
Dering ponsel milik Nathan menyita penuh perhatiannya. Dia baru saja turun panggung usai mengisi acara di wilayah ibu kota. Nathan segera merogoh ponselnya dari dalam saku, dan mempercepat langkahnya menjauh dari area panggung, menghindar dari teman-temannya yang mungkin saja akan menginterupsi.
"Halo.." Ucapnya memulai obrolan.
"Honey.." Panggil Monica dari balik telepon. Nathan cukup mendapat kejutan dengan panggilan Monica padanya.
Dia lupa kapan terakhir kali Monica memanggilnya dengan mesra. Agaknya sudah lama mendadak Monica berubah dingin, irit bicara dan selalu beralasan jika Nathan minta untuk bertemu. Hingga hari ini, dia tak sama sekali mengetahui penyebab kekasihnya bertingkah seperti itu.
Monica juga tak mau menjelaskan alasannya. Dia hanya selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Meski Nathan tahu itu adalah sebuah kepalsuan.
"I-iya?" Ucap Nathan grogi.
"I miss you. Sudah lama juga ya sejak terakhir kali kita menghabiskan waktu bersama"
"Iya, honey. Aku juga rindu"
"Kamu ada waktu?"
"Uhm.. Ada. Kamu.. Mau ketemu?"
"Iya.. Bisa?"
"Tentu. Aku akan kerumahmu setelah ini"
"Nggak. Bukan dirumah"
"Lalu?"
"Aku sudah booking hotel. Ya, cuma pingin ganti suasana aja. Mau kan?"
Nathan menghela napas sejenak berusaha menahan segala gejolak hasrat yang tiba-tiba terasa menggebu. Ini adalah kesempatannya untuk memperbaiki yang mungkin salah, Nathan harus memanfaatkan moment ini sebaik mungkin.
"Oke. Aku akan kesana. Tolong share location nya ya"
"Oke honey. Aku tunggu kamu. Persiapkan diri ya. Bye.. See you" Tutup Monica.
Pria itu sangat gembira karena Monica mulai mengajaknya untuk bertemu kembali. Meskipun dia juga tak ingin berharap banyak Monica mau melakukan 'hubungan' lagi. Tak apa pikirnya, ini sudahlah cukup baginya. Diacuhkan Monica sedikit membuatnya hilang arah, biar bagaimanapun dia memang masih mencintainya
.
.
.
Usai menerima alamat lengkap dengan lokasi terkini yang dibagikan Monica lewat ponsel, Nathan langsung tancap gas memacu mobil jeep nya ke tempat tujuan. Sepanjang jalan otaknya dipenuhi oleh Monica serta segudang pertanyaan yang menggelayuti pikirannya.
Ketika nanti akhirnya mereka bertemu ia sangat ingin mendapat penjelasan tentang sikap dingin yang dilakukannya beberapa waktu belakangan ini. Karena hal tersebut acapkali mengganggu hari-harinya, Nathan merasa sulit berkonsentrasi dan fokus dalam pekerjaannya.
Tak lama berselang, ia sampai di halaman parkir hotel yang dituju. Sesuai dengan alamat dan lokasi yang diikutinya lewat maps. Dari luar, nampak jelas bahwa ini adalah hotel mewah dengan interior klasik yang memanjakan mata. Ketika memasuki lobby nya Nathan mengagumi betapa selera Monica sangat cocok dengannya.
Para tamu hotel harus memegang kartu yang bisa digunakan untuk membuka kunci pintu kamar serta akses menggunakan lift menuju lantai yang dituju. Maka dari itu akhirnya Nathan memutuskan untuk meminta salah seorang petugas mengantarnya sampai lantai dua belas, dimana kamar yang di booking Monica berada.
Tak lain hanya karena dia ingin memberi kejutan atas kedatangannya pada sang kekasih yang dirindukan. Monica selalu senang dengan kejutan.
"Thanks mas.." Ucap Nathan pada petugas hotel tersebut dan memberinya sedikit tip.
"Wah, terimakasih banyak kak. Kalau begitu saya permisi ya kak"
Nathan menjawab dengan anggukan dan senyum ramahnya seperti biasa. Dia menarik napas sejenak sebelum mengetuk pintu kamar di depan matanya. Bersiap untuk bertemu Monica yang mungkin saja sedang menunggunya dengan manis di dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pertama cukup menggema di kesunyian lantai dua belas, dan belum ada balasan dari dalam kamar. Nathan memberi jeda beberapa detik sebelum memulai ketukan yang kedua.
Tok.. Tok.. Tok..
Hening.
Cklek..
Pintu kamar dibuka seseorang dari dalam. Mendadak Nathan merasakan jantungnya yang berdegup lumayan kencang. Mungkin Monica akan mendengarnya saat mereka berpelukan nanti karena suasana disana begitu sunyi.
Pria itu melangkah dengan yakin memasuki kamar hotel yang cenderung gelap. Dia tak mengerti apa maksud Monica mematikan lampu di beberapa titik, dan hanya menyisakan cahaya lampu yang remang.
Tapi kamar ini terlalu sunyi, Monica belum nampak juga batang hidungnya. Nathan menebak, mungkin saja dia saat ini sedang di kamar mandi, menunggunya dalam bath tub dengan atau bahkan tanpa sehelai benang pun.
"Hon.."
BUKKKKK!!!
