
Dara mengalami perubahan besar dalam perjalanan hidupnya. Usai dijodohkan dengan seorang pria matang nan tampan, menjalani pernikahan tanpa cinta, terabaikan dan di khianati, kini ia memulai babak baru kehidupan rumah tangga bersama suaminya yang telah berubah seratus persen.
Dia menganggapnya begitu karena memang Nathan terlihat semakin mencintainya, dari hari ke hari. Tak terhitung berapa kali pria itu mengatakan "aku mencintaimu" belakangan ini. Dan sikapnya yang amat manis, sangat berbanding terbalik dengan yang dulu.
Usia kehamilannya sudah mendekati akhir bulan ke tujuh dan segera masuk bulan ke delapan. Gerakan bayinya juga makin kencang dan sering. Terkadang membuatnya kesulitan memposisikan tubuh ketika tidur.
Disaat seperti itu, Nathan dengan setia menjadi sandaran untuknya. Memijit punggung Dara yang sering pegal, membiarkan tubuhnya sendiri berfungsi sebagai bantal khusus ibu hamil tanpa merasa terbebani sama sekali.
Pria itu juga semakin protektif pada Dara. Ia tak mengijinkan istrinya melakukan pekerjaan apapun di apartment, selain beristirahat, makan dengan teratur, mengerjakan hobi merajut nya. Apapun itu asal bukan pekerjaan yang bersifat melelahkan seperti memasak misalnya.
Karena hal itu, Dara sampai menghasilkan cukup banyak baju bayi hasil rajutan tangannya. Satu di antaranya adalah dress bayi perempuan warna putih kombinasi pink muda yang cantik. Diberi aksen bunga pada bagian dadanya.
Suatu hari, Nathan sempat bertanya kenapa ia membuat baju bayi perempuan sementara mereka belum mengetahui jenis kelamin calon bayinya. Dara menjawab dengan santai, "Kalau yang lahir sekarang adalah bayi laki-laki, kita bisa memberikan dress ini untuk adiknya"
Dengan gemas Nathan memeluk dan menghadiahi nya dengan kecupan bertubi-tubi kemudian berkata "Yang satu ini saja belum lahir, dan kamu sudah memikirkan adiknya? Apa kamu nggak takut kalau aku menghamili mu berulang kali?"
"Nggak. Aku bersedia. Dengan sukarela" Jawab nya lantang. "Kamu ingin punya berapa anak?" Lanjutnya.
"Sebanyak mungkin! Asal sama kamu, aku bersedia melakukannya bahkan setiap malam"
Dan begitulah celotehan suami istri itu di penghujung petang. Seperti omong kosong karena mereka bahkan belum melakukan hubungan itu lagi.
Dara berkata jadwal pemeriksaan nya akan datang minggu depan, tapi sayangnya di tanggal yang sama, Nathan takkan ada di Jakarta. Karena harus mengisi acara di luar kota. Dan kali ini, ia takkan mengajak Dara karena perjalanan yang pasti akan sangat melelahkan untuk seorang ibu hamil.
...***...
Dering ponsel terdengar begitu nyaring memekakkan telinga, Dara yang baru keluar dari kamar mandi segera meraih ponsel yang diletakkan di atas ranjang itu, kemudian menerima panggilan video dari suaminya.
"SAYANG!!" Teriak Nathan ketika wajah istrinya memenuhi layar di ponselnya. Dara terkekeh melihat tingkah pria itu.
"Ya sayang?" Sahutnya.
"Ahh, jangan senyum begitu. Aku makin rindu!"
"Lalu aku harus apa? Manyun? Begini?" Dara mengerucutkan bibir nya.
"Oh no. Itu lebih parah. Rasa rindu ini makin menggila!"
"Ha.. Ha.. Ha.." Dara tergelak. "Kamu baru pergi dua hari, dan entah sudah keberapa kalinya kamu bilang rindu"
"Aku serius sayang. Kamu itu ngangenin sekali. Memangnya kamu nggak rindu aku?"
"Mmm.. Nggak" Ujar Dara menggoda suaminya.
"Jahat"
"Hi.. Hi.. Hi.. Aku juga merindukanmu Nathan, dalam setiap hembusan napasku"
"Dara.. Aku benar-benar nggak sabar ingin cepat-cepat pulang"
"Tapi kamu harus fokus bekerja lho. Untuk dia" Dara mengarahkan ponsel ke bagian perutnya.
"Sampaikan salam rinduku pada dia, si tampan atau si cantik.. Daddy juga sangat merindukanmu"
"Miss you too Daddy"
"Sayang, kamu bilang kemarin jadwal kontrol bulananmu hari ini kan?"
"Ya, benar"
"Oke. Tadi aku sudah menghubungi mbak Asih untuk menemani mu. Pergilah dengannya ya! Pokoknya, nggak boleh sendirian, kemanapun kamu ingin pergi, selama nggak ada aku, kamu harus selalu bersama mbak Asih" Perintah Nathan yang terdengar begitu serius.
"Iya Nath, aku nggak akan ke mana-mana sendirian. Kamu nggak perlu khawatir ya" Ucap Dara.
