An Angel From Her

An Angel From Her
118# Pulih



Kesibukan bunda bertambah sebab ia harus mengurus Nathan putra bungsu nya yang mengalami depresi. Semua urusan bisnisnya untuk sementara waktu di handle oleh Mita, asisten pribadinya. Terapi pengobatan yang di jalani Nathan berjalan lumayan lancar dengan hanya dilewati beberapa kali masalah yang tak terlalu mengganggu.


Angel tumbuh dengan baik di bawah perawatan ibu bersama baby sitter nya. Tubuh yang awalnya mungil sekarang mulai menunjukkan lipatan-lipatan di bagian tangan dan kakinya yang bulat. Sejak menjalani terapi, Nathan memang tidak diizinkan bunda untuk bertemu putrinya. Dan ia hanya menanyakan sesekali kabar Angel lewat panggilan telepon yang tersambung ke ibu. Itupun hanya ketika ia sedang 'waras'.


Ketenaran yang diraih dari hasil kerja kerasnya harus pupus sebab sangat tidak memungkinkan baginya untuk tetap manggung dan bekerja seperti biasa. Posisinya di gantikan sementara oleh seorang gitaris lain yang tentu saja di protes sebagian besar penggemar garis keras.


Meski nama black romance mendadak kehilangan cahaya nya, Regy tak merasa keberatan sama sekali. Ia mengerti dan merasa iba dengan nasib kawan baiknya yang begitu terpuruk atas kepergian istrinya. Regy tahu betul bahwa Nathan amat mencintai Dara belakangan ini, dan memaklumi jika jiwa nya langsung terguncang begitu Dara meninggalkannya.


Sore itu, bunda datang ke rumah ibu setelah mengantar Nathan menemui psikiater. Hendak mengabarkan bahwa sepertinya Nathan akan tinggal di Bandung bersamanya, dan untuk sementara waktu tinggal berjauhan dari Angel.


"Dokter menyarankan agar untuk sementara Nathan jangan dulu tinggal di apartment. Demi mempercepat kesembuhan nya. Jadi.. Saya berpikir untuk membawanya ke rumah saya di Bandung." Ucap bunda menyampaikan rencana nya pada ibu yang duduk menyerong bersebelahan dengan nya.


"Itu memang sudah pasti sangat berat untuknya bu Erina, karena banyak kenangannya bersama Dara di apartment."


Bunda mengangguk lemah, "iya bu Reny."


"Apa Angel juga akan di bawa?"


"Tidak bu, menurut saya akan lebih baik jika Angel tetap disini, bersama ibu."


Mendengar pernyataan tersebut membuat perasaan ibu lega sebab sejujurnya ia belum ingin berpisah dari Angel cucu kesayangannya yang cantik dan menggemaskan. Ketika memandangnya ia merasa seperti sedang melihat Dara dan hal itu sungguh membuatnya candu. Bersama Angel, kerinduannya pada Dara seolah dapat terobati.


"Sedang apa Angel sekarang bu Reny? Saya ingin bertemu."


Tak lama dari itu, Angel keluar dari kamar berada dalam gendongan Lisa. Bunda bangkit dari sofa dan langsung mengambil alih bayi itu dari tangan sang bibi. Sudah tiga bulan usianya, ia tumbuh dengan pesat. Dan di bulan ketiga ini ia sudah dapat menegakkan kepala saat di gendong, membuat siapapun gemas dibuatnya.


Gen dari Nathan banyak memberi kontribusi atas fisiknya yang cantik. Angel memiliki bentuk mata dengan bolanya yang berwarna cokelat terang persis ayahnya, rambut lurus kemerahan, dan hidung mancung sempurna. Pipinya gembul dan ketika ia tersenyum, siapapun orang yang mengenal ibunya pasti akan langsung berkata "ia mewarisi senyum Dara, juga lesung pipinya yang khas."


...***...


Hari demi hari dilewati Nathan dalam pengawasan psikiater, kegiatannya saat ini berupa: menenggak obat-obatan demi menunjang kesembuhan otaknya, melakukan yoga, pergi ke suatu tempat untuk healing, menjalani hobi bermusik, dan semua hal yang bisa mengalihkan pikiran dari keterpurukan dilakukannya.


Membutuhkan waktu berbulan-bulan akibat trauma menyakitkan agar ia bisa benar-benar pulih. Hingga satu tahun berlalu, pada akhirnya Nathan telah lepas dari jerat halusinasi dan dinyatakan sembuh dari depresi.