Dari arah belakang datang seseorang yang memukul Nathan tepat di bagian tengkuknya. Pukulan yang cukup keras hingga mampu melumpuhkannya dalam sekejap. Pria itu ambruk dalam keadaan tertelungkup, membelakangi orang misterius yang masih dengan balok kayu dalam genggamannya.
...***...
Di tempat lain, seorang calon ibu muda tengah terpukau, dan tak hentinya berdecak kagum atas janin yang dikandungnya. Ketika dengan jelas sebuah layar di sebelahnya menampilkan gambar dengan bentuk manusia kecil yang anggota tubuhnya belum sepenuhnya tumbuh.
Kedua matanya berbinar sembari memandangi calon buah hatinya yang menurut keterangan dokter tumbuh dengan pesat di rahimnya. Dara menitikkan air mata bahagia saat dokter juga memperdengarkan suara detak jantung janinnya yang bergemuruh di dalam sana. Menandakan bahwa kondisinya sangat baik.
Dia tak pernah menyangka, menjadi calon ibu akan begitu membahagiakan. Bagaimana jika nanti bayi kecilnya lahir, mungkin rasa bahagia ini akan bertambah berkali-kali lipat.
"Kandungan ibu Dara sudah masuk minggu ke 13. Dan sekarang saya akan meresepkan vitamin untuk menunjang tumbuh kembang janin, juga mensupport tubuh ibu Dara agar kuat menjalani kehamilan" Ucap dokter kandungan pada Dara yang wajahnya nampak berseri.
"Baik dok"
"Semuanya bagus, hanya saja tekanan darah ibu Dara sedikit rendah. Jadi harus minum penambah darah juga ya bu"
"Tapi yang lainnya benar-benar tidak ada masalah kan dok?" Tanya Dara memastikan.
"Tidak ada bu. Semuanya baik-baik saja" Jawab dokter sembari menuliskan resep vitamin yang harus diminum Dara secara rutin.
Dara menghela napas lega mendengar pernyataan dokter. Dia menengok ke arah mbak Asih yang ikut mengantarnya, raut wajah asistennya juga terlihat bahagia. Hari ini, Dara betul-betul diliputi kebahagiaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di sisi lain, Dara juga berpikir. Apakah Nathan akan sebahagia dirinya ketika mengetahui calon anak mereka tumbuh dengan baik. Mengingat bahkan dia tak terlalu peduli padanya sepanjang ia dinyatakan hamil. Untuk kesekian kalinya, Dara tentu tak ingin berharap banyak.
Resep yang dituliskan dokter sudah di tangannya. Dibantu mbak Asih Dara keluar dari ruangan dan meletakkan resep tersebut ke bagian apotek untuk menebus vitaminnya.
"Syukurlah calon dedeknya sehat ya non" Ucap mbak Asih sembari berjalan ke arah kursi tunggu dekat apotek. Ia menggandeng sebelah lengan Dara penuh perhatian.
"Iya mbak.. Alhamdulillah.."
"Lho.. Dara?" Panggil seseorang dari arah belakang. Suara itu terdengar tak asing di telinga. Wanita itu menoleh, mendapati Keenan berdiri tegap dengan senyumnya yang mekar. Pria itu nampak tampan dan berwibawa, masih mengenakan jas dokter yang menegaskan profesinya.
"Kak Keenan.. Kebetulan sekali. Kakak praktek disini?"
"Iya Dara.."
"Ya ampun, aku kira dimana" Ujar Dara terkekeh pelan.
"Iya.. Memang ada banyak rumah sakit sih ya di Jakarta ini"
Dara mengiyakan dengan anggukan dan senyum khasnya.
"Oh iya. Kamu habis periksa?"
"Iya kak.."
"Kok sama mbak Asih? Nathan mana?"
Keenan dapat dengan jelas melihat ekspresi wajah Dara yang berubah. Meski wanita itu tak menjelaskan, Keenan sudah bisa menebak bahwa ada suatu hal yang sedang tidak baik-baik saja di antara Dara dan Nathan.
"Uhm.. Nathan sedang ada pekerjaan kak. Jadi hari ini Dara minta tolong mbak Asih" Senyum getir tergambar jelas di bibirnya.
"Ini.. Kamu sudah selesai? Pulang bareng kakak ya?" Tawar Keenan.
"Dara sudah, cuma tinggal tunggu vitamin aja. Memang kak Keenan juga sudah selesai praktek?"
"Iya kakak baru saja selesai jam praktek. Kebetulan juga sudah nggak ada keperluan. Lagi mau pulang"
"Uhm.. Boleh deh kak. Tapi tunggu sebentar ya"
"Oke Dara, santai saja" Ujar Keenan. Kehadiran Dara di hadapannya bagai obat penghilang penat usai menghadapi segudang masalah seharian. Ada banyak pasien anak hari ini, beberapa di antaranya mengalami masalah kesehatan yang serius. Cukup mengguncang hati nuraninya yang notabene seorang pria yang menyukai anak-anak.
Senyum Dara yang mekar sempurna dengan rona wajah cerahnya nampak begitu memikat. Keenan tak tahu sampai berapa lama ia dapat menahan perasaannya pada Dara. Entah sudah kali keberapa dia memaksa otaknya untuk menendang jauh rasa yang takkan mungkin berlabuh pada hati yang telah dimiliki.
Perang antar logika dan hati sudah menjadi makanan sehari-hari Keenan usai bertemu dan mengenal Dara. Menyesakkan pikiran yang tertawan oleh wanita pemilik lesung pipi itu.