"Dan.. Tolong jangan lupa tanyakan soal itu pada dokter kandungan mu. Mmm.. Kamu.. Ingat kan?"
"Ingatanku tajam seperti gajah" Tukas Dara dengan cepat.
"Ohh god! Terimakasih sudah mengirimkan malaikat cantik ini untukku" Ungkap Nathan dengan rasa syukurnya.
"Akulah yang akan mengirimkan malaikat untukmu"
"Hmm? Maksudnya?"
Dara belum sempat menjawab pertanyaan itu karena terdengar samar-samar seseorang memanggil suaminya di sana. Membuat Nathan menjeda obrolan mereka beberapa detik.
"Iya Nath"
"Bye.. Jangan lupa makan dengan teratur, istirahat yang cukup, tidak boleh mengerjakan pekerjaan berat. Kabari aku jika kamu akan berangkat ke rumah sakit. Hati-hati di jalan. Dan.. I love you so much, I miss you also!"
Dara memahat senyum di bibirnya ketika mendengar deretan pesan yang disampaikan Nathan barusan. Memenuhi ruang di hatinya dengan cinta yang meluap-luap. Dua hari tanpa Nathan memang terasa cukup membuat perasaannya hampa, meski pria itu rutin meneleponnya, rasanya tetap tidak sama dengan bertemu secara langsung.
.
.
.
Siangnya, Dara pergi memeriksakan kandungan dengan di antar oleh mbak Asih. Sesuai perintah dari Nathan. Mereka menaiki taksi dari apartment sampai rumah sakit, dan menunggu antrian dengan sabar sesampainya ia di poli kandungan.
Ketika akhirnya giliran nya dipanggil, Dara tidak dapat menyembunyikan semangat nya yang menggebu-gebu. Ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan, sementara mbak Asih memilih untuk menunggu nya di ruang tunggu.
Dokter meminta Dara untuk berbaring, dan alat USG segera ditempelkan di atas permukaan perutnya yang besar. Rasa haru menyelimuti nya ketika nampak di layar sosok bayi kecil yang bergerak-gerak dalam kandungannya.
Terlebih saat dokter menampilkan sekilas gambaran tentang wajahnya. Dara menyipitkan mata, berusaha mengamati wajah bayinya. Ia mendapati, sepertinya bayi itu akan mewarisi hidung ayahnya.
Namun Dara masih belum ingin mengetahui jenis kelaminnya. Tak perlu pikirnya, biarlah menjadi surprise di hari kelahirannya nanti.
Pemeriksaan itu berlangsung kurang dari tiga puluh menit, bayinya dinyatakan sehat dan normal. Pun dengan sang ibu, walau ada sedikit permasalahan dengan tensi darahnya yang masih cenderung tinggi. Tapi tak terlalu menjadi masalah, karena bisa di atasi dengan serangkaian obat yang harus di konsumsinya.
...***...
"Aku sudah menanyakan nya" Ucap Dara pada Nathan ketika sesi menelepon datang di malam hari. Rutinitas barunya selama Nathan di luar kota yang selalu dilakukan jelang tidur.
"Lalu?" Tanya Nathan penasaran.
"Boleh.."
Nathan diam beberapa detik, dan Dara tak tahu mengapa karena mereka hanya melakukan panggilan suara.
"Nathan?" Panggilnya.
"Ah, ya sayang? Maaf"
"Kamu lagi apa?"
"Bersiap untuk tidur, sambil telepon kamu"
"Jadi.. Kapan kamu akan pulang?"
"Kamu maunya kapan?" Pria itu balik bertanya.
"Kok aku? Kan kamu yang lagi kerja"
"He.. He.. He.. Secepatnya sayang. Do'akan cepat selesai ya"
Dara tahu, tak patut baginya untuk merasa kecewa karena Nathan pergi bukan sekadar berlibur, tapi tengah bekerja. Namun naluri nya sebagai wanita, dan seorang istri yang merindukan suaminya, ada perasaan sedih ketika Nathan mengabarkan ketidakpastian soal kepulangannya.
Dia selalu menunggu, dengan sabar. Hingga malam ini, ia tak mengerti mengapa hati kecilnya merasa amat ingin Nathan ada disisinya. Memeluk hangat tubuhnya, dan terlelap dalam dekapannya.
"Sayang? Kenapa diam?"
"Uhm.. Nggak apa Nath.."
"Kamu sudah ngantuk?"
"Iya.. Lumayan sih"
"Kalau begitu kamu harus segera tidur ya. Jangan terlalu larut" Ucap Nathan dengan nada protektif nya.
"Iya Nath.."
"Selamat tidur sayangku. Tunggu aku pulang ya"
Dara enggan menjawab, sambil berusaha mati-matian untuk tidak menitikkan setetes pun air dari kedua matanya yang mulai terasa panas.
Ketika akhirnya Nathan mengakhiri panggilan, air mata itu mengalir dengan sendirinya bagai tak bisa di kontrol. Meruntuhkan pertahanan yang sedang dibangunnya susah payah.
Dara memejamkan mata, dengan hatinya yang terus menggaungkan nama suaminya.