandangannya pada Monica hingga ia tak lagi nampak di hadapannya.
Ia lalu langsung masuk ke dalam apartment nya dan bersiap menemui bunda yang telah menantinya sejak tadi.
"Apa dia memang sering datang kesini?" Tanya bunda bagai menginterogasi Nathan yang baru saja tiba di ruang keluarga, hendak mengambil posisi agar dapat berbaur dengan bunda yang sedang asyik membolak-balik halaman sebuah majalah kuliner.
"Baru ini kok" Jawab Nathan singkat.
"Apa dia masih jadi disc jockey?" Lanjut bunda.
"Masih bun. Itu kan passion nya"
"Kamu itu, selalu berlindung di balik kata passion" Bunda menghela nafas.
"Bunda sudah sarapan?" Nathan mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa menegangkan itu.
"Sudah.. Kamu sarapan dulu sana. Mbak Asih sudah menyiapkannya daritadi. Nanti makin dingin" Perintah bunda sembari menutup dan meletakkan majalah di atas meja.
"Bu, teh nya mau diletakkan di meja makan atau disini?" Mbak Asih tiba-tiba datang dengan membawa nampan dan secangkir teh hangat di atas nya untuk bunda.
"Disini saja mbak. Saya sudah sarapan tadi" Jawab bunda seraya menerima cangkir teh tersebut.
Nathan beranjak dari ruang keluarga menuju ruang makan. Ia langsung menyantap roti sandwich isi tuna yang di siapkan mbak Asih sesampainya disana. Adrenaline yang di keluarkannya ketika mencium Monica tadi cukup membuatnya kehabisan energi hingga tak sadar bahwa ia telah menghabiskan dua buah sandwich.
Ia lalu meminta mbak Asih untuk membuatkannya satu lagi. Bunda memperhatikan putra bungsunya dari kejauhan, ia yang tadi sempat tak sengaja melihat Nathan dan Monica berciuman dari balik pintu yang terdapat layar dengan fungsi untuk mengecek seseorang yang datang dan memencet bel itu semakin yakin dengan rencananya mempertemukan Nathan dengan Dara. Ya, dia tidak akan ragu lagi.