Kini, ia sudah boleh kembali merawat Angel sepenuhnya sebab dokter telah menjamin kesembuhannya. Nathan sudah tidak lagi melihat seseorang sebagai almarhumah Dara, mengurung diri, meratapi kemeranaan nya, bahkan berusaha menyakiti dan membunuh dirinya sendiri.


Ia mendekap dengan erat tubuh Angel dalam pelukan hangatnya, menghadiahi banyak sekali kecupan di pipi dan kening gadis kecil itu. Meski beberapa waktu belakangan ia sudah mulai boleh bertemu Angel, namun hatinya selalu merasa tak puas sebab ia masih belum di izinkan membawanya pulang ke Bandung.


Angel sudah bisa berjalan selangkah dua langkah, terjatuh, lalu bangkit lagi tanpa mudah menyerah. Sesekali ia menangis sebab merasa kesal ketika kakinya belum dapat sempurna berpijak di dataran. Rengekannya justru membuat siapapun yang berada di sana gemas dan ingin mencubit pipi gembul nya.


"Aku izin membawa Angie bu, terimakasih banyak sudah bersedia merawat nya ketika aku nggak bisa melakukannya. Kami akan sering-sering datang kesini." Ucap Nathan pada ibu yang nampak sedih sebab harus berpisah dengan cucu kesayangannya itu.


"Sama-sama nak Nathan, ibu senang Angie ada disini. Rumah terasa jadi ramai." Jawab bunda parau.


"Keponakanku akhirnya pergi, kak Nathan janji ya akan bawa Angie kesini lagi." Ucap Lisa menimbrung.


"Iya, kak Nathan janji Lisa.."


Mereka melakukan pelukan perpisahan pada Angel yang sebetulnya belum mengerti apa makna nya. Gadis kecil itu hanya memandang bingung wajah-wajah sedih di depan matanya dengan ekspresi polos, sambil sesekali mengucek mata karena mulai mengantuk.


Ibu jadi yang paling terakhir memeluk Angel. Ia juga menciumi wajah cucunya sampai meninggalkan rona merah di pipinya. Membayangkan itu adalah Dara putri yang di kasihi nya, yang saat ini sudah berbahagia di surga. Cukup lama ia mendekap gadis kecil itu hingga tak terasa air mata menetes dengan sendirinya dari kedua mata yang terasa panas.


"Tolong jaga Angie sebaik mungkin ya Nath.." Pesan ibu saat ia menyerahkan Angel ke tangan ayahnya.


"Aku berjanji bu."


"Kalau begitu kami pamit ya bu Reny. Terimakasih banyak sekali lagi." Bunda memeluk ibu sambil mengusap lembut punggungnya.


"Sama-sama Bu Erina, hati-hati di jalan ya."


Mereka pergi ketika matahari telah mencapai puncak nya, langit yang cerah dan sinar yang terik mengiringi perjalanan mereka ke Bandung. Nathan duduk di depan bersebelahan dengan pak Eko sang sopir pribadi, sementara bunda di kabin belakang bersama mbak Kia baby sitter yang memangku Angel di atas pahanya dengan cekatan. Dialah yang selama satu tahun ini merawat dan menjaga gadis kecil itu jika ibu, Lisa dan Rangga sedang berhalangan.


Menempuh waktu empat jam setengah perjalanan, mereka akhirnya sampai di kediaman bunda yang lingkungannya masih asri di dataran tinggi. Udara yang sejuk, dengan semilir angin menerpa wajah menyambut kedatangan Angel di sana. Itu adalah kali pertama ia datang ke rumah oma.


Gadis kecil itu tertidur dalam gendongan sang baby sitter, ia lalu memboyongnya ke dalam dan menempatkannya di ranjang kamar Nathan. Membiarkan Angel sang malaikat penyejuk hati terlelap dibuai mimpi, dan mungkin saja bisa bertemu dengan ibu nya di sana.


Malam hari nya, ketika Nathan baru saja selesai makan malam bersama, ia mendapati ponselnya yang berdering dan menggelepar di atas meja dalam kamar. Ia meraihnya dan membaca nama penelepon sambil mengernyitkan dahi, nomor tanpa nama dan sepertinya, itu adalah panggilan dari luar negeri.


"Halo.." Ucap Nathan membuka obrolan.


Terdengar dari seberang sana suara seorang wanita yang berbicara dengan bahasa Inggris. Nathan mengenalinya secepat kilatan cahaya, merasa sangat familiar dan akrab dengan suara tersebut.


"Aunt Jane?" Terka nya dengan sorot mata yang berbinar.